
Jujur saja, jika mengingat kejadian yang sempat terjadi antara dirinya dengan Shane pagi tadi, Elara merasa sangat malu, tapi entah kenapa Elara juga tidak menyesalinya. Gadis itu tidak mau menyalahkan Shane pun membahas hal itu lagi nantinya.
Elara akan menganggap itu adalah sebuah ketidaksengajaan yang manis dan cukup disimpan dalam hatinya saja. Selebihnya, Elara akan membuat itu seolah tak pernah terjadi dihadapan Shane.
Jadi, saat siang ini Elara mencoba menyiapkan makan siang untuk mereka berdua, Elara mencoba bersikap biasa saja seperti tidak ada kejadian yang sempat membuat keduanya canggung.
"Lara, apa yang kau lakukan?"
Shane kembali setelah sebelumnya pamit untuk mencari kayu bakar untuk dijadikan api unggun malam nanti. Tadinya, ia meminta Elara untuk berdiam didalam tenda, ia takut ada binatang buas yang menyadari ada manusia di hutan tersebut. Sayangnya, saat Shane kembali ia justru melihat gadis itu sedang mengaduk-aduk sesuatu diatas kompor tungku kecil miliknya.
"Aku membuat makan siang kita." Elara menjawab Shane dengan senyuman tipis, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk bersikap sewajarnya.
"Jangan lakukan ini lagi, jangan diluar tenda jika aku tidak ada."
"Kenapa?"
"Mungkin saja ada binatang buas yang sedang mengintaimu!" Shane berujar keras dan menekankan.
Elara langsung terdiam, sebelumnya ia tidak terpikirkan jauh ke hal yang disebut oleh Shane.
"Kau menakutiku, Shane!"
"Tidak, aku berkata serius. Lain kali jangan diulangi lagi. Bisakah?"
Elara mengangguk, ia menyelesaikan sesi memasaknya kemudian memasuki tenda kembali.
Shane menggaruk pelipisnya ketika melihat Elara berlalu.
"Lara, kenapa kau masuk? Kau bahkan belum makan siang?" Shane mencoba memanggil Elara dari luar pintu tenda.
"Kau makan duluan saja."
"Apa kau marah padaku?"
"No! Kau yang marah padaku."
"Astaga ..." Shane mengusap wajahnya. "Bolehkah aku masuk ke tenda?" tanyanya kemudian.
"Boleh saja, ini tendamu."
Shane menyibak tenda yang memang tidak dikancing oleh Elara, ia duduk didepannya sambil menoleh ke dalam dimana Elara duduk menyudut disana.
"Aku tidak marah padamu, aku hanya khawatir padamu. Hmm?" Shane merasa Elara tersinggung karena tadi ia berkata terlalu keras. Semua itu spontan terjadi sebab ia takut Elara benar-benar dalam bahaya jika melakukan tindakan yang sudah dilarangnya.
"Aku tau. Aku saja yang tidak bisa berpikir jauh seperti yang kau takutkan. Maafkan aku."
"Lara, aku yang harusnya mengingatkanmu sejak awal. Harusnya aku bukan cuma melarangmu keluar dari tenda, tapi aku juga harus menjelaskan resikonya. Ini salahku yang hanya melarang tanpa mengatakan alasannya."
Perlahan Elara mengangkat kepalanya dan melihat pada mata Shane yang menyorotnya dengan tatapan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Sekarang, ayo kita makan siang. Bukankah tadi kau yang memasaknya? Please," mohon Shane.
Elara akhirnya mengangguk, ia amat menyesal mengabaikan peringatan Shane tadi, itu makanya ia merasa bersalah. Shane sangat mengkhawatirkannya, sementara ia melanggar permintaan Shane ntuk tidak keluar dari tenda selama pria itu belum kembali.
"Kau masak apa?"
"Hanya masak macaroni yang ada di tas persediaan makanan."
Shane tersenyum tipis. "Ini pasti enak, ayo kita makan."
Elara menuruti keinginan Shane untuk makan siang bersama, tapi ia mengingat sesuatu.
"Aku lihat stok makanannya sudah menipis, Shane."
"Kau benar."
"Ini pasti diluar prediksimu, kan? Harusnya makanan ini cukup untuk dirimu sendiri, tapi ternyata kau harus berbagi denganku. Makananmu lebih cepat habis dan juga kau harus lebih lama di hutan ini karena menunggu kondisiku membaik."
Elara benar, seharusnya Shane hanya berkemah dua hari saja. Tapi karena mengingat kondisi Elara, ia tak mungkin memaksakan untuk segera beranjak dari tempat itu. Hal itu tentu berimbas pada stok makanan yang semakin menipis. Semakin lama disana, itu artinya harus semakin banyak stok makanan. Sementara, makanan yang dibawa Shane hanya cukup untuk dirinya sendiri selama dua hari karena ia tak pernah mengira akan menolong orang lain dan keadaannya menjadi seperti ini.
