
"Shane ... aku tidak menyangka akan bertemu kau disini." Wanita yang menyapa Shane tampak sangat semringah.
Lalu sepersekian detik berikutnya, ia sadar jika Shane tak sendirian di meja itu, ia menoleh pada wanita yang duduk disamping Shane, yang tidak lain adalah Elara. "Kau?" ujarnya nyaris memekik pada Elara.
Elara juga hampir syok saat menyadari jika ini adalah wanita yang membuat keributan di mall dengannya siang tadi. Lagi-lagi sebuah kebetulan mereka dipertemukan disini, belum lagi wanita itu yang mengenali suaminya, bahkan memanggil Shane dengan begitu akrab.
Shane yang tadi wajahnya mendadak kusut, kini malah terkejut saat menyadari jika wanita yang menyapanya ini juga mengenal Elara, istrinya.
Namun, Shane belum memberi respon apapun atas kesenangan wanita itu yang mendapati dirinya di pesta tersebut.
"Shane, kau mengenalnya?" Akhirnya Elara yang menanyai suaminya itu.
Shane menoleh pada Elara. "Acaranya sudah selesai. Bagaimana kalau kita pulang?" ujarnya.
Mata Elara membola, sama seperti wanita yang tadi menyapa Shane. Dia terkejut karena Shane sama sekali tak mengindahkan sapaannya.
"Baiklah, kita pulang saja." Elara berdiri dari duduk. Bersiap untuk pulang, ia akan menanyakan hal ini lebih lanjut pada suaminya di rumah.
Shane pun bersiap pergi saat wanita itu kembali memanggilnya.
"Apa hubunganmu dengan wanita ini, Shane?" tanya wanita itu merujuk pada Elara yang ikut berjalan disamping Shane bahkan menggandeng lengan Shane.
Jika sebelumnya Shane dengan tegas memperkenalkan Elara sebagai istirnya baik pada rekan maupun pada saingannya. Berbeda dengan sekarang, Shane tidak menjawab apapun seakan enggan menanggapi pertanyaan wanita itu.
Elara sendiri tidak tau apa perasaannya sekarang, dimana suaminya tidak mengakui status dirinya dihadapan wanita yang sempat membuatnya dongkol siang tadi.
"Shane!" Wanita itu kembali memanggil Shane saat Shane kembali bergerak untuk pergi meninggalkan ballroom.
"Sudahlah, Megan. Kau tidak perlu mengejarnya."
Dan tiba-tiba ada yang datang mencegah wanita itu untuk terus mengejar langkah Shane dan Elara. Itu adalah Ryder.
"Shane, izinkan aku bicara denganmu!" Wanita bernama Megan itu tidak menghiraukan peringatan dari Ryder, dia bersikeras mengikuti langkah Shane, padahal Shane tidak mempedulikannya sama sekali dan terus berjalan dengan menggenggam tangan Elara untuk segera menuju pelataran hotel.
"Sudahlah, Megan. Dia telah melupakanmu. Dia sudah menikah dan wanita yang bersamanya itu adalah istrinya!"
"Apa?" Megan tampak terkejut dengan penjelasan Ryder. "Kau berbohong!" desisnya tak terima.
Dan perdebatan mereka masih terdengar oleh indera pendengaran Elara karena keduanya mengikuti langkah mereka sampai ke lobby hotel.
Elara menatap Shane seolah meminta penjelasan dari suaminya itu, tapi Shane hanya diam. Pria itu malah gegas membukakan pintu mobil untuk Elara naiki secepatnya begitu mereka tiba didepan kendaraan tersebut.
Dengan perasaan yang entah, akhirnya Elara memasuki mobil juga, disusul oleh Shane yang ikut naik.
"Jalan, Max!" Hanya itu kalimat yang terdengar dari bibir Shane. Bahkan dia bukan berbicara pada Elara, melainkan pada Max yang sudah duduk di balik kemudi.
...*+*+*...
