ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
55. Pencarian


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Shane belum bisa menemukan titik terang mengenai keberadaan Shawn yang masih hidup. Meski koneksi Shane sangat mungkin untuk membuatnya menemukan Shawn dengan cepat, tapi jangan lupakan jika Shawn pun pasti memiliki cara dan akses yang sama canggihnya untuk menghindar dari pengawasan Shane.


Mau tak mau, Shane harus mengakui didalam dirinya jika Shawn dan dia sama-sama mempunyai tekad yang bertolak belakang. Shane ingin menemukan, sementara Shawn tidak ingin ditemukan. Atau mungkin belum. Entahlah.


"Aku belum bisa mencari jejak Shawn, ibu. Ku pikir dia memang sengaja pergi tanpa meninggalkan jejak. Dia belum mau kita menemukannya."


Emma tau arti dari perkataan putranya, ini merujuk pada Shane yang sudah menyerah dalam pencarian Shawn. Meski begitu, tak urung Emma tetap mempertanyakannya juga.


"Kau menyerah untuk mencarinya?"


Shane menggeleng disana. "Bukan, aku bukan menyerah ibu. Tapi dari kesimpulan ku, aku tidak akan pernah bisa menemukan Shawn selama bukan dia sendiri yang ingin menunjukkan diri. Untuk saat ini, kesimpulannya adalah Shawn belum mau kita temukan, oleh karena itu semua terasa sulit untuk aku selidiki, seakan Shawn sengaja mempersulit ku," jelasnya.


Emma manggut-manggut. Entah apa rencana Shawn yang masih memilih bersembunyi. Kendati Stevi sudah melahirkan dan jelas itu bukan anak Shawn, tapi putranya belum mau mengakhiri persembunyiannya. Lalu, apa lagi yang membuat Shawn tak mau muncul? Bukankah dia tak akan dimintai pertanggungjawaban atas putri Stevi? Sepengecut itukah jiwa Shawn dalam menghadapi masalah ini? Padahal menurut Emma, semuanya sudah baik-baik saja dan tidak salah jika Shawn kembali disaat sekarang.


"Jadi, apa rencanamu selanjutnya, Shane?" tanya Emma setelah beberapa saat hening.


"Ku pikir kita tidak perlu membuang-buang waktu untuk mencari Shawn. Dia akan pulang dengan sendirinya nanti disaat dia merasa waktunya sudah tepat."


"Tapi, Shane?"


"Sudahlah, ibu. Shawn pasti tau apa yang diperbuatnya. Dia bukan anak kecil. Ku pikir, saat ini Shawn pasti sedang mencari timing yang pas untuk kembali," pungkas Shane.


Hening, ibu dan anak itu seakan larut dengan pemikiran mereka masing-masing.


"Ibu ... merindukannya," ujar Emma dengan suara tercekat.


"Aku tau." Shane menghela nafas kasar. "Tapi, firasatku mengatakan jika aku semakin mencarinya, maka Shawn akan semakin menghindar, secara otomatis itu akan membuatnya semakin menjauh. Jadi, keputusanku saat ini adalah menunggu. Aku yakin dia akan kembali secepatnya, ibu."


Dengan perasaan yang berkecamuk dan bimbang, akhirnya Emma menyetujui usul Shane untuk menunggu. Meski entah sampai kapan dia harus menunggu saat itu tiba. Dimana Shawn kembali ke keluarga mereka.


Bukan apa-apa, mengingat jika putranya yang sudah meninggal ternyata masih hidup, ada secercah harapan besar dalam diri Emma sebagai seorang ibu. Naluri keibuannya jelas merasakan euforia atas hal ini. Putranya masih hidup. Tentu saja ia senang tapi keputusan Shawn yang belum mau ditemukan mengundang berbagai pertanyaan dalam diri Emma maupun Shane disana. Apalagi yang membuat Shawn ragu untuk kembali?


...***...


Elara sedang berbelanja di supermarket siang itu. Ia membeli segala kebutuhan pribadinya sendiri. Setelah menikah dengan Shane, pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu memberikannya sebuah kartu hitam berkilat yang Elara ketahui sebagai kartu unlimited tanpa batas.


