
"Jadi, kau ikut datang kesini karena ingin melamar putriku?" tanya Anton dengan bahasa Inggris pada Shane.
Saat ini, Shane memang menghadap Anton setelah Elara melakukan panggilan video Dengan sang Ayah. Anton yang melihat ada orang lain yang ikut dengan putrinya--berusaha menyelesaikan problem cafe sesegera mungkin--agar bisa melihat siapa pria itu.
Dan dugaannya ternyata benar, yang ikut bersama Elara adalah kekasih dari putrinya. Yang membuat Anton penasaran adalah kenapa sosok pria yang dihadapannya ini begitu mirip dengan pria yang sempat ia kunjungi di Jerman waktu itu--pria yang dinyatakan koma--saat ditemukan di Hutan.
Masalahnya adalah, Anton mengingat jika waktu itu ada seorang wanita berbadan dua yang ia ketahui sebagai istri dari pria ini.
"Ya, aku ingin menikahi Elara, Pak." Shane berujar mantap tanpa ada nada keraguan dalam intonasi suaranya. "Kami menjalin hubungan yang serius dalam kurun waktu setahun belakangan ini," tambahnya.
Anton tak ingin menebak-nebak, sehingga ia langsung menanyakan pada point-nya.
"Dimana kau mengenal Elara? Apa kau adalah pria yang sama dengan yang menolongnya saat kecelakaan pesawat waktu itu?"
Shane mengangguk. "Ya. Kami bertemu di Hutan. Aku menemukan Elara tersangkut di ranting pohon yang menjorok ke sungai," jelasnya.
Sekarang Anton menggeleng samar, ternyata dugaannya benar jika pria ini adalah pria yang dijenguknya tempo hari. Mungkin Shane tidak tau, tapi ia mengingatnya, ia tidak salah mengenali orang.
"Apa kau pria single? Maksudku, apa kau tidak memiliki istri--"
"Maaf, Pak." Shane menyela. "Maaf jika aku tidak sopan memotong ucapan anda yang keliru. Aku hanya mau meluruskan bahwa ada kesalahpahaman disini." Shane tau pasti, mungkin Anton sempat bertemu dengan Ibunya dan Stevi saat mengunjunginya di Rumah Sakit ketika ia koma.
"... aku belum pernah menikah, statusku adalah lajang. Mungkin anda mengira aku sudah menikah karena sempat bertemu ibuku dan seorang wanita hamil yang mengatakan soal status pernikahan itu. Semua itu tidak benar," jelas Shane lugas.
Shane menceritakan pada Anton secara detail terkait hal yang pernah membelenggunya bersama Stevi. Pun dengan keputusan ibunya yang meminta dirinya untuk menikahi wanita itu untuk mempertanggungjawabkan kehamilan Stevi yang sebenarnya bukan karena Shane.
"Jadi, apa sekarang ibumu sudah mengetahui hubunganmu dengan Elara?"
Shane kembali mengangguk. "Ya, ini sudah menyadari kesalahannya saat beliau terus memaksaku untuk menikahi Stevi. Kini, ibu meminta aku dan Elara untuk segera menikah," ujarnya.
"Baiklah. Semua yang kau katakan bisa ku terima. Tapi, apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Anton menatap Shane dengan sorot serius. "Jujur saja, Elara adalah putriku yang amat berharga. Aku membesarkannya dalam masa sulit, bahkan disaat keadaan ekonomi keluargaku belum stabil seperti sekarang ini. Jadi, aku tidak akan menyerahkannya pada lelaki yang sembarangan," papar Anton terus terang.
"Aku tau. Aku sangat mengetahuinya." Shane berujar pengertian.
"Mengenai pertolonganmu untuk Elara saat dia kecelakaan pesawat waktu itu, aku mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Tapi, apa kau yakin bisa membahagiakan putriku?" tanya Anton sendu.
"Aku sangat yakin. Tidak ada keraguan dalam hatiku. She's complete me. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak membahagiakannya."
Anton melihat tekat yang begitu kuat dalam netra kehijauan milik Shane, tapi lebih daripada itu--perasaannya sebagai seorang Ayah tetap saja merasa berat hati untuk melepaskan Elara pada pria yang masih asing baginya. Anton belum mengenal Shane sepenuhnya, itu yang membuatnya ragu.
"Aku akan diskusikan ini dulu dengan istriku. Setelah aku mendapatkan jawabannya, maka aku akan segera memberitahumu." Akhirnya Anton tiba pada sebuah keputusan, ia akan menanyakan pendapat Nadine lebih dulu sebab ia terbiasa membagi segala hal dengan sang istri.
__ADS_1
"Baiklah, aku menghargai keputusan Anda. Tapi jujur, aku mengharapkan jawaban yang sesuai dengan ekspektasi ku. Ku harap anda dapat melihat keseriusanku yang datang padamu untuk melamar Elara secara baik-baik," ujar Shane yang memahami jika Anton butuh berpikir mengenai semua ini.
Anton mengangguk dan pergi dari hadapan Shane.
Saat Anton kembali ke ruang keluarga, semua mata yang ada disana menatapnya. Tidak terkecuali Elara yang tadi bergabung dengan Bunda dan kedua adiknya disana.
