Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 97


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Sangat cepat hingga Belva tak menyangka bahwa dia sudah menyelesaikan kuliahnya dalam waktu tiga setengah tahun dengan predikat cumlaude.


Empat tahun yang lalu, Belva masih sempat merasa ragu apakah dia harus kuliah atau tida. Dia bukannya tidak butuh pekerjaan yang membutuhkan gelar sarjana. Tapi Gilang yang melarangnya untuk bekerja.


Akhirnya Belva mengambil pilihan untuk tetap kuliah, karena dia pun butuh ilmu dan pengalaman untuk anak-anaknya.


Karena kuliah juga Belva dan Gilang memutuskan untuk tidak menambah anak sebelum Belva lulus.


Zurra sudah berusia lima tahun. Gina sudah berusia sembilan tahun. Mereka sudah cukup mandiri untuk mengerjakan semuanya sendiri. Termasuk dalam hal menyiapkan keperluan sekolah mereka sendiri.


Gilang merasa ini adalah waktu yang tepat untuk memberikan adik untuk mereka. Dan Belva sendiri merasa cukup satu anak lagi untuk menambah keramaian di rumah besar mereka.


Hari ini adalah hari ulang tahun Belva yang ke dua puluh enam. Dinner romantis sekaligus bermalam di sebuah private resort di Lombok sudah disiapkan oleh Gilang.


Tak perlu ke luar negeri karena waktu cuti Gilang tidak terlalu lama. Lagipula Indonesia pun memiliki keindahan alam yang luar biasa.


Hanya berdua saja mereka pergi ke Lombok. Yunita dan Vita yang sudah kembali menginginkan seorang cucu lagi terus saja menyuruh keduanya untuk pergi berbulan madu tanpa membawa kedua anaknya yang lain.


Tentu saja Belva dan Gilang senang dengan hal tersebut. Bukan berarti juga senang berpisah dengan anaknya untuk sementara waktu. Tapi orangtua mereka sangat mengerti akan waktu berdua yang harus dimiliki setiap pasangan suami istri.


Untung saja kedua anaknya juga bukan tipe anak yang selalu menempel kemana Belva pergi. Sejak kecil sudah terbiasa dengan Belva yang sering pergi ke sana kemari. Mereka juga sering memberi pengertian bahwa meninggalkan mereka di rumah itu bukan untuk bermain-main.


"Jangan jauh-jauh jalannya." Gilang menarik pinggang Belva. Tak rela jika Belva berjalan terlalu jauh darinya.


Semakin bertambahnya usia Belva yang semakin dewasa, bentuk tubuhnya pun ikut berubah.


Kalau dulu Belva terlihat kurus, sekarang tubuhnya lebih berisi dengan bagian favorit Gilang yang semakin menonjol.


"Gimana bisa jauh orang tadi dipegang terus tangannya sama Mas Gilang."


"Tapi kamu jalannya nggak mepet sama Mas, Sayang."


Belva menghembuskan napasnya dengan pelan. Suaminya, semakin tua semakin manja saja dia rasa. Dan juga semakin overprotektif tentu saja.


"Gimana kalau kamu pakai jilbab aja, Sayang?" Gilang memulai obrolan ketika mereka sudah berada di dalam jet pribadi untuk terbang ke Lombok.


"Kenapa tiba-tiba nyuruh pakai jilbab?"

__ADS_1


Gilang mendekatkan bibirnya ke telinga Belva. Satu tangannya mencari kesempatan untuk mengusap paha Belva sampai ke leher Belva.


"Jangan di sini. Sabar kenapa?" ucap Belva yang sedikit terpancing karena sentuhan Gilang.


"Ini semua milik Mas. Mas nggak rela orang lain melihatnya, Sayang. Celanamu ini, harusnya yang pakai si Gina," komentar Gilang pada hot pants yang dipakai oleh Belva.


"Lagipula jaman sekarang pakaian hijab kan, banyak yang modis, Sayang. Udah kekinian. Jadi kecantikan dan keindahan tubuh kamu ini hanya Mas yang bisa melihatnya."


Belva tak pernah berpikir untuk memakai jilbab di kesehariannya. Selama ini dia memakai jilbab hanya saat pergi ke pengajian-pengajian. Saat lebaran dan itu saja di hari pertama lebaran.


Tapi sekarang tiba-tiba Gilang memintanya untuk memakai jilbab setiap hari. Bukan tidak mau. Tapi Belva rasa dirinya belum siap.


Belva tahu berhijab itu kewajiban seorang muslimah. Tapi selama ini dia terbiasa berpenampilan tanpa hijab. Orangtuanya dulu juga tidak pernah memaksa karena Vita sendiri juga jarang memakai jilbabnya.


