ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
48. Jalan-jalan


__ADS_3

"Shane?"


"Hmm?"


"Apa harapanmu selanjutnya?" tanya Elara yang saat ini sedang berhadap-hadapan dengan sang suami di atas tempat tidur mereka.


"Kedepannya aku mau membina rumah tangga yang baik denganmu. Apa kau keberatan jika nanti kita langsung memiliki anak?" jawab Shane sekaligus memberikan pertanyaan pada istrinya.


"Tentu saja tidak. Aku justru sangat bersyukur, jika nanti kita akan langsung dipercaya mengenai anugerah itu. Semoga saja secepatnya ya."


Shane tersenyum senang karena ternyata ia dan Elara memiliki pendapat dan keinginan yang sama mengenai hal ini. Tangannya segera mengelus perut Elara yang tertutupi oleh sehelai selimut.


"Ya, aku berharap dia segera ada disini."


"Amin ..."


"Apa kau keberatan jika kita akan segera kembali ke Hamburg? Maaf, jika kau merasa terbebani dengan hal ini."


Elara tertawa pelan, satu tangannya bergerak demi bisa mengelus rahang tegas milik suaminya. "Aku tau jika yang menikahiku adalah pria sibuk. So, well ... kita akan kembali ke Hamburg segera," ujarnya pengertian.


Shane bisa bernafas lega karena ternyata Elara tidak mendebatnya dan memahami kondisinya terkait hal ini.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Tepatnya setelah kita benar-benar menikah?"


Elara mengendikkan bahu. "Entahlah, aku merasa ini seperti mimpi tapi lebih dari itu, aku bahagia, Shane."


"Me too. Thanks for everything, Honey." Shane menatap lamat-lamat pada wajah Elara dan wanita itu sadar jika pria ini tidak main-main dengan perkataannya.


Elara hanya bisa tersenyum memandangi ketampanan suaminya, sementara Shane bertindak dengan mengecupi semua jari-jari tangan Elara satu persatu.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dan meninggalkanku, Lara. Karena aku tidak akan mengizinkanmu untuk melakukan hal itu." Shane menekankan kata-katanya dan tentu saja hal itu membuat Elara geleng-geleng kepala.


"Bukankah seharusnya aku yang mengucapkan hal itu padamu?" tanya Elara realistis. Bagaimanapun, resiko terburuk saat ia memiliki suami seperti Shane adalah ditinggalkan oleh pria itu.


"No, no! Jangan berpikir jika aku akan meninggalkanmu. Aku tidak akan melakukannya."


Elara hanya menanggapi ucapan Shane dengan senyuman tipis.


"I'm seriously. Jadi berjanjilah padaku jika yang akan memisahkan kita hanyalah satu hal." Shane tampak sangat serius sekarang.


"Apa?"


"Hanya kematianlah yang membuat kita mau tak mau harus melepaskan. Selain dari itu, berjanjilah akan terus berada di sisiku dan mendukungku."


Elara mengangguk dengan kulumann senyum sekarang. "Baiklah, aku berjanji."


...***...


Pasangan pengantin baru itu, memilih untuk berjalan-jalan di tempat-tempat yang ingin Elara kunjungi selagi masih berada di Indonesia.


Mereka menghabiskan banyak waktu untuk mengeksplore banyak tempat wisata. Pantai, gunung serta tempat bersejarah seperti candi Borobudur tidak luput dari kunjungan keduanya. Mereka menjadikan momen ini sebagai pelengkap kebersamaan sekaligus bulan madu.

__ADS_1


"Ternyata di negaramu semuanya sangat indah. Aku jadi berpikir untuk menghabiskan masa tua di pelosok desa yang ada di Indonesia," ungkap Shane yang membuat Elara cukup terkejut.


"Ku pikir di Hamburg juga tidak buruk. Kenapa kau menginginkan menua di Indonesia saja?"


"Ya, mungkin karen di Jerman aku terlalu sibuk dan jika aku terus disana aku akan terus dihadapkan oleh setumpuk pekerjaan."


Elara benar-benar tertawa sekarang, dan semakin terkekeh kala Shane kembali menambahkan kalimatnya.


"Setidaknya, jika disini aku hanya sibuk denganmu dan aku tidak akan keberatan dengan hal itu."


Hari terakhir berada di Indonesia, mereka memilih untuk berjalan-jalan ke Bromo.


Mereka mendaki diwaktu subuh untuk menyaksikan matahari terbit disana. Menikmati pemandangan itu dengan bergandengan tangan dan tidak sekalipun melepaskan satu sama lain.


"Elara?"


Sampai suara seseorang yang menyapa Elara ditempat tersebut, membuat keduanya menoleh.


"Kamu Elara, kan?"


Elara memperhatikan seseorang yang menyapanya dan ia tau itu adalah salah satu teman sekolahnya dulu.


"Apa kau Danny?" tanya Elara menerka. Ia takut salah mengenali mengingat penampilan teman lelakinya itu yang tampak berbeda dari yang dulu.


