
Setelah Elara menerima cincin dan lamaran darinya. Keduanya kembali duduk ke posisi semula.
"Aku akan menemui orangtuamu di Indonesia, berikan aku alamatnya," kata Shane tanpa ada keraguan dihatinya. Ia terlihat sangat optimis dan membuat perasaan Elara sangat yakin padanya.
"Kau yakin? A-aku pikir ada baiknya kita bicara dengan ibumu dulu baru menemui orangtuaku disana."
Shane pikir ucapan Elara benar juga, sehingga tanpa membantah ia pun menyetujuinya.
"Atur waktumu untuk bertemu dengan ibuku."
Elara mengangguk untuk menyanggupi permintaan Shane meski dalam hatinya merasa gugup untuk bertemu dengan ibu dari pria itu, apalagi yang Elara ketahui adalah ibu Shane sangat menginginkan jika putranya menikah dengan Stevi.
"Ehm, satu lagi ..." kata Shane tampak ragu memulai.
"Apa?" Elara menatap ke dalam manik mata kehijauan milik kekasihnya.
"Aku minta, bersiaplah ketika bertemu dengan ibuku. Kau sedikit mengerti keadaannya, kan?"
"Ya," jawab Elara. Ia berpikir sejenak, kemudian melanjutkan. "Apa aku juga harus menyiapkan mental jika nantinya ibumu akan menolakku?" tanyanya kemudian.
Shane menyeringai. Entah apa arti dari senyumannya itu, namun yang tampak dimata Elara adalah Shane tengah merencanakan sesuatu atau justru sudah menjalankan rencana itu? Elara tak tahu.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?" tebak Elara melihat dari gelagat Shane.
Pria itu tersenyum miring. "Lihat, calon istriku ini dapat mengenaliku dengan baik," katanya terkekeh.
"Shane, aku serius."
"Aku akan mengatakan apa yang ku sembunyikan, tapi mintalah dengan kalimat mesra." Shane mengulumm senyum sesudah mengutarakan kalimatnya.
Elara memutar bola matanya, namun kemudian terkekeh juga.
"Baiklah, apa aku bisa tau apa yang kau sembunyikan dariku, Shane?" tanya Elara dengan suara yang sangat lembut bahkan terkesan di lebih-lebihkan.
"Hahaha. Kurang mesra!" sentak Shane.
"Lalu, bagaimana?"
Shane menggaruk pelipisnya sekilas dengan ujung telunjuk. "Susah memang jika berhubungan dengan gadis polos, tapi entah kenapa aku menyukainya," gerutu Shane pelan.
"Apa katamu?" tanya Elara dengan intonasi suara yang naik.
Shane tertawa pelan. Elara geleng-geleng melihatnya.
"Cepat katakan, apa yang kau sembunyikan dariku!" Sekarang Elara meminta dengan kalimat yang ketus.
"Hei, Nona! Bukan begitu caranya meminta sesuatu dariku!" protes Shane dan Elara semakin mengencangkan tawanya.
"... meski apapun yang kau lakukan, aku tetap akan mengabulkannya untukmu, tapi bersikaplah mesra denganku," lanjut Shane dengan sorot memuja pada Elara dihadapannya.
Elara yang serba salah dengan tatap mata Shane yang seperti menghunus tepat dijantungnya, langsung menunduk dalam-dalam.
"Oh, my ... melihatmu begitu, aku jadi tidak sabar untuk segera menikahimu," gumam Shane kemudian dan hal itu berhasil membuat Elara mengangkat wajahnya kembali.
Lalu, tanpa diminta, Elara kembali bersuara. "Bisakah kau memberitahuku apa yang kau sembunyikan, Sayang?" tanyanya dengan suara lembut yang tulus. Bola matanya berpendar indah seiiring dengan sorot lampu yang menyinari mereka dan hal itu justru membuat Shane menggeram dalam hati sebab Elara lebih seperti menggodanya, bukan meminta sesuatu darinya.
__ADS_1
"Kenapa, sayang?" lanjut Elara dengan wajah polosnya yang tampak bingung karena Shane terdiam dengan tatapan aneh kepadanya.
Shane mengembuskan nafas panjang. "Aku pastikan kita akan segera menikah, setelah malam ini," tekad Shane dalam hati.
Shane lalu meraih jemari Elara dan menggenggamnya.
"Aku ... sebenarnya aku sudah membahas mengenai hubungan kita dengan ibuku."
"Lalu?"
"Karena tidak mau ibu terus mendesakku untuk menikahi Stevi yang hamil anak Shawn .... maka aku terpaksa berbohong padanya."
"Bohong?"
Shane mengangguk. "Aku mengatakan jika kau juga tengah hamil anakku, Lara," akuinya pada akhirnya.
Dan kalimat yang Shane lontarkan itu berhasil membuat mata Elara mendelik tak menyangka. Bagaimana bisa Shane membuat kebohongan seperti itu? Elara bahkan tak pernah memikirkannya.
"K-kau?" Elara kehilangan kata. "Kau ini! Astaga!" lenguhnya.
...***...
