ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
19. Berlagak tak mengenal


__ADS_3

Elara menarik nafas dalam, ia berusaha bersikap biasa saja dan kembali melanjutkan langkah kendati tatapan pria didepan sana tampak mengintimidasinya.


Sebaiknya pertemuan yang tidak terduga ini diselingi dengan akting yang baik agar tidak terjadi hal-hal yang dramatis, pikir Elara.


Dari analisis Elara dan berdasarkan instingnya, gadis itu sudah dapat menyimpulkan situasinya.


Jadi, Stevi adalah istri Shane. Tidak salah lagi, sebab Ayahnya juga mengatakan jika istri pria itu tengah mengandung. Dan benar saja jika saat ini Stevi sedang hamil tua. Itu artinya dugaannya tidak meleset. Begitulah yang dapat Elara simpulkan setelah melihat semua ini.


"Kyle, kenalkan ... ini Shane," kata Stevi pada Kyle-- memperkenalkan pria yang masih berdiri diambang pintu tersebut.


Kyle mengulurkan tangan ke arah pria dengan mata kehijauan itu, lalu Shane terlihat menyambutnya.


"Yoi, bro! Aku Kyle. Bagaimana kabarmu?" ujar Kyle yang ramah seperti biasanya.


"Aku kurang baik," kata Shane sembari melirik Elara sekilas. "Aku sudah mendengar sedikit tentangmu, Kyle," lanjutnya.


"Benarkah? Apa cerita Stevi tentangku baik? Atau justru dia mengatakan sesuatu yang adalah aibku?" kelakar Kyle seperti biasanya.


Shane menanggapi kelakaran Kyle dengan raut datar, padahal Stevi dan Gracia tertawa karena percandaan itu. Sementara Elara sendiri lebih banyak menunduk, sikap percaya dirinya terbang dan musnah entah kemana sejak mendapati Shane berada di tempat yang sama dengan dirinya.


Sejujurnya, Elara berharap Shane tidak mengenalinya. Elara tak pernah menduga jika pertemuan mereka akan secepat ini meski ia tau cepat atau lambat ia dan pria itu akan tetap bertemu. Jadi, melihat keadaan ini, Elara memilih untuk memainkan perannya dengan lebih baik, berakting sedikit untuk membuat semuanya terkesan biasa. Ia akan bersikap seolah tidak pernah mengenal pria itu dihadapan Kyle, Gracia dan Stevi tentunya.


"Nah, Shane, kalau yang ini Ela. Kyle bilang, Ela adalah sahabatnya, tapi aku tidak percaya, mereka terlihat seperti sepasang kekasih, kan?" celetuk Stevi kemudian. Ia berniat memperkenalkan Elara pada Shane yang tampak memasang wajah dingin disana.


Dengan ragu, Elara mengulurkan tangan ke arah Shane. "Aku ... Ela," katanya memperkenalkan diri. Seulas senyum tipis sengaja Elara sunggingkan.


Tentu saja Shane mengernyit mendengar nama gadis itu yang berbeda. "Ela?" gumamnya heran, yang ia tau gadis didepannya adalah Lara bukan Ela. Shane perlu mengkonfirmasi ini nanti, ia merasa tidak salah mengenali gadis didepannya, tapi kenapa Elara seolah tidak mengenalinya?


Elara berdehem sejenak, karena melihat jemari Shane tidak kunjung melepaskan tautann tangan diantara mereka berdua. Sejujurnya Elara takut aktingnya ketahuan apalagi tatapan Shane terlihat menyelidik kepadanya.


Stevi yang menyadari itu, lekas-lekas mengambil alih tangan Shane, melerainya dari Elara, lalu merekah kan senyuman. "Bagaimana kalau makan malamnya kita mulai saja?" katanya memecah kecanggungan disana.


Shane melepas tangannya dari Stevi yang menggelayut, ia terlihat risih dengan kelakuan wanita itu.


"Kita makan saja," ujar Shane datar, pria itu lebih dulu berlalu dan menuju meja makan di rumah besar tersebut.


Kini Stevi menatap Kyle dan Elara dengan wajah sungkan.


"Maafkan sikap Shane, ya. Dia begitu sejak mengalami sebuah insiden di hutan," kata Stevi sambil melangkah bersama mereka.

__ADS_1


"Insiden di Hutan?" tanya Kyle pada sang sepupu.


"Iya, waktu itu Shane sempat tersesat di hutan lalu dia hampir saja menjadi santapan hewan buas disana."


"Benarkah?" tanya Kyle lagi.


Sementara Elara mengetahui sebuah fakta lain mengenai Shane yang ternyata di serang hewan buas. Apa ini yang menyebabkan Shane tidak kembali pada waktu itu? Elara bertanya-tanya dalam hatinya sampai ternyata mereka sudah tiba di ruang makan.


Elara terkejut mendapati tempat duduknya harus berhadap-hadapan langsung dengan Shane. Ia tak sempat memilih sebab Kyle yang terlebih dulu menarik kursi untuknya.


