ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
31. Dihina


__ADS_3

Shane tidak memberikan Elara ruang untuk bergerak. Ia merasa ide Elara sangat bagus dan ia akan mewujudkannya. Ia akan benar-benar membuat Elara hamil, pikirnya.


Namun, Elara kembali mencegah kelakuan Shane yang semakin menjadi. Bahkan pergerakan lidah pria itu yang mengajak lidahnya untuk bergumul didalam kehangatan rongga bibir mereka berdua--seakan tidak rela menyia-nyiakan keandalannya. Shane seolah ingin membuktikan jika dirinya adalah good kisser.


"Shane, jika kau mencintaiku, maka hentikan ini sebelum semuanya berlanjut lebih jauh." Elara berucap lirih didepan wajah Shane yang hanya berjarak beberapa senti dari hadapannya dengan nafas yang berkejaran akibat ciuman intens keduanya.


"Why?" tanya Shane tak paham.


"Aku ingin melakukannya lagi denganmu. Hanya denganmu." Elara membelai wajah Shane sekilas demi meyakinkannya. "... tapi lakukan itu lagi disaat kita sudah menikah. Soal kejadian yang lalu, anggaplah itu sebagai kekhilafan kita. Aku ingin hamil setelah kita terikat dalam ikatan suci pernikahan. Apalagi kita belum mendapat restu ibumu Kau mengerti, kan?"


Shane memahami komitmen Elara dalam hal ini. Karena perasaannya yang tulus pada gadis itu, ia berusaha meredam sesuatu yang sudah terpancing karena keintimann mereka yang sudah terlanjur terjadi.


"Baiklah, kalau begitu kita akan segera menemui ibu."


Elara mengangguk. "Ya, kita akan menikah setelah mendapat restu dari ibumu," katanya menenangkan Shane.


"Jika ibu tidak setuju? Apa kau akan tetap bersikeras menunggu restu itu?"


"Ya, tentu saja. Bagiku restu adalah yang utama."


"No! Jika ibu tidak merestui, aku tetap pada komitmenku untuk menikahimu. Aku bukan boneka ibu yang bisa ia nikahkan dengan wanita pilihannya. Aku punya pilihan sendiri dan itu adalah kau, Elara."


...****...


Dengan sedikit keberanian yang ia punya, hari ini akhirnya Elara harus mengikuti keinginan Shane untuk bertemu dengan Ibu dari pria itu.


Jika boleh jujur, Elara sangat gugup. Apalagi saat ia menginjakkan kaki di kediaman Shane lagi, itu artinya ia juga akan bertemu dengan Stevi kembali.


"Selamat malam, Ibu."


Suara Shane berhasil membuat kedua wanita yang duduk di ruang tengah itu mengangkat kepala dan menghentikan pandangan kearah Shane dan Elara.


"Akhirnya kau datang juga," kata Emma yang memang sudah menunggu kedatangan putranya yang mengatakan akan menemuinya hari ini.


Emma tampak bergerak--berdiri--sembari meletakkan majalah yang tadi menjadi atensinya.


Sementara Stevi, ia memicing pada seseorang yang berdiri dibalik punggung bidang Shane, ia yakin itu seorang gadis yang akan Shane perkenalkan pada Emma hari ini, tapi ia belum dapat melihat dan menilai wajahnya sebab masih tertutup oleh tubuh Shane, pun karena gadis itu tampak menundukkan kepala.


Shane mempererat genggaman tangannya di jemari Elara, mencoba menyalurkan kekuatan pada gadisnya dan seolah memberikan stimulus lewat sentuhan itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Ibu, kenalkan, ini Lara, kekasihku."


Shane menggeser tubuh, dan menampilkan seluruh postur Elara yang masih berdiri menunduk.


Emma memandang seorang gadis yang mengenakan dress selutut berwarna hijau olive, matanya memicing memperhatikan penampilan Elara dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Hallo, aku Emma, ibu Shane." Wanita paruh baya itu mengulurkan tangan ke arah Elara dan hal itu berhasil membuat sang gadis mengangkat kepalanya. Tatapan matanya bertemu dengan Emma, lalu menyunggingkan senyum terbaiknya. saat mendapati sosok ibu Shane yang terlihat sangat fashionable.


"Hallo, aku Lara," jawab Elara lembut.

