ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
74. Bukan kesalahan sederhana


__ADS_3

"Siapa sebenarnya pendonor untuk ginjalku, Kyle?"


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini padaku?"


"Karena aku ingin tau yang sebenarnya. Ibuku bilang kau yang mendonorkan untukku, tapi aku merasa ada yang janggal."


"Aku dengar Shane datang kesini kemarin. Apa kau menanyakan ini karena dia ada mengatakan sesuatu?"


"Ya. Dia mengatakan sesuatu."


"Apa?"


"Shawn masih hidup."


Suara tawa Kyle terdengar memenuhi ruangan.


"Shane datang untuk membuat lelucon?" sarkasnya.


"Dia serius. Bahkan dia bilang jika Shawn adalah pendonor yang sebenarnya."


"Jangan mau di bodohi oleh Shane, Stev! Mana mungkin orang yang mati bisa hidup lagi lalu mendonorkan ginjalnya untukmu?"


"Entahlah. Maka dari itu aku mau kau jujur mengenai siapa pendonor itu agar aku tidak menganggap lelucon Shane adalah kebenaran."


"Apa pentingnya untukmu?"


Alih-alih menjawab, Stevi malah memberikan pertanyaan, "jadi pendonor itu memang bukan dirimu?" Suara Stevi terdengar lirih. Itu bukan pertanyaan biasa tetapi sebuah pernyataan.


Kyle terdengar berdecak lidah. "Sebaiknya kau tanyakan saja pada ibumu. Aku tidak mau membahas hal ini lagi," lontarnya.


"Kalau aku bisa mendapatkan jawaban darimu, untuk apa aku menanyakan lagi pada ibuku?"


"Yang jelas itu bukan Shawn. Shawn-mu sudah meninggal, Stev!"


"Lalu siapa? Itu juga bukan kau, kan?"


"Elara!" cetus Kyle tiba-tiba membuat Stevi bungkam seketika.


Elara menatap pada suaminya yang tersenyum miris disisinya. Rekaman suara yang baru saja diputar Shane merupakan bukti akurat bahwa yang ada di tubuh Stevi benar-benar ginjal milik Elara. Dan pemilik suara dalam rekaman itu jelas Elara sangat mengenalinya. Kyle. Itu adalah Kyle.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan rekaman ini, Shane?"


"Dari penyadap suara yang ku pasang di kamar Stevi."


"Kau menemuinya?"


"Ya, demi mendapat bukti ini. Aku mau kau mempercayaiku."


"Maafkan aku, Shane. Aku sempat menentang hal ini hanya karena pemikiran ku terlalu positif terhadap Kyle." Elara tergugu, kemudian airmata meluncur begitu saja dan membasahi pipi mulusnya.


Shane mendekap Elara. Membawa istrinya ke dalam pelukan yang hangat.


"Jadi, apa keputusanmu sekarang? Kau mau aku melakukan apa padanya?"


Meski Shane sangat geram dengan keterlibatan Kyle dalam pencurian ginjal Elara, tapi ia ingin menanyakan keputusan akhir pada istrinya. Ia tidak mau membuat kesalahan dengan menghukum Kyle atas dasar emosinya sendiri. Shane mau semua terjadi atas persetujuan Elara.


"Aku tidak tau. Terserah kau saja."

__ADS_1


Dan Elara malah mempercayakan ini pada sang suami. Ia tidak mau turut campur dalam penghukuman Kyle, meski kini hatinya marah dan benci tapi Elara juga tak bisa memberi jawaban untuk hukuman yang harus Kyle dapatkan.


"Baiklah, serahkan semuanya padaku. Kau tidak akan menyesalinya, kan?"


Elara hanya diam. Ia kehabisan kata.


"Setelah ini, kita mulai hidup baru kita. Kita tidak boleh terus meratapinya."


Elara mengangguk dalam dekapan sang suami.


