
Kyle merenung didepan balkon kamarnya. Ia tampak frustrasi sejak kedatangan Elara ke kediamannya siang tadi. Perasaan dan pikirannya tidak baik-baik saja sekarang. Terutama setelah melihat tangisan Elara.
"Kyle ... apa kau tidak ingin makan malam?" Eve menghampiri putranya yang tampak gusar dan seperti banyak pikiran.
"Ibu makanlah dulu. Aku tidak berselera."
"Apa yang kau pikirkan, Nak? Ibu dengar dari Giselle, tadi Elara datang berkunjung ya?"
"Ya," jawab Kyle pelan.
"Jadi, kenapa dia tidak menginap? Bukankah perjalanan dari Hamburg kesini cukup jauh? Dia naik apa tadi? Apa naik pesawat?"
"Dia naik mobil pribadi, Bu. Ada sopir yang mengantarnya ke sini."
"Dan dia langsung pulang?"
Kyle mengangguk sebagai jawaban.
Eve sedikit heran dengan hal ini. Tidak biasanya Elara datang jauh ke Berlin dan tidak menginap. Meski dari Hamburg ke Berlin pun hanya memakan waktu 3 jam lewat jalur darat. Tapi, seharusnya Elara menghabiskan waktu yang lebih lama disini. Tapi, saat ia kembali dari supermarket, wanita itu sudah tak ia temukan di kediamannya.
Mungkin ini karena keadaannya sudah tak sama lagi. Bagaimanapun, sekarang Elara sudah menikah, begitulah pemikiran Eve.
Tapi, apa tujuan Elara datang? Apa hanya untuk mengunjungi Kyle saja? Eve bertanya dalam hati.
"Elara ada urusan di Berlin, ya?" Eve kembali menanyai putranya. Ia dan Kyle cukup sering membicarakan mengenai Elara dan putranya ini selalu senang jika membahas tentang wanita itu.
"Aku tidak sempat menanyakannya, Bu."
Eve dapat melihat putranya yang tidak bersemangat, sehingga ia merasa ada yang tidak beres. "Apa kalian bertengkar?" tebaknya.
Sekarang Kyle mengembuskan nafas berat, hingga saat itu juga Eve langsung bisa menerka situasinya.
"Kyle, Elara sudah memutuskan pilihannya. Jadi, ibu harap kau bisa menerima kenyataan. Hubungan kalian sangat baik, jangan merusak jalinannya hanya karena sebuah ego. Kau paham maksud ibu, kan?"
Kyle hanya merespon ucapan ibunya dengan gumaman pelan.
"Ya sudah, jika kau memang ada salah pada Elara, maka minta maaflah padanya. Ibu makan malam dulu ya. Kau menyusul lah," ujar Eve seraya meninggalkan kamar sang putra.
Seperginya Eve, Kyle mencengkram kepalanya yang terasa berat. Nasehat ibunya barusan, hampir sama dengan ucapan Shane kemarin yang memintanya untuk menerima kenyataan dimana Elara memang sudah dimiliki oleh pria itu disana.
"Apakah Ela akan memaafkanku, Bu?" gumam Kyle. Matanya tampak berkaca-kaca, hatinya penuh penyesalan. Seberapapun ia sudah berkorban, keadaan tidak akan berbalik hingga menjadikan Elara sebagai miliknya.
Dari posisinya yang masih berada di atas Balkon kamar, kini mata Kyle menatap lurus-lurus ke depan. Netra itu tampak nanar saat menerawang tentang kesalahan yang sudah terlanjur ia perbuat pada Elara.
...Flashback On...
__ADS_1
Gracia datang dengan tergesa-gesa dari LA menuju Berlin untuk mendatangi Rumah Sakit dimana Stevi di rawat.
Meski awalnya berlagak tak peduli, tapi Gracia tetap mencintai putrinya dan ingin mengusahakan yang terbaik untuk Stevi--yang tiba-tiba harus kembali masuk ke Rumah Sakit setelah sebelumnya sempat rawat jalan di kediaman Eve--kakaknya.