__ADS_1


Sementara itu, Stevi sedikit mengerutkan dahi saat memori dikepalanya mengingat siapa sosok yang saat ini dikenalkan Shane pada Emma. Tentu saja Stevi tidak setua itu untuk melupakan siapa gadis yang pernah berkenalan dengannya tersebut.


"Ela? Kau Ela, kan?" Stevi maju selangkah, demi melihat wajah gadis itu lebih jelas lagi.


Inilah yang paling membuat Elara gugup. Pertemuan dengan Stevi yang mengenalinya sebagai teman dekat Kyle. Meski dalam arti kata lain ia dan Kyle bukanlah teman dekat yang menjurus ke arah 'pacaran' tetapi Elara yakin jika Stevi mengartikan jika ia dan Kyle memiliki hubungan yang khusus.


"A--aku ..." Elara terdengar ragu menjawab pertanyaan Stevi.


"Stev, apa kau mengenalnya?" tanya Emma mengarah pada wanita berbadan dua itu.


"Tentu, Ibu. Dia Ela, dia itu---"


"Stevi mengenal Lara sebagai sahabat dari Kyle. Kyle itu sepupu Stevi yang pernah berkunjung kesini," sergah Shane memotong ucapan Stevi yang hendak menjelaskan dengan versinya.


Stevi terperangah dengan jawaban yang Shane bilang. Ia tau jika Elara dan Kyle lebih dari sekedar sahabat. Ia dapat menilai itu dari kedekatan mereka, pun dari tatapan Kyle pada Elara.


"Namaku Elara, Shane memang memanggilku Lara," jelas Elara akhirnya.


Emma mengangguk dan memahami situasinya sekarang.


"Jadi ... ini bukan kunjunganmu yang pertama ke rumah kami?" tebak Emma.


Elara mengangguk. "Maaf, Bibi," katanya sungkan karena sebelumnya ia berkunjung kesini sebagai sahabat Kyle, bukan sebagai kekasih Shane.


"Tunggu ... tunggu ..." Stevi ingin meluruskan sesuatu yang terasa janggal dihatinya.


Shane menggandeng Elara untuk menuju meja makan--dimana disana sudah tersaji menu yang disediakan khusus untuk acara makan malam menyambut kedatangan Elara.


Dengan bersungut-sungut, Stevi mengikuti langkah ketiganya untuk makan di meja makan.


"Apa kegiatanmu, Lara?" tanya Emma memulai percakapannya.


"Aku, aku bekerja sebagai asisten dosen, Bibi."


Mata Emma langsung terbuka lebar saat mendengarnya. "Woa, itu berarti kau cukup pintar, termasuk pintar menggoda putraku. Begitu?" sarkasnya.


"Ibu!" tegur Shane dengan suara tertahan. Ia tak menyangka ibunya akan memulai makan malam dengan langsung berkata sinis seperti itu.


Sementara Elara, menghentikan pergerakannya saat ingin memotong daging diatas piringnya. Ia sedikit terkejut dengan ujaran Emma yang sarkastik.


"Aku pikir kau memang cukup cantik, pun dengan pekerjaanmu yang lumayan untuk menunjukkan jika kau adalah wanita yang pintar, untuk itu ku pikir aku tidak perlu terlalu berusaha memintamu menjauh dari Shane karena ku rasa kau tau bagaimana situasi Shane sekarang yang tidak mungkin menikahimu," papar Emma pedas.


"Ibu?!!" Suara tegas Shane yang berdiri dari duduknya--membuat Emma terdiam, hanya sesaat karena sepersekian detik berikutnya seringaian tipis muncul disudut bibirnya. Gelagat Emma sangat santai, seolah kemarahan Shane disana tidak berpengaruh apapun padanya.


"Dengar, Shane. Ibu tidak akan melarangmu lagi. Tapi ..." Emma melirik pada Elara. "... Aku pikir kau masih bisa diperingatkan untuk menjauhi putraku!" lanjutnya berbicara dua arah.


Stevi yang ada diujung, tersenyum penuh kemenangan. Padahal ia belum berkata apapun mengenai apa yang ia ketahui mengenai Elara tapi calon ibu mertuanya sudah lebih dulu bergerak menolak tegas hubungan Shane dengan Elara.


"Ibu, aku akan menikahi Elara dengan atau tanpa restumu!"

__ADS_1


Emma malah tertawa kencang, baginya ucapan Shane hanyalah ancaman semata. Ia tidak percaya dengan gertakan putranya. Ia malah semakin melihat pada Elara.


