ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
66. Tak ingin gegabah


__ADS_3

Dari info yang Max berikan, tidak ada salahnya jika Shane memastikan kebenarannya dengan cara mengunjungi Stevi secara langsung. Tapi, ia harus menggunakan cara tenang dan tidak boleh gegabah. Salah sedikit, maka ia akan kehilangan info penting mengenai hal ini.


Jadi, Shane memilih menunda untuk segera mendatangi Stevi, meski ini sama dengan dia yang harus menahan kobaran api di dadanya sendiri. Jika benar ginjal istrinya yang menjadi tumbal atas keadaan Stevi, maka ia tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa wanita itu, kendati Stevi baru saja berusaha melakukan transplantasi ginjal demi menyambung hidupnya.


Untuk sekarang, Shane harus memikirkan cara yang matang. Ia memilih untuk bersikap seolah tidak mengetahui apapun soal transplantasi itu. Bahkan ia akan berlagak tak tau jika Stevi pernah mengalami penyakit yang membutuhkan donor ginjal.


"Pantas saja dia terlihat pucat dihari terakhir aku bertemu dengannya," batin Shane seakan menghubungkan keadaan Stevi waktu itu, dengan kenyataan yang kini diterimanya.


"Well, kita lihat saja apa yang akan ku lakukan jika benar ginjal istriku yang sudah berpindah ke tubuhnya," gumam Shane penuh tekad.


Setelah mencoba meredam semua amarahnya terkait info yang ia dapat hari ini, akhirnya Shane benar-benar melakukan virtual meeting di ruang kerjanya.


...****...


"Ferdi, apa syarat untuk transplantasi ginjal?"


Shane memilih bertukar cerita dengan sang dokter, karena ia tau, tidak mungkin Stevi langsung menargetkan Elara sebagai pendonor jika tidak menyelidiki tentang Elara lebih dulu. Agaknya rencana Stevi untuk menculik Elara juga sudah disusun matang, hingga tak berjejak. Namun, ini masih spekulasi Shane saja karena ia belum mendapat kepastian apa benar transplantasi ginjal yang dilakukan Stevi ada kaitannya dengan hilangnya organ itu dari tubuh istrinya.


Meski demikian, target yang paling Shane curigai sekarang tetaplah wanita itu.


"Seharusnya kau tau, Shane. Salah satu syaratnya adalah golongan darah yang sama."


Dan ya, sebenarnya Shane tentu mengetahui mengenai hal itu, ia hanya ingin memancing Ferdinand untuk membahas cerita ini, karena menurut info dari Max, Stevi melakukan operasi pencangkokan itu di Rumah Sakit tempat Ferdinand bekerja.


"Uhm, ya, aku tau kalau itu." Shane beralasan. "Yang ku maksud, apakah bisa seseorang yang membutuhkan donor ginjal menargetkan satu orang untuk menjadi pendonornya?" tanyanya kembali.


"Ya, bisa saja. Apalagi jika dia tau orang itu memiliki syarat utama tadi. Golongan darahnya cocok, lalu si pendonor dalam keadaan sehat dan bisa untuk melakukan pencangkokan tersebut," terang Ferdinand.


Shane terdiam beberapa saat. Ia mengingat kondisi terakhir istrinya--dimana ia menyangka Elara sedang hamil. Apabila Elara memang tengah mengandung waktu itu, berarti oknum yang mengambil organnya otomatis akan mengetahui jika di rahim Elara terdapat kehidupan lain. Dan hal ini, semakin membuat Shane murka apabila oknum pengambil ginjal Elara tidak memikirkan janin itu dan tetap mementingkan tujuan utamanya untuk mengambil organ tersebut dan bertindak menggugurkan kehamilannya.


"Apa ada masalah, Shane?" Ferdinand menyapa Shane yang tidak kembali bersuara.


"Ah, tak apa. Aku hanya sedang memikirkan soal pembicaraan kita mengenai donor itu. Aku butuh referensi," jawab Shane beralasan.


"Memangnya siapa yang mau operasi pencangkokan ginjal?"


"Seorang relasi yang masih kerabatku." Tentu saja Shane berdusta. "Apa ada pasien baru yang menjalani transplantasi di Rumah Sakit tempatmu bekerja?" selidiknya kemudian.


"Ya, ku pikir itu pasti ada."


"Kau tau identitasnya?" pancing Shane.


Ferdinan terkekeh pelan. "Kau lupa jika aku dokter umum? Aku bukan dokter bedah spesialis organ dalam, jadi aku kurang tau siapa orang terakhir yang menjalani operasi itu. Kenapa? Kau mau bertemu dengannya? Untuk mewawancarainya?" ledek Ferdinand kemudian.


"Ya. Tak ada salahnya, kan. Aku memang mau mencari refrensi, kalau bisa menanyakan langsung pada orang yang pernah menjalani transplantasi itu," katanya diakhiri dengan tawa pelan agar pembicaraan ini tidak terlalu serius.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan ... kau sendiri yang mau menjalani operasi itu?" canda Ferdinand.


"Hahaha, tentu saja tidak. Syukurnya aku dalam kondisi yang sehat ..."


Sehat sekali, sampai aku sangat siap untuk melenyapkan nyawa orang yang ku curigai saat ini, batin Shane menyambung perkataannya dalam hati.


"Ya, ku pikir ada benarnya juga jika kau melakukan wawancara itu pada pasiennya. Kau butuh info itu? Aku akan mencari tau identitasnya untukmu."


