Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 99


__ADS_3

Atas keputusannya bersama Gilang, peresmian resort baru mereka yang ada di Yogyakarta diundur sampai kandungan Belva berusia sembilan belas Minggu.


Tentu bertepatan dengan jenis kela*in janinnya yang sudah terlihat.


Sempat mendapat protes dari para orangtua dan kedua kakaknya yang pasti sudah mengosongkan jadwal pada hari yang ditentukan sebelumnya.


Tapi mereka tak bisa berbuat banyak karena itu sudah keputusan Gilang dan Belva.


Lagipula bukan satu hal yang sulit bagi mereka menjadwalkan ulang pekerjaan mereka nantinya.


Dua hari sebelum acara peresmian tersebut, Belva dan Gilang lebih dulu berangkat ke Yogyakarta demi menyiapkan kejutan kehamilan kedua Belva.


Tak lupa membawa foto-foto hasil USG yang kedua dapatkan selama memeriksakan kehamilan beberapa bulan terakhir.


Sebenarnya perut Belva sudah terlihat membuncit. Hanya saja pakaian Belva yang selalu longgar bisa menyembunyikannya.


Event organizer yang dipercaya Belva dan Gilang sudah menata setiap ruangan dengan konsep yang mereka inginkan.


Termasuk ruangan yang nantinya hanya akan ada keluarga besar mereka yang masuk ke dalamnya, melihat kejutan yang Belva dan Gilang berikan.


Doa keduanya untuk mendapatkan anak laki-laki dari kehamilan Belva kali ini di dengar oleh Allah.


It's boy! Janin yang dikandung Belva berjenis kela*in laki-laki. Kehadirannya akan melengkapi keluarga kecil Gilang dan Belva.


Semua bernuansa biru muda. Dari mulai ruangan, aksesoris, balon-balon yang terpasang. Serta dress code mereka nanti pun juga akan berwarna biru muda.


Mereka pikir karena biru muda adalah warna kesukaan Belva. Tapi tidak ada yang tau kalau warna itu sekaligus menunjukkan bahwa anak mereka nanti adalah laki-laki. Yang selalu diidentikkan dengan warna biru.


Perempuan pink, laki-laki biru. Bukankah seperti itu?


"Ini biar diurus mereka, Sayang. Jangan terlalu capek," tegur Gilang saat melihat Belva sibuk sendiri membantu memasang dekorasi.


"Orang cuma bantu dikit-dikit, kok, Mas."


"Jangan membantah, Sayang. Sejak sampai di sini kamu belum istirahat loh."


Belva menghembuskan napas pasrah. Dia letakkan kembali bunga mawar biru yang semula dia pegang.


Langkah kakinya mengikuti Gilang menuju kamar mereka yang ada di tempat dengan view yang paling bagus. Pantai sekaligus gunung menjadi pemandangan apik dari kamar mereka.


"Kira-kira reaksi mereka besok gimana, ya, Mas?"


"Pasti senenglah. Mikha aja udah curiga sama kamu, kan, Yang, gara-gara kamu agak gemukan gini?"


Belva mengangguk membenarkan. Berkali-kali Mikha menanyakan apakah Belva tengah hamil sampai badannya sedikit berisi begini.


Dan Belva pun selalu menjawabnya dengan jawaban yang sama. Gilang memintanya untuk menggemukkan badannya sedikit. Jawabannya tanpa menyinggung soal kehamilan sedikitpun.


***


Hari itupun tiba. Belva meminta Gilang untuk tidak masuk ke kamar sebelum Belva memintanya.


Seorang MUA didatangkan untuk merias wajah Belva. Hanya riasan natural saja karena Belva lupa membawa alat-alat make-upnya.


Untung saja pihak event organizer juga sudah menyiapkan MUA jika sewaktu-waktu dibutuhkan.

__ADS_1


Tanpa Gilang tau, Belva pun juga akan memberikan kejutan untuknya hari ini.


Mulai hari ini, Belva akan merubah penampilannya. Sesuai dengan yang Gilang minta pada saat mereka akan pergi ke Lombok.


Ya, Belva akan berhijab sejak hari ini.


Gilang tak pernah menyinggungnya lagi semenjak saat itu. Pembahasan waktu itu adalah yang pertama dan terakhir.


Tapi meskipun Gilang tidak membahasnya lagi, Belva tahu dalam hati Gilang pasti berharap dan menantu kapan Belva akan berhijab.


Oleh karena itu, hari ini, di depan semua keluarganya, Belva akan memberikan kejutan yang luar biasa.


Setelah satu jam berdandan dan mengganti pakaiannya, Belva mematutkan dirinya di depan cermin.


"Bu Belva cantik," celetuk MUA dan hijab stylist yang mendandaninya.


"Beneran?" tanya Belva.


Keduanya menganggukkan kepalanya. "Pak Gilang pasti pangling ini, Bu."