Shane mengatakan Elara boleh membeli apapun yang dia butuhkan, bahkan yang Elara inginkan. Tapi, gaya hidup Elara yang sudah terbiasa sederhana membuatnya urung berfoya-foya. Ia hanya menggunakan kartu itu seperlunya.


Seperti hari ini, Elara hanya berbelanja keperluan yang memang diperlukannya. Suaminya itu meminta Elara menggunakan kartunya, yang nyaris tak pernah Elara gunakan.


"Kebutuhanku sudah dipenuhi olehnya didalam mansion itu. Tapi dia memaksaku untuk menggunakan uangnya. Aku saja bingung mau belanja apa karena disana sudah lengkap semua." Elara bergumam-gumam sambil melihat-lihat koleksi pakaian terbaru yang dipajang di dalam pusat perbelanjaan.


Sampai akhirnya, Elara melihat outlet yang menjual gaun malam. Ia kepikiran untuk memilikinya, mengingat suaminya mungkin akan menghadiri berbagai acara penting yang pasti Shane akan mengajaknya juga. Entahlah. Elara ingin membelinya hanya untuk berjaga-jaga saja.


"Di lemari juga sudah banyak disediakan. Apa aku tetap harus membeli satu atau dua setel gaun, agar Shane tau jika aku sudah menggunakan uangnya?"

__ADS_1


Elara mengendikkan bahu tak acuh. Kemudian dia benar-benar membeli gaun-gaun disana hanya untuk membuat suaminya senang karena akhirnya ia menggesekkan kartu pemberian Shane di mesin yang ada dipusat perbelanjaan tersebut.


Beberapa kantong paperbag sudah ada di tangan Elara. Ia juga membeli tas juga high heels. Padahal Elara bingung mau kapan dia menggunakannya.


Sudahlah, turuti saja kemauan Shane. Ini juga supaya dia tau bahwa aku sudah benar-benar menggunakan uangnya. Begitulah batin Elara.


Elara memang pergi ke Mall tanpa Shane sebab pria itu masih sibuk bekerja. Tapi Elara tidak sendirian, ia didampingi oleh Lisa--salah satu asisten rumah tangga yang kini ditugaskan untuk menjadi pelayannya. Dan seorang sopir yang merangkap pula sebagai penjaga untuk mengawasinya.


Elara merasa seperti orang kaya baru yang diberi ajudan oleh suaminya sendiri. Meski bersyukur karena merasa aman, tapi jujur saja Elara merasa pergerakannya terbatas. Shane terlalu berlebihan, padahal entah apa yang harus ditakutkan.


"Lisa, kau tau tidak, suamiku itu sangat berlebihan. Lihatlah, padahal tidak ada seorangpun yang harus ditakuti untuk menyakitiku. Aku tidak memiliki musuh sama sekali tapi Shane sampai mengutusmu dan Nolan hanya untuk mendampingiku."


Lisa terkekeh kecil. "Mungkin karena Tuan Shane sangat mengkhawatirkanmu, Nyonya," jawabnya realistis.


"Ya, tapi ini terasa berlebihan."


Saat Elara mengucapkan kalimat itu, tanpa sengaja ia menabrak seseorang disana. Sebenarnya bukan Elara yang menabrak tapi tepatnya adalah dia yang ditabrak dari arah samping.


"Apa kau tidak bisa berjalan dengan baik?" berang seseorang yang menabrak Elara. Justru disini Elara yang ditempatkan sebagai orang yang salah oleh seseorang itu.


Kelopak mata Elara melebar, ingin membantah bahwa dirinya tidak bersalah, namun ia malas untuk terlibat keributan. Sehingga ia meminta maaf lebih dulu untuk menetralisir keadaan itu.


"Maaf, maafkan aku. Mungkin aku yang tidak melihatmu," kata Elara mengalah.


"Maaf katamu? Enak saja kau meminta maaf setelah tubuhku sakit karena ulahmu." Wanita itu kembali berang dan mengoceh.


"Diam kau! Kau hanya seorang pelayan yang tidak seharusnya ikut campur!" umpat wanita itu. Dia mengetahui Lisa adalah pelayan karena Lisa memang mengenakan seragam khas-nya.


