
Selama perjalanan menuju ke Rumah Sakit, Shane tidak henti-hentinya mengulas senyuman. Ia sangat yakin jika Elara tengah mengandung buah cinta mereka.
Shane menciumi punggung tangan Elara berulang kali. Tidak peduli jika Elara sudah memintanya berhenti, tapi Shane tetap melakukannya.
"Aku bahkan belum mendapatkan hasil pemeriksaannya tapi kau sudah bersikap begini. Bagaimana jika aku benar-benar hamil, ku pikir kau akan menggendongku dari Rumah Sakit sampai ke Mansion," kata Elara dengan nada mencibir. Sikap suaminya itu memang tampak sangat berlebihan.
"Tidak masalah. Aku akan melakukannya dengan senang hati." Shane malah menanggapi sindiran istrinya dengan jawaban serius.
Elara menatap Shane lekat. "Jangan terlalu berharap, jika hasilnya tidak sesuai harapanmu maka kau akan kecewa," katanya memperingatkan.
Shane malah tersenyum. "Aku sangat yakin jika kau benar-benar hamil," ujarnya tenang.
Sampai akhirnya, perjalanan mereka pun usai. Mobil yang dikemudikan oleh Max sudah terparkir mantap di slot Rumah Sakit--ketika Shane dan Elara keluar dari sana--dan segera mendaftarkan diri di poli kandungan.
"Shane, bisakah aku ke toilet sebentar?" pamit Elara. Kandung kemihnya terasa penuh.
"Ya, biar ku temani."
"No, tidak usah, kau menunggu nomor antreannya saja disini, aku hanya sebentar," tolak Elara halus.
Shane tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Elara pergi sendirian. Ia memilih bangkit dari duduknya untuk menemani Elara.
"Aku akan menemanimu."
"Tapi kalau nanti namaku di panggil, nomor antreannya akan terlewat, Shane. Ayolah, aku hanya mau pergi ke toilet, bukan mau kabur darimu." Elara mengulas senyum untuk meyakinkan sang suami.
Tak ingin berdebat, Shane akhirnya mengiyakan dan membiarkan Elara pergi ke toilet yang letaknya tidak terlalu jauh. Shane melakukan itu juga karena tak mau Elara mengatakannya berlebihan.
Tanpa Elara sadari bahwa penolakannya itu justru menimbulkan masalah baru karena sudah hampir 20 menit Shane menunggu tapi Elara tidak kunjung kembali. Bahkan nomor antrean mereka benar-benar terlewat begitu saja karena Shane enggan masuk ke ruangan pemeriksaan tanpa Elara yang harusnya di periksa.
Merasa tak enak hati, Shane segera menghubungi Max untuk menyusulnya ke poli kandungan. Sembari menelepon Max, Shane juga bergerak mencari keberadaan istrinya di toilet rumah sakit namun nyatanya ia tidak menemukan siapapun.
"Istriku tidak ada, Max! Cepat cari dia di seluruh penjuru Rumah Sakit ini!" panik Shane dengan segala perasannya yang berkecamuk.
Beberapa kali ia menghubungi nomor Elara namun tidak kunjung tersambung. Shane semakin gamang dan tidak tentu arah. Apa yang terjadi pada Elara, tidak mungkin istrinya kabur darinya? Mendadak Shane merasa lemah karena tidak mengetahui keberadaan Elara.
Apalagi saat Max kembali ke hadapannya dengan sebuah laporan bahwa dia tidak menemukan Elara dimanapun.
Bolehkah Shane mengumpat sekarang?
...***...
__ADS_1
Shane mencari jejak istrinya lewat CCTV Rumah Sakit. Ia tidak mungkin tenang sebelum menemukan Elara. Bahkan istrinya belum sempat diperiksa, kenapa tiba-tiba saja Elara menghilang?
"Stop! Stop! Jeda videonya di menit ke 17," kata Shane pada sang pekerja yang memutar rekaman cctv rumah sakit di dalam ruangan khusus yang sengaja Shane kunjungi disana.
