ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
56. Pesta


__ADS_3

Tidak sia-sia Elara berbelanja siang tadi karena malam ini Shane benar-benar mengajaknya untuk pergi ke sebuah pesta yang diadakan oleh seorang rekan kerjanya, jadi Elara bisa menggunakan gaun yang tadi sempat ia beli. Suatu kebetulan yang menguntungkan, batin Elara.


Saat membaca pesan dari Shane, Elara langsung mengiyakannya dan segera bersiap agar ketika Shane tiba di rumah, Elara sudah selesai mematut dirinya sendiri.


Saat Elara hampir selesai dengan penampilannya, Shane juga sudah tiba di kediaman mereka. Waktu yang benar-benar pas.


"Sayang, kau cantik sekali," puji Shane begitu melihat istrinya sudah tampil cantik disana. Dia ingin mencium Elara, tapi wanita itu menghindar dengan alasan jika Shane belum mandi. Shane berdecak lidah, tapi Elara terkekeh karenanya. Ia hanya bergurau karena pada akhirnya Elara yang justru mencium suaminya itu.


"Hmm. Sudah, sekarang mandi dan bersiaplah juga," kata Elara sembari mendorong pelan tubuh Shane seolah mau mengiringnya ke arah kamar mandi disudut kamar.


Shane ikut terkekeh dan akhirnya mengikuti saja perintah istrinya, hingga beberapa saat kemudian dia sudah selesai mandi dan bersiap untuk mengenakan pakaian yang sudah Elara siapkan.


"Ini pesta apa?" tanya Elara saat Shane mengancing kemejanya.


"Mr. Walker mengundang ke acara ulang tahun istrinya. Aku tidak enak jika tidak kesana karena saat ini kami sedang terlibat kerja sama untuk suatu proyek."


Elara manggut-manggut paham. Dia duduk di sofa dan memperhatikan Shane yang mulai mengenakan jas slimfit miliknya.


"Ehm, ku dengar kau terlibat keributan di Mall hari ini?" tanya Shane melirik Elara sekilas.


"Nolan yang memberitahumu?" tebak Elara.


Shane tak menjawab, tapi Elara mengartikan diamnya lelaki itu sebagai jawaban yang berarti iya.


"Wanita itu tidak menyentuhmu, kan?"


"Kenapa kau tak menanyakan hal itu juga pada Nolan?" sindir Elara. Benar saja perasaannya, inilah yang membuat pergerakannya terbatas disaat dia harus diawasi oleh Nolan dan Lisa, karena pada akhirnya Shane akan mengetahui segala hal yang ia lalui termasuk perkara siang tadi.


"Aku ingin bertanya padamu saja. Kau yang istriku, bukan Nolan." Shane menjeda ucapannya sesaat, lalu melanjutkan, "... kau tau jika aku melakukan ini demi kebaikanmu, kan?" sambung Shane yang kini tampak memakai pomade untuk rambutnya. Dia fokus melihat cermin dan tidak menoleh pada Elara.


"Ya, aku tau." Elara pun menyahut datar.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu." Shane berjalan menghampiri Elara saat sudah siap dengan penampilannya.


"Hmm ..." Elara menjawab dengan gumaman pelan.


Dan Shane meraih jemari istrinya itu. "Kita berangkat?" ajaknya.


Elara mengangguk lalu bangkit dari duduknya.


Sebelum benar-benar keluar dari kamar mereka, keduanya bercermin disebuah kaca besar yang menampilkan full body--dimana dapat menunjukkan seluruh penampilan keduanya.


"Bukankah kita tampak sangat serasi?" ujar Shane menatap bayangan mereka di cermin.


Sekarang Elara tersenyum. Ia tau Shane tengah memperbaiki moodnya yang kurang baik karena pembahasan mereka sebelumnya.


Mereka lalu keluar kamar dan berpapasan dengan Emma yang juga tampak ingin menuruni tangga.

__ADS_1


"Kalian mau pergi?" tanya wanita paruh baya itu. Meski mereka tinggal di atap yang sama, Emma tidak terlalu mencampuri urusan rumah tangga putranya, karena ia tau Shane dan Elara menikah karena saling mencintai dan tak perlu lagi campur tangannya.


"Iya, Bu." Elara yang menjawab.


"Ke pesta Mr. Walker?" tebak Emma.


Shane mengangguk.


"Baiklah, hati-hati dijalan. Sore tadi hujan dan jalanan sangat licin. Minta Max menyetir dengan hati-hati."


"Thank, bu."


Mereka pergi dan disopiri oleh Max. Hingga mobil yang membawa mereka tiba disebuah pelataran hotel berbintang tempat diadakannya pesta ulang tahun istri dari Mr. Walker.


"Hallo, Mr. Walker..." Shane menyapa sang empunya acara.


"Hai ... Mr. Gladwin, thank you sudah datang kesini. Apa kabarmu?" respon Mr. Walker.


"I'm great."


Mr. Walker melihat pada seorang wanita yang hadir bersama Shane disana. "Woa, apa dia kekasihmu?" tanyanya merujuk pada Elara.


Shane tersenyum tipis. "She's my wife," jawabnya lugas dengan senyuman bangga ke arah Elara.


"Aku tidak tau kau sudah menikah. Selamat untuk pernikahanmu." Mr. Walker menyalami tangan Shane dan menggoyang-goyangkannya. Shane merespon ucapan itu dengan hangat lalu mereka terlibat perbincangan lain.