Menikah dengan Gilang pun baru kali ini Gilang membahasnya. Ibu mertua dan kakak iparnya juga tidak pernah memakai hijab kecuali menghadiri acara pengajian juga.


"Nanti aku pikirin lagi, ya, Mas. Jujur, aku ngerasa sikap aku belum baik. Malu kalau pakai jilbab sedangkan perilakunya aja kadang masih slengean. Aku nggak mau kalau aku tidak menyiapkannya sematang mungkin, nanti bakalan buka tutup hijab."


"Hidup itu berproses untuk menjadi lebih baik, Sayang. Sebenarnya Mas ingin mengatakan hal ini sudah sejak lama. Apalagi Mas tau kalau kewajiban seorang muslimah itu memakai jilbab. Anak-anak juga perempuan, kan? Mas juga bertanggungjawab atas surga neraka kalian kelak, Sayang. Mas ingin kita menjadi keluarga lagi di surga nanti. Kita belajar sama-sama, ya. Mas juga masih dangkal ilmu agamanya. Tapi kalah mau belajar, pasti Allah kasih jalan."


Belva menganggukkan kepalanya. Lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Gilang. Menikmati keindahan matahari terbenam dari ketinggian.


Baru juga hari pertama di Lombok, tapi Belva sudah terkapar tak berdaya karena mual dan muntah yang terus menerus dia alami sejak pagi tadi.


Gilang curiga Belva sudah hamil lagi bulan ini. Tiga bulan yang lalu Belva melepas alat KB yang terpasang di rahimnya. Dan bulan ini pun Belva belum mendapatkan tamu bulanannya.


"Apa kamu udah hamil, ya, Yang?"


"Aku mikirnya juga gitu, Mas."


"Belum juga mulai honeymoonnya. Udah hamil aja. Alhamdulillah, sih, Yang. Seneng banget kalau emang hamil beneran."


"Mas beli testpack aja sana! Biar nggak ragu-ragu gini."


Gilang setuju. Dia segera menghubungi pelayan untuk memesankan sebuah testpack yang paling akurat.


Setelah setengah jam menunggu, pelayan datang membawakan testpack yang diminta oleh Gilang.

__ADS_1


Gilang segera memberikannya pada Belva agar segera digunakan untuk test urine. Meskipun hasil maksimal adalah pagi sebelum tidur, namun kehamilan bisa di cek kapan saja asal kadar HCG sudah tinggi.


"Gimana, Sayang?" teriak Gilang dari luar kamar mandi.


"Bentar! Baru juga pipis."


Sepertinya sudah lama sekali Belva di kamar mandi. Ternyata belum ada satu menit dan pastinya ada proses yang harus dilalui. Tapi rasanya lama sekali bagi Gilang yang tidak sabaran itu.


Tiga menit menunggu hasilnya, Belva segera keluar dari kamar mandi dan memberikan testpack tersebut kepada Gilang.


"Gimana, Sayang?"


"Semoga kali ini cowok, ya, Pa," ucap Belva sembari memberikan testpack tersebut pada Gilang.


"Beneran hamil?"


Belva tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Yes. I'm pregnant, Mas Gilang Sayang."


Gilang memeluk tubuh Belva dengan erat. Mengangkatnya lalu memutarnya. "Sayang... Mas seneng banget."


Tawa Belva berderai. "Turunin dulu, Mas. Pusing aku."


Gilang terkekeh kecil. "Maaf. Mas seneng banget soalnya."


Sebenarnya Gilang sudah ingin Belva hamil lagi sejak usia Zurra dua tahun.


Tapi Belva belum mau dengan alasan Zurra masih terlalu kecil untuk memiliki seorang adik. Lagipula, saat itu Belva juga tengah kuliah di semester awal. Semua serba repot dan sibuk.


Belva khawatir jika dirinya benar-benar hamil pada saat itu, Belva tidak bisa menjaganya karena kondisi tubuhnya yang mungkin akan sering kelelahan karena hamil.


"Kita udah nungguin ini bertahun-tahun, sayang. Habis ini lahir, nggak usah nunggu lama langsung program lagi."


"Ih, kok, gitu?"


"Usia Mas semakin tua, Sayang. Biar sekalian juga reportnya ngurus yang masih kecil-kecil."


Belva tak menjawab. Itu baru rencana. Kalau sudah tiba waktunya nanti, Belva yakin Gilang tidak akan tega membiarkan Belva hamil dalam jarak yang dekat dengan kelahiran anaknya nanti.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Makin ke sini makin ke sana 😌😌


__ADS_2