
Kabar mengenai pernikahan Elara dan Shane memang sengaja tidak Elara beritahukan kepada Kyle di Jerman. Ia memang sudah minim komunikasi dengan pria itu sejak Kyle melamarnya tempo lalu.
Elara seakan sengaja membuat sekat tak kasat mata diantara keduanya. Pun ia memang berniat untuk merahasiakan pernikahan ini, karena Elara tidak mau Stevi turut mengetahui mengenai rencana bahagia yang diusungnya bersama Shane.
Jika Kyle tau, secara otomatis Stevi pun akan turut mengetahuinya. Bukankah mereka saudara sepupu?
Dan walau bagaimanapun juga, Stevi adalah salah satu orang dari masa lalu Shane yang berakhir dengan hubungan tidak baik. Meski pada kenyataannya Shane dan Stevi tidak pernah menjalin hubungan spesial, tetapi bagi Elara tetap saja mereka pernah sempat hampir menikah.
Elara hanya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan jika Stevi mengetahui semua ini. Dan demi lancarnya segala prosesi pernikahannya tersebut, Elara memilih merahasiakan pernikahannya dengan Shane dari Kyle maupun Stevi.
Dan untungnya, Shane mendukung keputusan Elara. Ia juga memikirkan hal yang sama. Dimana mungkin Stevi bisa melakukan hal apa saja demi merusak rencana pernikahan mereka sebab Shane yakin jika wanita itu memiliki dendam padanya karena telah membuka kebohongannya terkait tes DNA dari putri yang dilahirkan Stevi.
Acara lamaran secara resmi sudah berlalu dia hari yang lalu. Sekarang status Elara dan Shane sudah berubah menjadi bertunangan. Mereka juga menunggu kedatangan Emma yang mengatakan akan menyusul untuk hadir di pernikahan keduanya yang pertama kali akan dilangsungkan di Indonesia.
Saat ini, Shane masih tinggal di Hotel dan berniat menjemput ibunya di Bandara sendirian, karena ia harus mengikuti tradisi dimana ia dan Elara dilarang bertemu sampai pada hari pernikahan mereka yang tidak lama lagi.
Sejujurnya Shane keberatan dengan hal itu, tapi mau bagaimanapun ia harus menjalani hal yang sudah diperintahkan kepadanya yaitu tidak menemui Elara sebelum pernikahan mereka berdua.
"Ibu ..." Shane lega mendapati ibunya yang tiba dengan selamat di Indonesia. Emma tidak datang seorang diri. Ada Max dan Jose yang menemaninya.
"Kau datang sendirian? Mana calon istrimu?" tanya Emma heran.
"Ehm, kami belum bisa bertemu sampai hari pernikahan. Begitulah kesepakatannya."
Dan Emma mengulumm senyum geli saat mendengarnya. "Ya, ku pikir itu cukup bagus," ujarnya mengolok Shane.
Shane berdecak lidah. "Aku sudah tidak bertemu Elara dua hari dan ya ... ini cukup menyiksaku," jawabnya dengan tawa diakhir kalimat.
Shane menatap asistennya yang mendampingi kedatangan sang Ibu. Max tampak seperti bodyguard ibunya dan ia justru balas mengejek Emma dengan keberadaan dua orang pria di belakang wanita paruh baya itu.
"Ibu sudah seperti mafia yang mempunyai ajudan," kelakar Shane dan Emma menepuk lengan putranya tersebut.
__ADS_1
"Kau ini! Mereka bukan ajudan tapi asisten ibu!"
"Tapi mereka juga bisa berkelahi untuk mengawal ibu jika ibu mau," balas Shane.
Dan mereka saling membalas percandaan satu sama lain. Sudah cukup lama mereka tidak bercengkrama seperti ini. Shane sampai lupa kapan terakhir kali ia dan sang ibu tertawa karena hal-hal konyol, kesibukan mereka masing-masing justru menuntut keduanya untuk bersikap kurang peduli satu sama lain.
Shane membawa ibunya ke Hotel yang sama dengan yang ia tempati. Ia menyewakan kamar untuk Emma. Dan meminta Max serta Jose memesan kamar mereka sendiri.
"Jika ibu ingin bertemu keluarga Elara maka aku akan mengantarkan ibu kesana setelah ibu merasa tidak lelah lagi." Shane berucap saat ia mengantarkan Emma ke ambang pintu kamar wanita itu.
Emma malah menggeleng, sebagai isyarat penolakan atas tawaran putranya.
"Why? Aku akan mengantarmu ibu." Shane tampak meyakinkan.