"Ya, ini istriku. Dia menuju koridor toilet," gumam Shane. Ia memang melihat Elara memasuki lorong yang menghubungkan ke arah kamar mandi terdekat dari letak Poli kandungan.
Video kembali di putar, namun tidak melihat tanda-tanda jika Elara kembali keluar dari arah toilet.
"Apa kau sudah mencarinya di toilet itu, Max?" Pandangan mata Shane berhenti pada sang Asisten.
Max mengangguk. "Semua ruangan disini sudah saya susuri. Bahkan ruang kosong juga." Max melakukan itu dengan bantuan orang-orang Shane yang lain, yang tadi segera dia hubungi begitu mendengar jika istri dari Bos-nya telah menghilang.
Shane mendengkus pelan, disusul dengan suara nafas yang diembuskan dengan gusar.
"Elara ... kau kemana?" Shane bertanya-tanya. Ada rasa khawatir, takut dan juga bingung. Rasa-rasanya tadi semuanya baik-baik saja. Kenapa secara mendadak Elara menghilang?
Shane bagai memutar otak untuk memecahkan hal ini, biasanya ia masih bisa berpikir meski disaat-saat genting seperti sekarang. Sayangnya, menyangkut soal Elara ia selalu lemah dan sulit untuk menemukan solusinya karena otak dan hatinya seakan tidak sinkron dan bertolak belakang.
Otaknya mencari jalan keluar, sementara hatinya merasakan gusar luar biasa hingga Shane harus mengakui jika ia tak mampu berpikir lagi sekarang. Dikepalanya kini penuh dengan keadaan Elara, kemana wanita itu dan bersama siapa Elara pergi?
Memikirkan kemungkinan jika Elara pergi dengan sengaja membuat otak Shane langsung buntu seketika.
"Cari istriku! Temukan dia! Atau kalian semua tidak akan bisa menghirup oksigen lagi besok!" tukas Shane pada semua orang-orangnya yang dikerahkan untuk mencari Elara, termasuk Max yang juga masih berada disana.
Bukankah mereka sepakat untuk memeriksakan keadaan Elara hari ini? Bahkan Shane sudah sangat berharap jika istrinya benar-benar mengandung anaknya. Tapi kenapa Elara tidak ada?
"Lara, kau tidak mungkin sengaja meninggalkanku." Shane membatin. Ia sadar ada sesuatu yang tak beres sekarang. Apalagi keadaan Elara kurang sehat untuk melakukan tindakan pelarian secara sadar. Jadi, tidak mungkin istrinya sengaja pergi darinya. Tidak mungkin.
Jika dulu Shane dapat menemukan Elara dengan mudah lewat info dari sebuah travel. Sekarang Shane akan melakukan cara itu juga jika saja itu bisa menemukan jejak kepergian Elara.
"Max, cari jejak kepergian Elara lewat travel. Lihat jadwal penerbangan pesawat, kapal laut atau transfortasi apapun. Kau mengerti?"
Max mengangguk. Ia sama gusarnya seperti Shane sekarang. Max juga tau jika ini ada yang tidak beres.
"Dan ... aku minta copy-an cctv yang tadi!" titah Shane pada asistennya.
...***...
Sudah dua hari menghilang, Shane belum menemukan tanda-tanda kepergian Elara.
Dari penyidikan cctv pun, ia tidak menemukan apa-apa. Begitu banyak orang berlalu lalang di koridor menuju toilet itu. Terutama wanita, karena itu adalah toilet yang dekat dengan poli kandungan.
__ADS_1
"Tuan, sepertinya ini ada kejanggalan." Jose yang ikut membantu Shane dalam pencarian Elara, mulai mengatakan spekulasinya soal rekaman cctv yang sudah diputar berulang kali sejak Elara menghilang itu.
"Apa?" Shane menyahut cepat, ia berharap menemukan sebuah titik terang karena tak satupun transportasi menuliskan keberangkatan atas nama istrinya. Jikapun Elara akan pergi meninggalkan Jerman, itu sangat tidak mungkin karena begitu tiba di kediamannya tempo hari, Shane segera mencari surat-surat Elara termasuk paspornya yang ternyata masih tersusun rapi di lemari. Hal ini membuktikan jika Elara masih berada di Jerman dan tidak keluar dari negara tersebut.