Perjalanan yang memakan waktu beberapa puluh menit itu akhirnya mengantarkan Elara dan Shane sampai ke Mansion. Tidak ada percakapan diantara mereka sejak memasuki kabin mobil. Tapi Elara akan membahas hal tadi dengan suaminya di kamar mereka dan ia akan memastikan untuk mendapatkan jawaban dari bibir Shane.
Sedangkan Shane sendiri, ia tau jika kini di kepala Elara pasti ada begitu banyak pertanyaan untuknya. Namun, ia juga lebih penasaran bagaimana bisa Megan mengenali istrinya itu?
Elara meletakkan handbag-nya di atas nakas, lalu memutuskan untuk duduk di pinggiran ranjang. Ia melirik Shane yang tampak membuka simpul dasinya disana.
"Aku tidak ingin berbasa-basi. Katakan apa hubunganmu dengannya!" ujar Elara dingin.
__ADS_1
Shane menggaruk pelipisnya sekilas. Sebenarnya ia sudah menyiapkan jawaban saat di mobil tadi. Ia juga sudah bersiap dengan berbagai pertanyaan yang akan diajukan oleh istrinya, tapi saat Elara benar-benar bertanya seperti ini, Shane malah bingung harus menjawab apa.
Melihat Shane tetap diam. Elara akhirnya bangkit dari duduknya dan hendak menuju kamar mandi.
"Kau mengenalnya dimana?" Shane malah bertanya saat Elara hampir mencapai pintu kamar mandi.
"Siapa yang kau maksud?" tanya Elara tanpa menoleh.
"Dia ... wanita yang tadi."
"Yang bernama Megan?" Sudut bibir Elara tertarik sinis, bahkan Shane tidak mau menyebut nama wanita itu. Tapi entah kenapa ia tetap tak menyukai apa yang sempat terjadi tadi.
Shane mengangguk.
"Aku tidak mengenalnya. Dia adalah wanita yang terlibat keributan denganku di Mall tadi siang."
"Astaga ..." Shane mengusap kasar wajahnya sendiri. Kenapa dunia seakan se-sempit ini? Pikirnya.
"Kenapa? Apa kau benar-benar punya hubungan dengannya? Jika ya, maka coba jelaskan padaku." Elara berbalik badan, mencoba menunda niatnya untuk membersihkan diri di kamar mandi.
"Bukan begitu, Sayang."
Elara berdecih sekarang. "Kau mau bilang ini salah paham? Jelas-jelas aku melihat sendiri bagaimana senangnya dia saat bertemu denganmu."
Shane tetap diam. Lidahnya serasa kelu untuk menjawab pertanyaan Elara.
"Jika kau diam seperti ini, maka aku akan menyimpulkan sendiri."
Shane langsung mengangkat pandangan yang sebelumnya tak berani menatap pada sang istri. "Menyimpulkan apa? Jangan berpikiran buruk, Lara!" sergahnya.
Shane mengesah panjang mendengar perkataan istrinya yang tidak main-main. Ia memutuskan untuk menunggu Elara keluar dari kamar mandi.
Sampai akhirnya, tak berapa lama kemudian wanitanya itu benar-benar keluar dari ruangan tersebut.
"Honey ..."
Elara memasuki walk in closet tanpa mengindahkan panggilan Shane disana. Ia mengganti bajunya dengan piyama satin lalu bersiap untuk segera tidur.
Melihat itu, Shane semakin gelisah saja. Ia tidak bisa jika Elara mendiamkannya seperti ini.
"Aku mau bercerita. Apa kau tidak mau mendengarkannya?"
Dan Elara tak menyahut apapun. Dia tetap memilih diam dalam posisinya yang membelakangi Shane.
"Sayang ..." Shane menyentuh pundak Elara, namun Elara mengendikkan bahu untuk menepisnya.
"Sebelum aku menceritakannya, aku ingin kau jawab dulu dengan jujur ... apa kau cemburu, hmm?"
Mendengar itu, Elara lantas terduduk dari posisinya yang sebelumnya berbaring menyamping. Ia menatap Shane nyalang--seolah mau memakan pria itu hidup-hidup--Shane sampai ciut melihatnya. Tidak pernah istrinya tampak menyeramkan seperti ini.
