
Setiap Shane mengunjunginya, Elara selalu menyambut kedatangan sang suami dengan senyuman yang terkembang.
"Shane, i miss you," kata Elara yang langsung menubruk tubuh Shane lalu memeluknya erat-erat.
Shane sedikit terkekeh. Kemudian dia menepuk-nepuk pelan punggung sang istri yang tengah memeluknya. "Aku juga sangat merindukanmu, Sayang," ujarnya.
Elara mengajak Shane menuju ke kamarnya dan menanyai pria itu banyak pertanyaan. Salah satunya mengenai apa saja kegiatan Shane dalam dua hari terakhir.
"Aku bekerja. Benar-benar bekerja." Shane menjawab jujur.
"Baiklah, kau mau makan apa?"
"Apa pun yang kau masak, aku akan memakannya."
"Oke." Elara bergegas menuju dapur dan memasak untuk kedatangan suaminya yang tiba-tiba. Seharusnya Shane akan berkunjung setiap hari Kamis, Sabtu dan Minggu. Tapi, ini masih hari Rabu namun Shane sudah kembali datang dan mengunjunginya.
"Kenapa kau harus repot-repot, padahal aku hanya menginginkanmu saja," ujar Shane yang tiba-tiba memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Shane, aku sedang memasak. Jangan begini," tolak Elara halus. Shane mengecupi lehernya sehingga Elara merasa kegelian. Namun pria itu tidak mengindahkan peringatan istrinya dan terus melakukan kegiatan yang disenanginya itu.
"Shane ..."
Shane memutar tubuh Elara sembari sebelah tangannya ikut terulur untuk mematikan kompor.
Elara memang tidak bisa menolak keinginan suaminya hingga ia pasrah saat Shane membawanya ke peraduan dengan ciuman yang tidak terlepas.
...***...
"Apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Shane?" tanya Elara sembari mengelus-elus dada bidang Shane dengan jari telunjuknya.
Elara yakin ada sesuatu yang dipikirkan oleh pria itu karena Shane tampak melamun sesudah percintaan mereka bebrapa saat lalu.
"Aku ..." Shane bingung harus memulai pembicaraannya darimana.
"Katakan, jangan memendam sesuatu apapun dariku. Hmm?" Elara menangkup wajah tampan suaminya.
Shane menghela nafas sejenak, sampai akhirnya mulutnya terbuka untuk berujar pelan.
"Ibu ... menginginkan agar kita segera memiliki bayi."
Elara diam, terlalu bingung harus merespon apa atas ujaran suaminya.
__ADS_1
"... aku sudah mengatakan pada ibu, meyakinkannya bahwa kita tidak menunda hal itu, tapi tetap saja permintaan ibu menjadi pikiran tersendiri untukku."
Sekarang Elara yang mengesah panjang. Jangankan ibu Shane, ia juga menginginkan seorang bayi tumbuh didalam rahimnya. Namun mau bagaimana jika yang Maha Kuasa belum merestuinya
"Aku mau kita memeriksakan kesehatan, Sayang."
Ucapan Shane kali ini berhasil membuat Elara menghentikan kegiatannya yang sejak tadi masih terus menggambar bentuk-bentuk abstrak di dada sang suami.
"... jadi, jikapun ada yang tidak sehat diantara kita, maka kita bisa mengobatinya dari sekarang."
"Shane ..." lirih Elara. "Apa kau yakin untuk hal itu? Aku--aku tidak siap untuk itu," lanjutnya.
"Why?"
"Aku takut kekurangan itu ada padaku. Aku tidak mau kau meninggalkanku karena hal itu."
Shane menggeleng pelan. "Jangan bicara begitu, kalau itu benar terjadi maka kita akan berobat dan ikut program kehamilan. Semuanya sudah canggih di era modern seperti saat ini," paparnya.
"Kalau ternyata tidak bisa disembuhkan, bagaimana?"
Alih-alih menjawab, Shane justru memberikan pertanyaan pada Elara.
"Sekarang aku yang bertanya padamu. Kalau ternyata kekurangan itu ada padaku? Aku yang tidak mampu memberimu keturunan, apa kau akan meninggalkanku?" tanyanya.
"Aku juga begitu, Lara. Jadi, jangan berpikir aku akan meninggalkanmu."
