ELARA : FATED TO LOVE

ELARA : FATED TO LOVE
8. Menerima


__ADS_3

Elara memperhatikan wajah Shane yang ada dihadapannya. Pria itu tampak serius dan tidak main-main dengan pernyataannya.


"Baiklah, aku akan menganggap pernyataan itu serius. Tapi aku tidak akan menjawabnya."


"Kenapa?" tanya Shane.


"Aku butuh waktu untuk memahami semuanya, Shane."


Pria itu menipiskan bibir. "Baiklah,” katanya mengalah.


Elara mencoba membuang pandangannya dari tatapan Shane yang terasa mengintimidasi itu. Akan tetapi, sepertinya semesta sedang mendukung Shane saat ini ketika tiba-tiba suara petir menggelegar dan mengejutkan keduanya.


Elara menutup kedua telinganya secara spontan, sementara tangan Shane segera merangkul gadis itu untuk menenangkan dan memberi perlindungan.


Saat menyadari hal itu, ternyata Elara sudah berada dalam dekapan Shane dan mereka saling menatap satu sama lain.


"Apa kau takut?"


Elara mengangguk.


"Tenanglah, kau bersamaku disini."


Elara mendekap tubuh Shane dan merasa tenang disana. Lalu entah bagaimana ia merasa jika Shane mengelus-elus rambutnya dengan ritme teratur.


"Shane?" panggil Elara dengan suara lirih di posisinya.


"Hmm?"


"Aku akan menerimamu."


"Benarkah?" Shane menggeser sedikit posisi Elara agar ia dapat kembali melihat pada kedua mata gadis itu.


Elara mengangguk. "Tapi ..." ujarnya tampak ragu.


"Tapi, kenapa?"


"Karena kita baru mengenal selama dua hari, bisakah aku mengenalmu lebih jauh?"


"Tentu saja, apa yang mau kau ketahui tentang diriku?" respon Shane.


Elara menanyakan pekerjaan Shane dan kehidupannya. Ia juga menanyakan tentang keluarga pria itu.


"Aku bekerja disebuah perusahaan real estate. Kehidupanku biasa saja. Aku suka mendaki gunung di waktu senggang dan mengenai keluargaku, tidak ada yang menarik dan menyenangkan, mereka semua orang yang kaku," jelas Shane secara singkat dengan senyuman diujung kalimatnya.


"Jujur saja, aku belum memahami rasa apa yang timbul di hatiku untukmu, Shane. Tapi harus ku akui jika aku nyaman berada di dekatmu."


Shane menangkup kedua pipi Elara. "Benarkah?" tanyanya.


Elara mengangguk-anggukkan kepalanya dan Shane senang dengan respon sang gadis.


"Bagaimana denganmu?" tanya Shane. Mereka saling mengenal satu sama lain secara lebih dekat.


"Aku hanya wanita biasa. Aku tidak punya pekerjaan. Apa kau masih tertarik padaku?" dusta Elara dengan niat mengetes Shane saja.


"Hahaha, aku tidak peduli siapa dirimu. Apa kau pernah mendengar kalimat 'fall in love at first sight'?"


Elara mengangguk dengan senyum yang dikulumm.


"Itulah yang kurasakan padamu, Lara," jelas Shane akhirnya.


"Meski wajahku buruk rupa?"


"Sudah ku katakan jika luka itu tak akan menutupi kecantikanmu."


"Baiklah, sang perayu," kata gadis itu sambil terkekeh.

__ADS_1


Shane tersenyum tipis. "Ada lagi yang ingin ku tanyakan," ujarnya.


"Apa?"


"Apa kau memiliki kekasih?"


Elara menggeleng. "Hari ini aku menerimamu maka kau adalah kekasih pertamaku," ujarnya sungguh-sungguh.


Shane menatap Elara dengan berbinar. "Really?" tanyanya.


"Hmm, aku tidak berbohong."


"Baiklah, mulai hari ini jadikan aku kekasih pertama dan terakhirmu."


Elara terkikik. "Apa kau seserius itu?" tanyanya.


"Apa kau masih menganggap ku main-main?" Shane menatapi kedua bola mata Elara secara bergantian.


"No! Kau memang tampak sangat serius."


Shane menghentikan pembahasan mereka dengan menautkan bibirnya ke bibir merah Elara.


"Shane ..." Elara bergumam disela-sela ciumann tersebut, hal itu membuat Shane mengambil kesempatan untuk menyelipkan lidahnya diantara bibir Elara yang terbuka.


Shane menghentikan ciumannya kala merasa Elara terengahh karena kehabisan nafas.


"Apa ini ciuman pertamamu juga?" lirih Shane didepan wajah Elara yang memerah.


"Hmm..."


Shane tak perlu menanyakan dua kali karena ia dapat menilai keamatiran Elara saat menyambut ciumannya. Demi apapun, Shane amat bahagia dengan penerimaan Elara, ia tidak akan menyakiti Elara barang sesentipun dan pria itu sudah berjanji pada dirinya sendiri.


...***...


Bersama Shane terasa berbeda dan tidak sama seperti saat Elara bersama Kyle, sahabatnya.


