Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 50


__ADS_3

Untuk pertama kalinya setelah hampir sebulan lamanya Gilang berkonflik dengan Belva dan keluarganya, ini pertama kalinya Gilang masuk ke kantor Darmawan lagi.


Gilang memberanikan diri untuk datang, untuk menanyakan keberadaan Belva sekarang.


Setelah semalam menyesali semuanya, Gilang tak ingin membuang waktu lagi. Gilang ingin kembali bertemu dengan Belva dan meminta maaf kepadanya.


Tapi, sayangnya belum juga ada kabar Belva ditemukan atau belum. Firasat Gilang, Belva sengaja disembunyikan oleh kedua orangtuanya dan membuat berita hoax tentang hilangnya Belva.


Berbeda ketika datang ke rumah namun satpam melarangnya masuk, Gilang justru dengan mudah masuk ke kantor Darmawan.


Mungkin Darmawan lupa memerintahkan scurity kantornya untuk melarang Gilang masuk jika Gilang datang.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" tanya Darmawan dengan dingin melihat orang yang mengetuk pintu ruangannya. Yang Darmawan pikir adalah karyawannya yang melakukannya.


"Bukankah kita sudah tidak ada urusan apapun? Sekertaris saya sudah datang untuk memutus kontrak, bukan? Untuk ganti ruginya juga sudah ditransfer," lanjut Darmawan. Melupakan bahwa Gilang masih berstatus menantunya.


"Saya ingin bertemu dengan Belva, Pa. Apa Belva sudah ditemukan?"


Darmawan mendengus dan tersenyum sinis. "Saya tidak mengijinkan kamu untuk bertemu dengan Belva."


"Tapi Belva istri saya. Saya lebih berhak atas Belva, Pa."


Mendengar ucapan Gilang, Darmawan tertawa hambar. Ya, Darmawan tau dan sangat paham. Bahwa anak perempuan sudah sepenuhnya milik suaminya jika sudah menikah. Tapi melihat apa yang dilakukan oleh Gilang terhadap Belva, orangtua mana yang akan rela untuk kembali melepaskan anaknya untuk lelaki macam Gilang?


Darmawan akan memikirkannya ribuan kali sebelum memutuskan untuk membiarkan Belva hidup dengan Gilang.


"Saya tahu. Tapi saya tidak akan pernah melepaskan anak semata wayang saya untuk kembali bersama lelaki seperti kamu."


"Papa yang merekayasa berita hilangnya Belva?"


Darmawan mengalihkan pandangan tanpa menjawab pertanyaan Gilang.


"Pa, saya mohon ijinkan saya untuk kembali bertemu dengan Belva dan calon anak saya."


"Oh, sudah mengakui anak yang dikandung Belva itu anak kamu?"


"Saya minta maaf, Pa. Saat itu saya sedang emosi karena melihat Belva bersama laki-laki lain. Apalagi perusahaan papa saya yang ada di Vietnam sempat mengalami masalah_"


"Lalu kamu membenarkan perbuatan kamu pada Belva?" Darmawan menyela ucapan Gilang.


Gilang menggelengkan kepalanya. "Waktu itu saya benar-benar emosi, Pa."

__ADS_1


"Keluar dari sini! Semua keputusan ada di tangan Belva. Tapi sepertinya Belva memilih untuk berpisah dengan kamu. Dan saya mendukung hal itu."


"Saya akan memperbaiki semuanya, Pa. Ijinkan saya untuk bertemu dengan Belva."


"Jangan panggil saya Papa karena saya bukan Papa kamu. Keluar dari sini atau saya panggil scurity untuk mengusir kamu dari sini! Pergi sekarang juga kalau kamu tidak ingin mempermalukan diri sendiri!"


Dengan berat hati dan tanpa ada hasil apapun tentang Belva, Gilang melangkahkan kakinya untuk keluar dari kantor Darmawan.


***


Gilang kembali menyusuri jalanan kota Surabaya. Dia mencari-cari keberadaan Belva, barangkali dia hanya bersembunyi dan harapannya dia bisa bertemu meski secara tidak sengaja.


Feeling-nya mengatakan Belva sengaja disembunyikan oleh Darmawan dan keluarganya.


Pekerjaan Gilang jadi terbengkalai. Lagi-lagi Anton yang harus turun tangan mengurus semuanya. Usianya yang sudah lumayan tua masih harus menghadapi ulah Gilang dan segala akibat yang timbul karenanya.


