ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
20. Mendatangi


__ADS_3

"A-apa Anda ingin ke toilet juga, Tuan?" Mati-matian Elara menahan suara yang keluar dari bibirnya agar tidak bergetar.


Bagaimana Elara tidak terkejut, Shane ada disana seakan ingin menghadang langkahnya, juga seolah tengah sengaja menunggunya. Elara sampai bingung harus mengatakan apa, sehingga akhirnya ia berbasa-basi saja agar tak membuat pria itu curiga dengan keterkejutannya.


Shane masih diam, memperhatikan Elara dengan lekat, membuat detak jantung Elara berirama cepat.


Untungnya pria itu segera melangkah memasuki toilet yang ada dibelakang Elara. Meski Shane tak menyahuti pertanyaannya, Elara bernafas lega karena Shane tidak mengajaknya bicara terkait hubungan mereka.


Apakah ini bisa dikatakan jika Shane tidak mengenalinya? Apakah aktingnya memang sebagus itu?


Elara menggeleng samar, entah kenapa ini belum bisa membuatnya tenang. Mungkin karena tatapan pria itu mengartikan lain, yang seolah mengatakan jika sebenarnya Elara sudah tertangkap basah.


Sudahlah, jikapun nanti aktingnya ketahuan, memangnya Shane mau berbuat apa? Elara pikir pria itu tak mungkin melakukan apapun mengingat statusnya yang adalah suami dari wanita lain.


Elara kembali ke meja makan dan mendapati tempat itu sudah kosong. Seorang pelayan rumah menyampaikan jika Gracia, Stevi dan Kyle sudah berada di ruang keluarga untuk berbincang.


Elara diantarkan kesana dan bergabung bersama mereka. Ia duduk di sebelah Kyle dan berbisik lirih.


"Bisakah kita pulang sekarang? Aku kedatangan tamu bulanan dan aku tidak nyaman," dustanya.


Kyle mengangguk di posisinya, memahami keinginan Elara sampai akhirnya ia menyatakan pengunduran diri dari kediaman Stevi.


"Jika ada waktu lagi, kita bisa bertemu dan berkumpul kembali, Kyle." Gracia menepuk pundak keponakannya dengan sikap hangat.


"Tentu saja, Aunty. Aku akan kembali berkunjung untuk melihat anak Stevi nanti."


"Iya, doakan persalinanku nanti berjalan lancar ya."


"Tentu saja aku mendoakan yang terbaik untukmu, Stev!"


Stevi beralih menatap Elara. "Aku juga mendoakan semoga kalian cepat menikah," paparnya.


Dan hal itu membuat Elara mengernyit sambil terkekeh. Kyle yang melihat itu menepuk-nepuk punggung tangan Elara.


"Jangan dengarkan Stevi, dia suka bercanda." Kyle menenangkan Elara akan ujaran Stevi yang membingungkan.


"Aku serius. Tidak ada yang salah dari dua orang sahabat yang kemudian memutuskan untuk menikah. Iya, kan, Ma?" Stevi menatap ibunya, meminta persetujuan Gracia disana.


"Iya, itu tidak salah. Apalagi kalian terlihat sangat serasi."

__ADS_1


Elara hanya tersenyum kecil untuk menanggapi ujaran Tante dari sahabatnya itu.


Setelah undur diri dengan cukup banyak basa-basi, keduanya pergi meski tak sempat berpamitan dengan Shane sebab pria itu memang tak kembali lagi ke ruang keluarga. Nyatanya, Shane menatap kepulangan Kyle dan Elara dari balkon kamarnya.


"Lara ... kau pasti adalah Lara dan aku akan membuktikannya," gumam pria itu dengan penuh tekad.


...***...


Elara mengajar di fakultasnya. Seperti biasa, ia akan sangat sibuk jika menggantikan dosen. Tak jarang ia harus menguasai beberapa mata kuliah juga atas dasar tuntutan pekerjaannya itu.


Kyle sudah kembali ke Berlin, membuat Elara tidak kemanapun seusai ia mengajar.


Dengan taksi, gadis itu segera menuju tempat tinggalnya disaat jam mengajar telah usai.


Elara sedikit berlarian ketika tiba di gedung Apartmennya dan mendapati cuaca sedang hujan gerimis.


Elara menaiki lift untuk menuju unitnya dan mendadak jantungnya melorot saat mendapati seorang pria yang tidak asing sudah menunggu di depan pintu.


Elara berbalik arah, memejamkan matanya rapat-rapat. Belum sempat Elara pergi dari sana untuk menghindar, nyatanya suara pria itu sudah lebih dulu menghentikannya.


"Lara ..."


Siapapun, tolong bantu Elara untuk keluar dari situasi sulit ini. Elara tak menyangka Shane senekat ini untuk mendatangi alamatnya, padahal Elara sudah jelas-jelas mengetahui status pria itu yang adalah seorang suami untuk istri yang tengah mengandung.


