
Beberapa hari di rawat, beberapa hari pula sudah terlewat. Begitulah yang dialami Elara. Ia menjalani perawatan untuk memulihkan kondisinya. Ia ditemukan dalam keadaan cukup mengenaskan. Bukan hanya luka di perutnya yang semakin menjadi, tetapi ia baru menyadari jika ia juga sempat digigit oleh ular, mungkin itulah yang menyebabkannya pingsan saat memasang tenda ditempat terakhir ia membuat bendera. Entahlah.
Elara juga mengalami dehidrasi parah. lambung yang iritasi serta mata yang cukup banyak mengandung tanah, itu sebabnya saat pertama kali sadar Elara sulit untuk membuka mata. Elara bersyukur ia tidak buta, pun tidak mati karena bisa ular yang menggigitnya.
Setelah merasa kondisinya mulai membaik, Elara mengatakan pada sang Ayah jika ia ingin berterima kasih pada Tim SAR yang menemukannya dan menolongnya di hutan. Bisa dibayangkan jika mereka tidak pernah melewati tempat dimana Elara berada, mungkin saat ini Elara hanya tinggal nama tanpa pernah ditemukan jasadnya karena sudah dikonsumsi oleh hewan buas.
Ayah Elara--Anton--yang datang ke Jerman sejak mendengar insiden pesawat jatuh yang melibatkan Elara, hanya bisa mengikuti semua keinginan putri sulungnya tersebut karena ia tau tujuan Elara.
"Terima kasih, karena sudah menolong saya tempo hari, Pak." Elara berkata pada salah seorang perwakilan Tim SAR yang datang mengunjunginya.
"Itu adalah tugas kami, Nona. Semoga Anda cepat pulih," ujar pria tersebut dengan tulus.
"Apa saya bisa menanyakan sesuatu hal terkait orang yang tim SAR cari di hutan waktu itu?"
"Kami sedang mencari seorang pria pendaki gunung yang dinyatakan hilang oleh teman-teman pendakinya yang lain. Kebetulan, dua hari sebelum kami menemukan anda, tim pusat menerima panggilan seluler yang diduga dari pria yang hilang tersebut."
"A-apa?" Elara mulai menyimpulkan sesuatu. Apa orang yang dicari tim SAR itu adalah Shane? Tapi Shane tidak hilang melainkan sengaja memisahkan diri dari teman-temannya, begitulah yang Elara tahu.
Dan soal telepon yang diterima tim SAR, apa itu artinya Shane berhasil menghubungi mereka waktu itu? Elara tidak tahu sebab sejak mengatakan ingin mencari sinyal, Shane tidak pernah kembali ke hadapannya untuk menceritakan apa yang sudah berhasil ia lakukan.
"Ya, menurut teman-temannya, pria itu hilang dan tersesat sendirian di Hutan, karena semua orang yang mendaki sudah kembali pulang ke rumah masing-masing kecuali pria itu."
Elara semakin yakin jika yang dimaksudkan pria didepannya adalah Shane. Memang Shane mengakui jika ia sengaja memisahkan diri dengan teman-temannya, tetapi mereka semua tidak tau alasan Shane itu sehingga mengira Shane hilang.
"... diperkirakan sudah lebih dari seminggu pria itu tidak kunjung kembali. Meski mereka yakin jika pria tersebut bisa bertahan di Hutan itu, tetapi mereka tetap melaporkan berita mengenai hilangnya sang pria yang mungkin saja tersesat disana dan membutuhkan bantuan Tim kami untuk mencari dan menemukannya," tambah nya.
"Jadi, apakah dia sudah ditemukan?"
Pria didepan Elara menggeleng lemah. "Belum. Dia belum ditemukan, padahal tim pusat sempat menerima panggilan darinya. Disitulah tim kami semakin memperluas jaringan demi mencarinya tapi justru menemukanmu," paparnya.
"Bo-bolehkah aku tau siapa na-nama pria itu?" tanya Elara dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Shane. Shane Gladwin."
Disanalah Elara menitikkan airmatanya. Elara semakin yakin jika sesuatu telah terjadi pada Shane sehingga pria itu tidak kembali, pun tidak ditemukan oleh tim SAR.
"Bo-bolehkah aku mendapatkan berita mengenai penemuannya?" pinta Elara.
"Maksud anda, Nona?"
"Aku ingin mengetahui perkembangan mengenai pencarian pria bernama Shane itu. Ditemukan atau tidak, aku ingin info selanjutnya. Bisakah aku mengetahui update berita itu?"
Pria itu sempat mengernyit sesaat dan Elara memahami jika dia heran dengan permintaan Elara. Elara enggan mengatakan mengenai kisah percintaan kilatnya dengan Shane, sehingga dia hanya memberikan alasan klise yang terdengar masuk akal pada pria dihadapannya itu.
