
Stevi jelas bingung dengan tawaran Shane yang akan mengatur jadwal tes DNA untuk putrinya. Jika mengikuti kata hati, sebenarnya ia juga ingin melakukan tes itu untuk memastikan apakah anaknya adalah anak Shawn atau bukan, karena pada kenyataannya ia memang tidak tau itu adalah anak siapa.
Namun, sisi egoisnya selalu saja bersikeras untuk mengatakan bahwa itu adalah anak Shawn, sebab yang menjadi kekasihnya selama ini memanglah kakak dari Shane tersebut.
Masalahnya adalah, meski statusnya saat sebelum mengandung adalah kekasih Shawn, tapi ia tak dapat memungkiri pada dirinya sendiri--jika ia juga sering terlibat cinta semalam dengan beberapa pria yang berbeda--dikala Shawn sedang bepergian ke luar kota.
Terakhir kali, sebelum Shawn meninggal dalam kecelakaan, Stevi juga pernah terlibat dengan dua pria di bulan yang sama. Yang keduanya tidak ia ingat identitasnya karena mengenal secara random di sebuah klub malam.
"Bagaimana jika Shane nekat dan tetap mendaftarkan tes DNA itu, sementara aku sendiri tidak yakin jika ini adalah anak Shawn." Stevi bergumam sendiri sambil menggigiti kuku jemarinya sendiri.
"Di bulan yang sama aku memang berhubungan dengan Shawn. Tapi saat Shawn ke luar kota, aku melakukannya dengan pria lain yang sialnya aku tidak tau jelas siapa mereka karena saat itu aku mabuk, ah sialan!" batin Stevi merutuki dirinya sendiri.
Stevi bingung bagaimana caranya ia bisa mengkamuflase segala hal agar ia berada di pihak yang tidak bisa disalahkan. Satu-satunya harapannya adalah semoga saja bayi ini memang anak Shawn. Tapi, jika tidak, maka ia harus menyiapkan diri untuk didepak dari kediaman mewah keluarga Gladwin.
"Ibu, aku harus menelpon ibu dan menanyakan ide padanya."
Stevi lantas menelepon Gracia untuk menanyakan apa yang harus ia lakukan sekarang. Sejak awal, ia memang selalu terbuka pada ibunya. Ia mencintai Shawn tapi menyerahkan tubuhnya pada pria lain saat kekasihnya itu sibuk, sebab Stevi sering merasa kurang diperhatikan oleh pria itu.
...***...
Shane sendiri, amat bersikeras untuk melakukan tes DNA itu--pada putri Stevi--bukan tanpa sebab.
Ia tidak mencurigai Stevi berselingkuh sebenanrya. Tapi, ini semua karena ia mengingat--sebuah kesempatan saat ia sempat terlibat percakapan dengan saudara kandungnya--Shawn--yang tidak lain adalah kekasih Stevi.
Saat itu, tentu saja keadaan Shawn masih sehat dan baik-baik saja. Shawn pernah mengatakan pada Shane mengenai keinginannya yang tidak menginginkan seorang anak dalam hubungan pernikahannya nanti.
Mata Shane menerawang seolah membayangkan saat percakapannya dengan sang kakak tengah berlangsung.
"Jadi, kau memilih childfree?" tanya Shane yang tertarik membahasnya.
Childfree atau bebas anak adalah sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat--dimana ini adalah keputusan yang Shawn ambil dan katakan pada Shane saat itu.
"Ya, aku tidak menginginkannya."
__ADS_1
"Why?"
"Kau tau aku sangat sibuk, kan? Aku takut tidak bisa membagi waktu untuk anak-anakku jika mereka ada. Aku takut mereka membenciku karena kesibukanku yang luar biasa."
"Itu bukan alasan, Shawn," jawab Shane. "Kau akan merindukan sosok anak ketika kau beranjak tua," paparnya kemudian.
"Ya, kita bisa saja satu suara soal pekerjaan, tapi mengenai komitmen ini aku sudah memikirkannya dengan matang."
"Whatever, itu adalah hak-mu," respon Shane akhirnya.