"Kau bilang kau tidak boleh bertemu Lara sampai hari pernikahan kalian, bukan? Jadi, jangan coba-coba mencari kesempatan dengan membawa-bawa ibu. Ibu akan kesana nanti, tapi tidak denganmu," desis Emma yang bisa membaca akal bulus Shane dari ajakannya itu.
Dan Shane hanya bisa memasang cengiran kala rencananya untuk melihat Elara sepintas saja pun tidak berhasil. Padahal, jika ia mengantar Emma ke kediaman calon istrinya itu maka ia punya alasan untuk bertemu Elara meski itu hanya sekilas saja, sayangnya Emma sudah keburu tau akan tindak-tanduknya.
"Ibu yakin mau kesana sendiri? Tidak mau ku temani?"
Emma memutar bola matanya sekarang. "Tidak. Lagipula ibu kesana bersama Jose nanti. Dan Max akan mengawasi mu disini agar kau tidak berniat mengikuti ibu kesana," kelakar Emma.
Shane mengesah panjang, mau tak mau ia harus menurut juga pada akhirnya. Tak lama, lelaki itu pun kembali ke kamarnya sendiri.
Shane mengambil ponsel diatas nakas, melihat wallpaper ponsel yang tidak pernah ia rubah--yang menunjukkan wajah cantik gadisnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Be my wife ... sebentar lagi," gumam pria itu sambil mengelus wajah Elara yang ada didalam foto, seolah-olah gambar itu adalah nyata.
...****...
Tidak ada yang bisa mengimbangi senyum merekah yang Shane usung hari ini. Wajahnya tampak semringah. Dengan setelan tuxedo putih yang membalut tubuhnya yang gagah. Berkali-kali pria itu mematut diri di depan cermin. Sesekali membenarkan model rambutnya yang sebenarnya sudah disisir rapi. Tak lupa menyemprotkan parfum yang membuat aroma tubuhnya tercium maskulin.
__ADS_1
Sebuah suara ketukan menyadarkan Shane dari situasi. Ia berderap untuk membukakan pintu.
"Sudah siap?"
Shane mengangguk mantap saat mendapati Emma yang menjemputnya di kamar hotel. Mereka akan segera menuju kediaman Elara untuk melangsungkan pernikahan dan mengucap janji sakral yang akan terus mengikat Elara dalam hubungan kuat bersama Shane.
Hari ini akhirnya tiba, hari dimana kerinduan Shane akan menetap pada tempat yang semestinya. Hari yang sudah Shane tunggu-tunggu dan hitung mundur setiap harinya. Hari dimana ia akan menikahi gadis yang dicintainya.
Tidak pernah sekalipun dalam hidup Shane--akan merasa amat bersemangat, bahagia, sekaligus gugup disaat yang bersamaan--seperti saat ini. Tapi sekarang, ia cukup tau dan dapat merasakan bagaimana rasanya, bagaimana atmosfernya, serta bagaimana ia yang perlahan-lahan akan melewati momen mendebarkan itu.
Tiba di kediaman Elara, Shane dapat melihat keramaian dan keriuhan disana. Acara itu belum dimulai, mereka menunggu kehadirannya dan itulah yang membuat Shane semakin gugup karena sadar bahwa sejatinya ia lah yang paling ditunggu kehadirannya.
"Syukurlah kau sudah datang," celetuk Anton saat mendapati calon menantunya itu yang akhirnya tiba. Shane memang telat kurang dari dua puluh lima menit.
"Maafkan aku, jalanan benar-benar macet," jawab Shane sungkan. Jika boleh jujur, ia sendiri sangat tidak sabar untuk tiba tapi mau bagaimana lagi, keadaan jalanan diluar prediksinya. Padahal ia sudah berangkat satu jam lebih awal dari jam yang ditentukan.
"Baiklah, kita mulai saja ya." Anton berujar pada Shane dan diangguki oleh pria tersebut.
Saka mengiring Shane untuk ke sebuah tempat dimana ia akan mengucap ikrar suci. Shane belum melihat calon istrinya disana. Elara akan dipertemukan dengannya kala Shane sudah selesai mengucap janji pernikahan.
Sebuah perasaan membuncah dihati Shane. Tidak lama lagi. Tidak lama lagi, begitulah batinnya ber-euforia.
Dan saat janji itu terucap dari bibir Shane, ia dapat melihat jika gadis yang sudah menjadi wanitanya sudah berdiri tidak jauh darinya.
Dalam jarak yang terbilang tidak jauh dan tidak dekat tersebut, Shane mengucap kata tanpa suara.
"Wifey ..."
Dan Elara meresponnya dengan kulumann senyum bahagia.
...Bersambung ......
__ADS_1