"Kau tau kan, ada banyak perbedaan diantara kau dengan putraku. Selain kultur, budaya, bahasa, negara dan asal, kalian jelas-jelas berbeda. Itu masih sebagian kecilnya saja."


"Ibu, aku tidak tau sejak kapan ibu menilai pasangan untukku dari hal itu?" protes Shane.


Emma mengangkat tangannya sebagai isyarat agar Shane diam, ia belum selesai berbicara.


"Dan, sebagian faktor lainnya yang jauh lebih besar dan menjadi pertimbangan ku ..." Emma menjeda kalimatnya, kembali menyunggingkan senyum sinis. "... tentu saja derajatmu. Kau paham itu, kan, Lara? Ya, meski kau terlihat terpelajar, berpendidikan, juga mungkin orangtuamu punya uang yang lumayan untuk membuatmu bisa menetap di negara ini tapi kau pasti sadar jika kau tidak sebanding untuk bersanding dengan putraku," lanjutnya menohok.


Dan kedua tangan Shane mengepal erat mendengar perkataan ibunya. "Cukup, Ibu!" bentaknya. "Aku membawa Elara kesini untuk ku perkenalkan pada Ibu, bukan untuk mendengar ibu menghinanya. Jadi, simpan hinaan ibu untuk diri ibu sendiri!" ketusnya.


"Lihat, Lara! Bahkan putra yang ku lahirkan bisa melawanku hanya demi dirimu?" Emma tertawa sumbang. "Kau sangat pandai ternyata," sambungnya menekankan.


Shane menggeleng samar saat menyadari Elara begitu terhina oleh ucapan ibunya. Ia melirik gadis itu sudah menundukkan kepala dalam-dalam. Pun hal itu semakin membuatnya geram.


"Terlepas dari segala hinaan ibu, Elara tetap mengandung darah daging ku!" kata Shane akhirnya, ia bersikeras tetap mempertahankan kebohongan itu demi membuat ibunya luluh, meski sebelumnya Elara sudah mengatakan untuk jujur saja mengenai segalanya tapi Shane menolak.


"Kau yakin itu anakmu?" Kali ini itu sahutan dari Stevi, bukan Emma. "Jangan-jangan itu darah daging, Kyle!" lanjutnya dengan kekehan sinis.


"Stevi!" Semakin Shane geram dengan semua ini, ucapan Stevi justru seperti memantik api diatas bensin. Mungkin Stevi ingin membalas sikap Shane yang juga meragukan anak yang dikandung wanita itu. "Diam kau! Kau tidak berhak mencampuri urusanku!" tegas Shane.


"Ibu pikir itu ada benarnya, Shane. Mungkin yang dikandungnya bukan anakmu," timpal Emma yang satu suara dengan Stevi.


"Apa sudah cukup?" Tiba-tiba Elara angkat suara. "Apa sudah cukup kalian menghinaku?" tanyanya mulai berani mengangkat wajah.


Emma terkekeh pelan, tampak sangat elegan, tapi dimata Elara itu hanya sebuah topeng karena nyatanya ibu dari kekasihnya ini sangatlah tidak punya hati.


"Jika kalian sudah puas menghinaku, maka aku akan segera angkat kaki dari sini,"ujar Elara sembari menghapus airmatanya kasar.


"Lara," lirih Shane disampingnya, namun Elara menggeleng dengan senyuman getir.


"Silahkan angkat kaki dari sini dan dari hidup Shane, Elara!" kata Emma menekankan.


Elara mengangguk, diambilnya handbag yang tadi ia bawa, kemudian beranjak meski Shane mencekal lengannya.


"Lara, you can't go!" sergah Shane, ia berlari menghadang langkah Elara yang hampir menyentuh ambang pintu keluar.


"Shane, ibumu benar, kita tidak pantas bersama. Banyak perbedaan diantara kita. Pun derajat kita sangat jauh berbeda. Aku hanya batu kerikil dimata ibumu, Shane. Sedang hidupmu membutuhkan berlian," ucap Elara dengan suara tercekat. Matanya tampak berkaca-kaca.


"Ibu hanya belum yakin dengan keseriusanku padamu."


"Bukan berarti aku bebas dihina, kan?"


"Maaf, tapi sebanyak apapun kau menolakku, mencoba pergi dariku tapi akupun akan terus mendatangimu berkali-kali!"


...Bersambung ......


Vote Senin kesini dong✅ othor rasa novel ini makin sepi, padahal mau masuk konflik seru.

__ADS_1


__ADS_2