"Aku dan ibu akan pulang ke Berlin. Setelah itu, kami akan pergi ke Indonesia, sayang sekali kau tidak bisa ikut, Ela!" kata Kyle saat berpamitan pada Elara dihari terakhirnya berada di Hamburg.
"Maaf, mau bagaimana lagi, aku tidak bisa mengambil cuti dalam waktu dekat ini," kata Elara dengan wajah sungkan. Padahal ia ingin juga ikut Kyle kembali ke Indonesia, apalagi ia sangat merindukan sang Bunda.
"Ya, nanti aku akan meneleponmu jika aku sudah tiba disana. Aku mau pamer," kata Kyle terus terang.
Mereka hanya tertawa cekikikan. Setalah itu Kyle benar-benar undur diri dari sana. Eve tidak ikut Kyle untuk pamit pada Elara dikarenakan dia sibuk mengurus barang-barang mereka di hotel dan takut ketinggalan pesawat. Elara memakluminya.
"Aku seperti selingkuhanmu yang harus menemuimu setelah Kyle benar-benar pergi," sarkas Shane. Elara memahami jika sekarang Shane tengah menyindirnya.
"Kau ... sejak kapan disana?" tanya Elara sambil menggigitt bibirnya--keki--merasa tak enak hati.
"Sejak Kyle mengatakan bahwa dia akan ke Indonesia."
"Hmm..." Elara manggut-manggut.
"Untuk apa dia kesana? Apa dia mau menemui keluargamu seperti yang hendak aku lakukan nanti?"
"Tidak, Shane."
"Lalu?"
"Kyle ada urusan disana."
"Kau yakin jika urusan itu bukan berkaitan denganmu?"
"Come on, Shane! Indonesia itu luas, dan tidak mungkin Kyle mengunjungi orangtuaku kecuali aku ikut kesana bersamanya."
"Oh, jadi dia mengajakmu?"Shane kembali menyindir.
Elara mengembuskan nafas pelan. "Aku tidak mau ribut karena hal ini lagi. Bisakah?"
"Makanya aku ingin kau jujur padanya soal hubungan kita agar tidak ada kesalahpahaman lagi."
__ADS_1
Elara mengangkat kedua tangannya. "Oke, aku akan mengatakan padanya."
"Kapan?"
"Secepatnya!"
Shane menyeringai puas.
"Kau puas?" tanya Elara.
"Yes, itu yang ku harapkan." Shane mengangkat kedua bahu dengan sikap acuh tak acuh.
Elara berdecak pelan.
"Apa kau tidak mengizinkan calon suamimu untuk masuk ke Apartmenmu?" tanya Shane kemudian. "Apa kita hanya boleh bicara didepan pintu seperti ini?" lanjutnya mempertanyakan.
Elara menggeser tubuh, seperti isyarat memberikan jalan masuk untuk Shane.
"Good girl!" ucap Shane sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepala Elara yang dilewatinya saat ingin melintas masuk.
Shane tiba dikediaman Elara yang ditempati gadis itu selama di Hamburg. Ia melihat ruangan yang sangat rapi dan ia menyukainya.
"Mau minum apa?" tanya Elara.
"Tidak usah," jawab Shane, ia mengambil secarik surat kabar yang dibiarkan terletak begitu saja di meja ruang tamu. Shane pun duduk disana berlagak membaca, entah benar membaca atau hanya berlagak saja.
"Jadi, untuk apa kau datang kesini?" tanya Elara jutek.
Shane langsung meletakkan kembali surat kabar itu. Ia menatap pada Elara yang berdiri di hadapannya dalam posisi melipat tangan di dada.
"Aku mau makan," jawab Shane yang diakhiri dengan dehaman pelan.
"Makan?" Elara mengernyit. "Minum tidak mau, tapi minta makan?" ulang Elara dengan nada tak percaya atas pernyataan Shane tadi.
Shane tiba-tiba sudah berdiri, memeluk Elara dari belakang dan berbisik seduktif.
"Memakanmu," katanya lirih di telinga sang gadis.
Seketika itu juga tubuh Elara langsung meremang.
"Shane!" desis Elara tertahan saat Shane sudah melabuhkan ciuman ditengkuknya.
Shane memojokkan tubuh mereka berdua sampai ke dinding yang terdekat. Mengungkung Elara disana dan menciumi leher Elara dengan lembut hingga membuat kepala gadis itu tertadah ke atas.
"Shane, stop it! Kita belum menikah!" kata Elara mencoba menghentikan tindakan intens Shane yang dirasanya sangat berlebihan.
"Dulu kita melakukan yang lebih dari ini," jawab Shane tidak mengindahkan larangan Elara.
"Jangan bilang kalau kau benar-benar mau membuatku hamil," ujar Elara dengan perasaan gamang akibat mengingat kebohongan Shane pada ibunya.
Shane langsung menghentikan ciumannya di leher jenjang Elara. Ia menatap pada wajah gadis itu dengan jarak yang hanya beberapa senti saja seolah sedang memetakan setiap lekuk wajah gadisnya.
"Ku pikir itu ide yang bagus," ujar Shane kemudian sambil meluuumat bibir Elara dengan ciumannya yang lembut dan menuntut
...Bersambung ......
__ADS_1
Tekan like dan tinggalkan komentar.🙏✅