
Shane masih memiliki hati untuk membiarkan Kyle hidup, tapi ini adalah kesempatan pertama dan terakhir bagi pria itu. Shane berharap Kyle tidak mendekati Elara lagi baik dengan topeng persahabatan atau hanya sekedar bertatap wajah. Shane membangun tembok tak kasat mata untuk mereka.
Hari berganti, waktu berlalu. Elara masih terus mengajar di pelosok ditemani oleh Jasmine yang menjadi sahabat terdekatnya saat ini. Sementara Shane, tidak pernah luput untuk mengunjungi istrinya. Setiap dua kali dalam seminggu, Shane akan menemui Elara agar Elara tau bahwa ia masih selalu ada dan mencintai wanita itu.
Saat ini, Shane hanya memberikan ruang dan waktu untuk Elara memulihkan diri dari rasa sakit hati, trauma dan kecewa atas keadaan yang sempat menimpanya.
Shane pun demikian, ia larut dalam pekerjaannya di setiap hari. Syukurnya, sejak terakhir kali ia menghukum Kyle, Shane tidak pernah melihat lagi keberadaan pria itu. Shane memang memberikan pilihan pada Kyle, meninggalkan Jerman atas keinginannya sendiri atau Shane yang akan bertindak untuk membuat pria itu diusir dari negara tersebut. Dan mungkin pilihan Kyle jatuh pada pilihan pertama, ia pergi dengan sendirinya.
"Tuan, saya mau melaporkan berita kematian."
Shane menoleh pada Max yang baru saja memasuki ruang kerjanya.
"Katakan."
"Nyonya Gracia sudah tewas. Waktu kematian 10.41, siang tadi."
Shane membubuhkan tanda-tangannya lebih dulu barulah ia kembali merespon ucapan Max disana.
"Urus semuanya. Kau mengerti maksudku, kan?"
Max mengangguk. Lalu berlalu dari ruangan Shane saat itu juga.
...***...
Sudah lebih dari tiga bulan ini Stevi tidak mengetahui keberadaan ibunya. Gracia bak hilang ditelan bumi disaat kondisi Stevi sudah mulai membaik.
Belum jelas kemana perginya sang ibu yang tidak memberi pesan apapun. Kyle dan Eve juga meninggalkan Jerman. Hal yang membuat Stevi tak mengerti ada apa sebenarnya.
Stevi sudah mencari keberadaan sang ibu yang biasanya sering ke LA. Namun, tidak sekalipun Stevi mendapat panggilan balik yang menyatakan bahwa ibunya memang berada disana.
Saat perasaannya tak enak, tempo hari Stevi sudah melaporkan hilangnya Gracia pada pihak kepolisian. Namun, sepertinya laporan itu hanya terhenti di meja tugas tanpa pernah ditindaklanjuti.
Stevi berusaha untuk hidup sendiri dan menghidupi putrinya tanpa bantuan siapapun. Ia meminta bantuan tetangga Apartmennya untuk mengasuh Maura, sementara sekarang ia sudah kembali bekerja sebagai chef di Restoran.
"Kau baru pulang?" tanya Yetti, dia adalah tetangga Stevi yang menjaga Maura.
Stevi melihat Maura berada dalam gendongan Yetti, tapi ia merasa gelagat tetangganya sangat aneh. Stevi takut ini ada kaitannya dengan kondisi sang putri.
"Kenapa Bibi Yetti? Apa ada masalah dengan Maura?" Stevi segera meraih tubuh mungil putrinya dari gendongan Yetti.
"No. Maura tidak rewel, hanya saja ... tadi ada pihak yang mengaku dari kepolisian datang ke Apartmenmu."
__ADS_1
"Benarkah?" Stevi merasa ini ada kaitannya dengan laporannya tempo hari terkait sang ibu. "Mereka bilang apa?" tanyanya kemudian.
"Sepertinya kau harus segera menghubungi mereka kembali, ku rasa ini ada hubungannya dengan Grace, ibumu."
"Ah, ya. Aku akan menghubunginya. Apa bibi punya kontak mereka yang bisa ku hubungi untuk ku tanyai?"
Yetti mengambil sesuatu dari apron yang ia kenakan. Wajahnya tampak murung seolah mengkhawatirkan sesuatu.
"Ini." Yetti menyerahkan secarik kertas. "Jujur saja, perasaan Bibi tidak enak, Stev!" kata Yetti terus terang.
Stevi seakan memahami ucapan sang tetangga, maka dia kembali menitipkan Maura dalam gendongan Yetti dan segera mengambil ponsel dari tas yang ia kenakan.