Tak peduli siang dan malam. Panas maupun hujan. Harus macet-macetan pun Gilang tidak peduli asalkan dia bisa segera bertemu dengan Belva.


Penyesalannya membawanya ke dalam sebuah kerinduan yang amat dalam kepada Belva.


Dia rindu tawa dan senyum Belva. Rindu akan merajuknya Belva. Rindu memeluk tubuh Belva. Rindu bermanja-manja dengan Belva. Dan rindu untuk melewatkan setiap malam dengan panas bersama Belva.


"Sayang, kamu dimana? Mas rindu."


🌻🌻🌻


Jika Gilang menganggap Belva disembunyikan oleh keluarganya, Gilang salah.


Sampai saat ini Darmawan tidak tahu dimana keberadaan anak semata wayangnya itu.


Empat hari sudah Belva menghilang. Bantuan polisi untuk mencari Belva pun belum juga membuahkan hasil.


Anak buah yang dikerahkan Darmawan pun tidak bisa menemukan keberadaan Belva saat ini.


Apakah Belva baik-baik saja saat ini? Sedang apa dia? Dimana dia berada?


Darmawan terus bertanya-tanya.


Tak ada yang bisa memberikan jawaban kecuali waktu. Waktu yang akan menunjukkan keadaan dan keberadaan Belva.


"Sudah ada kabar tentang Belva belum, Pa? Anak kita dimana sekarang? Dia lagi hamil ya Allah."

__ADS_1


Hanya itu yang Vita tanyakan pada Darmawan. Entah di telepon, atau secara langsung ketika Darmawan baru pulang ke rumah.


Gelengan kepala Darmawan membuat tangis Vita semakin pecah. Darmawan hanya bisa memeluk tubuh istrinya yang dia rasa semakin kurus karena Vita tak bernafsu untuk makan karena memikirkan nasib Belva sekarang.


Melacak handphone Belva pun tidak bisa dilakukan karena handphone Belva mati total sejak hari pertama dia menghilang.


Dia orang polisi mendatangi kediaman Darmawan. Dia pun segera menemuinya, berharap ada kabar terbaru tentang Belva.


"Selamat sore, Pak Darmawan."


"Selamat sore, Pak. Bagaimana, ada kabar apa tentang anak saya?"


"Siap. Keberadaan mobil Belva sudah kami temukan. Berada di sebuah rumah di Jakarta."


"Jakarta? Apa rumah tersebut milik Gilang?"


"Iya, Pak. Siapa Gilang?"


"Dia suaminya anak saya, Pak."


"Tapi saat rekan kami mencoba mengecek rumah tersebut, tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan Belva maupun Gilang di sana. Saat bertanya pada penjaga komplek yang ada di sana, dia mengatakan kalau tidak melihat tanda-tanda keberadaan Belva dan Gilang. Kata penjaga tersebut, Belva dan Gilang sudah lama tidak datang ke rumah tersebut. Hanya sesekali cleaning servis panggilan datang untuk membersihkan rumah tersebut. Tapi memang mobil Belva ada di sana sejak tiga hari yang lalu, Pak."


"Terus anak saya dimana, Pak?" Vita bertanya dengan tidak sabar. Bagaimana bisa mobil Belva ada di Jakarta tapi Belva tidak ada di sana?


"Kami masih mencarinya, Bu. Atau mungkin Pak Gilang yang menyembunyikan Belva? Kami akan selidiki lagi."


"Tapi tadi pagi Gilang datang ke kantor saya dan mengemis meminta untuk dipertemukan dengan Belva. Dia pikir saya menyembunyikan Belva," ujar Darmawan.


"Kami akan mencari Pak Gilang untuk dimintai keterangan mengenai hal ini. Kalau benar Pak Gilang yang menyembunyikan Belva, maka beliau bisa dikenakan hukuman atas perbuatannya."


"Lakukan apapun asalkan anak saya segera ketemu, Pak. Dia sedang hamil. Kasian dia."


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Bu. Kalau begitu kami permisi. Selamat sore."


"Baik, Pak. Terimakasih. Selamat sore."


Setelah kepergian dua polisi tersebut, Vita kembali menangis di pelukan Darmawan. Dalam hatinya mengutuk Gilang. Jika memang Gilang yang melakukan hal tersebut, maka sampai kapanpun dia tidak akan pernah memaafkan Gilang.


♥️♥️♥️


Dikit-dikit, ya. bumil baru lemes ini. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2