Mendengar pujian dari dua orang tersebut, Belva tersenyum malu. Tak bisa dia bayangkan bagaimana reaksi Gilang nanti melihat penampilannya sekarang.


Kedua orang yang telah bekerja sama merubah penampilan Belva hari ini pun pamit undur diri. Kini giliran dirinya menelepon Gilang dan mengatakan bahwa dia sudah siap dan Gilang boleh masuk ke kamar lagi.


Belva sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Gilang. Jantungnya berdegup kencang. Seperti pasangan pengantin baru yang tengah menunggu suaminya masuk ke dalam kamar.


Benar saja, Gilang terdiam, terpana, dan tak bisa berkata-kata melihat penampilan Belva pagi ini.


Belva sangat cantik dengan hijabnya. Gilang merasa yang berdiri di hadapannya adalah seorang bidadari.


Gilang mendekati Belva tanpa menjawab pertanyaannya. Dengan tangan bergetar, Gilang membawa Belva ke dalam pelukannya.


Gilang menangis haru melihat penampilan Belva saat ini.


Selama ini Gilang mengira Belva tidak mengindahkan permintaannya dulu. Dia mengira Belva tidak mau berhijab. Sampai akhirnya Gilang pasrah, dan memintanya kepada Allah. Karena Gilang takut jika dia meminta lagi kepada Belva, Belva akan merasa dipaksa.


Ternyata Allah menggerakkan hati Belva untuk melakukannya. Gilang berharap semoga Belva bisa Istiqomah dengan pilihannya.


"Kamu cantik sekali, Sayang."


Hanya itu yang bisa Gilang ucapkan saat ini. Tiada lagi yang bisa menggambarkan kebahagiaan yang Gilang rasakan.


***



(gambar dari pinterest. anggap aja ini Belva ya.)


Semua keluarganya terlihat terkejut dan merasa pangling saat melihat penampilan Belva kali ini.


Tapi sayangnya mereka tak sempat bertanya banyak karena Gilang dan Belva keluar tepat saat acara peresmian resort tersebut dimulai.


Mereka menahan pertanyaannya pada Belva maupun Gilang sampai acara resmi tersebut berubah menjadi lebih santai.


"Bel..."

__ADS_1


Belva tersenyum dan memeluk mamanya. "Aku pantas nggak, Ma, pakai hijab begini?" tanya Belva dengan berbisik di telinga Vita.


"Kamu cantik banget, Sayang. Mama nggak bohong."


Belva tertawa kecil.


Rata-rata pertanyaan para keluarganya sama. Apakah Belva sudah yakin dengan keputusannya merubah penampilan kali ini.


Mereka mendukung keputusan Belva tentunya. Tak ada satupun keluarganya yang mengatakan bahwa Belva tidak pantas memakai hijab.


Sama halnya dengan Vita, Darmawan pun tersenyum haru melihat putrinya kini berpenampilan cantik seperti ini.


Mendadak merasa bersalah tentu saja Darmawan rasakan. Selama ini dia tak pernah membimbing anak dan istrinya agar berhijab.


Tapi bersama Gilang, Belva bisa jauh lebih baik.


"Kami punya kejutan lagi untuk kalian," ucap Gilang membuat penasaran.


"Untuk keluarga inti Bapak Gilang dan Ibu Belva dimohon untuk berkumpul di private room," ucap sang pembawa acara.


***


"Apa ini, Bel?" tanya Yunita yang melihat sekeliling ruangan bernuansa biru muda tersebut.


"Kamu hamil, Bel?" teriak Mikha setelah melihat foto USG yang juga ada di ruangan tersebut.


"Beneran, Bel?" Vita mencari kebenaran.


Belva dan Gilang tersenyum. Tangan Gilang merangkul pundak Belva dan satunya lagi mengusap perut Belva yang sedikit membuncit.


"Usianya udah sembilan belas Minggu."


"Apaaa!!??"


Tak hanya seorang saja yang bersuara. Hampir semua orang mengucapkan kata yang sama. Kecuali Gavin yang selalu terlihat cool dan juga para anak-anak yang asyik bermain balon.


"Bisa, ya, kalian sembunyikan ini dari kami?"


Belva tertawa kecil mendengar ucapan Anton.


"Sampai sembilan belas Minggu, loh," timpal Vita.


"Pantesan selama ini badan Belva agak gemukan," sambung Mikha.


"Ternyata lagi hamil." Yunita berucap.


"It's boy!"


"Selamat!!! Lengkap sudah anak-anak kalian, ya. Jangan cuma tiga. Habis ini tambah lagi. Masa kalah sama gue yang anaknya mau tujuh."


"Sayang? Nggak ada nambah anak, ya," protes Gavin.


"Emang hamil lagi?" tanya Anton yang dibalas gelengan kepala serta tawa usil Mikha. "Belum, Pa," jawab Mikha.


"Bukan belum, tapi enggak," sela Gavin meralat ucapan istrinya. Membuat istrinya itu cemberut saat memandangnya.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2