Elara sadar, ada banyak orang yang hadir sebagai orang baik dalam hidupnya. Tapi tidak selamanya orang itu akan terus baik. Termasuk Kyle. Ia tau pria itu adalah orang baik. Tapi ada kalanya Kyle melakukan tindakan yang membuat Elara sulit mempercayainya. Seperti saat ini.


...****...


Shane mengantar Elara ke sebuah desa pedalaman yang dulu adalah tempat Elara sempat mengajar. Udara disana sangat sejuk, asri dan bebas dari polusi. Ini Shane lakukan untuk ketenangan istrinya, juga agar Elara melupakan sejenak masalahnya, sehingga Shane mengizinkan Elara untuk mengajar dalam beberapa waktu.


"Elara!" Jasmine memekik kesenangan saat melihat Elara datang ke tempat mengajarnya.


"Jas, aku senang bisa melihatmu lagi."


Mereka saling memeluk satu sama lain dan mengatakan soal kerinduan keduanya. Elara senang sikap hangat Jasmine tidak berubah terhadapnya.


"Kau mau berkunjung kesini, atau ada tujuan lain?" tanya Jasmine.


"Dua-duanya."


Jasmine terkekeh. "Baguslah, aku senang sekali kau kembali. Kau bersama siapa?" tanyanya memastikan.


Elara mengendikkan dagu ke arah lain, merujuk pada Shane yang tampak menurunkan barang-barangnya dari dalam mobil.


"Wuh ... bersama suamimu?" goda Jasmine sambil mengerlingkan matanya.


"Entahlah, aku belum tertarik. Aku masih punya banyak tanggung jawab di yayasan ini..."


"Jangan katakan jika kau tidak tertarik pada pria?" olok Elara.


"Hahaha, tentu saja aku masih normal dan tertarik pada pria. Apalagi yang seperti suamimu," goda Jasmine lagi.


Elara menggeleng samar. "Kau ini, jangan jadi pengganggu ya," kelakarnya.


"Hahah, kau tau aku hanya bercanda. Tapi jika ada yang seperti itu lagi, aku mau mendaftarkan diri," katanya merujuk Shane yang tampak berjalan menghampiri mereka.


"Yeah, aku akan mencarikannya untukmu."


Mereka tertawa karena lelucon dan ucapan konyol yang mereka buat sendiri.


"Aku sudah menanyakan kamarmu pada pihak yayasan dan beliau mengatakan kau akan menempati kamar yang sama seperti dulu." Tiba-tiba Shane sudah muncul disamping Elara dan berujar pelan.


Elara dan Jasmine sontak menghentikan tawa lalu menoleh pada pria itu.


"Good. Ayo antarkan aku kesana, Shane."


...****...


Shane memang tidak menemani Elara di pedalaman, ia segera kembali ke pusat kota untuk menuntaskan niatnya.


Keberadaan Elara yang jauh disana, akan memudahkannya memberi hukuman pada Kyle. Karena Shane tak mungkin melakukan hal itu jika Elara masih berada ditempat yang sama. Meski Elara sudah menyerahkan semuanya padanya, tapi Shane tetap tidak bisa jika menghukum Kyle lalu hal itu didengar oleh sang istri.

__ADS_1


Nolan ditugaskan menjaga Elara selama di Desa. Sementara untuk menghukum Kyle, Shane tidak membutuhkan siapapun untuk membantunya.


"Shane?"


Kyle terkejut melihat Shane yang kembali mendatanginya. Bukan ke kediamannya, melainkan ke tempatnya bekerja.


Shane tidak berkata apapun. Ia melemparkan sebuah flashdisk pada Kyle yang duduk di hadapannya. Mereka hanya terhalang sebuah meja kayu yang sama-sama membatasi keduanya.


"Apa ini?" tanya Kyle merujuk pada flashdisk tersebut.


"Itu adalah bukti bahwa kau mengetahui jika ginjal yang diterima Stevi adalah milik Elara."


