
Sementara disana, Stevi baru saja selesai menjalani proses pencangkokan ginjal. Ia senang sekali karena pada akhirnya mendapatkan donor yang cocok. Apalagi sejak operasinya dilakukan, tampak ibunya juga datang untuk mengunjunginya.
Stevi tau jika Gracia tidak benar-benar meninggalkannya. Kemarahan Gracia hanyalah sesaat untuk menunjukkan kekecewaannya atas sikap Stevi yang sampai tidak mengetahui siapa Ayah dari bayinya. Wajar bagi seorang ibu kecewa atas kelakuan anaknya yang keterlaluan. Dan Stevi menyadari kesalahannya itu.
"Terima kasih ibu sudah mau mendampingiku sejak operasinya dilakukan."
"Iya, bagaimanapun juga kau tetaplah putriku." Gracia membelai wajah Stevi dengan lembut.
Tak berapa lama, Kyle dan Eve datang kesana untuk menjenguk Stevi pasca operasi.
"Bagaimana keadaanmu, Stev?"
"Aku merasa jauh lebih baik. Ini seperti hidup baru untukku."
Kyle mengulas senyum tipis, lalu menatap pada Gracia yang berdiri disamping ranjang Stevi.
Melihat tatapan keponakannya, Gracia buru-buru membuang pandangan ke arah lain seperti tampak menghindar.
"Senang akhirnya kita bisa berkumpul begini." Eve angkat suara. Ia menghampiri Gracia yang tidak lain adalah adiknya.
"Iya, Kak. Aku juga senang akhirnya kita berkumpul dengan lengkap meski tanpa suami kita," kata Gracia dengan nada sedih.
Ibu Kyle sendiri sudah menjadi single parent sejak usia Kyle 9 tahun, ayah Kyle meninggal di Medan perang karena beliau adalah aparat negara. Sedangkan Ayah Stevi yang adalah suami Gracia, sudah memiliki kehidupan baru dengan keluarga yang baru, mereka bercerai saat usia Stevi masih 4 tahun. Itulah yang membuat Gracia hidup dengan keras pun kehidupan yang sama ia berlakukan untuk Stevi pula.
Meski demikian, Stevi tidak hidup susah karena Gracia masih memiliki usaha garmen yang sudah berdiri sejak bertahun-tahun yang lalu. Sebenarnya usaha itu Gracia dapatkan karena menuntut harta gono-gini dari mantan suaminya yang berselingkuh.
Berbeda dengan kehidupan Stevi, Kyle sendiri besar dengan uang pensiun mendiang Ayahnya, karena Eve tidak memiliki usaha seperti Gracia. Kyle hidup dari biaya pemerintah, hidupnya tidak begitu mudah dan dia berhasil sukses seperti sekarang karena usahanya sendiri. Hingga usahanya tidak sia-sia dan mengantarkan Kyle pada pekerjaan yang cukup bergengsi. Kyle bekerja di sebuah perusahaan bahan bakar pesawat atau avtur sebagai kepala produksi.
"Jangan membahas masa lalu yang menyedihkan, Grace," kata Eve mengingatkan adiknya yang menjurus untuk membahas suami mereka dimasa lalu.
"Ya, suasananya sedang bahagia, jadi lupakan masa lalu itu, Ibu," timpal Stevi dari pembaringannya.
Mereka akhirnya terkekeh. Kemudian berbincang hangat. Kebanyakan membahas tentang perkembangan Maura si bayi kecil yang dilahirkan Stevi 5 bulan yang lalu.
"Ehm, apa tujuanmu selanjutnya, Stev?" tanya Kyle pada sang sepupu.
"Aku akan menjadi ibu yang baik untuk Maura. Aku akan membesarkannya dan aku akan kembali bekerja seperti sebelum aku mengandung."
Stevi dulunya bekerja disebuah Restoran ternama. Ingat kan jika dia adalah seorang chef yang andal, yang juga membuat menu makanan sembari memperhitungkan kandungan serta kadar gizi di setiap masakannya.
"Baguslah. Aku mendukungmu untuk hal itu," jawab Kyle.
__ADS_1
"Thank you, Kyle. Kau sudah mengusahakan yang terbaik untukku."
Kyle diam saja atas pernyataan Stevi, ia melirik Gracia yang mengulas senyum semringah.
"Lagi-lagi aku tidak tau bagaimana caranya untuk membalas kebaikanmu."
"Sudah ku katakan jangan terus berusaha untuk membalasku. Aku tidak mengharapkannya. Yang paling ku pikirkan adalah Maura, dia masih sangat membutuhkanmu."
"Kyle benar, Stev ... mulai sekarang kau harus hidup dengan baik. Jaga Maura. Jauhi alkohol dan lupakan masa lalumu yang menyakitkan. Ibu yakin semua yang menyakitimu akan merasakan balasannya," sambung Gracia menimpali. Senyum di bibirnya tidak pernah surut, seolah menyimpan sebuah arti disana.
...***...
Hari ini Elara sudah bisa kembali ke kediamannya di Mansion besar milik keluarga Gladwin. Ia merasa lebih baik, meski ada sesuatu yang terasa janggal didalam dirinya tapi entah apa.
Shane memang belum bisa memberitahukan pada Elara mengenai kondisi wanita itu yang kini hanya memiliki satu ginjal saja. Shane tidak tega memberitahunya. Mungkin tidak sekarang, batin Shane.