Ternyata benar kata dunia, wanita itu ibarat kucing ketika berpacaran dan berubah menjadi singa saat sudah menikah.
Sedang dirinya sebagai lelaki, seperti buaya saat lajang, tapi menjelma menjadi cicak jika sudah menjadi suami.
Harus Shane akui jika ia takut pada kemarahan istrinya, namun ia juga senang jika Elara benar-benar mencemburuinya. Bukankah selama ini hanya dirinya yang cemburu pada Elara?
__ADS_1
"Megan adalah mantan kekasihku."
"Apa?" Mata Elara membulat sempurna.
"Itu sudah lama sekali, Sayang. Jangan marah dulu, aku belum selesai menceritakannya."
Dan Elara pun diam. Ia tau suaminya ini sangat memiliki daya pikat. Selain tampan, Shane juga kaya. Dia juga pintar dan andal. Siapa yang tidak tertarik dengannya? Jadi, mustahil jika selama hidupnya Shane tidak pernah berpacaran atau tidak memiliki mantan kekasih. Bahkan mungkin, Shane bisa saja menyusun mantan-mantannya itu layaknya koleksi yang sudah tak terpakai, begitulah batin Elara.
"Lalu?"
"Kami berpacaran saat masih berada di jenjang senior hight school."
"Berapa lama?" tanya Elara menyelidik.
"Enam bulan."
"Cukup lama."
Shane tak menyahut. Ia malah menikmati wajah cemburu Elara disana.
"Lalu ... kenapa putus?" tanya Elara kemudian.
"Dia memanfaatkanku. Dia hanya ingin uangku. Aku menyadarinya belakangan hari."
"Dia memanfaatkanmu, sementara kau begitu mencintainya?" tebak Elara.
Shane berdecak. "Lara, come on! Itu hanya masa lalu," paparnya.
"Ya, aku mengerti semua orang punya masa lalu. Tapi kenapa tadi kau tidak menjawab saat dia menanyakan siapa aku padamu?"
"Aku hanya malas meladeninya."
"Bilang saja kau malu mengakui ku sebagai istrimu didepan mantan pacarmu!" tuding Elara.
"Astaga ..." Shane menyugar rambutnya. "Tidak begitu, Sayang. Pada akhirnya Ryder memberitahunya, kan? Lalu apalagi?" tanyanya.
"Kenapa tidak kau saja yang mengakuinya langsung! Itu yang menjadi masalahnya."
"Aku malas terlibat percakapan dengannya. Dia itu terlalu menuhankan uang dan akan melakukan cara apapun untuk mendapat uang. Aku tau tabiatnya, jadi aku malas berurusan dengannya," kata Shane terus terang.
Dan jawaban Elara selanjutnya justru membuat Shane melongo.
"Ya. Kau pasti sangat mengenalinya," jawab Elara tak acuh.
"Apa kita akan membahas hal ini sampai pagi?" Shane menepuk jidatnya sendiri.
"Kenapa tidak?"
Elara dengan segala keegoisannya. Yang sepertinya sikap ini ada dalam diri kebanyakan wanita. Jika ini dilanjutkan maka Shane tidak akan pernah menang. Jadi, percuma saja mendebat istrinya. Begitulah isi kepala Shane saat ini.
Elara sendiri, tak terkejut saat Shane mengatakan jika Megan hanya mau uangnya saja dan melakukan banyak cara untuk mendapatkan uang. Itu terbukti saat wanita itu ingin mencoba meminta uang pada Elara atas kejadian siang tadi. Jadi, sedikit banyak ia percaya jika Shane tidak membohonginya mengenai hal ini.
Tapi, mengingat jika Shane pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita bernama Megan itu--tetap saja membuat Elara tak senang dan kesal luar biasa. Ia jadi malas tidur dengan Shane malam ini. Entah kenapa. Apalagi mengingat jika Shane tidak mau mengenalkannya sebagai istri pada wanita itu. Elara benar-benar dongkol rasanya.
...Bersambung ......
__ADS_1