Shane menggeleng samar, mencoba membuyarkan sendiri mengenai percakapan yang pernah ia lakukan bersama mendiang sang kakak. Dan karena hal itulah ia menjadi ragu akan anak yang dikandung Stevi adalah benar-benar milik Shawn.
Pernah Shane mencoba berpikir realistis, mungkin saja Shawn dan Stevi lupa menggunakan pengaman sehingga janin itu hadir di rahim Stevi. Ya, itu bisa saja terjadi tapi entah kenapa Shane tau pasti jika kakaknya bukan orang yang ceroboh. Shawn tipikal pria yang perpectionis.
Entahlah, karena keraguan itu jugalah yang mendorong Shane untuk terus mendesak Stevi agar melakukan tes DNA.
"Jika itu memang bukan anak Shawn, aku pastikan kau akan menyesal karena telah berani menipu ibuku, Stev!" gumam Shane seolah berbicara pada Stevi disana.
Kepalanya cukup penuh dengan permasalahan yang belakangan hari mengusik hidupnya. Terutama soal Elara dan tentu saja mengenai kehamilan Stevi.
...***...
Ditempat yang berbeda, Elara mengajar para siswanya dengan sabar. Kalangan pelajar yang diajari Elara berkisar umur tujuh sampai empat belasan tahun. Mereka menganggap Elara seperti kakak sendiri dan mengakrabkan diri dengan gadis tersebut.
Elara senang dengan situasi ini, ia merasa memiliki teman banyak.
"Kakak, jika nanti aku dewasa, apa kakak mau menjadi istriku?" celetuk Calvin dengan polosnya. Bocah berumur 7 tahun itu berujar tanpa diminta, seolah keluar begitu saja tanpa disaring lebih dulu.
Elara terkikik, ia mengerti dengan kepolosan Calvin.
"Kau akan menemukan gadis yang lebih cantik dan lebih baik dariku, Calv. Maka, belajarlah dengan baik agar kau menjadi pria sejati yang mapan nantinya," tanggap Elara.
"Aku tidak mau, Kak. Aku maunya kau saja."
__ADS_1
"Tapi jika nanti kau dewasa, aku pasti sudah tua, Calv."
"Ah, itu alasan kakak saja. Sebenarnya kakak yang tidak mau denganku, kan? Kenapa, Kak? Apa aku kurang tampan?" tanya Calvin yang lagi-lagi dengan sikap polosnya.
Jasmine yang ada disana ikut terkekeh mendengar ajakan menikah yang diajukan Calvin pada Elara.
"Bukan begitu, Calv. Tepatnya adalah, saat kau dewasa, Ms. Elara sudah menikah dengan pria lainnya," timpal Jasmine yang membuat Calvin langsung memberengut.
Elara dan Jasmine langsung berpandangan satu sama lain saat melihat tingkah bocah itu. Mereka berdua tergelak bersama karena merasa tingkah Calvin sangat lucu dan polos.
"Bagaimana kalau denganku saja, Calv?" tawar Jasmine dengan niat membujuk Calvin yang merajuk.
"Tidak!" kata Calvin tegas. "Aku tidak mau kalau itu Ms. Jasmine," sambungnya bersungut-sungut sambil melipat tangan di dada.
"Kenapa? Apa aku tidak secantik Ms. Elara?" tanya Jasmine.
"Bukan, Ms. Jasmine terlalu cerewet," tutur Calvin yang membuat Elara tergelak kemudian sementara Jasmine pun tidak bisa marah karena kepolosan bocah itu.
"Apa iya aku cerewet?" gumam Jasmine pada dirinya sendiri. Tapi akhirnya ia terkekeh juga bersama Calvin dan Elara disana.
"Aku juga cerewet," akui Elara kemudian.
"No. No. Kak Elara tidak cerewet," sahut Calvin.
"Lalu, jika aku tidak cerewet---"
"Kau galak, Kak."
Kelopak mata Elara dan Jasmine sontak melebar karena jawaban Phoenix--yang tiba-tiba menimpali obrolan mereka disana.
"Ya, Kak Elara galak, tapi aku tetap menyukainya." Calvin mengacungkan jempol ke arah Phoenix, dan kedua bocah itu terkikik serentak.
...Bersambung ......
__ADS_1
Mana dukungannya? Othor minta kopi, boleh gak🤭🤭🤭