
"Apa kau masih marah padaku?" Shane menatap sendu ke arah istrinya. Meski pagi ini Elara menyiapkan segala keperluannya untuk ke kantor, tapi tak sekalipun Elara menyapanya lebih dulu.
Elara menggeleng.
"Benarkah?"
Kini Elara hanya mengangguk.
Shane menghela nafas berat, namun tak urung mendekatkan diri pada Elara yang mengaku sudah tak marah lagi padanya.
"Maafkan aku, ya. Aku tau aku salah dan aku tidak akan mengulanginya lagi." Shane mengacungkan dua jari yang berbentuk huruf V dihadapan Elara.
"Ya sudah, sana pergilah," usir Elara halus.
"Kau mengusirku?"
"Bukan. Kau harus bekerja, kan? Jadi pergilah."
Shane mengangguk samar, lalu ingin mencium Elara namun wanitanya itu masih tampak menghindar. Dari gelagatnya, Shane bisa menduga jika istrinya masih menyimpan rasa kesal kepadanya.
"Kau bilang tidak marah lagi, kan? Jadi, jangan halangi aku untuk melakukannya." Suara Shane berubah tegas hingga Elara tidak berkutik saat pria itu menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil di seluruh bagian wajahnya.
Shane mencium kedua mata Elara kiri dan kanan. Pipinya, hidungnya, dahinya dan terakhir bibirnya.
"Jangan marah lagi, hmm?" Shane menangkup kedua pipi sang istri sambil menatapnya lekat-lekat.
Akhirnya Elara mematut senyum. Yang Shane nilai jika senyuman itu belum secerah biasanya. Namun ini lebih baik, ketimbang Elara terus cemberut saat bersamanya.
"Aku pergi kerja dulu. Jika kau ingin pergi atau kemanapun, beri tau aku lebih dulu."
"Iya, Tuan," canda Elara membuat Shane tergelak kecil.
Pria dengan tubuh tinggi tegap itu pun bergegas pergi setelah berpamitan pada sang istri.
Diperjalanan, Shane harus dikejutkan dengan pengereman mobil secara mendadak, bahkan roda empat yang ditumpanginya itu sampai berhenti secara tiba-tiba. Semua itu karena ada seseorang yang melintas begitu saja, hingga mengejutkan Max yang berada dibalik kemudi mobil yang dikendarainya.
"Max! Apa kau mau mati!" hardik Shane pada asistennya tersebut.
"Maaf, Tuan. Ada yang menghadang mobil kita secara tiba-tiba."
Mata Shane langsung tertuju ke arah depan, dimana seseorang benar-benar berdiri tanpa gentar disana.
__ADS_1
Oh my God. Resiko Shane yang pernah menjalin hubungan dengan wanita gila seperti Megan. Sekarang dia muncul lagi dengan segala ke-bar-bar-an-nya.
Shane menurunkan kaca jendela mobilnya saat Megan mengetuk-ngetuknya dengan tidak sabaran.
"Shane, kita perlu bicara."
Shane menggeleng samar. Dia selayaknya pria yang tidak tersentuh, rasanya Megan tidak mengenali sosok Shane lagi.
"Jalan, Max!" titah Shane pada sang asisten.
"No!" Megan meletakkan tangannya diatas kaca jendela mobil Shane, berusaha mencegah kepergian pria itu. "Aku mau bicara denganmu, please. Sepuluh menit pun tak apa asal kau memberiku kesempatan!" ujarnya memohon.
Bukan Shane namanya jika ia mau membiarkan Megan bicara lagi padanya. Dan kenapa pula wanita ini harus kembali hadir ke hidupnya setelah bertahun-tahun tak pernah nampak lagi batang hidungnya?
"Jalan, Max! Apa kau tuli?" Shane kembali bicara pada Max, tanpa menghiraukan permohonan Megan.
Saat Max hendak menginjak pedal gas kembali, disaat yang sama Megan pun bertutur cepat.
"Aku sudah melahirkan anakmu, Shane! Anak kita!" pekik Megan.
Bak disambar petir di pagi hari, jantung Shane langsung mencelos saat mendengarnya. Namun, mobil terus melaju karena Max tidak mau dicaci-maki oleh boss nya itu.
Sampai dikantornya, Shane terus terngiang-ngiang ucapan Megan tadi. Perkataan wanita itu seperti mantra yang membuatnya tidak bisa memikirkan yang lain.
Shane tidak fokus bekerja. Ia harus kembali menemui wanita yang gila uang itu. Jika hal ini sampai terdengar ke telinga Elara maka dapat dipastikan Rumah tangganya yang baru seumur jagung, akan hancur berantakan.
Shane langsung bangkit dan mengambil kunci mobilnya, ia tidak memerlukan Max saat ini karena ia akan menyetir sendiri dan menemui wanita gila itu.
Tidak perlu waktu lama untuk Shane menemukan keberadaan Megan, karena saat ia kembali ke tempat dimana Megan mencegat mobilnya tadi, wanita itu tampak masih menunggunya disana.