Lisa langsung terdiam karena ucapan wanita itu memojokkannya.


"Sekali lagi, aku minta maaf dan tolong sudahi keributan ini karena aku tidak mau terlibat sebuah percekcokan," kata Elara menyela.


Nolan mendekat karena merasa majikannya sedang dalam masalah. Padahal sebelumnya, pria yang ditugaskan untuk menjadi pengawal Elara itu memang sedikit menjaga jarak dari Elara dan Lisa demi kenyamanan majikannya.


"Maaf, jika memang mereka ada masalah dengan Anda, sebaiknya bicarakan dengan saya saja, Nona," kata Nolan yang pasang badan melindungi sang majikan.


Wanita yang tadinya mengoceh dan tak mau mengalah itu lantas melihat pada Nolan dan tersenyum skeptis.


"Oh, jadi kau mau membantu menyelesaikan masalah diantara kami?" tanya wanita itu pada Nolan.


Nolan mengangguk dengan wajah datarnya.


"Dia menabrakku, sampai tubuhku terasa sakit. Lihat belanjaannya banyak begitu, semuanya mengenai tubuhku!" terang wanita itu dengan ketus.


"Tapi yang saya lihat, anda yang sengaja menabrak tadi," bela Nolan.

__ADS_1


"Sekarang kau mau menyelesaikan masalahnya atau mau menyalahkanku?" kata wanita itu tak terima.


Elara yang menyaksikan itu sampai pusing sendiri, padahal ia sudah berusaha mengalah agar tidak terjadi keributan, tapi wanita ini seperti sengaja memancing masalah dengannya.


"Katakan apa maumu, Nona?" ujar Nolan kemudian.


"Ganti rugi! Aku mau uang," ujarnya dengan senyuman sinis.


Dan ya, sekarang Elara tau jika wanita ini sengaja untuk memanfaatkan keadaan. Mungkin Elara bukan korban pertama. Elara bisa saja memberi uang dan masalah akan beres, tapi Elara tidak menyukai bagaimana cara wanita ini mencari uang.


Nolan tampak mau mengeluarkan dompetnya saat Elara tiba-tiba menyergahnya.


"Tidak, jangan berikan dia uang itu," kata Elara pada Nolan.


Mata wanita yang hampir menerima uang itu malah melotot ke arah Elara.


"Jangan jadikan hal semacam ini sebagai mata pencarianmu, Nona!" hardik Elara kemudian.


"Sombong sekali kau ini!" Wanita itu mengomel dengan wajah memerah.


"Ayo, Lisa. Kita biarkan saja dia," kata Elara tak acuh. Ia bersiap ingin beranjak dari sana.


"Hei!!" Sampai wanita itu memekik karena tak terima jika Elara pergi begitu saja sementara dirinya masih mengharapkan pertanggungjawaban.


"Apa?" Elara menoleh, sekarang ia malah tersulut emosi karena sikap bar-bar wanita ini yang seakan sengaja mencari masalah dengannya.


"Aku akan mempermalukanmu jika kau tidak memberiku uang!"


"Kau mengancam ku?" tanya Elara dengan suara pelan dan ulasan senyuman.


"Cepat, berikan saja uangnya!"


"Kau juga mau memerasku? Jika aku tidak mau, kau mau apa? Bahkan belanjaanku yang katamu sudah membuat tubuhmu itu sakit, tidak ada yang jatuh sama sekali ... lalu bagaimana bisa kau terus menyalahkan aku?" cibir Elara kemudian.


"Tapi buktinya kau menabrakku tadi!"


"Oh ya? Kita bisa lihat rekaman cctv nya jika kau memang mau memperbesar masalah ini," jawab Elara setenang mungkin.


Wanita itu mengepalkan tangannya. Ia kesal sekali pada Elara. Target dan tujuannya tak tercapai, ia pun pergi dengan bersungut-sungut.


"Awas saja kau," gerutu wanita itu sambil berlalu.


...Bersambung ......


Dukungannya mana? Mau dilanjut enggak?

__ADS_1


Dilanjut \= Kasih dukungan✅


Selamat menjalankan ibadah puasa yang all Readers, ❤️


__ADS_2