Dan perlakuan Kyle itu justru tertangkap oleh mata Shane, membuat pria itu menghujani Elara dengan tatapan tajam penuh peringatan.


Elara segera membuang muka, mengalihkan pandangannya pada hal yang lain, entah pada menu di meja atau justru melihat pada perut Stevi yang berbadan dua untuk menyadarkan Elara mengenai posisinya.


"Silahkan, Ela. Kenapa kau melamun?" ujar Stevi yang duduk disamping Kyle.


"Ehm, y-ya ... thank you," jawab Elara gugup, ia masih saja melihat Shane yang menyorotinya dengan tatapan yang sama, membuatnya sedikit linglung.


"Kau mau makan yang mana? Biar ku ambilkan?" tanya Kyle perhatian. Elara tak terkejut, sebab ia dan Kyle terbiasa seperti itu sejak lama jadi sikap Kyle bukan dibuat-buat seperti Elara yang mendadak kaku disini.


"Apa saja. Aku akan memakannya," jawab Elara random.


"Kapan kau melahirkan, Stev?" tanya Kyle.


"Mungkin awal bulan 3. Itu sekitar dua bulan lagi."


"Wah, itu tidak akan terasa. Selamat untuk kalian," papar Kyle tulus.


"Thank, Kyle. Kau dan Ela kapan menyusul untuk menikah?" lanjut Stevi.


Bukannya menyangkal atau berdalih, Kyle justru menatap Elara seolah meminta jawaban dari perempuan itu.


"Bagaimana Ela? Stevi menanyakan kapan kita menikah?" ujar Kyle disertai tawa kecilnya.


Elara hanya menggeleng samar, ia tidak bisa berkutik karena Shane terus saja mengintimidasinya dengan tatapan tajam.


"Ela tidak akan menerimamu jika kau melamarnya dengan cara seperti itu, Kyle!" kata Gracia memperingati keponakannya.


Dan Kyle langsung terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


"Aku dan Ela hanya berteman baik, Aunty. Tapi jika Ela mau denganku, aku tidak akan menolaknya," ujar Kyle dengan kedipan mata pada gadis disisinya.


Elara melihat itu, ia pun mengusung senyuman kecil. Ia juga sering menggoda Kyle dengan kerlingan jadi Elara tetap menganggap ucapan Kyle sebagai percandaan diantara mereka--seperti biasanya.


"Bolehkah aku permisi ke toilet sebentar?" tanya Elara akhirnya, ia butuh waktu untuk menetralkan detak jantungnya yang mendadak berirama kencang. Sebagaimanapun ia mencoba bersandiwara dengan bersikap tidak mengenal Shane disana, tapi tetap saja terasa sulit.


"Tentu saja boleh, toiletnya ada disana," kata Gracia merujuk pada salah satu arah yang tepat di belakang Elara.


Kyle mengelap ujung bibirnya dengan serbet, kemudian bertanya pada gadis itu.


"Apa perlu ku temani?"


"Tidak usah, Kyle. Aku bisa sendiri."


Elara berdiri dari duduknya dan cepat-cepat beranjak dari sana untuk menuju toilet.


Sampai di toilet, Elara bercermin sembari menarik nafas dalam. Ini benar-benar diluar prediksinya. Haruskah sekarang ia pulang saja dan tak usah kembali ke meja makan itu lagi?


Kenapa pula Shane menatapnya seperti itu? Apa pria itu tidak takut Stevi memergokinya sedang menatap Elara dengan tatapan seperti itu? Dasar suami tidak tau diri, istrinya sudah cantik begitu masih bisa menatap wanita lain, batin Elara sedikit emosi pada sikap Shane.


Elara merapikan poni baru yang menutupi pelipisnya. Ya, ia memang memangkas poni sejak tiba di Hamburg. Selain untuk menutupi parut yang ada disana akibat kecelakaan pesawat waktu itu, poni itu juga meminimalisir Shane untuk segera mengenalinya, meski ia tidak cukup yakin mengingat tatapan Shane padanya tadi.


Ah, sudahlah, Elara harus segera beranjak dari toilet sebelum ada yang curiga kenapa ia terlalu lama disana.


Sebelum benar-benar meninggalkan area itu. Elara mencuci tangannya di wastafel lebih dulu. Mudah-mudahan, dengan merasai dinginnya air, otaknya juga akan mendingin begitupun dengan perasaannya yang sudah gelisah.


Baru saja Elara keluar dari pintu, sosok pria yang dihindarinya ternyata sudah berdiri disana untuk menghadangnya.


...Bersambung ......


Mana dukungannya ni? Lanjut enggak? entah kenapa setiap othor up lebih dari 1 bab sehari, pasti like di bab terakhir yg paling banyak, sementara bab sebelumnya enggk di like. Apa lupa atau kelewatan ya? huhuhu🥲


Elara udah potong poni.



Shane yang nungguin Elara


__ADS_1


__ADS_2