Sesuai dengan dugaan Shane, Ferdinand masuk pancingannya. Sekarang tinggal ia saja yang menyetir sang dokter untuk menanyai Stevi.


"Tidak perlu." Tentu Shane tak membutuhkan identitas orang itu yang sebenarnya sudah ia ketahui orangnya. Tentu saja itu adalah Stevi.


"Lalu, apa yang kau butuhkan?"


"Jika kau tak keberatan, kau saja yang menanyainya. Kau dokter dan akan memiliki akses yang lebih mudah, ketimbang aku yang asing dimata pasien pencangkokan ginjal itu."


"Aku? Menanyainya terkait keadaannya pasca operasi, begitu?"


"Ya, kalau perlu kau tanyakan bagaimana caranya dia mendapatkan cangkok ginjal itu. Maksudku, apakah dia mendapat donor dari rumah sakit atau justru ada pihak luar yang mendonorkan untuknya."


"Baiklah, Shane. Aku akan mewawancarainya untukmu."


"Thank you."


"Ya, setidaknya kau sudah membantuku. mencari refrensi agar aku bisa meyakinkan kerabatku untuk melakukan operasi."


"Ok, Shane. Aku akan mengusahakan info yang kau butuhkan."


Shane menyeringai di posisinya. Dari sini ia tak perlu repot-repot menanyai Stevi dan akan mendapat jawaban bohong dari wanita itu. Biar saja Ferdinand yang mencari tahunya. Jika satu clue saja Shane temukan, maka ini akan membuka jalan baru untuknya menyusun rencana.


...***...


"Sayang?" Shane mendekat pada Elara yang tampak melamun di balkon kamar. Tidak ada lagi keceriaan, bahkan Elara tampak murung akhir-akhir ini.


Wanita itu menoleh saat mendengar Shane memanggilnya.


"Kau menginginkan sesuatu?"


Elara menggeleng pelan. Shane sangat terenyuh melihatnya, apalagi jika ia mengingat kondisi sebenarnya yang saat ini ada pada sang istri.


"Ehm, aku punya sebuah rencana brilian untuk kita."


"Apa?" tanggap Elara.


"Ku pikir kita belum menghabiskan bulan madu dengan baik, jadi aku membebaskan mu memilih satu tempat untuk kita bulan madu."

__ADS_1


Elara menatap Shane dengan senyuman tipis seolah ucapan Shane tidak begitu menarik untuknya.


"Kau mau?" tawar Shane lagi, ia hanya berniat menghibur istrinya. Karena Shane tau yang menjadi pikiran Elara saat ini pastilah masih terkait kondisi terakhirnya dan soal kehamilan itu.


"Kita sudah berbulan madu saat di Indonesia waktu itu. Apa kau lupa?" Elara berujar dengan nada datar, benar saja dia tidak tertarik pada ajakan Shane.


"No. Tentu saja aku ingat dan selalu mengingatnya." Shane tersenyum manis, dia menelengkan kepala demi menatap wajah istrinya lamat-lamat. "Tapi yang kali ini berbeda," sambungnya.


"Apanya yang berbeda?"


"Karena kali ini kita akan menargetkan sesuatu."


"Target?" ulang Elara dan Shane menganggukinya.


"Aku tau kau menginginkan kehamilan itu, kan? Jadi, bulan madu kita kali ini khusus untuk menargetkan kehamilanmu." Shane mengulas senyum diujung kalimat. Senyum yang nampak sangat tulus dimata Elara.


Tangan Shane terulur, ingin membelai wajah wanita yang dicintainya itu tapi Elara menepisnya pelan.


Elara membuang pandangan. Jujur, ia tertarik dengan ajakan Shane tapi ia memikirkan kondisi tubuhnya yang terasa janggal.


"Kenapa?" Shane bertanya karena melihat penolakan yang Elara berikan.


"Aku ... akan mengikuti saranmu untuk target bulan madu itu." Elara tersenyum sambil menatap lurus ke depan. Ia tak berani menyorot pada iris mata kehijauan milik suaminya karena ia juga mau mengusulkan sesuatu pada Shane.


"Good. Kau mau kemana?"


"Dubai?" ujar Elara random.


Shane tersenyum sekarang. "Itu pilihan yang baik. Kita kesana ..." jawabnya bersemangat.


"Tapi sebelum itu, aku mau menanyakan satu hal dan kau harus menjawab dengan jujur."


Shane meneguk salivanya dengan berat sekarang. Ia tak menyangka Elara akan memberikannya pilihan seperti ini. Perasaannya tak enak.


"Katakan padaku, apa yang terjadi padaku? Apa yang menimpaku? Apa penyakitku? Dan bisa kau jelaskan apa arti jahitan di bagian samping perutku?"


Dan seperti yang Shane duga, akhirnya istrinya mempertanyakan semua kejanggalan yang sudah coba Shane tutupi dari Elara.


"Jawab aku, Shane!" Elara mendesaknya. "Jika kau tidak menjawab maka jangan harap aku mau mengikuti usul atau target yang kau tawarkan itu!"


Dan sekarang Shane harus pasrah saat istrinya malah mengancamnya.


...Bersambung ......


Mohon dukungannya yah, Guys. Nanti othor bakal up lagi deh. Kopi, bunga, vote, silahkan kirim ke meja othor ya🙏💚💚💚

__ADS_1


__ADS_2