"Apa pembicaraannya sudah selesai?" tanya Nadine menyambut kehadiran suaminya di ruangan tersebut.
Anton mengangguk, lantas memberi isyarat pada Nadine untuk memasuki kamar mereka.
Elara sendiri tak dapat menebak apa yang terjadi. Apa ayahnya telah menolak lamaran Shane? Begitulah kemungkinan terburuk yang Elara pikirkan. Buru-buru Elara menyusul Shane di ruang tamu, ia ingin menanyakan apa saja yang pria itu bicarakan dengan sang Ayah sebab tadi mereka memang memberikan kesempatan untuk Shane dan Anton bicara empat mata.
"Shane?" Elara menghampiri posisi Shane yang masih terlihat duduk diam di sofa ruang tamu.
"Ya?" Pria itu mendongak, melihat pada Elara yang berdiri tak jauh darinya.
"Why? Ada masalah?" Elara mengambil posisi disamping Shane dan duduk disana.
"Tidak ada."
"Jadi, ayah jawab apa? Apa beliau menerima lamaranmu?"
Shane mengulas senyum tipis. "Ayahmu pasti akan menerimaku," katanya yakin.
"Apa kau mau menyerah saja?" goda Elara.
Shane mengulumm senyum. "Kau tau aku tidak mungkin mundur lagi setelah semua ini," jawabnya.
"Kalau ternyata ayah menolakmu. Apa yang akan kau lakukan, Shane?" Lagi-lagi Elara menggoda pria itu.
"Aku akan terus berusaha. Kau bilang restu adalah sesuatu yang penting, bukan? Maka aku akan mengusahakan untuk bisa mendapatkan restu itu dari kedua orangtuamu," ujar Shane penuh tekad.
"Dan bila kau tetap gagal?"
"Elara, Come on! Seharusnya kau menyemangati kekasihmu, bukan menakutiku seperti itu," ujar Shane dengan decakan.
"Kau takut?" cibir Elara kemudian.
Shane mulai frustrasi sekarang. "Yeah, aku akui kalau sekarang aku takut. Aku tidak pernah setakut ini sebelumnya, padahal mungkin ibuku lebih tegas dari Ayahmu, tapi entah kenapa aku lebih takut pada keputusannya ketimbang jawaban dari ibuku," jawab Shane mengakui.
Sekarang Elara menahan geli. "Jelas saja kau lebih takut pada Ayahku, karena kau tidak bisa melawannya seperti kau melawan ibumu. Kau juga tidak mungkin mengajakku kawin lari jika Ayahku tidak merestui kita, kan?" olok Elara.
__ADS_1
"Siapa bilang?" respons Shane. "Siapa bilang aku tidak berani? Jika benar ayahmu tidak merestui kita, maka kau benar-benar akan ku ajak kawin lari," ujarnya ngotot.
"Kalau aku tidak mau?" Elara terus saja menggoda Shane sebab ia tau jika pria itu gugup akan hasil dari perjuangannya hari ini.
"Maka aku akan menculikmu!" desis Shane yang seketika itu juga justru membuat Elara berbalik takut.
"Jangan mengada-ada, Shane," balas Elara.
"Kau tau aku selalu merealisasikan ucapanku. Maka dari itu, tugasmu adalah mendoakan agar ayahmu menerima lamaranku, bukan malah menakut-nakuti aku seperti ini," tukas Shane yang pada akhirnya membuat Elara tergelak.
"Baiklah, oke, maafkan aku. Aku tau seharusnya aku menenangkanmu, bukan malah menggodanya seperti ini." Elara menggenggam jemari Shane kemudian.
Shane ikut membalas genggaman itu sehingga kini jari jemari mereka saling bertautann.
"Listen to me, kita sudah berjanji akan melewati semuanya sama-sama, kan?"
Shane mengangguk ucapan Elara.
"... kau ingat apa saja yang sudah kita korbankan untuk sampai ditahap ini?"
"Yeah, aku tidak mungkin melupakannya."
"Maka dari itu aku harap kau tetap optimis."
"Baiklah, Lara." Shane mulai bisa tersenyum sekarang.
"Soal doa, tanpa kau minta aku pasti akan selalu mendoakanmu. Kau tau kenapa?"
"Kenapa?" tanya Shane.
"Karena bukan cuma dirimu yang mengharapkan restu itu. Aku juga. Karena bukan cuma kau yang mau menikahiku tapi aku juga ingin dinikahi olehmu."
Sekarang Shane yang ikut tergelak. "Ternyata virus perayu yang sering ku tunjukkan sudah mulai menular kepadamu," kata Shane dengan seringaian tipis.
Elara memukul pelan lengan Shane. "Aku serius, Shane," paparnya.
"Ya, ya, aku tau. Semoga saja ayahmu bisa memberi keputusan sesuai dengan harapan kita berdua."
Elara yang mengangguk sekarang, sementara Shane berbisik lirih ditelinga gadis itu.
"Apapun yang terjadi, aku tetap akan memperjuangkanmu."
__ADS_1
...Bersambung ......