
Elara mulai terbiasa dengan kesehariannya di desa yang kini menjadi tempat tinggalnya. Ia memutus kontak dengan siapapun yang pernah terlibat dengannya di masa lalu, terkecuali kedua orangtuanya–tentu saja.
Bahkan, kedua saudara Elara tidak tau keberadaan sang kakak. Elara acapkali mengubungi mereka namun tidak mengatakan keberadaannya yang sekarang, ia takut mereka akan memberitahukan hal itu pada Kyle, yang pasti mencari keberadaannya.
Khusus pada kedua orangtua yang mengetahui keberadaannya, Elara berpesan agar menyimpan segala tentangnya rapat-rapat, sebab ia tak mau keberadaannya sekarang diketahui oleh Kyle atau siapapun.
Elara hanya ingin tenang, sekaligus menata hatinya kembali setelah hubungannya dengan Shane tidak berujung baik. Pun persahabatannya dengan Kyle harus berantakan karena lamaran pria itu.
Elara mendidik anak-anak desa dengan kemampuan mengajarnya yang mumpuni. Ia sudah bisa bersosialisasi disana dan ia menjadi salah satu guru favorit para siswa.
Elara juga mengajarkan bahasa Indonesia kepada beberapa muridnya yang ingin belajar lebih lanjut.
Kegiatan barunya sedikit banyak membuat Elara melupakan segala problem dan permasalahan hatinya.
Elara menikmati aktivitas barunya dan ia mengajar tanpa tekanan apapun.
Nyaris enam bulan sudah Elara tinggal di desa tersebut, membuatnya mulai bersahabat dengan Jasmine. Ia tak sungkan menceritakan semua yang pernah ia alami, pun dengan hubungan rumitnya bersama Shane yang berakhir menggantung.
"Aku yakin dia masih menunggumu, atau mungkin disana dia sedang sibuk mencari keberadaanmu, Ela." Jasmine memberikan pendapatnya mengenai hal ini.
"Aku … tidak tau harus berbuat apa untuk mempertahankan hubungan kami." Elara menatap sendu pada Jasmine, "Sepertinya kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama," sambungnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku bingung kenapa kau menyerah disaat pria itu mengajakmu untuk bertahan," papar Jasmine kemudian.
"Ini tidak semudah itu, Jasmine. Keluargaku menjunjung tinggi sebuah restu. Jadi, aku pesimis mereka akan merestuiku tanpa persetujuan dari ibu Shane."
"Ya, itu memang sulit. Tapi, ku pikir Shane sudah tau watak ibunya maka dari itu dia mengajakmu nekat. Lagipula, itu lebih baik ketimbang kalian memilih tersiksa dengan menahan perasaan masing-masing seperti saat ini."
"Sudahlah, lupakan pembahasan ini." Elara merasa tidak mau terus membahas ini sebab akan kembali membuat hatinya berdenyut sakit.
"Tapi, keputusanmu untuk pergi dan menetap disini juga sudah benar, kita jadi dapat bertemu dan berteman baik seperti sekarang," ujar Jasmine dengan mengulas senyuman.
"Yeah, kau benar. Thank, Jasmine."
"Tidak perlu berterima kasih, justru aku beruntung mendapatkan teman sebaik dirimu."
Elara memeluk tubuh Jasmine dari samping, sekarang pada Jasmine lah ia berkeluh kesah. Ia senang akhirnya mendapatkan teman baik disini. Dulunya ia hanya memiliki Kyle, namun sangat terbatas untuk melakukan sentuhan fisik karena mereka berlawanan jenis. Sejak awal ada sebuah pembatas yang memang Elara pasang diantara ia dan Kyle karena ia takut Kyle menjatuhkan hati padanya.
Namun pada kenyataannya, hal yang Elara takutkan benar-benar terjadi sebab persahabatannya dengan Kyle berujung pada lamaran pria tersebut.
"Jika kau bertemu lagi dengannya, bagaimana, Ela?"
__ADS_1
Elara tersentak dengan pertanyaan Jasmine, ia tidak pernah mau memikirkan kemungkinan itu karena ia takut ia tidak bisa menahan diri lagi. Jujur, saat ini Elara dirundung rasa rindu pada lelakinya.
Elara menelan saliva dengan berat sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Jasmine.
"Dia tidak mungkin menemukanku disini."
"Benarkah? Kenapa kau seyakin itu?"
"Ini tempat terpencil kan? Mustahil dia menemukanku," kata Elara dengan keyakinannya.
Sementara disana, Shane baru saja mendapat laporan dari Max mengenai keadaan Elara yang syukurnya baik-baik saja.
Dua hari setelah kepergian Elara, sebenarnya Shane sudah langsung mengetahui keberadaan gadis itu. Ia mendapatkan jadwal keberangkatan Elara melalui travel yang dipesan Elara terakhir kali, lalu ia mendapatkan info dari pihak travel mengenai kemana tujuan Elara.
Sebenarnya, Shane sangat ingin untuk segera mengunjungi Elara saat itu juga, namun ia sadar diri itu tidak berguna. Sekalipun rasa rindu Shane sangat meluap-luap sekarang, tapi jika ia kembali menemui Elara tanpa membereskan semua permasalahannya lebih dulu, itu akan berakhir percuma, semua akan sama saja dan mungkin itu hanya akan membuat Elara semakin pergi menjauh demi menghindarinya--lagi.
Jadi, Shane pun memutuskan untuk menahan diri, sampai ia mendapatkan restu dari ibunya--bagaimanapun caranya--barulah ia bisa menemui Elara lagi--dengan perasaan yang lebih tenang, tanpa takut ditolak.
Saat ini, usaha Shane adalah menjaga Elara dari jauh, serta memastikan agar Kyle tidak bisa menemui Elara lebih dulu sebelum ia yang akan mendatangi gadis itu kembali.