"Istrimu cantik sekali, Mr. Gladwin," puji Riana, istri Mr. Walker.


Shane mengiyakan ucapan Riana dengan ucapan terima kasih.


"Thank you," Elara turut mengucapkan hal serupa. "Kau juga cantik dan happy birthday to you," lanjutnya turut memuji Riana disana.


"Ya, ya, nikmati acaranya ya. Have fun and enjoy."


Mereka pun menikmati jamuan dalam acara itu dan mencicipi beberapa hidangan yang ada disana.


Bukan hanya bertemu dengan rekan Shane saja, tapi di pesta itu juga mempertemukan mereka dengan rival Shane dalam dunia pekerjaan.


Meski saingan, tapi tak ada salahnya untuk menjawab sapaan yang ditujukan kepadanya karena ini diluar dunia pekerjaan, begitulah pemikiran Shane saat disapa oleh seorang Ryder Ford.


"Mr. Gladwin, how are you? Lama tidak bertemu."


"Ya, Mr. Ford. I'm great. Bagaimana denganmu?" tanya Shane pada sang rival.


"Aku juga baik, Shane." Pria itu memilih menjawab Shane dengan kalimat tak formal. Kemudian dia melirik Elara yang tampak menggandeng lengan Shane disana. "Apa wanita cantik ini adalah pendampingmu?" tanyanya dengan senyuman ke arah Elara.


"Dia istriku, Ryder," jawab Shane jujur. Meski sebenarnya ia enggan memperkenalkan Elara pada rivalnya tersebut, tapi semuanya sudah terlanjur. Tak mungkin juga ia menyembunyikan Elara hanya agar Ryder tidak melihat istrinya.

__ADS_1


"Kau sudah menikah? Kapan? Mungkin aku tak akan tau jika tidak bertemu denganmu disini."


"Ya, begitulah," jawab Shane tak mau terlalu terbuka pada Ryder Ford, sang rival.


Ryder mengulurkan tangan ke arah Elara dan Elara ragu-ragu untuk menyambutnya karena ia dapat menilai jika Shane dan pria ini tidak sedekat itu atau mungkin mereka ada masalah pribadi? Elara belum mengetahui apa-apa mengenai persaingan keduanya dalam dunia pekerjaan.


"Elara."


"Ryder."


Mereka saling menyebutkan nama masing-masing, dan Elara segera melepaskan tautann tangan itu didetik yang sama.


"Dia salah satu rivalku dalam dunia bisnis. Tapi sebelumnya kami adalah teman sekolah." Shane mengatakan hal itu saat ia dan Elara kembali duduk di kursi mereka setelah kepergian Ryder beberapa saat lalu.


"Oh ..." Elara mengangguk. "Hubungan kalian baik-baik saja, kan?" tanyanya memastikan. Entah kenapa perasaan Elara tidak enak saat melihat senyum yang diulas Ryder kepadanya tadi.


"Bisa ya, bisa tidak." Shane malah menjawab dengan ambigu.


"Maksudnya?"


"Kadang Ryder bisa bersikap seperti teman. Tapi dia juga tau bahwa aku selalu mewaspadainya." Shane mengulas senyum dan disaat yang sama dia meneguk minumannya dari gelas yang sejak tadi ia pegang.


Elara hanya diam dengan jawaban suaminya. Ia juga tak mungkin berpikiran buruk mengenai seseorang-- meski sejak bertemu Ryder tadi ia sudah merasa ragu untuk memperkenalkan diri.


"Sekarang, kau mengerti kan kenapa aku meminta Lisa dan Nolan untuk menjagamu saat kau pergi? Kau mungkin tidak memiliki musuh, Sayang. Tapi suamimu ini, mungkin banyak yang tidak menyukaiku. Apalagi sejak saat ini, mungkin Ryder semakin iri padaku."


"Why?" tanya Elara.


"Karena aku datang bersamamu. Sedangkan dia sendirian." Shane terkekeh diujung kalimatnya, seperti mencibir keadaan Ryder.


"Jadi kau sengaja mau memamerkan ku di pesta ini?" tebak Elara.


"Tidak juga, Sayang. Aku saja tidak menduga akan bertemu Ryder disini. Dan kalaupun aku mau memamerkan mu pada dunia, kita bisa mempercepat pesta pernikahan kita yang belum kita adakan di kota ini."


Memang pesta itu akan segera diadakan dan Emma mengatakan bahwa persiapan pesta pernikahan Shane dan Elara sudah nyaris selesai dan mungkin akan diadakan dalam sebulan kedepan.


"Semua terserahmu saja, Shane." Elara meminum minumannya juga sekarang. Kini ia mengerti jika statusnya sebagai istri Shane bukan cuma menyenangkan, melainkan juga penuh ketegangan karena peringatan yang baru saja Shane katakan.


Mereka menyaksikan segala prosesi acara di pesta itu sampai akhirnya Riana memotong kue ulang tahunnya.


Saat mereka sedang tertawa melihat rangkaian hiburan yang disajikan disana, seseorang melintas dan berhenti di depan meja yang ditempati Shane dan Elara.


"S-Shane?"


Panggilan itu sontak membuat Shane dan Elara menoleh ke arah suara yang memanggil.


Elara mengerjap beberapa kali untuk menyadari siapa yang baru saja menyapa suaminya ini, namun yang dia dapati adalah raut wajah Shane yang mendadak berubah tidak sesenang tadi.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2