
Dengan terpaksa, Elara harus menolak lamaran Kyle meski ia tau usaha pria itu untuk mendatangi keluarganya tidak main-main. Sesungguhnya ini sangat berat bagi Elara, ia tidak tega menyakiti hati sang sahabat tapi ia juga tak bisa menikah tanpa rasa cinta yang seharusnya menjadi pondasi dalam hubungan pernikahannya.
Meski saat ini hubungannya dengan Shane pun masih abu-abu karena belum mendapat restu dari Emma--ibu Shane--tapi entah kenapa Elara juga tak mungkin menerima lamaran Kyle begitu saja. Terlebih, Elara tak mau Kyle menjadi tameng untuknya atau sekedar pelarian dari segala problemnya bersama Shane.
"Aku ... minta maaf padamu, Kyle."
"Why? Kenapa kau menolakku, Ela?" lirih Kyle di seberang sana.
"Kyle, aku hargai usahamu mendatangi keluargaku. Tapi aku tidak bisa. Bagiku kau hanya seorang sahabat yang paling dekat, aku tidak mau persahabatan kita rusak hanya karena rasa yang lain. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika nantinya kau akan kecewa padaku setelah menjalani hubungan denganmu."
"No, Ela. Kita masih bisa mencobanya. Katakan padaku, setidaknya satu alasan yang logis kenapa kau menolakku. Kita bahkan bisa bersahabat lebih dekat dalam hubungan yang lebih baik yaitu sebuah pernikahan," jelas Kyle tampak sangat bersungguh-sungguh.
"Aku tau. Aku tau kau pria yang baik, Kyle. Aku tau jika kita bisa bersahabat lebih dekat lagi ... tapi tidak dengan pernikahan. Maaf," ujar Elara dengan rasa sungkan namun dengan intonasi suara yang lugas tanpa ada keraguan sedikitpun saat menolak lamaran sahabatnya tersebut.
"Baiklah, alasannya?"
"Aku ... aku memiliki kekasih," akui Elara akhirnya.
"Oh, my... lelucon macam apa ini? Kenapa aku tidak tau? Jangan membuat alasan seperti ini, Ela. Aku tau kau tid--"
"Aku yang tidak berterus terang padamu, Kyle," kata Elara memotong perkataan Kyle.
"What? Are you seriously?"
"Yeah, i'm so sorry. Aku masih menyembunyikannya darimu."
"Kenapa?" Raut wajah Kyle di kamera ponsel tampak sangat kecewa dan Elara dapat melihat itu.
"Karena kau mengenalnya juga dan pria itu kau kenal sebagai ... sebagai ..."
"Wait," potong Kyle. "Aku? Aku mengenal pria yang kau maksud sebagai kekasihmu? Apa itu salah satu rekanmu di Universitas Berlin? Robert? Pria yang dulu satu stambuk dengan kita saat kuliah?" tebaknya.
"No, bukan dia."
"Lalu? Siapa? Jika sudah begini ku harap kau bisa jujur kepadaku, Ela!" desak Kyle.
Elara mengembuskan nafas panjang, sampai akhirnya sebuah nama mampu ia sebutkan pada Kyle yang menanti jawabannya di seberang sana.
"Shane."
...***...
Perkataan Elara yang menolaknya, membuat Kyle merasa janggal. Apalagi alasan Elara adalah memiliki seorang kekasih. Sejak kapan? Bahkan Kyle sangat tau segala aktivitas Elara yang tidak sekalipun pernah berkencan dengan seorang pria. Yang paling dekat dengan gadis itu hanya dirinya dan tentu saja jawaban Elara membuat Kyle sangat terkejut.
__ADS_1
"Shane ..." desis Kyle bermonolog pada dirinya sendiri.
Meski Elara mengatakan ada kesalahpahaman saat mereka mengunjungi kediaman Stevi waktu itu dan penjelasan Elara mengatakan jika Shane sebenarnya bukanlah suami dari Stevi, itu tidak lantas membuat Kyle bisa percaya begitu saja.
Bukan apa-apa, ia sempat mendengar pesta pernikahan Stevi digelar dan bukankah pria bernama Shane itu telah terbukti tinggal dikediaman yang sama dengan sepupunya? Seharusnya mereka memang sudah menikah, kan?
Atau sebenarnya Shane sedang mempermainkan dua orang wanita. Yakni Elara dan sepupunya--Stevi.
Elara menjelaskan pertemuan keduanya saat di hutan. Dan entah kenapa Kyle merasa Shane tidak setulus itu pada Elara. Menurut Kyle, Shane hanya memanfaatkan Elara dikala mereka sama-sama tersesat di hutan tersebut.
Intinya, Kyle tidak menerima semua ini, dan penolakan Elara serta segala alasan maupun penjelasan gadis itu mengenai keadaannya, justru membuat Kyle semakin bersemangat untuk segera kembali ke Hamburg.
"Baiklah, aku akan menemuinya nanti," batin Kyle.
...***...
Shane sendiri, tidak mau menginjakkan kaki di kediaman keluarganya lagi sejak ibunya menghina Elara. Ia masih betah tinggal di apartemennya sambil sesekali menunggu jawaban Elara terkait hubungan mereka.