"Lara ..." Sebuah sentuhan Elara rasakan di pundaknya, dan itu justru membuat sekujur tubuh Elara meremang. Sialan memang saat pikiran dan tubuhnya tidak sinkron seperti ini. Dimana isi kepalanya menyuruh untuk segera pergi, sementara keinginan dirinya justru merindukan sosok itu. Bukankah Elara sangat khawatir disaat-saat ia tak mendapatkan kabar mengenai pria ini?


"Sayang, jangan begini. Maafkan aku yang terlalu lama menemuimu."


Elara menelan saliva dengan berat, kerongkongannya tercekat kala Shane tiba-tiba sudah berdiri dihadapannya dan memegang kedua pundaknya. Mata kehijauan pria itu menghujamnya lekat, seolah hendak memetakan seluruh bagian dari wajah Elara.


"Kau tau, aku senang mendapatimu dalam keadaan baik-baik saja. Maaf, maafkan aku yang meninggalkanmu terlalu lama. I miss you."


Shane hendak memeluk Elara saat itu juga, mendekapnya dengan erat namun pergerakan Elara yang menghindar membuat pria itu mengernyit.


"A-apa Tuan sudah gila?" hardik Elara membuat mata Shane membola seketika.


"Lara!"


"Maaf sepertinya anda salah orang, Tuan. Aku bukan Lara!"

__ADS_1


"No! Kau Lara!" kata Shane dengan keyakinannya.


"Bukan, anda salah mengenali. Aku bukan Lara. Permisi."


Elara beringsut menjauh, bahkan menghempaskan kedua tangan Shane yang tadi berada di pundaknya. Bagaimana mungkin ia terlena dengan perlakuan manis pria itu disaat ia juga menyadari sebuah kenyataan jika Shane adalah suami Stevi?


Elara memasuki unit apartmennya dan Shane masih mengejarnya sampai kesana. Pria itu mengetuk pintu dengan keras tanpa mengindahkan bel yang juga tersedia disana.


"Lara! Kau harus mendengar penjelasan ku. Aku tidak berniat meninggalkanmu di Hutan waktu itu!"


Elara menutup telinganya, bukan ia marah pada Shane karena insiden di hutan. Ia tau dan dapat memahami jika Shane tidak pernah sengaja untuk menelantarkannya disana. Tapi, yang membuat Elara kesal adalah status pria itu yang beristri dan Shane yang telah membohonginya.


Dalam benaknya, Elara selalu mengumpat Shane adalah pria breng sek yang masih saja mengejarnya setelah kenyataan telah terbuka.


Bukankah Shane juga sudah melihat jika Elara mengenal istrinya? Seharusnya Shane tidak berani mendatanginya seperti ini, kan? Karena kebohongan pria itu sudah Elara ketahui.


"Lara, aku tau kau Lara. Jangan menghindari ku. Kita perlu bicara, Lara!"


"Pergilah, Tuan. Atau aku akan melaporkanmu pada pihak keamanan gedung!" pekik Elara membalas teriakan Shane didepan pintunya.


"Baiklah, aku akan kesini lagi nanti. Jangan terlalu berusaha untuk menghindari ku karena itu akan sia-sia!"


Setelah mengucapkan hal itu, Shane benar-benar berlalu dari sana.


Mendengar tidak ada suara lagi, Elara mengintip dari sebuah lubang di pintunya dan bernafas lega setelah Shane benar-benar tidak lagi disana.


"Seharusnya aku memang tidak tinggal disini jika mau menghindarinya," gumam Elara memegang dadanya yang terasa bergemuruh.


Elara meletakkan tas kerjanya yang sejak tadi belum sempat ia lepaskan. Dengan lunglai dan nafas yang mendesah pelan, Elara menempati sofa di ruang tamunya.


"Kenapa kau harus mendatangiku lagi, Shane? Ini hanya akan membuat perasaanku semakin sakit." Elara menyandarkan tubuhnya, lalu mengadah pada langit-langit ruangan.


Elara tidak pernah menyangka cintanya pada Shane akan berakhir seperti ini. Pada kenyataannya, ia harus berhadapan dengan pria yang sudah beristri namun masih mendatanginya seperti saat ini.


"Apa yang harus ku lakukan untuk menghindari Shane? Lambat laun, dia pasti menyadari jika ini adalah aku."


Elara sadar, seperti apapun ia menghindari pria itu, nyatanya kenekatan Shane jauh lebih besar dari keberaniannya untuk terus bersandiwara.


Apalagi Shane sudah memastikan tempat tinggalnya. Dapat dipastikan jika setelah ini Elara tak dapat menangkis lagi karena kenyataannya Shane sudah mengetahui banyak mengenai dirinya.

__ADS_1


...Bersambung ......


Mohon dukungannya ya, Karen novel ini mau othor ajukan kontrak agar bisa terus dilanjutkan🙏❤️


__ADS_2