"Beberapa orang keluar dari koridor toilet. Tapi, saya mencurigai ini ..." Jose menjeda rekaman itu disaat dua orang tampak keluar dari toilet. Yang satu berdiri dan orang yang satunya tampak didorong dengan kursi roda. Penampilannya biasa saja, tapi wajahnya tidak terekspos jelas.
Jose memperbesar gambar yang ia jeda. Ternyata wanita yang mendorong kursi roda mengenakan kaca mata dan syal yang menutupi hampir separuh wajahnya.
Untuk wanita satunya lagi, yang duduk di kursi roda, hanya mengenakan Hoodie yang menutupi kepalanya. Akan tetapi, mata Shane langsung mengenali jika itu adalah istrinya.
"Coba perbesar lagi gambarnya," ujar Shane pada Jose.
Shane mau memastikan sesuatu dari hal yang dia curigai itu. Benarkah wanita yang duduk di kursi roda dan mengenakan Hoodie itu adalah istrinya?
Tapi sayangnya ia tidak dapat melihat dengan jelas bentuk cincin yang digunakan wanita itu. Potongan rekaman itu malah menunjukkan gambar yang semakin blur atau buram jika resolusinya makin diperbesar.
Tapi, entah kenapa naluri dan keyakinan Shane justru mempercayai bahwa yang sedang duduk di kursi roda itu adalah Elara.
"Feelingku mengatakan jika Elara diculik." Shane mengutarakan isi kepalanya pada Max dan Jose disana. "Karena sangat minim kemungkinan Elara pergi begitu saja. Tidak ada alasan baginya untuk kabur dariku, kami tidak bertengkar, kami juga dalam keadaan yang baik-baik saja." Suara Shane tercekat diujung kalimatnya.
Walau bagaimanapun Shane mencoba untuk terlihat baik-baik saja, nyatanya ia memang tak baik. Hilangnya Elara membuat separuh semangat hidupnya terbang entah kemana.
"Tolong, bantu temukan dia untukku!" Ini terlihat seperti bukan Shane yang biasanya. Tidak pernah sebelumnya Shane akan mengucap permohonan seperti ini pada Asisten ataupun pekerjanya. Ini menunjukkan jika dia benar-benar telah kehilangan jati dirinya yang sesungguhnya.
Emma sendiri terlihat ikut sedih mengetahui jika Elara menghilang dan itu sangat berdampak bagi putranya. Beberapa kali ia mencoba menenangkan Shane, namun Shane tampak tidak fokus dengan yang ia bicarakan.
"Tenanglah, Shane. Istrimu pasti akan ditemukan."
"Aku sudah melaporkan hal ini ke polisi." Tidak biasanya juga Shane melibatkan aparat dalam setiap permasalahannya, tapi kali ini ia melakukan itu dan sekali lagi itu menunjukkan bahwa Shane telah berbuat hal yang bertolak belakang dengan dirinya yang biasanya. "... tapi pihak kepolisian juga masih terus mencari dan belum menemukan titik terang."
"Apa kau punya musuh yang belakangan hari mengganggumu?" tanya Emma membuka jalan pikiran putranya.
"Rivalku ada banyak, haruskah aku mencurigai salah satu dari mereka?"
"Mungkin saja benar ini adalah ulah rivalmu, Shane. Ini terjadi setelah kau mengumumkan soal pernikahanmu, kan?" kata Emma mengingatkan.
Dan Shane mengakui itu ada benarnya tapi ia juga tau jika Rivalnya tidak mungkin melakukan hal yang menjurus ke arah kriminal, kecuali ...
"Megan ..." Shane mendesis, mendadak ia mengingat wanita itu. Apakah ini semua ulah Megan?
Hanya Megan yang terakhir kali terlibat cekcok dengannya. Bahkan mengancamnya hanya karena ia tidak memberikan apa yang wanita itu inginkan yaitu uang, uang dan uang.
__ADS_1
...Bersambung ......