Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 94


__ADS_3

"Terus hubungan kamu sama Rey sekarang gimana?"


Rania tersenyum sedih. "Aku tadi udah bilang, Bel. Kami pernah menjalin hubungan. Dan itu sudah berakhir sejak enam bulan yang lalu."


"Dan kamu belum move on, Ran? Buktinya kamu masih kesel waktu ketemu aku."


"Kalau aku bilang udah pasti kamu juga nggak akan percaya, kan?" Rania tertawa kecil. Begitupun dengan Belva.


"Kamu juga pasti nggak akan percaya juga kalau Rey itu pacar pertamaku."


"Serius?"


Rania kembali tertawa. Dia memang pernah jatuh cinta pada temannya semasa SMA. Tapi tak berani untuk mengungkapkannya sampai akhirnya orang yang dia sukai itu berpacaran dengan adik kelasnya.


Tentu saja Rania berusah mengenyahkan rasa itu dari dalam hatinya.


Lama tak ingin hatinya kembali kecewa karena jatuh cinta dan cinta dalam diam, tapi kedatangan Rey membuat Rania kembali membuka hatinya.


Tapi ternyata Rey bukan orang yang tepat untuk mendapatkan hati dan cintanya. Rey hanya menjadikannya sebagai pelarian saja.


Perih hati Rania ketika mengingat dimana dia tahu yang sebenarnya. Rania langsung memblokir semua akses Rey untuk menghubunginya.


Lalu meminta Rey untuk pergi sejauh-jauhnya dari kehidupannya.


"Lucu ya, Bel? Aku kecewa. Aku marah. Tapi kadang aku juga pengen tau keberadaan dia dimana."


"Aku rasa itu hal yang wajar dirasakan oleh orang-orang yang belum move on, Ran. Rey meskipun saudara aku, tapi aku nggak akan belain dia kalau dia nyakitin kamu. Nanti, deh, kalau aku ketemu sama dia. Biar ku bawa dia ke rumah sakit buat di sunat lagi."


"Kok, gitu? Habis, dong?"


Belva melirik kesal ke arah Rania. "Yaelah, masih aja mikirin kayak gitu."


"Bukan gitu, Bel. Itu masa depan dia. Kasian yang sama dia nanti kalau dia udah nggak punya masa depan."


Belva tertawa lepas mendengar ucapan Rania. Bisa-bisanya Rania berpikir sejauh itu.


"Tapi serius, Ran. Aku akan kasih dia pelajaran kalau nanti ketemu lagi. Aku pastikan dia menyesal sudah menyakiti kamu, Ran."


Rania tersenyum tipis. "Makasih, ya, Bel. Meskipun menurut aku kamu nggak perlu melakukan hal itu. Aku nggak mau maksa. Aku yang meminta dia untuk pergi karena aku kecewa."


Belva kembali memeluk Rania. Berkali-kali meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat oleh sepupunya.


Pertemuannya dengan Rey secara tidak langsung Belva-lah yang membuatnya. Jadi Belva tentu merasa bersalah atas apa yang dilakukan Rey terhadap Rania.


***


"Hai, Sayang. Sendirian aja?"


"Tante."


Belva tersenyum dan berdiri menyambut Nita yang baru saja keluar dari kamarnya.

__ADS_1


"Mas Gilang ada di kantor Papa, Tante. Tante sehat?"


"Sehat, dong. Kok, anaknya nggak diajak?"


Belva tertawa kecil. "Cuaca lagi nggak bagus, Tante. Aku nggak tega kalau harus ajak dia pergi jauh-jauh."


"Padahal Tante pengen ketemu, loh."


"Kapan-kapan aku ajak ke Surabaya, Tante."


"Oke."


Pagi ini Belva datang ke rumah Nita. Atau rumah Rey. Rasa penasarannya tentang Rey membuatnya datang ke rumah Nita.


Padahal, ini tidak ada dalam agenda yang dia susun bersama Gilang kemarin.


Tapi demi Rania, Belva akan mencari tahu kemana perginya Rey. Dia ingin Rey meminta maaf pada Rania atas apa yang dia lakukan.


Bagaimanapun juga hal itu disebabkan karena Rey yang belum move on dari Belva.


Sebenarnya bukan hal baru bagi Belva kalau Rey sebenarnya menyukai Belva. Tapi Belva pikir, Rey adalah kakaknya. Tidak mungkin dia akan jatuh cinta pada kakaknya sendiri.


Belva bisa. Tapi ternyata Rey yang tak mampu mengendalikan perasaannya.


"Kak Rey kemana, sih, Tante? Aku itu udah lama banget nggak ketemu. Jangankan ketemu, Tante. Bertukar kabar aja nggak pernah."