Tubuh Kyle menengaang seketika. Mati kutu. Terdiam tanpa bisa melontarkan pembelaan. Ia takkan menanyakan darimana Shane mendapatkan bukti yang dimaksudnya itu, karena Kyle tidak meragukan kemampuan dan akses seorang Shane Gladwin.


Kyle tau, cepat atau lambat ia akan menerima hukumannya dari suami Elara ini.


"Kau mau mengatakan apa untuk yang terakhir kalinya?" tanya Shane dengan seringaian kecil, tampak mengintimidasi sekali.


Kyle menggeleng.


"Apa yang kau tutupi, Kyle? Kau mau mati sendiri?"


"Entahlah, yang jelas aku tidak akan melarikan diri. Aku berhak menerima hukumanmu karena aku memang bersalah."


Kyle menundukkan kepala dalam-dalam. Shane takkan pernah tau penyesalannya akan semua yang sudah terjadi.


"Aku masih tidak yakin kau melakukan ini pada Elara hanya demi Stevi," desis Shane. "Mungkin Stevi adalah sepupumu, tapi aku percaya jika kau tidak akan mengorbankan Elara hanya untuk wanita sepertinya," lanjutnya.


"Bagaimanapun Stevi tetap keluargaku."


"Dan kau melakukan ini benar-benar untuknya?"


Kyle kembali diam.


Shane jengah melihatnya, ia kehabisan waktu.


"Waktuku tak banyak Kyle. Kau bisa jujur padaku mengenai apa yang terjadi dan aku akan memikirkan ulang mengenai hukumanmu."


Kyle tampak gusar, sampai akhirnya ia mengucapkan satu nama.


"Aunty Gracia. Dia ... dia yang memulai semuanya," ujar Kyle menyerah untuk terus menutupi semua ini. "Aku tidak terlibat dalam pencurian ginjal itu, tapi aku memang mengetahuinya dan kesalahanku adalah membiarkannya."


"Why?" Suara Shane melemah, membayangkan jika Gracia adalah otak dari semuanya. Bahkan ia menghargai wanita itu selayaknya ibu sendiri.


"Aku berharap kau meninggalkan Elara saat kondisinya tak lagi sempurna. Aku menginginkan Elara datang padaku setelah kau mencampakkannya. Tapi dugaanku salah, kau mencintainya meski dia sudah memiliki kekurangan itu."


Shane tergugu dengan ujaran Kyle yang jujur. Ia dapat menilai jika pria ini tidak berbohong.


"Aku sudah menyesalinya sejak sehari setelah ginjal Elara diambil. Aku menyesalinya, Shane. Seharusnya sejak awal aku bisa mencegah Aunty Gracia, nyatanya aku tidak bisa dan malah membiarkannya karena egoku sendiri."


"... setelah aku melihat Elara tak berdaya, disitulah penyesalanku muncul. Maka dari itu aku ikut mendonorkan ginjal pada orang lain. Kau tau kenapa? Itu supaya aku bisa menebus kesalahanku pada Elara. Tapi lagi-lagi Aunty Grace memanfaatkan keadaan itu dengan menyabotase data bahwa aku adalah pendonor untuk putrinya."


"Jadi, kau benar-benar sudah kehilangan ginjalmu?"


Kyle mengangguk mengiyakan. "Aku mau merasakan hal yang dirasakan Elara karena kesalahanku. Aku tau kesalahanku bukan hal yang sederhana, maka dari itu aku pasrah dengan hukumanmu."


"... saat aku menyumbangkan ginjal, aku juga berharap Elara dapat bersimpati padaku dan menganggap kami memiliki keadaan yang sama. Tapi nyatanya aku salah, hal ini tidak membuat Elara mau memaafkan kesalahanku yang tak sederhana. Kesalahanku amat besar padanya. Aku menyesal, sangat menyesal."

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2