
"Siapa yang nelpon?" Anton bertanya pada Elara yang tampak antusias saat menerima panggilan seluler tersebut.
Alih-alih menjawab pertanyaan sang Ayah, Elara justru mengajukan pertanyaan lain yang tidak ada hubungannya dengan yang ingin diketahui Ayahnya.
"Ayah, Ela ke Hamburg, ya?"
Sontak saja Anton langsung terkejut dengan ucapan putrinya.
"Kamu gak salah mau kesana? Untuk apa? Bukannya rektor kampus juga udah memberi izin untuk kamu beristirahat?" tanya Anton tak paham dengan permintaan Elara.
"Tapi Ela harus kesana, Ayah."
"Kamu lupa kalau kamu begini juga karena kecelakaan pesawat saat menuju ke Hamburg?"
Elara terdiam, ia mengesah pelan namun tampak berpikir bagaimana caranya ia bisa pergi ke kota itu dan melihat keadaan Shane disana.
"Ela kesana gak naik pesawat. Pakai transfortasi darat. Ya, ayah, ya?" bujuk Elara.
Anton memijat pangkal hidungnya. "Sekarang ayah tanya, kenapa kamu mau kesana? Ada urusan dan kepentingan apa? Ayah yakin ini gak ada kaitannya sama pekerjaan kamu, kan?" tanyanya menuding.
Anton tentu heran apa yang membuat Elara bersikukuh dan tampak semangat sekali ingin ke Hamburg. Padahal, Anton masih ingat saat Elara mengeluh soal pemindahan pekerjaannya dari Berlin ke kota tersebut.
"Ela--Ela mau melihat seseorang," akui Elara akhirnya. Ia tidak bisa membohongi Ayahnya.
"Siapa? Dan siapa yang tadi menelpon kamu sampai kamu tiba-tiba ngotot mau ke Hamburg? Padahal sebelumnya kita gak pernah membahas hal ini sedikitpun."
"Yang telepon tadi Pak Darius, Ayah. Dia mengabarkan soal pria yang hilang di Hutan dan sudah ditemukan. Pria itu sedang di rawat di Hamburg."
Anton mulai bisa menerka keadaannya. "Maksud kamu, kamu mau kesana untuk melihat keadaan pria hilang yang sudah ditemukan itu, begitu?" tebaknya.
Elara menganggukkan kepalanya.
"Untuk apa? Bukankah kalian tidak saling kenal?"
Elara terdiam, ia masih bingung harus mengatakan pada sang Ayah terkait hubungannya dengan Shane atau tidak. Elara tau hubungan singkatnya dengan Shane memang terlampau jauh, ia takut Ayahnya justru menganggap perasaannya pada Shane hanyalah cinta buta mengingat ia baru mengenal Shane saat sama-sama berada di Hutan.
"Ela mengenal Shane, Ayah." Akhirnya Elara berani mengutarakannya, kendati demikian ia tetap tak berani mengungkap hubungannya dengan Shane pada sang Ayah.
"Shane?"
__ADS_1
"Ya, pria yang hilang itu namanya Shane. Dia yang menyelamatkan Elara waktu hanyut di sungai."
Baiklah, sekarang Anton memahami situasinya. Jadi pria yang hilang itu bersama Elara di Hutan. Dia juga yang menyelamatkan Elara dan membantu Elara disana. Anton menyimpulkan jika Elara merasa berhutang budi pada pria itu.
"Jadi, kenapa kamu bisa ditemukan Tim SAR lebih dulu sementara dia ..." Anton berhenti sejenak. "Siapa namanya tadi?" tanyanya kemudian.
"Shane."
"Ya, Shane. Bagaimana bisa kalian ditemukan di hari yang berbeda jika sebenarnya kalian sama-sama di hutan itu?"
"Shane menghilang saat mencari sinyal. Ayah ingat kan, kalau bunda sempat menerima panggilan yang menyebut nama Ela tapi suaranya terputus-putus?"
Tentu saja Anton mengingat itu, sebab istrinya--Nadine--mengatakan jika ada pria yang menyebut Elara masih hidup namun telepon itu tidak jelas dengan suara yang tersendat-sendat.
"Iya, apa itu telepon darinya?" tanya Anton balik.
"Iya, Ayah. Shane yang menelepon Bunda."
Anton mengusap wajahnya sendiri. Kalau begini, ia juga harus menemui pria itu untuk mengucapkan terima kasih karena telah menolong dan banyak membantu Elara selama di Hutan.
"Lalu, kenapa akhirnya kalian terpisah disana?"
"Oke, Ayah memahami semuanya. Kalau begitu, biar Ayah yang ke Hamburg untuk berterima kasih secara langsung pada Shane. Sekalian ayah akan melihat keadaannya. Syukurlah dia juga sudah ditemukan. Mungkin sekarang dia juga mulai pulih seperti kamu."