"Kalau kau membutuhkan sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku. Jangan terlalu lelah karena aku selalu siap sedia untuk membantumu." Shane menyunggingkan senyum dihadapan istrinya yang tampak jauh lebih baik sekarang.
Elara hanya mengangguk samar sebagai respon untuk ucapan sang suami.
"Aku keluar dulu, aku mau meeting virtual di ruang kerjaku. Kau istirahatlah." Shane mengelus puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Ya sudah, aku akan meninggalkanmu di kamar ini. Kau akan aman disini. Semuanya dalam pengawasanku. Aku bekerja dulu, ya."
Shane sudah tak datang ke perusahaannya sejak Elara menghilang waktu itu. Ia kerap kali melakukan meeting virtual, itupun jika menyangkut sesuatu hal yang benar-benar penting. Selebihnya, ia menyerahkan pekerjaannya pada Max sang Asisten.
Tak jarang pekerjaan yang harus melewati persetujuannya juga harus diantarkan Max ke Mansion untuk mendapatkan tanda tangan Shane.
Saat Shane hendak menekan handle pintu, Elara kembali bersuara dengan suaranya yang terdengar pelan itu.
"Shane, apa aku benar-benar hamil?"
Pertanyaan Elara membuat tubuh Shane menegangg. Ia terlalu sulit untuk menjabarkan semua yang terjadi pada sang istri. Termasuk soal kehamilan Elara yang tidak mendapatkan jawaban apapun.
" ... aku tidak sempat memeriksakannya waktu itu, tapi apa kata dokter saat pertama kali kau mengajakku berobat, Shane?"
"Maaf, Sayang..." Shane berusaha untuk menjawab keingintahuan istrinya.
"Maaf? Kenapa kau malah meminta maaf?"
"Karena kau tidak hamil." Shane terpaksa mengatakan hal yang sebenarnya, karena ia tak ingin Elara berharap atau justru hancur jika dia mengatakan diapun tak tau mengenai hal itu. Apa Elara sempat hamil lalu keguguran karena pengambilan ginjal itu? Atau justru sejak awal Elara memang tidak hamil? Shane tak tau. Jadi dia menjawab berdasarkan keadaan saat ini dimana Elara memang tak hamil.
__ADS_1
"Oh ..." Elara menyahut pelan. "Dari awal sudah ku katakan kalau jangan terlalu berharap, kan?" ujarnya menatap Shane dengan tatapan berkaca-kaca sedih.
Shane tak tahan lagi. Ia kembali menghampiri posisi Elara yang tampak tidak baik-baik saja. Ia dekap wanita itu dan membawa wajah istrinya untuk menempati dada bidangnya. Shane mengelus punggung Elara secara teratur.
"Kita masih bisa mencobanya lagi nanti. Kita punya waktu selamanya untuk bersama-sama," hibur Shane.
"Ya, kau benar."
Shane dapat merasakan anggukan yang Elara lakukan dalam pelukannya. Tapi tak dipungkiri jika ia juga mendengar jika wanita itu menangis. Shane tau Elara sama berharapnya dengan dia mengenai kehamilan itu.
Kenapa cobaan rumah tangga mereka harus sebesar ini dikala hubungan keduanya masih terbilang sangat baru?
Yang jelas, Shane harus lebih kuat ketimbang Elara. Belum lagi ia yang menyembunyikan rahasia mengenai kondisi Elara dari wanita itu sendiri. Shane merasa cukup bersalah atas hal ini.
"Ya sudah, istirahat ya. Aku akan segera kembali setelah meeting virtual nya berakhir."
Shane menangkup pipi Elara dengan kedua telapak tangannya lalu mengecup dahi wanita itu dalam-dalam.
Kita akan melewati semua ini, Sayang! Begitulah batin Shane berseru.
"Max?! Shane segera memanggil asistennya begitu ia keluar dari kamar yang ditempatinya bersama sang istri di Mansion tersebut.
"Ya, Tuan?" Max menghampiri Shane disana.
"Apa kau sudah mendapatkan perkembangan mengenai siapa yang menjadi dalang atas penculikan dan pencurian ginjal istriku?" tanya Shane. Ia rasa sudah cukup waktu untuk menemukan siapa yang harus bertanggung jawab atas semua ini.
Perlu diketahui, Shane sudah mencabut laporan kehilangan istrinya di kepolisian. Dia tidak akan melibatkan aparat dalam hal ini karena dia akan menghukum oknum itu dengan caranya sendiri. Dia tidak rela jika orang yang melakukan kekejian ini hanya dikurung dibalik jeruji besi.
"Saya tidak menemukan bukti apapun yang mengarah pada seseorang."
Shane melotot pada Max, ia tau jika oknum yang melakukan pencurian organ itu pasti sudah merencanakan semua ini secara matang sampai luput dari pantauan dan pencariannya.
Shane hampir mengumpat Max, karena merasa perkejaan mereka tidak becus, mulutnya sudah terbuka untuk marah tapi Max buru-buru melanjutkan kalimatnya.
"... tapi Tuan, ada hal lain yang saya temukan."
"Apa? Katakan!"
"Saya mendapat info jika Nona Stevi baru saja melakukan transplantasi ginjal di sebuah rumah sakit. Bukankah ini sangat kebetulan, Tuan?"
...Bersambung ......
__ADS_1