Shane akhirnya menipiskan bibir, ia membalas sorot mata Elara yang menatapnya dengan sendu. Mereka bertatapan satu sama lain dengan jalan pikiran masing-masing.
Dalam benak Elara adalah rasa bersalah telah merepotkan Shane. Tapi Shane tidak pernah merasa demikian sebab menemukan Elara seperti sebuah jawaban untuk pertanyaan yang sempat ia tanyakan pada dunia.
"Stok makanan itu memang tidak akan cukup apalagi jika benar-benar menunggumu pulih. Tapi, tenanglah ... aku akan mengusahakan agar kita tidak kelaparan."
"Bagaimana caranya?"
"Tapi, Shane?"
Elara semakin merasa bersalah telah merepotkan pria dihadapannya ini. Apalagi seharusnya Shane tak perlu kekurangan makanan, ini semua karena kehadirannya.
"Dengar, Lara. Aku janji tidak akan membiarkanmu kelaparan." Shane berujar yakin sembari menatap kedua bola mata Elara secara bergantian.
Elara merasa Shane sangat bertanggung jawab padanya, padahal Shane tidak memiliki kewajiban untuk memberinya makan. Bahkan sejak awal pun, Shane tidak berkewajiban untuk menolongnya.
Percakapan mereka terhenti kala hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Shane meminta Elara masuk ke tenda, disusul olehnya setelah membereskan barang-barang yang ada diluar agar tidak diterpa hujan.
Kini keduanya berada didalam tenda dengan keadaan hujan yang belum ada tanda-tanda akan mereda.
Tiba-tiba saja, tangan Shane mencoba untuk menyentuh luka di pelipis Elara, membuat gadis itu sedikit meringis.
"Kenapa?" tanya Elara bingung melihat tindakan Shane.
"Lukanya masih belum sembuh," ujar Shane, ia hanya mencoba menjelaskan jika perlakuannya itu berniat mengecek keadaan luka yang ada di pelipis Elara.
"Ini baru dua hari, lukanya tidak mungkin sembuh dalam waktu singkat, Shane."
"Ya, ini memang membutuhkan waktu lebih lama. Ini luka bakar, bukan luka biasa."
__ADS_1
"Aku rasa lukanya pasti akan berbekas."
"Ya, ku rasa juga begitu."
Elara tersenyum sendu. "Itu artinya wajahku tidak akan kembali seperti sediakala."
Shane menangkup kedua pipi Elara. "Jangan sedih, lukamu ini hanya sedikit. Itu tidak mampu menutupi kecantikan yang kau punya."
Kali ini Elara terkekeh. Ia bahkan memukul bahu Shane karena merasa pria itu telah menggodanya.
"Dasar perayu ulung!" tuding Elara sambil menepis pelan tangan Shane yang masih berada di pipinya. Jujur saja, Elara takut terbuai dengan pesona pria ini.
Shane tersenyum miring. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ujarnya.
"Kau pasti memiliki banyak wanita."
"Ya, kau tidak salah," kelakar Shane dan membuat Elara makin terkekeh.
Akan tetapi, Shane buru-buru meralat kalimatnya agar Elara tidak salah memahaminya.
"Yang ku maksudkan adalah ibuku, nenekku dan adik perempuanku, mereka adalah wanita yang ku miliki."
"Yang benar saja, Shane!" Elara semakin terbahak mendengar pernyataan Shane.
"Tapi ada satu wanita yang belum ku miliki." Shane terdengar serius sekarang, padahal tadi ia juga sama-sama terkekeh seperti Elara.
Kali ini Elara menghentikan tawanya, ia menatap Shane dengan kernyitan di dahinya.
"Wanita itu adalah kau."
Elara menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menatap Shane yang masih saja tampak serius kali ini.
"Jangan terus bercanda, Shane. Kau bisa membuatku salah mengartikan."
Shane menarik sudut bibirnya menjadi seringaian. "Memangnya kau mengartikan ucapanku sebagai apa?" katanya balik bertanya.
Elara mengangkat bahu. "Ya, mungkin aku akan mengartikan ucapanmu tadi sebagai pernyataan cinta, jadi pastikan ucapanmu sebelum mengatakannya."
"Kalau memang iya, bagaimana?"
Elara tersenyum jenaka. "Mana mungkin, kita baru bersama selama dua hari disini dan kau----"
Elara tak bisa menyambung kata karena Shane langsung menyerobotnya.
"Aku jatuh cinta padamu, Lara. Apakah bisa jika kita bersama?" sergah pria itu yang langsung membuat jantung Elara terasa mencelos.
"Kau bercanda!" Elara tertawa cekikikan, berharap itu bisa mencairkan suasana.
"Aku serius, jangan katakan pernyataan ku sebagai permainan."
__ADS_1
...Bersambung ......
Mana dukungannya? Kopi? Bunga? Vote? 🤭🙏🙏