"Tapi ibu? Bukankah dia sangat menginginkan cucu. Aku takut hal ini justru membuat hubunganku dengan ibu merenggang jika kenyataannya aku yang tidak bisa mengandung."
"Sttt..." Shane menutup bibir Elara dengan telunjuknya. "Jangan bilang begitu, maka dari itu kita periksakan kesuburan kita dari sekarang. Kau mau kan?"
Elara ragu namun akhirnya mengangguk juga.
"Kau bisa memegang kata-kataku ini. Jika kekurangan itu ada padamu maka aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi. Dan kau juga harus ingat janji kita terdahulu."
Elara mengangguk lagi, tentu dia ingat jika dulunya ia pernah berjanji jika Shane menyuruhnya pergi dan meninggalkan pria itu, maka Elara tidak akan melakukannya.
Jadi, kalau nanti kemungkinan terburuknya adalah Shane yang tidak subur maka Elara tak boleh meninggalkannya sesuai janjinya sendiri. Pun jika Shane memaksa Elara pergi karena kekurangannya, Elara harus tetap tinggal.
...***...
Tidak langsung berpamitan untuk meninggalkan yayasan begitu saja, Elara hanya meminta libur beberapa hari. Dia dan Shane akan ke kota dan memeriksakan soal kesehatan mereka.
__ADS_1
Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Stevi yang juga tengah memeriksakan kesehatannya di Rumah Sakit yang sama.
"Kalian disini?" sapa Stevi. Dia tampak ramah.
Elara dan Shane mengiyakan. Mereka berpikir jika sikap ramah Stevi ada kaitannya dengan wanita itu yang sudah mengetahui jika Elara adalah pendonor ginjal yang sebenarnya.
"Bagaimana keadaanmu, Stev?" tanya Elara tulus. Semuanya sudah terlanjur terjadi, ginjalnya pun sudah didalam tubuh Stevi jadi Elara hanya ingin memastikan jika semua yang sudah terjadi padanya tidak sia-sia, setidaknya Stevi bisa kembali hidup dengan baik.
"Aku merasa sangat baik." Stevi menyentuh lengan Elara. "Aku baru tau jika pendonorku adalah kau. Maka dari itu aku mau mengucapkan. terima kasih dan juga kata maaf," ujarnya sungguh-sungguh.
Elara tersenyum simpul, dia senang jika akhirnya Stevi mau berubah. Setidaknya ia jadi tidak terlalu menyalahkan nasib karena ginjal itu bisa merubah perlakuan Stevi kepadanya.
Mungkin ini memang jalannya agar hubungan mereka berdua menjadi lebih baik.
"Kalian mau periksa?" tanya Stevi menatap Shane dan Elara bergantian.
"Ya, kami mau memeriksakan kesehatan saja," ujar Shane yang tak mau terlalu berterus terang.
Stevi mengulas senyum, lalu ber-oh ria.
"Kalau begitu, aku pamit ya. Semoga kalian berdua sehat."
Shane dan Elara pun berlalu setelah Stevi pamit dari hadapan mereka.
Untuk kedua kalinya, Shane dan Elara mengunjungi dokter obgyn. Jika dulu mereka mau memeriksakan kehamilan yang entah benar atau tidak, sekarang mereka mau memeriksakan kesuburan diri masing-masing.
"Shane, aku senang jika ternyata Stevi benar-benar berubah menjadi lebih baik pasca operasinya."
"Ya, ku harap juga begitu. Tapi aku mau kau tetap mawas diri."
"Kenapa?" tanya Elara tak paham.
"Walau bagaimanapun, dia pernah memiliki dendam padaku terkait DNA putrinya. Aku membuka belangnya didepan ibuku. Dan dia juga pernah menganggap mu saingannya. Jadi aku tidak bisa menerima perubahan sikapnya begitu saja."
"Ya, aku tau. Tapi aku berharap ginjalku yang ada padanya membuat Stevi sadar bahwa kita berdua bukanlah musuhnya."
Dan bersamaan dengan selesainya pembicaraan mereka terkait perubahan Stevi, disaat yang sama pula nama Elara dipanggil.
Keduanya berjalan menuju ruangan dokter dengan tangan yang saling menggenggam erat.
"Aku berharap kau tidak akan berubah setelah kita keluar dari ruangan ini, Shane." Elara bertekad dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku yakin jika kita sehat, Sayang " Shane pun ikut membatin dalam dirinya.
...Bersambung .......