"Begini, aku pernah terjebak di hutan yang sama setelah mengalami kecelakaan pesawat jadi aku turut prihatin dengan nasib pria itu. Aku merasa dia sama sepertiku yang pasti tidak tentu arah didalam hutan. Jadi, aku akan sangat lega jika mengetahui kabarnya. Aku berharap dia dapat ditemukan sama seperti aku karena bertahan di Hutan itu tidaklah mudah, apalagi jika kondisi tubuh sedang tidak baik-baik saja."
Alasan Elara membuat pria itu tersenyum sendu. Ia menyimpulkan jika Elara peduli pada pria yang hilang itu selayaknya mengira memiliki nasib yang sama.
"Baiklah, Nona. Aku akan memberitahukan update berita ini kepada Anda."
"Sama-sama. Semoga cepat sembuh."
...****...
"Apa ada yang kamu butuhkan lagi?" Anton melihat putrinya tengah melamun. Ia mengira Elara sudah kembali namun ternyata putrinya tampak berbeda.
"Gak ada, Ayah."
"Boleh ayah tau apa yang kamu pikirkan? Kenapa ayah melihat kamu bersedih?"
"Mungkin karena Ela kangen sama Bunda dan adik-adik."
"Maaf ya ... Bunda, Liora sama Saka belum bisa terbang kesini. Tapi kamu bisa video call mereka, kan?"
__ADS_1
Elara mengangguk. Memang baru hari ini ia diperbolehkan menerima tamu maupun melihat ponsel karena selama beberapa hari di rawat, dokter benar-benar mau Elara mendapatkan perawatan ekslusif, terutama mengenai mata gadis itu yang bisa saja memerah jika terlalu cepat bertemu cahaya ponsel, termasuk radiasinya.
"Ayah telepon mereka dulu ya," kata Anton berusaha menenangkan Elara.
Elara memang merindukan bunda dan kedua saudaranya, tapi yang menjadi beban pikirannya saat ini, juga yang membuatnya terus melamun belanjaan hari adalah karena memikirkan Shane yang belum ditemukan.
"Nah, ini sudah tersambung teleponnya." Anton menyerahkan ponsel ke hadapan sang putri dan Elara mencoba bersikap biasa karena tak mau bundanya kepikiran dengan dirinya disini.
"Bunda ..."
"Ela, Sayang ... Bunda kangen banget sama kamu, Nak. Bunda bersyukur sekali kamu masih hidup. Hiks." Terdengar suara tangisan Nadine disana. Dia benar-benar mengkhawatirkan sang putri.
"Ela udah disini, Bun. Bunda jangan khawatir lagi ya. Bunda sehat-sehat ya, Ela gak mau bunda sakit."
"Iya, Nak. Bunda pasti akan segera sehat supaya bisa jengukin kamu disana. Maaf ya, bunda jadi gak bisa susulin kesana karena begitu mendengar kamu kecelakaan pesawat waktu itu, kesehatan bunda langsung drop."
Elara tersenyum sendu ke arah sang ibu. "Gak apa-apa, Bun. Ela juga minta maaf ya karena keadaan ini buat bunda jatuh sakit," ujarnya menyesal.
Mereka terlibat percakapan untuk melepas kerinduan antara ibu dan Anak. Lalu disambung dengan perbincangan antara Elara dengan adik bungsunya, Saka.
"Maaf ya, Kak. Aku sama Kak Liora belum bisa kesana. Aku sedang sidang akhir. Kak Liora juga sibuk banget ngurusin cafe karena Ayah yang mendadak terbang ke Jerman. Kita benar-benar lega Kak Ela masih hidup dan baik-baik aja." Tampak Adik bungsunya menangis tersedu di seberang sana.
"Udah, anak cowok jangan cengeng, dong. Yang penting kakak udah sehat disini. Jagain bunda ya, dek."
"Iya, Kak," sahut Saka.
Elara menyerahkan ponsel kembali pada sang Ayah. Percakapannya dengan bunda dan adik bungsunya cukup membuat hati Elara terobati. Namun, ada sebuah luka yang masih menganga disana. Luka yang tidak akan sembuh sebelum ia mengetahui kabar Shane yang belum jelas keberadaannya.
"Tuhan, aku mohon selamatkan dan jaga Shane dimanapun dia berada. Dia sudah menjagaku selama aku sakit dan berada di Hutan. Jadi, ku mohon jagalah dia, Tuhan." Elara berdoa didalam hatinya. Sungguh hidupnya tidak akan tenang jika tidak mengetahui kabar selanjutnya mengenai pria yang membawa separuh hatinya itu.
...Bersambung ......
__ADS_1