Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 90


__ADS_3


Lihatlah penampilan ibu yang telah melahirkan satu anak itu! Masih seperti seorang gadis, bukan?


Sebenarnya tak jauh berbeda dengan Gilang yang usianya hampir tiga puluh dua tahun. Wajahnya tak terlihat seperti usianya yang sepuluh tahun lebih tua dari Belva.



Terlihat sangat serasi jika disandingkan dengan Belva. Jelas! Namanya juga jodoh.


Rangkulan tangan Gilang tak pernah lepas dari pundak Belva. Bahkan sesekali Gilang memanggil Belva dengan sebutan sayang namun dengan suara yang cukup lantang.


Menunjukkan kepada semua orang bahwa wanita cantik yang ada di sampingnya adalah kekasih hatinya.


Satu ketika Belva terlepas dari genggaman Gilang. Sengaja Belva lakukan ketika Gilang tengah menerima telepon dari Juan.


"Aduh."


"Maaf, maaf. Saya nggak sengaja."


Belva membereskan baju-baju yang ada di keranjang belanjanya yang terjatuh. Sosok lelaki yang tak sengaja menabraknya pun turut membantu dan berkali-kali mengucapkan kata maaf.


"Kamu nggak apa-apa?"


Belva tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Enggak apa-apa, kok. Belanjaannya yang jatuh."


Lelaki itu membalas senyuman Belva. "Masih komplit, kan, belanjaannya?"


Tawa kecil Belva terdengar begitu merdu di telinga lelaki tersebut.


"Masih. Lagian jatuhnya cuma di sini. Nggak kemana-mana."


Gilang yang baru saja selesai menelepon dan melihat Belva tengah berbicara dengan lelaki yang usianya jauh lebih muda darinya pun merasa kesal dan cemburu.


Bisa-bisanya Belva mengambil kesempatan untuk menjauh darinya saat dia tengah menerima telepon.


Gilang mengambil lingerie berwarna merah yang tergantung di sampingnya. Lalu dengan cepat melangkahkan kakinya mendekati Belva.


"Sayang, kamu lupa nggak bawa lingerie padahal tau malam ini kita mau check in. Pakai ini, ya, Sayang," ucap Gilang tanpa memandang lelaki yang sebelumnya berbicara dengan Belva.


Kedua mata Belva melotot dengan sempurna mendengar ucapan Gilang yang begitu frontal. Padahal yang ada di sekitar Belva bukan hanya lelaki itu. Tapi juga ada beberapa orang yang bahkan kini tengah memandang Belva.


"Semoga setelah ini adiknya Gina dan Zurra jadi, ya."


Bukannya tersipu, Belva rasanya ingin menyimpan mulut Gilang dengan cabai sekilo. Malu, kesal, entahlah. Gilang terlalu berlebihan kali ini.

__ADS_1


Belva meninggalkan Gilang begitu saja untuk membayar semua belanjaannya. Berada di tempat umum terlalu lama hanya membuat Belva semakin malu dengan kelakuan Gilang yang berlebihan.


"Sayang, tungguin, dong!"


Belva terus melangkahkan kakinya lebih cepat lagi meninggalkan Gilang. Hatinya begitu kesal malam ini. Niat keluar ingin menghibur diri justru membuat Belva semakin gerah dengan kelakuan Gilang.


"Bel... Mobilnya di sana."


Belva menghembuskan napas dengan kesal. Acara salah arah membuat Belva semakin kesal dibuatnya.


"Kenapa, sih, Sayang, kok, jadi marah-marah gini?" Gilang berusaha menyentuh tangan Belva. Namun dengan kasar Belva menampiknya.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil. Semua belanjaan Belva juga sudah dimasukkan Gilang ke dalam mobil.


"Apa, sih, Mas? Mas Gilang rese banget malam ini, sumpah, deh. Aku kesel banget jadinya. Ngapain juga pakai ngomong kayak gitu di depan banyak orang? Nggak malu apa?"


Gilang tersenyum kecil. Dia biarkan Belva meluapkan terlebih dahulu emosinya. Percuma juga dia jelaskan apa maksudnya melakukan hal itu sekarang. Belva tak akan mendengarkannya.


"Aku mau pulang, ya, Mas. Ini bukan jalan ke rumah kita," ucap Belva saat Gilang membelokkan mobilnya menuju lawan arah dari arah ke rumah mereka.


"Kita, kan, nggak pulang malam ini, Sayang. Udah ngomong sama Mama juga."


"Ya aku nggak mau, Mas. Aku kesel banget sama Mas Gilang. Mau ketemu sama anak-anak aja."