Shane juga mendengar soal Jasmine, ia cukup senang karena Elara mendapat teman seorang gadis disana, dan ia meminta Max--asistennya--untuk terus memantau apakah Jasmine adalah teman yang baik atau justru toxic bagi Elara.
Usaha Shane yang lain adalah ingin segera melakukan tes DNA pada bayi Stevi yang sudah wanita itu lahirkan 5 bulan yang lalu. Shane masih ingin tau soal bayi itu.
"Sudahlah, Shane. Kau terlalu menjatuhkan harga diriku jika kau bersikeras meminta untuk melakukan tes DNA itu," kata Stevi yang lagi-lagi menyuarakan protesnya. "Bukankah itu sama saja dengan kau menuduhku bermain dengan pria lain selain kakakmu?" cetusnya kemudian.
"Jika kau merasa tidak begitu, maka seharusnya kau tidak perlu takut untuk melakukan tes itu, Stev," jawab Shane dengan tenang.
"Siapa bilang aku takut?" Stevi tertawa sumbang. "Baiklah, kita lakukan tes itu, tapi jika benar bayiku adalah anak Shawn maka kau harus bersedia bertanggung jawab dengan menikahiku, Shane!" tegasnya kemudian.
Sekarang Shane yang tertawa miris. "Bahkan jika itu benar anak Shawn, aku hanya bertanggung jawab padanya dengan memberinya kehidupan yang layak, bukan dengan menikahi ibunya," sarkasnya kemudian.
"Sudah! Sudah!" Emma menyela pertengkaran yang selalu terjadi diantara Shane dan Stevi. "Ibu rasa yang Stevi katakan itu ada benarnya, Shane. Bayi itu adalah milik Shawn, jadi nikahilah Stevi demi mendiang kakakmu!" tegasnya.
"Ibu!" Shane menatap ibunya dengan tatapan kecewa. "Kapan ibu mau mendengarkan pendapatku? Sekali saja, Bu!" pintanya.
Emma membuang pandangan, ia tidak suka Shane sudah memasang mimik demikian. Ia takut luluh, sementara yang ia pikirkan adalah nasib cucunya yang baru hadir ke dunia beberapa bulan ini. Kasihan bayi itu jika tumbuh tanpa seorang Ayah.
"Jangan paksa aku, Bu. Aku tidak mencintai Stevi jadi sampai kapanpun aku tidak akan menikahinya!"
"Kita bisa memulai semuanya dari awal, Shane," sela Stevi.
__ADS_1
"Memulai dari awal dengan kau menganggapku sebagai Shawn?" sahut Shane berargumen.
"Ya, kenapa tidak?"
"Tapi aku tidak bisa menganggapmu sebagai Elara!" desis Shane kemudian.
Mendengar nama itu kembali disebut oleh Shane, membuat Stevi berdecak keras. Padahal ia sudah senang ketika mendengar jika Elara sudah pergi dari kehidupan Shane. Nyatanya, Shane masih saja mencintai gadis yang sama. Keterlaluan.
"Bukankah dia sudah meninggalkanmu? Apalagi yang kau harapkan dari wanita seperti itu?" Emma kembali angkat suara.
"Ibu!" Shane bangkit dari duduknya, kali ini ia menatap ibunya dengan nyalang. "Sadarkah ibu jika Elara pergi karena sikap ibu?" geramnya. Ia sudah menahan hal ini lama, tapi ibunya sangat keterlaluan.
"Shane! Kau selalu membantah ibu jika menyangkut soal gadis itu!"
"Jadi kita benar-benar akan membahasnya?" Shane menyeringai. "Baiklah, aku sudah lama ingin meluapkan kemarahanku terkait kepergian Elara!" tukasnya menohok.
Emma terdiam dengan ujaran keras sang anak, sementara Stevi berlarian ke arah box bayinya sebab suara Shane mungkin telah membuat bayinya terkejut dan menangis disana.
"Jangan salahkan Elara, Bu! Pertama, sejak awal aku memang sering membantah ibu. Bukan karena Elara, tapi sejak ibu memintaku untuk menikahi Stevi!"
Emma lagi-lagi hanya bisa terdiam sebab yang Shane katakan itu memanglah yang sebenarnya.
"Kedua, Elara memang pergi dariku karena hinaan ibu. Dari segi mana lagi ibu mau mengelak?" tekannya.
"Jadi, kau menyalahkan ibumu, Shane?" Emma mengulas senyum getir.
"Ya!" ujar Shane tanpa gentar.
Emma sedikit ciut melihat putranya yang sekeras ini saat membahas permasalahan yang sama.
"Coba ibu bayangkan, aku dan Elara terpaksa berpisah karena keegoisan ibu yang tidak pernah memikirkan perasaanku. Apa disini hanya Stevi yang harus dipikirkan? Apa ibu tidak mau memikirkan ku?"
"Shane, kecilkan suaramu," kata Emma melirik ke arah pintu kamar dimana tadi Stevi masuki untuk menenangkan bayinya. "Ibu hanya menghawatirkan cucu ibu," lanjutnya.
"Maka dari itu, kita buktikan dulu itu benar-benar cucu ibu atau bukan ..."
"Jika itu memang cucu ibu, bagaimana?"
"Terima bayinya. Sokong kebutuhannya. Bukan memaksaku untuk menikahi ibunya!"
Emma terdiam, tampak memikirkan pernyataan Shane kali ini.
__ADS_1
"Tapi, jika itu bukan bayi Shawn, apa yang akan ibu lakukan?" tanya Shane kemudian, membuat Emma kembali menjatuhkan pandangan pada pintu kamar Stevi disana.
...Bersambung......