"Bagaimana bisa Stevi kembali masuk ke Rumah Sakit? Bukankah dia akan menjalani cuci darah?" Gracia menanyakan Kyle yang kebetulan menjaga Stevi disana.
"Entahlah, Aunty. Tapi sekarang keadaan Stevi diharuskan untuk mendapatkan donor ginjal sesegera mungkin."
"Ya, Tuhan. Apa tidak ada pendonor di Rumah Sakit ini?"
"Mencari pendonor itu tidak semudah kelihatannya," jawab Kyle.
"Bantulah Aunty, Kyle. Temukan siapa yang cocok untuk menjadi pendonor."
"Aunty, golongan darahnya harus cocok dan lagi ... keadaan pendonor harus sehat. Tidak ada yang akan mau mendonorkan ginjal secara sukarela. Aku sudah memasang iklan pencarian pendonor lewat website, tapi kebanyakan dari mereka golongan darahnya tidak cocok dengan Stevi. Jikapun cocok, ada yang memiliki riwayat penyakit. "
"Lalu bagaimana ini? Aunty akan menjual aset untuk membayar siapapun yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Stevi. Ayo cari orang itu, Kyle!"
Kyle semakin gusar dengan desakan Gracia. Lalu entah bagaimana, ia justru mengingat jika Elara memiliki golongan darah yang sama dengan Stevi. Tapi, sangat mustahil Elara mau mendonorkan ginjalnya apalagi itu untuk Stevi? Ya, hubungan mereka pasti kurang baik setelah problem dengan Shane dan pernikahan Elara dengan pria itu.
"Elara memiliki golongan darah yang sama dengan Stevi, tapi itu tidak mungkin--"
"Elara?" sergah Gracia. "Elara yang dulu aunty pikir adalah kekasihmu, tapi akhirnya dia menikah dengan Shane?" tebaknya.
"Ya, tapi tidak mungkin Elara mau membantu."
"Jika Elara tidak mau mendonorkan ginjalnya pada Stevi secara sukarela, maka cara apapun harus dilakukan. Sepertinya dia sehat dan cocok menjadi pendonornya."
"Apa Aunty sedang bercanda?" Kyle tertawa miris.
"Aunty sedang tidak mau bermain-main apalagi ini menyangkut nyawa Stevi."
Kesalahan besar karena Kyle sudah mencetuskan soal golongan darah Elara yang sama dengan Stevi, hal ini membuat Gracia terobsesi untuk mendapatkan ginjal Elara. Sialan.
"Sebaiknya Aunty enyahkan pemikiran untuk mendapatkan ginjal Elara karena aku tidak akan membiarkannya!" tegas Kyle.
"Kita lihat saja siapa yang akan bisa mencegah Aunty, Kyle!" Gracia tersenyum miring dengan penuh tekad di dalam hati.
Kyle tidak terlalu memikirkan jika Gracia akan mengambil ginjal Elara secara paksa. Ia berpikir jika sang Bibi akan meminta Elara secara baik-baik untuk datang menjadi pendonor bagi Stevi.
Nyatanya, Kyle sangat terpukul begitu Gracia sudah merencanakan hal dibelakangnya tanpa pernah berdiskusi dulu padanya.
Beberapa hari terakhir ternyata Gracia membuntuti Elara dan memanfaatkan keadaan saat Elara dan Shane berkunjung ke Rumah Sakit yang ada di Hamburg.
Untuk mempermudah prosesnya, Gracia sampai merujuk Stevi untuk dipindahkan ke Rumah Sakit yang juga berada di Hamburg. Agar nantinya, ginjal yang ia dapatkan--entah dengan cara apapun--bisa langsung dicangkokkan ke tubuh putrinya.
__ADS_1
Saat itu, Kyle tidak tau mengenai ulah Gracia yang ternyata membius Elara di sebuah toilet Rumah Sakit.
Tidak akan ada yang menyangka jika dibalik wajah wanita paruh baya yang selalu terlihat sendu itu akan bisa bertindak begitu sadis dan keji hanya demi menyelamatkan putrinya, Stevi.