"Yah. Kau masih ingat padaku ternyata," respon Danny.


Elara mengangguk-anggukkan kepalanya. Shane hanya diam memperhatikan interaksi istrinya dengan seorang pria. Shane tidak memahami apa isi percakapan mereka tapi ia mampu menyimpulkannya.


"Ya. Kau juga semakin cantik, El."


Elara hanya tergelak menanggapi ucapan Danny yang terasa blak-blakan itu.


"Kau bersama siapa disini?" tanya Danny sembari melirik pria disisi Elara, terutama genggaman tangan keduanya yang seperti enggan untuk saling melepaskan.


"Ah ya, kenalkan ... ini Shane, suamiku." Elara memberi isyarat pada Shane untuk memperkenalkan diri.


Dan kedua pria itu saling berjabat tangan dengan menyebutkan nama masing-masing.


"Aku tidak menyangka kau sudah menikah, Ela."


"Ya, itu memang baru saja terjadi."


"Wah, selamat ..." ucap Danny tulus.


"Thank you. Kau sendiri, bersama siapa disini?" tanya Elara kemudian.


"Ah iya, aku bersama teman-teman kantorku... Disana," jawab Danny merujuk pada salah satu perkumpulan yang memang terlihat disekitar mereka.


Selepas berbincang hal-hal kecil untuk beramah tamah, Danny pun undur diri untuk kembali bergabung dengan teman-temannya.


"Dia siapa?" tanya Shane tanpa menatap Elara.

__ADS_1


"Ah, dia temanku waktu sekolah."


"Hanya teman? Bukan mantan pacar?" selidik Shane dengan nada suara yang terdengar datar.


Elara tergelak. "Tentu saja tidak. Danny itu hanya sebatas temanku saat SMP. Tidak lebih," jawabnya terus terang.


"Aku melihat jika dia mengagumimu."


"Kau cemburu?"


"Sangat."


"Jangan berlebihan, Shane. Dia hanya temanku dan kami tidak pernah terlibat hubungan lebih dari teman."


"Baguslah." Shane menatap Elara lekat. "Jangan berteman dengan pria karena aku tidak menyukainya."


Dan sekarang Elara memutar bola matanya.


"Aku serius. Apa kau lupa dengan kisahmu dan Kyle?" Shane tidak main-main. Ia tau jika Elara memiliki sesuatu yang mampu menarik minat kaum lelaki.


"Shane, bukankah sekarang kita sudah menikah? Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya jadi ku pikir kau tidak perlu mencemburuiku dengan berlebihan," tutur Elara mencoba memberi Shane pengertian.


"Justru karena kau sudah menjadi milikku maka aku mau memperingatkanmu, Sayang. Tidak semua teman lelaki itu bisa menganggapmu sebatas teman. Kebanyakan, mereka justru akan menaruh harapan lebih padamu."


"Baiklah, aku akan menjaga jarak dengan semua teman lelakiku. Tapi untuk bertegur sapa saja tidak apa-apa, kan?"


Jika boleh jujur, Shane mau mengatakan tidak boleh. Jangankan berbicara dengan Elara, ada yang melihat Elara saja Shane merasa keberatan. Karena kebanyakan mata lelaki yang melihat Elara akan tampak kurang ajar dimata Shane. Atau itu hanya perasaannya saja? Entahlah.


"Baiklah, hanya itu dan tidak lebih," jawab Shane mau tidak mau.


Elara mencubit pipi Shane dengan gemas. "Kau lucu sekali, tapi disaat bersamaan kau juga menyeramkan," kelakarnya.


"Benarkah? Apa kau takut padaku?"


Elara mengangguk. "Maka dari itu aku menuruti keinginanmu."


Shane menepuk jidatnya sekarang. "Jadi, kau menurutiku karena takutpadaku bukan karena mau mengikuti keinginan dari seorang yang kau cintai?"


Elara menahan suara tawanya yang nyaris lolos begitu saja karena perkataan Shane itu.


"Jawab, Lara!" desak Shane. "Apa kau hanya takut padaku, bukan karena memikirkan perasaanku?"


Elara tidak menyahuti pertanyaan Shane, justru ia berjinjit dan memangkas jarak diantara mereka sembari mengalungkan kedua tangannya di leher sang pria. Shane yang tidak menyangka jika Elara akan menciumnya dalam kesempatan itu, hanya terpaku saat merasakan bagaimana bibir istrinya yang terasa lembut mulai bergerak menyentuh bibirnya.


Saat Shane mampu menguasai keadaan dan ingin membalas ciuman tersebut, Elara buru-buru menarik diri, membuat Shane menatapnya dengan tatapan protes.


Elara hendak menertawakan Shane tapi keburu dibawa oleh pria itu ke dalam gendongan.


"Kau harus dihukum karena sudah berani mempermainkan ku!" kata Shane serius namun Elara malah tergelak dalam posisinya yang berada diatas kedua tangan Shane.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2