ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
24. Datang lagi


__ADS_3

Elara terkejut saat mendapati Kyle yang berada didepan gedung Apartmennya.


"Kyle? Kau disini?"


Pria berambut cokelat itu tersenyum, lalu mengangguki pertanyaan Elara.


"Kenapa kau tidak mengabariku jika mau ke Hamburg lagi?"


"Ini mendadak, karena ada seseorang yang ingin menemuimu dan sangat merindukanmu."


"Siapa?"


Kyle mengendikkan dagu ke arah mobilnya dan Elara sedikit berlarian menuju arah yang dimaksud oleh sang pria.


"Aunty Eve?"


Elara semringah mendapati ibu dari Kyle yang tampak duduk di dalam mobil.


Eve membuka pintu dan memeluk Elara dengan hangat.


"Ela, akhirnya Aunty bertemu denganmu lagi dalam keadaan sehat."


Ibu Kyle memang belum sempat bertemu Elara sejak gadis itu ditemukan usai kecelakaan pesawat waktu itu. Ini adalah momen pertemuan kembali diantara mereka untuk yang pertama kali.


"Aku juga merindukanmu, Aunty."


Kedua perempuan berbeda generasi itu tampak kegirangan. Mereka memang sangat dekat, Elara menganggap Eve selayaknya ibu, pun Eve memperlakukan Elara seperti putrinya sendiri sebab ia hanya punya Kyle sebagai anak satu-satunya.


"Kau mau bekerja?" tanya Eve, bersamaan dengan Kyle yang sudah bergabung bersama mereka, pria itu hanya bisa memperhatikan interaksi antara keduanya.


"Iya, Aunty."


"Padahal Aunty masih mau mengobrol denganmu."


"Berapa lama Aunty disini? Bagaimana kalau menunggu di Apartmenku saja," tawar Elara.


Eve menyetujui hal itu, ia akan menunggu Elara di kediaman gadis itu.


Elara pun mengantarkan Eve ke unit apartmennya.


"Maaf merepotkan mu, apa kau tidak akan terlambat?" Eve memasang wajah sungkan.


Elara menggeleng. "Tenanglah Aunty, kalau terlambat sedikit tidak apa-apa," jawabnya.


"Baiklah kalau begitu."


"Seperti biasa, tempati Apartmen ini seperti di rumah sendiri, aku akan pulang tepat waktu," kata Elara pada wanita paruh baya itu.


"Hati-hati di jalan."


Elara berbalik pergi, diikuti oleh Kyle yang mendampingi disisinya.


"Apa Aunty ada urusan di Hamburg?"

__ADS_1


"Tidak juga. Tapi memang iya."


Elara sedikit mendesis. "Hih, jawaban macam apa itu, Kyle?" cibirnya dan Kyle hanya merespon dengan kekehannya.


Mereka kembali ke slot parkir, kemudian memasuki mobil sebab Kyle akan mengantarkan Elara ke kampus--tempat gadis itu mengajar.


"Ela, apa kau tidak ada keinginan untuk kembali ke Berlin?"


"Ada, tapi kau tau sendiri aku tidak bisa."


"Bagaimana kalau kau berhenti bekerja saja."


Elara menoleh pada Kyle dengan sorot mata heran.


"Maksudku, kau bisa mengajar di universitas lain yang ada di Berlin."


"Ku pikir kita sudah membahasnya berulang kali, Kyle. Lagipula untuk apa kau memintaku kembali ke Berlin?"


"Agar aku dan Ibu tidak terlalu jauh saat ingin mengunjungimu," jawab Kyle dengan kulumman senyum.


"Kau bisa meneleponku saja, begitupun dengan Aunty Eve."


Mobil berbelok mengikuti rute yang harus mereka lewati. Elara terkejut saat tiba-tiba Kyle kembali membahas soal cutinya.


"Bagaimana dengan cutimu? Apa sudah mendapatkannya?"


"Belum. Aku bahkan belum mengajukannya, aku sudah bilang jika aku baru masuk kerja, tidak mungkin meminta cuti."


"Jadi, bagaimana? Kau tidak ikut denganku ke Indonesia?" tanya Kyle.


"Sepertinya, jika kau memang ada urusan disana dalam waktu dekat. Kau saja yang kesana ya, tanpa aku." Elara terlihat berat hati dengan kalimatnya.


"Tapi urusanku itu bersamamu, Ela."


"Aku?"


"Ya, jika kau tidak ikut untuk apa aku kesana."


Sekarang Elara terkekeh. Kyle malah tampak serius.


"Kau ini! Kau bisa kesana tanpaku. Jika kau membutuhkan tour guide maka tidak usah khawatir, disana ada banyak yang menyediakan jasa itu."


Kyle tertawa hambar, "Aku mau yang gratis," candanya akhirnya.


"I know you so well," kata Elara.