"Aunty, apa yang kau lakukan pada Elara!" hardik Kyle begitu Gracia menghubunginya dan memintanya terbang ke Hamburg untuk membantu menyelesaikan misi terselubung yang sudah Gracia lakukan tanpa sepengetahuannya.
Kyle melihat Elara tak sadarkan diri disana, di sebuah Apartmen yang Gracia sewa khusus untuk mengeksekusi targetnya.
"Diamlah, Kyle! Kau Aunty hubungi bukan untuk berkomentar apalagi membantunya! Kau hanya perlu mengikuti cara Aunty agar ginjalnya bisa berpindah pada Stevi!" kata Gracia merujuk pada Elara yang tampak pingsan.
"Aku tidak mau!"
"Benarkah? Bukankah kau mencintainya?"
"Ya, karena hal itu lah aku tidak akan membiarkan Aunty menyakiti Elara!"
"Dasar naif! Dia sudah meninggalkanmu! Lihat, dia bahagia bersama Shane dan kau menjadi pecundang karenanya!"
Untuk hal ini, Kyle diam. Ia tidak merasa jika sebenarnya Gracia tengah mempermainkan perasaannya disini. Sebuah rasa yang Kyle miliki pada Elara, memang begitu besar tapi Gracia hendak mengendalikan rasa itu menjadi emosi. Ia memanfaatkan itu untuk menyetir Kyle.
"Jangan bo doh, Kyle! Aku melihatnya ke poli kandungan. Ku pikir dia hamil. Apa kau rela dia hamil anak Shane?"
"Jangan memprovokasi ku, Aunty!"
"Terserahmu saja. Aunty punya dua pilihan untukmu. Pertama, kau diam dan ikuti permainan ini lalu kau akan mendapatkan hati Elara kembali. Yang kedua, kau membiarkannya pulang kembali tapi kau akan melihatnya melahirkan banyak anak untuk Shane."
"Shiiitt!!" Akhirnya Kyle mengumpat. Membayangkan malam-malam yang sudah terlalu banyak Elara habiskan bersama Shane membuat api dalam dirinya mendidih. Ia tidak menyadari jika Gracia lah yang berhasil memantik api dalam dirinya.
"Setelah ini, kau hanya perlu menarik simpatinya. Jika dia sudah tidak sempurna, Shane pasti akan meninggalkannya dan dia akan datang kepadamu Kyle."
Kyle menatap pada mata Gracia yang tengah meyakinkannya.
"Trust me. Shane akan meninggalkan Elara disaat keadaannya sudah tidak sama lagi. Lelaki sempurna mana yang mau menerima kondisi Elara, hah? Dan satu lagi ... Aunty memiliki rencana lain, kebetulan Elara sudah ditangan kita maka kita akan memanfaatkan ini agar dia tidak pernah hamil anak Shane. Jika begitu, Shane akan meninggalkannya dan kau yang menjadi pemenangnya, Kyle!"
...Flashback Off...
Kyle sungguh menyesali keputusan yang ia ambil pada hari itu. Keputusan yang akhirnya menyebabkan Elara harus kehilangan ginjalnya. Ia termakan hasutan Gracia juga larut dalam api emosinya sendiri.
Ternyata cintanya yang besar pada Elara tidak sebesar ambisinya yang menginginkan wanita itu untuk ia miliki sepenuhnya.
Sampai pada akhirnya, Kyle merasa sampai pada satu titik balik dimana ia merasa tindakannya salah dan berdosa. Disitulah Kyle memutuskan untuk ikut mendonorkan ginjalnya juga untuk orang lain karena ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri apabila Elara menanggung sakit itu sendirian. Ia mau merasakan apa yang sudah terlanjur Elara rasakan.
Biar mereka dalam keadaan yang sama tanpa satu ginjal lagi yang melengkapi.
Disitulah Gracia kembali mengambil perannya, memanfaatkan data Kyle yang sudah mendonorkan ginjal pada orang lain lalu merubah keadaannya seolah-olah Kyle adalah pendonor untuk Stevi padahal kenyataannya tidak begitu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Ela... maafkan aku!"
...Bersambung ......