"Aku sudah menduga kau akan kembali, makanya aku menunggumu disini." Megan memancarkan senyum bahagia, ia tampak sangat percaya diri.
Shane berdecih melihatnya.
"Bagaimana, Shane? Bagaimana jika aku mengatakan hal tadi kepada istrimu?" Megan memulai percakapannya.
Shane mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.
Megan terkekeh senang sekarang. Melihat dari ekspresi Shane, sepertinya pria ini sangat kesal padanya.
"Ayolah, Shane. Bicara padaku. Kau mendatangiku kesini karena mau bicara padaku, kan?"
__ADS_1
Shane menarik nafas dalam-dalam, membuang pandangan, sampai akhirnya ia berucap pelan.
"Jangan bermain-main denganku, Megan. Karena kau akan tau apa akibatnya," ancamnya.
"Woa, senang sekali rasanya mendengar suaramu yang menyebut namaku," ujar Megan dengan senyum semringah.
"Kau tau aku sudah membuang waktuku yang berharga untuk menemuimu saat ini. Jadi, dengarkan aku baik-baik. Jangan membuat lelucon aneh dengan mengatakan jika kau melahirkan anakku atau pernah mengandung anakku. Kau tidak seistimewa itu, hingga aku mau menyentuhmu!" ujar Shane menohok.
Shane mendatangi Megan lagi, bukan karena percaya dengan ucapan wanita itu yang mengatakan pernah melahirkan anaknya. Bahkan ia memang tidak pernah menyentuh Megan sejauh itu. Shane kembali hanya untuk memberi peringatan pada Megan, karena ucapan Megan tadi seperti karangan yang dia buat demi mengancam Shane.
Dan ya, ucapan Megan itu memang sebuah karangan, ia berniat mengatakan hal seperti itu pada Elara dan membuat Shane ketakutan. Meski kenyataannya tidak demikian, tapi dia tau Shane tak akan mengabaikan ucapannya tadi karena pria itu pasti tau rencananya dengan kalimat yang sudah disusunnya tadi.
"Ya, ya, kita sama-sama tau jika ucapanku tadi hanyalah sebuah karangan." Megan tertawa sumbang. "Tapi, bagaimana jika kalimat itu aku katakan pada istrimu? Apa dia akan termakan ucapanku, Shane?" paparnya dengan senyum mencibir.
Shane tau inti dari percakapan ini akan berujung kemana. Megan akan meminta uangnya supaya kalimat karangan Megan itu tidak dia sebarkan pada Elara.
"Omong kosong mu tidak akan berpengaruh apapun untuk istriku. Dia akan lebih mempercayaiku daripada kau. Jadi, lupakan saja impianmu untuk memerasku dengan kalimat karangan mu itu!" tegas Shane.
Megan malah melangkah lebih dekat pada Shane, senyumnya tampak jumawa dan percaya diri sekali.
"Oh ya? Benarkah? Aku tidak yakin istrimu sepercaya itu padamu. Bagaimana kalau kita buktikan saja, Shane?" Dan benar saja, Megan mulai melancarkan aksinya untuk memeras Shane.
"Silahkan. Elara tidak akan termakan ucapanmu!" jawab Shane dengan senyuman miring.
Megan terkekeh sekarang. "Jadi, kau lebih rela istrimu tau bahwa kau sudah pernah memiliki anak bersamaku, daripada memberi uang untukku?" tanyanya.
"It's bullshitttt, Megan! Silahkan saja kau karang banyak cerita mengenai hubungan kita. Aku tidak akan pernah memberimu sepeserpun!"
"Kalau begitu, kau tunggu saja permainanku!"
Dan Shane tertawa sekarang. "Ternyata kau tidak bisa diperingatkan dengan cara baik-baik," ketusnya. "... jadi, jangan salahkan aku jika aku mulai memikirkan cara menyingkirkanmu," lanjutnya balas mengancam.
Mata Megan sempat membola, ia tau Shane tidak akan diam dengan segala perbuatannya. Apalagi jika ia benar-benar memprovokasi Elara dengan cerita bohong karangannya. Tapi, buru-buru Megan memasang gelagat biasa, seolah ancaman Shane tidak membuatnya gentar sama sekali.
Shane berderap untuk kembali memasuki mobilnya. Tapi Megan kembali berujar sebelum pria itu benar-benar pergi dari tempat tersebut.
"Sebelum kau benar-benar menyingkirkanku, aku pastikan jika istrimu akan tau lebih dulu mengenai cerita karanganku!" ancamnya kembali.
Shane lantas menoleh pada wanita itu. Dia amat menyesal pernah terlibat sebuah hubungan yang membuat mereka saling mengenal satu sama lain.
"Ayolah, Shane! Kau sangat kaya jadi tidak ada salahnya jika kau memberiku uang! Hanya uang, uang dan uang ..." Senyum yang kini terbit di wajah Megan, lebih mirip seperti seorang psikopat, ketimbang manusia pada umumnya.
__ADS_1
...Bersambung ......