
Spesial POV Viona - Hengky
"Semua orang tahu kamu siapa, Vi. Di masa lalu, kamu dan Gilang terlibat skandal sampai Gilang bercerai dengan istrinya."
"Bukan salahku. Dulu Gilang yang mendekatiku dan tidak mencintai Mikha sebagai istrinya."
"Tidak ada yang peduli akan hal itu. Yang aku dan mereka tau, kamu adalah orang ketiga diantara Gilang dan Mikha. Semua orang menganggap kamu murahan karena menjadi perebut suami orang. Ditambah lagi dengan kamu yang hamil anak dia. Kamu masih yakin orang-orang menganggap kamu wanita baik-baik?"
Ucapan Hengky benar-benar membungkam mulut Viona. Ingat sekali dulu saat dia bertemu dengan teman kantornya ketika bekerja di perusahaan Gilang.
Saat itu Viona sudah berhenti, tapi juga sudah gagal dinikahi oleh Hengky. Dalam keadaan perut besarnya, temannya itu memandangnya sinis. Bahkan terang-terangan mengatakan bahwa dia hamil di luar nikah akibat menggoda bosnya di depan banyak orang. Dan akhirnya dia dibuang dan tidak dipedulikan lagi.
Viona sakit hati. Tapi tak bisa berkata apa-apa. Ditambah lagi dengan tatapan menghina orang-orang yang mendengar ucapan temannya itu.
"Kamu pun dulu membuangku," ucap Viona mengingatkan Hengky bahwa dia dulu juga pernah membuang Viona.
"Saya terima kamu apa adanya asal tidak dalam keadaan hamil. Sudah pernah saya katakan sebelumnya bukan? Saya terima kamu yang sudah tidak pera*an lagi karena saya sadar saya bukan seorang perjaka. Saya juga duda. Saya terima kamu pernah yang melakukan dengan lelaki manapun."
"Hanya dengan Gilang aku melakukannya," sela Viona membuang pikiran Hengky yang mengira dirinya dulu sering melakukan dengan lelaki lain.
"Saya tidak peduli. Asalkan kamu tidak hamil, saya tidak peduli."
"Lalu kenapa kamu datang lagi? Bahkan merawatku selama koma."
"Saya melihat perjuangan kamu melahirkan anak kamu. Saya melihat kesakitan yang kamu rasakan sampai akhirnya kamu koma. Rasa sayang itu masih ada. Saya juga tidak bisa menghilangkannya setelah saya memutuskan rencana pernikahan kita dulu. Hingga saya merajut kembali harapan itu dengan merawat dan menunggu kamu sadar. Tapi yang membuat saya sakit hati, ketika kamu dalam keadaan koma, kamu sudah sadar, hanya nama Gilang yang keluar dari bibir kamu."
"Bukankah seharusnya kamu sadar diri dan kamu mundur? Lelaki tua sepertimu mana pantas bicara soal cemburu dan sakit hati. Ingat umur!"
"Saya sudah tua bukan berarti saya sudah tidak punya lagi hati dan rasa cemburu."
"Lalu apa mau kamu sekarang?"
"Berhenti sampai di sini. Gilang sudah bahagia dengan hidupnya. Dan dia pun tidak mempermasalahkan jika dia harus bertanggungjawab atas Regina. Jangan merendahkan diri kamu sendiri untuk dinikahi suami orang. Kamu pikir kamu akan bahagia setelah menikah dengan Gilang? Tidak akan, Viona. Mungkin dulu Gilang memang mencintaimu. Tapi cintanya sekarang bukan buat kamu lagi."
Diamnya Viona membuat Hengky tersenyum tipis. Dia yakin kini Viona tengah mempertimbangkan apa yang telah dia dengar.
"Pikirkan baik-baik apa yang saya katakan! Jangan rendahkan diri kamu sendiri! Cukup sekali dan jangan diulangi lagi! Saya akan melamarmu dan menikahi kamu jika kamu sudah bisa berpikir bahwa semua yang kamu lakukan saat ini itu salah."
Hengky pergi meninggalkan Viona yang masih terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkan Viona, Hengky tidak tau. Yang pasti dia berharap Viona akan segera sadar dan berhenti menggangu Gilang lagi.
__ADS_1
***
Viona terdiam. Pandangan matanya kosong. Regina dia biarkan bermain bersama ibu dari Amira di luar rumah. Amira sendiri sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah.
Tidak perlu dipertanyakan lagi kemana perginya Amira. Wanita itu berhenti bekerja di perusahaan setelah mempertemukan Regina dengan Gilang. Merasa tanggungjawabnya telah selesai.