Apakah Elara masih mau bertahan atau justru tetap kekeuh melepaskan?
Shane sesekali mencoba menelepon gadis itu, namun sepertinya Elara masih butuh waktu untuk memikirkan segalanya.
Sudah dua hari Shane tidak bertemu dengan Elara dan itu justru membuatnya gelisah. Padahal, Shane sendiri yang sudah beritikad untuk memberi Elara waktu agar memikirkan segalanya, tapi justru dirinya sendiri yang tidak tahan dengan keadaan tanpa komunikasi seperti ini.
Rasanya Shane bosan menghitung detik waktu yang terus bergerak. Sementara ia sendiri seakan diam ditempat tanpa usaha. Shane kesal dengan dirinya sendiri. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Shane akhirnya memilih beranjak dari Apartmennya. Ia mendatangi universitas dimana Elara mengajar dan keberuntungan sedang memihak padanya karena saat ia datang kesana--ternyata Elara baru saja selesai dengan aktivitas pengajarannya.
"Lara!" Shane segera menangkap tangan Elara yang baru saja berjalan keluar dari area kampus, tampaknya gadis itu hendak menuju halte bis yang jaraknya tepat di depan universitas tersebut.
"Shane?" Elara berucap tanpa suara, hanya bibirnya yang bergerak mengucap nama pria itu.
"Aku mau bicara. Kenapa kau terus mengabaikanku?"
"Aku butuh waktu," desis Elara.
"Apa dua hari tidak cukup? Aku sudah sangat tersiksa menunggu keputusanmu. Waktumu sudah habis, Nona!"
Elara menundukkan wajah, ia sendiri bingung harus bagaimana menyikapi Shane. Satu sisi ia mencintai pria itu, tapi disisi lain ia tau ada tembok yang besar menghalangi keduanya. Belum lagi kemarin-kemarin pikiran Elara terbagi karena pinangan Kyle pada keluarganya. Sekarang kepalanya terasa mau pecah dan semrawut.
"Jadi, apa maumu?" tantang Elara dengan mengangkat wajahnya kembali.
Shane menyeringai. Ini adalah pertanyaan yang ia tunggu dari Elara.
__ADS_1
"Mari kita menikah."
"Kau gila? Kita belum mendapat restu ibumu."
"Tidak perlu. Kita bisa kawin lari."
Elara tertawa sumbang. "Lalu aku akan semakin dinilai hina oleh ibumu karena berhasil membuatmu membangkang darinya?" sarkas Elara.
"Kita tidak punya pilihan lain, Sayang. Aku tidak bisa tanpamu. Mengertilah!" mohon Shane dengan wajah memelas.
Baru sekali ini Elara melihat wajah sendu Shane yang tampak sangat sungguh-sungguh sekaligus serius disaat bersamaan. Biasanya pria itu lebih sering menggodanya saja, ataupun bermain kata untuk merayunya. Tapi sekarang, Shane benar-benar berbeda. Mungkin dia sudah kehilangan cara dan tidak mempunyai ide lain selain mengajak Elara menikah saja tanpa restu dari ibunya.
"Jika begini, orangtuaku juga tak mungkin membiarkan kita menikah. Apa kau pikir Ayah dan ibuku mau merestui--jika pihak keluargamu pun tidak menghargai ku?"
"Aku tau," kata Shane menundukkan kepala. Ia meraih jemari Elara. "Untuk itu, aku akan meyakinkan keluargamu bahwa semuanya akan baik-baik saja meski itu tanpa restu ibuku," paparnya.
"Shane, harus berapa kali ku katakan, semuanya tidak semudah itu. Kau jangan meyakinkanku, tapi yakinkan ibumu untuk menerimaku, itu saja."
Shane terdiam, meski yang dikatakan Elara benar, tapi ia tau watak keras ibunya yang sekali berkata tidak maka akhirnya akan tetap tidak. Sama seperti keyakinannya untuk menikahkan Shane dengan Stevi, sekali berkata harus maka itu akan tetap harus terjadi.
"Ibu tidak akan merubah keputusannya meski aku sudah mencobanya berulangkali."
"Kalau begitu, lepaskan aku, relakan hubungan kita," kata Elara dengan berat hati.
"Semudah itu?" Shane membuang muka. Ia tak menyangka Elara menjawab demikian.
"Ya."
"No!" Shane menggeleng. "Aku akan tetap memaksamu!" Cekalan tangan Shane di pergelangan tangan Elara terasa semakin erat.
"Lepaskan aku, Shane!"
"Tidak!"
"Shane! Ku mohon jangan begini," pinta Elara memohon.
"Aku yang harusnya berkata begitu, Lara! Jangan begini setelah kau membuatku sangat mencintaimu dan tidak bisa melepaskanmu!" protesnya.
"Bisakah kau lepaskan tanganmu itu? Kau tidak bisa memaksanya!"
Suara seseorang itu, berhasil menginterupsi perdebatan antara Shane dan Elara. Keduanya lantas menoleh dan mendapati Kyle sudah berada disana.
"Kyle? kau sudah kembali?" ujar Elara saat menatap sang sahabat disana.
__ADS_1
...Bersambung ......