Mobil yang dikemudikan Kyle sudah sampai di pelataran kampus untuk mengantarkan Elara. Namun, gadis itu belum kunjung turun. Ada yang ingin ia tanyakan pada Kyle terkait keingintahuannya.


"Ehm, Kyle ..."


"Ya?"


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu?"

__ADS_1


"Kau boleh menanyakan apapun padaku, Ela."


"Ehm, ini soal Stevi."


"Kenapa dengannya?" Satu alis Kyle terangkat naik, kenapa tiba-tiba Elara menanyakan soal sepupunya?


"Apa kau mengetahui jika Stevi sempat menjalin hubungan dengan seseorang sebelum dengan pria yang kemarin dikenalkan pada kita?" Yang dimaksud Elara disini adalah Shane, ia ingin tau apakah ujaran Shane kemarin benar, atau justru Shane menipunya. Bukan Elara tak percaya pada pria itu, melainkan ia hanya ingin memastikan.


"Kenapa kau menanyakan hal ini, Ela? Kenapa tina-tiba kau tertarik soal Stevi?" Mata Kyle memicing, tampak menyelidik pada Elara.


"Tidak ada. Aku hanya ... seperti pernah melihat Stevi sebelumnya, bersama pria yang berbeda," dalih Elara.


"Maksudmu ... Stevi berselingkuh, begitu?"


"No. No! Bukan itu, maksudku, sebelum dia bersama pria yang kemarin, apa dia pernah menjalin hubungan yang lama dengan lelaki lain? Karena aku pernah melihatnya dan itu juga sudah lama," katanya memberi alasan.


"Ehm, setahuku memang Stevi sempat pacaran dengan pria bernama Shawn." Kyle mengendikkan bahu. "Aku sempat mengenalnya, ku pikir mereka akan menikah, tapi entah kenapa pria yang kemarin itu bukan Shawn, melainkan Shane. Aku pikir mereka mirip, tapi mereka orang yang berbeda."


Dan akhirnya Elara dapat memastikan jika Shane tidak membohonginya soal ini. Dapat dipastikan juga jika Kyle sama sepertinya yang menganggap Shane adalah suami Stevi--meski pada kenyataannya Stevi tidak pernah memperkenalkan Shane sebagai suaminya.


"Kau mendengar jika Stevi mengatakan jika Shane adalah suaminya? Maksudku, apa Stevi memperkenalkan Shane sebagai suaminya?"


"Tidak juga. Tapi, aku mendengar pesta pernikahan mereka meski waktu itu aku tidak bisa datang."


"Benarkah?" Elara turut mengetahui jika pesta pernikahan yang dirancang ibu Shane memang benar-benar diadakan sesuai dengan ujaran Shane kepadanya.


"Ya, entahlah. Aku tidak mau tau terlalu banyak karena itu urusan pribadi Stevi."


Elara menganggukkan kepalanya.


"Apa kau tidak akan telat? Kita terlalu lama mengobrol."


Elara tersentak, "Ah, iya. Maaf ya aku bertanya hal yang agak aneh hari ini. Aku masuk dulu," pamit Elara.


Kyle mengangguk, ia mau turun dan membukakan pintu namun Elara mencegahnya.


Elara turun sendirian, tapi ia terkejut mendapati seorang pria yang bersandar disebuah mobil hitam mengkilat. Kedua tangan pria itu dilipat di dada, bersedekap dan menatap lurus-lurus ke arah Elara seakan sudah tau jika Elara akan segera turun dari mobil Kyle.


Tatapan Elara dan pria yang tidak lain adalah Shane itu--bersirobok--kemudian Elara segera memalingkan wajah, berlagak tidak melihat Shane disana.


"Apalagi ini?" batin Elara. Apa Shane tidak mendengar dan mengerti bahwa kemarin ia sudah menolak untuk berhubungan dengan pria itu?


Elara melirik Kyle yang masih berada didalam mobil. Matilah ia jika Kyle sampai melihat Shane mendatanginya hingga ke kampus seperti ini. Elara takut Kyle akan salah paham, bagaimanapun juga yang Kyle ketahui adalah Shane itu suami dari Stevi.


"Lara!"


Elara menggosok tengkuknya saat Shane memanggil namanya. Sekali lagi ia melirik Kyle yang masih berada di balik kemudi.


Elara berusaha mengabaikan panggilan Shane, dalam hati ia berharap jika Kyle jangan sampai mendengar atau melihat Shane yang akan menghampirinya.


"Bagaimana ini!" Elara merutuk Shane dalam hatinya. Kenapa pria ini terus datang lagi?


...Bersambung ......

__ADS_1


Buat yang belum paham, ini othor jelaskan ya. Shane dan Stevi itu bukan suami istri. Cuma dianggap suami istri sama publik karena ibu Shane mengadakan semacam pesta yang mengatasnamakan pernikahan mereka. Apa tulisan othor kurang jelas ya? Kenapa masih ada yang anggap Shane suami orang? 😅Kirim dulu dukungannya guys, biar gak oleng✅


__ADS_2