Nita tertawa kecil. "Rey balik lagi ke Kanada. Dia itu udah ada usaha di sana, Bel. Dan dia bilang mau fokus mengurusnya. Padahal Tante mau dia itu nikah dulu. Baru ke sana sama istrinya gitu."


Lagi-lagi Nita tertawa. "Rey mana punya pacar, Bel? Dia kayak anti banget sama perempuan. Tante coba kenalkan dia ke anak-anak teman-temannya Tante. Tapi foto mereka dilirik pun enggak sama Rey."


"Susah juga, ya, Tan?"


"Ya gitu, deh, Bel. Sekarang Tante sama Om udah pasrah dia mau ngapain. Yang penting masih dijalan yang bener."


Belva mengangguk paham.


Selain mengobrol soal Rey, keduanya mengobrol banyak hal lagi.


Memang tujuan Belva untuk mencari tahu keberadaan Rey. Tapi Belva tidak serta merta mengatakannya. Sebab itu banyak hal lain yang mereka obrolkan pagi ini.


***


Rey, adalah salah satu laki-laki yang paling dicemburui oleh Gilang.


Sebab itu Belva baru berani menghubungi Rey ketika Gilang sudah berangkat ke kantor.


Kemarin Belva meminta nomor Rey kepada Nita. Dan Nita tanpa ragu memberikannya pada Belva.


"Heh! Lo apain sahabat gue?"


Rey menaikkan satu alisnya melihat wajah Belva yang terlihat tengah marah.

__ADS_1


"Wuuihh. Udah Lo gue aja bahasanya."


"Nggak ada basa-basi!" sela Belva dengan cepat. "Lo apain sahabat gue? Kanapa Lo berpikiran jadiin sahabat gue itu sebagai pelarian Lo? Nggak punya hati banget, sih. Kalau Lo belum bisa move on, nggak seharusnya Lo deketin dia. Lo nggak mikir perasaan dia kayak gimana?"


"Bel, aku itu_"


"Apa? Jahat? Emang! Rania itu anak baik, Kak Rey. Kenapa jahat banget, sih, jadi orang? Biar apa coba? Dia salah apa sama lo, Rey, sampai-sampai Lo tega giniin dia?"


"Oke, aku nyesel. Beneran, aku nyesel, Bel."


"Terus kenapa malah pergi? Bukannya berjuang dapatin maaf dari dia?"


"Urusan aku di sini juga nggak bisa ditinggal. Aku ngurusin kamu kemarin itu udah tinggalin pekerjaan di sini dan akhirnya menumpuk."


"Gue nggak minta Lo pulang dan ngurusin gue, ya, Kak. Kalau gue tahu akhirnya Lo nyakitin sahabat gue, saat itu juga gue tendang Lo sampai Kanada. Ngeselin banget jadi orang! Kita udah lama nggak berkomunikasi, ya. Harapan gue bukan ini yang membuat gue hubungin Lo. Kita saudara. Tapi gue ogah punya saudara macam Lo gini, Kak. Asal Lo tau, Rania trauma berat setelah Lo nyakitin dia. Gue nggak yakin hidup Lo akan tenang sebelum Lo dapat maaf dari dia."


"Iya. Aku juga tau itu. Selama ini aku juga nggak tenang mikirin Rania. Salahku memang. Tapi aku belum bisa pulang karena pekerjaanku masih banyak."


"Itu nggak ada urusannya sama gue. Kalau Lo mau minta maaf sama Rania, jangan coba ambil hatinya lagi kalau Lo nggak ada niatan serius!"


"Siap, Bu ratu."


Belva segera mematikan sambungan video callnya dengan Rey.


Rasanya benar-benar kesal sekali dengan apa yang dilakukan Rey pada Rania.


"Jadi kerjaan kamu teleponan sama lelaki lain gini kalau aku lagi kerja?"


Belva terperanjat mendengar suara Gilang. Sepertinya tadi Gilang sudah berangkat bekerja. Kenapa sekarang suaranya ada di sini?


"Mas? Bukannya tadi udah berangkat kerja?"


Gilang menganggukkan kepalanya. "Memang. Panik, ya, aku tau kamu teleponan dengan lelaki lain?"


"Eng-enggak. Teleponan sama Kak Rey aja, kok."


"Udah sering?"


"Mas Gilang apaan, sih? Jangan nuduh-nuduh aku gitu."


"Aku cuma mau ambil handphone aja, kok. Lanjut aja teleponnya. Aku berangkat dulu."


"Mas!"


Belva hampir mengejar Gilang. Sayangnya, kakinya justru tersandung karpet bulu yang ada di kamarnya sampai Belva terjerembab.


"Aduh!"


Sakitnya tak seberapa. Tapi Belva harus buru-buru mengejar Gilang.


"Yah... Ngambek, deh, itu bapak," keluh Belva saat melihat mobil Belva dengan cepat meninggalkan rumah.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2