"Kau sudah bangun? Kenapa tidak membangunkan ku?" Shane menggeliat pelan dan tampak tergesa-gesa, sementara Elara memperhatikan gerakannya dalam diam.


"Aku harus menyiapkan sarapanmu," kata Shane kemudian, ia belum sadar jika Elara menatapnya intens.


"Shane?"


"Ya, kenapa?"


"Kalau nanti kita sudah bisa keluar dari hutan ini disaat kondisiku mulai membaik, apa kau masih mau menemuiku?"


"Tentu saja, Sayang." Shane mengecup puncak kepala Elara menyalurkan ketenangan tersendiri untuk gadis itu.


Elara sendiri langsung merona wajahnya saat Shane memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Ia menundukkan pandangan dengan malu-malu.


Melihat itu, Shane menyeringai tipis. "Kita akan tetap bersama setelah kita keluar dari sini. Kau dengar ucapanku, kan?"


"Iya, aku mendengarnya."


"Baiklah, aku akan menyiapkan sarapan kita. Atau kau mau mandi lebih dulu?"


Membayangkan soal mandi, Elara jadi teringat soal cacing-cacing itu lagi.


"Aku ... tidak mau mandi di sungai itu lagi, Shane." Elara bergidik kembali.


Shane tertawa pelan. "Baiklah, jadi kau mau mandi dimana?" tanyanya.


"Entahlah, aku tidak mau kesana lagi."


"Meskipun aku menggendongmu kesana?"

__ADS_1


Elara menggigitt bibir bawahnya karena malu dengan ujaran pria itu.


"Baiklah, aku akan kesana sendiri tapi jika melihat cacing lagi kau harus menolongku untuk menyingkirkannya."


"Tentu saja." Shane tertawa sambil menepuk-nepuk pelan pundak Elara. "Ayo!" ajaknya bersemangat.


Hari itu akhirnya mereka kembali ke sungai yang sama. Jika dihari sebelumnya mereka masih tampak kaku satu sama lain, sekarang tidak lagi. Shane bahkan mengangkat tubuh Elara lalu menurunkannya ke tengah sungai dengan pengawasannya.


Tidak pernah Elara melihat Shane mengeluh atau tampak kelelahan. Sepertinya pria itu menguasai medan dengan cukup baik dan dia begitu tangguh.


Shane selalu memegangi tangan Elara dan terus menyorot gadis itu dengan senyuman bahagia. Ia merasa Elara melengkapi perjalanannya.


"Kau tau, dua hari kemarin aku merasa ganjil, tapi hari ini aku merasa kau telah menggenapiku."


Elara terkekeh dengan ucapan Shane. "Dasar perayu!" katanya mencibir.


"Aku hanya merayumu, Nona!"


"Dan aku hanya mau mendengar rayuanmu, Tuan."


Shane membawa Elara ke dalam dekapannya. "Aku harap juga begitu, jangan mendengar rayuan pria lain selain aku," katanya sungguh-sungguh.


Shane tau Elara terlalu polos, tapi itulah daya tarik gadis itu. Shane merasa amat beruntung menemukan Elara. Baginya Elara seperti berlian yang tersembunyi dan dia adalah pria yang berhasil membersamai berlian tersebut.


"Berikan padaku alamatmu di Berlin," pinta Shane.


"Untuk apa? Aku tidak akan disana lagi."


"Memangnya kau mau kemana?"


"Aku harus ke Hamburg sebenarnya."


"Baiklah, beri aku alamatmu di Hamburg juga."


"Kau mau mengunjungiku?"


"Tentu saja, aku selalu memegang kata-kataku."


Selesai dengan mandi, Shane dan Elara kembali ke camp, pria itu membuatkan Elara sarapan.


"Hanya ada ini, tak apa, kan?" Shane mengangsurkan sebuah roti bakar ke hadapan Elara.


"Thank you. Aku beruntung ditemukan olehmu, Shane."


Shane menanggapi Elara dengan senyuman tipis, mereka menikmati sarapan itu dengan diam.


"Setelah ini aku akan mencari bahan makanan untuk kita nikmati besok, kau diam di dalam tenda saja. Oke?"


Elara mengangguk, tapi ia tak bisa menutupi wajahnya yang tampak takut.


"Kau mau ikut denganku?" tebak Shane saat melihat ekspresi gadis itu.


"Aku cuma takut sendirian didalam tenda, sementara aku tidak tau kau ada dimana. Aku takut kau tidak kembali."


"Aku pasti akan kembali. Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini. Aku akan menandai jalannya dan segera kembali."


"Tapi, Shane."


"Aku punya buku bagus di ranselku, kau bisa membacanya di tenda. Aku akan kembali sebelum kau menyelesaikan membaca bukunya."


Elara akhirnya mengangguk meski ia masih dilingkupi rasa takut. Shane sendiri merasa tak tega sebenarnya, tapi ia pergi demi mencari makanan untuk mereka sebab stok makanan sudah tak cukup. Andai kondisi Elara bisa diajak berjalan cukup jauh, mungkin Shane akan mengajaknya dan tidak akan membiarkannya sendirian di dalam tenda.


...Bersambung ......


Maaf up nya kemalaman. Sibuk banget dari siang. Mana dukungannya nih? Kopi? bunga? 🤭

__ADS_1


__ADS_2