"Dan Mas nggak akan bawa kamu pulang dalam keadaan kayak gini, Sayang."


***


Gilang membawa Belva ke sebuah hotel mewah yang memiliki view lautan. Di Jakarta pun ada hotel dengan view lautan lepas.


Tanpa membersihkan dirinya, Belva langsung membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Seluruh tubuhnya ditutupi dengan selimut tebal milik kamar hotel tersebut.


"Sayang, bersih-bersih dulu baru tidur," tegur Gilang yang tak mendapatkan respon apapun dari Belva.


Tak tahan dengan diamnya Belva, Gilang langsung menyusul Belva masuk ke dalam selimut setelah melepas jaket dan celana panjangnya. Menyisakan kaos berlengan pendek serta celana boxer.


"Apa, sih, Mas? Ngapain kamu? Lepasin!!!" Belva memberontak di pelukan Gilang.


"Ada anak-anak aja cari kesempatan biar di peluk. Masa free gini malah nggak mau?"


"Nggak peduli. Minggir sana!"


"Jangan gerak terus, Sayang. Nggak sengaja kesenggol dan malah bangun sekarang."


"Baperan amat!" umpat Belva.

__ADS_1


Gilang tertawa keras. Lalu mengecup tengkuk Belva berulangkali. Membuat Belva panas dingin. Meremang merasakan kecupan demi kecupan di leher dan tengkuknya.


"Jangan kayak gini! Aku masih kesel sama Mas Gilang."


Ucapan itu Gilang anggap sebagai permintaan agar Gilang melakukan lebih dari apa yang dia lakukan saat ini.


Tangannya meraba paha mulus Belva dengan pelan. Belva semakin merinding dibuatnya. "Ini milikku. Aku nggak rela mereka menatapmu seperti singa yang kelaparan, Sayang," ucap Gilang pelan.


"Aku nggak berniat menggoda mereka."


"Mas percaya. Tapi mereka yang nggak bisa menjaga mata mereka. Memandang milik orang lain dengan tatapan penuh damba. Mas nggak rela. Apa yang Mas lakukan semata-mata ingin menunjukkan bahwa kamu ini milik Mas. Siapapun tidak boleh mendekati, apalagi berusaha untuk memiliki."


"Nggak di tempat umum juga, Mas. Aku malah dengar Mas Gilang ngomong kayak gitu tadi."


"Lalu di mana, Sayang? Apa Mas harus minta nomor mereka lalu bicara empat mata? Ah, kurang kerjaan sekali, Sayang. Langsung diultimatum seperti tadi mereka udah nggak berani buat lirik-lirik kamu lagi."


"Tapi_"


"Sudah, Sayang." Gilang menghentikan ucapan Belva. "Jangan banyak bicara lagi. Ayo, ganti baju sekarang. Kita nikmati waktu berdua kita yang nggak seberapa lama ini, Sayang. Mumpung nggak ada Zurra yang sering nangis tengah malam di saat Mas mulai merasa di ujung."


Belva tertawa kecil mengingatnya. Sering sekali ketika mereka tengah berci*ta lalu Zurra terbangun tepat saat Gilang hampir mencapai puncaknya.


Lalu Belva butuh beberapa waktu untuk memenangkan Zurra yang terkadang tidak mau dipegang oleh Yeni.


Tak jarang pula sampai pagi Gilang menahannya. Dan itu membuat kepala atas bawahnya terasa pening. Kerjanya tak fokus dan miliknya tak bisa tenang sepanjang hari. Susah juga jika seperti itu yang dirasakan Gilang.


"Tapi aku belum mau hamil lagi, Mas."


"Kan, kamu juga masih pakai KB. Nggak akan hamil, Sayang. Mas nggak akan meminta kamu hamil kalau kamu belum mau."


"Beneran, ya?"


Gilang mengangguk pasti. "Janji. Zurra biar dua atau tiga tahun dulu."


"Oke."


Belva segera beranjak. Mengambil lingerie merah yang tadi diambilkan oleh Gilang.


Malam ini, keduanya seperti pengantin baru. Berdua dan bebas.


Sejenak melupakan anak-anak yang sudah tenang dengan keberadaan Yunita di rumah mereka.


Sepertinya malam ini tak cukup hanya sekali bagi Belva dan Gilang untuk saling mereguk kenikmatan. Belva tak pernah membuat Gilang merasa bosan.


Justru Gilang selalu ingin menyentuh dan membelai setiap inci tubuh Belva yang benar-benar membuatnya candu.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Visual body Gilang bikin sesak napas ye kan? 🤤


__ADS_2