"Maksudnya? Ela gak boleh ikut?" Elara mengernyit dalam.
"Bukan gak boleh, tapi kondisi kamu belum memungkinkan. Jadi, biar Ayah saja yang mewakili kamu kesana."
"Tapi, Ayah ..." Tentu ini diluar prediksi Elara. Ia kira dengan menceritakan pada sang Ayah, maka Ayahnya mau memberinya izin untuk pergi menemui Shane, nyatanya tidak demikian. Ayahnya tetap pada keputusan awal dan tidak memberinya izin untuk bepergian.
...****...
Suara mesin EKG yang terpasang didalam ruangan itu terdengar nyaring.
Alat itu tersambung untuk menerjemahkan impuls jantung menjadi bentuk grafik yang ditampilkan pada layar pemantau--agar detak jantung pasien yang sedang terbaring disana dapat dideteksi oleh orang yang melihatnya.
"Shane, sadarlah, Nak! Sudah nyaris sebulan kau dalam ruangan ini," ratap seorang wanita paruh baya dalam ruangan ICU tersebut.
Bagaimana hatinya tidak hancur, putranya ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan di Hutan. Shane memang aktif mengikuti hal-hal semacam itu, Shane senang bertualang, dia pecinta alam terlepas dari jabatan yang harusnya diemban.
__ADS_1
"Maafkan Ibu, Shane. Seharusnya waktu itu kau tidak pergi dalam keadaan marah dan sehabis bertengkar dengan Ibu."
Selalu kata-kata penyesalan yang sama yang terus diulang-ulang oleh wanita paruh baya itu. Memang sehari sebelum Shane memutuskan untuk mendaki, mereka terlibat cek-cok dan pertengkaran yang cukup hebat.
Setelah merasa puas mengeluarkan isi hatinya didepan tubuh sang putra yang terbaring tak sadarkan diri, wanita paruh baya itu memilih keluar dari ruang ICU dimana Shane dirawat hampir sebulan ini.
"Bagaimana keadaan Shane, Ibu?" tanya seorang wanita muda yang menunggu didepan ruang ICU.
Emma menggeleng lesu. "Dia belum sadar juga, Stevi," ujarnya.
Wanita muda yang dipanggil Stevi itu menghela nafas dalam. Bagaimana bisa Shane tak kunjung sadar padahal ini sudah cukup lama. Segala proses penyembuhan sudah dilakukan, Shane juga sudah melewati tahap operasi saat ditemukan dalam keadaan yang memprihatinkan.
"Apakah aku harus kehilangan Shane juga, ibu?" Stevi menangis sembari memeluk tubuh Emma dari samping.
"Jangan bicara begitu, doakan yang terbaik untuk Shane."
"Ini semua terjadi pasti karena aku," ujar Stevi penuh penyesalan sambil mengelus perutnya yang tampak mulai membuncit.
"Tidak, ini bukan kesalahanmu, Shane begini karena kecerobohannya. Seharusnya dia tidak mendaki setelah bertengkar dengan ibu waktu itu."
Saat mereka sedang mengadu satu sama lain, tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri keduanya.
"Permisi, bisakah saya bertemu dengan Shane?" tanya pria itu dengan bahasa Inggris yang formal.
Emma bangkit dari duduknya. "Ya, Saya ibunya. Kalau boleh tau, anda siapa?" jawabnya sembari bertanya dengan bahasa Inggris pula.
"Ah, kenalkan, Saya Anton. Saya ingin menjenguk Shane karena mendengar jika dia di rawat di sini sejak sebulan yang lalu. Saya pikir keadaan Shane sudah membaik, tapi ternyata Shane masih di ICU?" tanya Anton yang sebenarnya cukup terkejut saat mengetahui fakta ini.
"Saya Emma. Ibunya Shane. Shane memang belum keluar dari ICU. Terima kasih sudah mau menjenguknya."
Anton mengangguk. "Bisakah saya melihat keadaannya di ruangan ICU?" izinnya.
"Silahkan, kebetulan jam besuk belum berakhir. Tapi, dimana anda mengenal putra saya?"
"Saya tidak mengenal Shane secara langsung tetapi saya mewakili anak saya untuk menjenguknya, kebetulan dia juga terjebak di hutan sama seperti Shane, jadi saya turut prihatin dengan keadaan putra anda, Nyonya."
Emma menghela nafas panjang. Ternyata putranya tidak terjebak di hutan sendirian. Entahlah, ia juga belum mendengar fakta apapun mengenai kebenaran yang terjadi, sebab Shane belum sadarkan diri sejak awal ditemukan dan ia tak bisa menanyakan apa yang terjadi padanya.
"Baiklah, silahkan jika anda mau menjenguk Shane."
__ADS_1
...Bersambung ......