Saat itu juga, Stevi segera menghubungi pihak yang mengaku sebagai aparat kepolisian. Sebab, kata Yetti mereka tak mau menjelaskan duduk permasalahannya kecuali pada pihak keluarga, jadi Yetti tak tau apa hal yang membawa mereka datang dan menyambangi kediaman Stevi.
Saat Stevi menanyakan ada kabar apa mengenai Gracia lewat saluran telepon itu, disaat itu juga ponselnya hampir terjatuh akibat ia yang mendadak lemas akan berita yang ia dengar dan disampaikan dari seberang sana.
"Ada apa, Stev?" Yetti menunggu Stevi menjelaskan. Ia melihat wajah wanita itu yang berubah pias.
Didetik yang sama, airmata Stevi mengalir deras. "Ibuku ... ibuku ditemukan tewas, Bibi," ujarnya dengan suara tercekat.
Mata Yetti membola seketika, kabar ini benar-benar membuktikan mengenai perasaannya yang tak enak sejak melihat kedatangan pihak kepolisian.
...***...
Emma menanyai Shane pada satu kesempatan dimana mereka terlibat makan malam bersama. Sudah cukup lama mereka jarang bertatap muka, karena Emma pergi ke Milan dalam sebulan terakhir.
Shane menarik nafas sejenak. "Aku membiarkan Elara di desa untuk mengobati luka hatinya, Bu. Tidakkah ibu ingat apa yang menimpa Elara tiga bulan yang lalu?" ujarnya.
"Ibu tau dan tentu saja ini ingat. Tapi, ini sudah terlalu lama. Jangan membuat jarak dengan sengaja, Shane. Atau nantinya kau akan menyesali keputusanmu ini."
Shane tau jika kini Emma tengah memperingatinya.
"Aku tau konsekuensinya, Bu. Dan ibu juga tau kan jika aku selalu membuat keputusan dengan matang?"
Emma mengangguk, meraih segelas air dan menandaskannya.
"Ibu hanya merindukan keramaian rumah. Sampai saat ini Shawn belum kembali dan ibu berharap banyak supaya kau dan Elara segera memiliki bayi."
Shane berdecak lidah. "Aku dan Lara bahkan baru menikah setahun belakangan, Bu."
"Jangan bilang kalian menundanya."
__ADS_1
"Tidak, Bu."
"Lalu, apa lagi yang kau tunggu? Ajak Elara pulang dan seorang anak akan membuat ikatan diantara kalian semakin kuat."
"Kami sedang berusaha, Bu."
"Usaha apa? Kalian bahkan tinggal terpisah sekarang."
Shane mendengkus pelan. "Baiklah, aku akan meminta Elara untuk kembali," putusnya.
"Ya, ibu harap Elara segera hamil, Shane."
"Jangan mendesak sesuatu yang diluar kendaliku, Ibu."
Shane sadar, sudah cukup lama pula ia dan Emma tidak terlibat perdebatan. Haruskah kali ini ia bentrok dengan Emma karena hal ini?
"Ibu pikir satu tahun sudah merupakan tenggang waktu yang cukup. Kalian sudah layak menjadi orangtua. Periksakan kesehatan dan lakukan tindakan," ucap Emma terdengar tak ingin dibantah.
"Hmm ..." Shane terlalu malas untuk menjawab sang ibu dengan sebuah kalimat.
"Ibu merindukan seorang cucu. Kau mengerti, kan?"
Shane terdiam beberapa saat, sampai akhirnya ia bersuara kembali.
"Bagaimana jika kami tidak bisa memberikan ibu cucu?"
"Apa maksudmu, Shane?" Suara Emma naik satu oktaf. "Kondisi Elara, masih memungkinkan untuk hamil. Ibu tau itu!"
"Ya, jika reproduksi nya sehat dan aku juga sehat."
"Kalian pasti sehat, atau jika salah satu dari kalian tidak sehat maka segeralah berobat."
Emma mengusap ujung bibirnya dengan serbet, kemudian berderap meninggalkan Shane yang terdiam ditempat dengan segala pemikirannya.
Shane memikirkan ucapan ibunya. Sudah setahun ini ia dan Elara menikah tapi tanda kehamilan itu belum kunjung muncul. Apa ibunya benar jika mereka harus mengonsultasikan hal ini pada pihak kesehatan?
Shane pikir seharusnya Elara sudah hamil anaknya--waktu itu--sesaat Elara belum kehilangan ginjalnya. Tapi, sejak itu memang tidak ada tanda-tanda kehamilan lagi pada Elara meski mereka sudah menghabiskan waktu di Dubai dan disetiap pertemuan mereka.
Jika kekurangan itu ada pada Elara, Shane bertekad akan menerimanya. Tapi apabila kekurangan itu ada pada dirinya, apa Elara mau menerima jika mereka akan hidup tanpa seorang anak?
...Bersambung ......
__ADS_1