Dan sudah pasti dia melanjutkan pekerjaannya sebagai wanita malam dengan penghasilan yang bisa memenuhi gaya hidupnya yang begitu bebas.
Viona tak peduli tentang Amira sekarang. Dia tak peduli apapun lagi selain berusaha agar Gilang kembali menjadi miliknya.
Si keras kepala itu ternyata tidak menghiraukan ucapan Hengky. Tak peduli dengan harga diri. Hanya Gilang yang dia mau.
Viona memandangi bayangan dirinya yang terpantul di cermin. Kurus dan lebih tua dari usianya. Dulu dia tak lupa dengan segala macam perawatan untuk tubuhnya.
Tapi semenjak hamil dan melahirkan hingga dia koma, tentu dia tak mampu untuk melakukan itu lagi sehingga wajah dan tubuhnya tak seindah dulu.
"Lalu apa yang menjadi modal untukmu mendekati Gilang?" Sebuah suara terdengar di telinganya. Aneh, itu bukan suara dari hatinya.
"Sadar kamu sudah tidak cantik lagi!"
"Diam!" teriak Viona untuk menghentikan suara itu.
"Diam!!!"
"Dia juga lebih muda. Lebih legit, lebih gesit, lebih seksi. Dan kamu tidak ada apa-apanya."
"Diam!!!"
Viona semakin histeris mendengar suara-suara tersebut mengganggu telinganya. Barang-barang yang ada di atas meja rias dia lemparkan berharap bisa menghentikan suara tersebut.
Rasanya tidak terima mendengar Belva lebih segalanya dari dirinya. Meskipun itu nyata, tapi tidak perlu diperjelas juga.
"Tidak tahu diri! Harusnya kamu mati! Mati saja biar kamu dipedulikan lagi oleh Gilang, Viona. Mati saja kamu!"
Bisikan itu kembali terdengar. Viona melihat ke seluruh sudut di kamarnya untuk mencari sumber bisikan tersebut.
"Diam kamu, setan!"
"Kamu tidak berharga lagi, Viona. Tidak lagi dipandang dengan hormat oleh orang-orang. Buat apa kamu hidup?"
__ADS_1
Semakin lama, Viona semakin meresapi apa yang dia dengar. Benar, tidak ada lagi yang menghargai dirinya.
Cap Viona murahan, Viona perebut suami orang, Viona hamil diluar nikah, itu sudah melekat dalam dirinya. Bahkan sampai saat ini pun dia masih tidak punya nyali untuk sekedar keluar rumah.
Viona gelap mata. Tangannya mengambil pecahan vas bunga yang terlihat panjang dan begitu tajam karena runcing di ujung pecahannya.
"Kamu murahan. Kamu tidak punya harga diri." Bisikan itu masih terus terdengar.
"Mati saja kau, Viona. Tidak ada gunanya kamu hidup. Hidupmu tak berarti untuk siapapun lagi."
Air mata Viona mengalir dengan deras. "Memang seharusnya aku mati. Harusnya aku nggak dikasih sadar lagi setelah koma."
Pecahan vas bunga itu perlahan Viona goreskan ke tangannya. Perih menjalar ke seluruh tubuhnya. Darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.
Tak puas karena goresan itu tak membuatnya mati, Viona mengarahkan pecahan vas tersebut ke arah perutnya.
"Ibu, i love you so much."
"Pandai sekali anak ibu bicara bahasa Inggris. Siapa yang mengajarkan?"
"Nenek yang mengajarkan Gina, Ibu. Ibu, Gina mau jalan-jalan ke Dufan. Gina mau sekolah diantar ibu seperti teman-teman Gina."
Bayangan percakapannya dengan Gina sesaat setelah dia sadar pun terlintas di pikirannya.
Tapi kepalanya semakin pusing. Tangannya semakin perih. Dadanya semakin sesak.
"Ibu jangan sakit lagi, ya. Gina seneng banget ibu udah sehat."
Semakin lama pandangannya semakin kabur. Viona tak memiliki lagi tenaga untuk tetap sadar. Sakit itu semakin menjalar.
"Maafkan ibu, Gina."
"Ibuu!!!!!"
Hanya teriakan Gina yang memanggilnya suara yang terakhir Viona dengar sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
Jika memang ini adalah akhir hidupnya, Viona berharap Gilang tetap bertanggungjawab pada Gina dan tidak membeda-bedakan Gina dengan anaknya yang lain nantinya.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Part aneh