
Tidak mudah ditinggalkan orangtua sekaligus dalam satu waktu seperti ini.
Belva tak tahu lagi bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya saat ini. Kehilangan, terluka, tidak tau arah, kehilangan salah dua penopang hidupnya, kehilangan lentera di hidupnya.
Semua seolah berakhir ketika jasad kedua orangtuanya dimasukkan ke dalam liang lahat yang sama.
Mereka pergi bersama cinta mereka. Janji sehidup semati itu telah terpenuhi. Meninggalkan Belva seorang diri.
Memang ada Gilang, anak-anaknya, dan juga keluarga Gilang. Tapi tentu ada lubang di hati Belva yang tidak bisa ditambal lagi setelah kepergian Papa dan Mamanya.
Semua terlalu cepat bagi Belva. Mereka tak meninggalkan pesan apapun sebelum pergi. Belva juga tak merasakan firasat apapun sebelumnya.
Malah Belva asyik berlibur di Amsterdam karena merayakan anniversary pernikahannya dengan Gilang.
Perasaan Belva semakin hancur kala melihat Zurra dan Gina yang menangisi Darmawan dan Vita.
Kasih sayang dan cinta yang keduanya berikan yang sudah membuat Zurra dan Gina merasa begitu kehilangan kakek dan nenek mereka dari pihak Belva.
Tapi seperti anak kecil yang lainnya. Keduanya mungkin belum bisa melupakan kesedihan mereka. Tapi mungkin sedang mencoba menerima kenyataan tanpa diketahui orang dewasa. Sebab itu Zurra dan Gina bisa kembali bermain bersama anak kecil lainnya yang masih berada di kediaman kedua orangtua Belva yang ada di Surabaya.
Lalu dengan Belva, dia hanya tidur di atas tempat tidur mendiang kedua orangtuanya sambil memeluk foto kebersamaan mereka ketika Belva lulus SMA.
Ya, hanya melalui foto tersebut Belva bisa memeluk kedua orangtuanya.
"Sayang, makan dulu, ya? Dari kemarin perut kamu belum keisi."
Belva menggelengkan kepalanya dengan lemah. Rasa lapar saja tidak dia rasakan. Yang dia ingin hanyalah orangtuanya berada di sampingnya sekarang.
"Jaga kesehatan kamu, Sayang. Sedih boleh, tapi jangan sampai menyakiti diri sendiri. Apalagi ada anak kita yang makanannya bergantung sama kamu."
Belva sampai lupa kalau dia tengah mengandung. Ada anak di dalam kandungannya yang hidupnya bergantung pada dirinya sekarang.
Air matanya kembali menetes kala mengingat bahwa Vita menginginkan seorang cucu lagi dari dirinya.
Belum sempat Vita melihat cucunya lahir, Allah sudah lebih dulu memanggilnya.
"Mas sangat paham dengan apa yang kamu rasakan sekarang, Sayang. Mas pun juga kehilangan mereka. Siapa yang tidak merasa kehilangan orang baik seperti Papa dan Mama? Tapi kita tidak boleh berlarut. Mama dan Papa pasti juga sedih melihat kamu seperti ini."
"Semua seperti mimpi, Mas. Aku pengen bangun biar bisa ketemu Mama dan Papa. Ini cuma mimpi. Bantu aku buat bangun, Mas."
Gilang memeluk tubuh Belva dengan erat. Ucapan sabar, kuat, ikhlas, sepertinya tidak perlu dia ucapkan karena sudah pasti Belva pun tengah berusaha untuk hal itu.
__ADS_1
Semua ini pasti berat untuk Belva. Untuknya juga yang juga merasakan kehilangan yang begitu besar. Gilang juga merasa ini semua seperti sebuah mimpi.
Tapi ini kenyataan. Darmawan dan Vita benar-benar sudah meninggal.
"Kalau masih belum mau makan, minum susunya aja, ya? Setidaknya perutnya terisi."
Akhirnya Belva pun menganggukkan kepalanya. Membuat Gilang bisa bernapas sedikit lega.
***
Zurra dan Gina sudah lebih dulu kembali ke Jakarta karena mereka masih harus sekolah.
Sedangkan Belva dan Gilang masih berada di Surabaya sampai waktu yang belum bisa ditentukan.
Gilang tak akan bertanya kapan Belva akan mau kembali ke Jakarta. Akan Gilang turuti semua kemauan Belva karena paham akan rasa kehilangan yang dia rasakan.
Meskipun dengan resiko Gilang yang akan bolak-balik Jakarta-Surabaya karena harus mengurus pekerjaannya.
Rumah terasa sepi setelah beberapa kerabat yang datang dan menginap satu persatu meninggalkan kediaman kedua orangtua Belva.
Di saat sendiri, yang Belva rasakan hanya kesedihan. Yang Belva lakukan hanya memandang foto kedua orangtuanya.
Belva pun tak mau tidur di kamarnya sendiri. Belva tidur di kamar Papa dan Mamanya dimana bantalnya pun masih menyisakan bau harum dari rambut Darmawan dan Vita.
"Papa sama Mama lagi ngapain?" tanya Belva pada foto yang dia pegang.
Orangtuanya hanya tersenyum tanpa menjawab. Bagaimana mungkin akan menjawab? Yang Belva ajak bicara adalah sebuah foto.
"Nggak kangen sama Belva, Pa, Ma? Belva aja kangen banget sama Papa dan Mama."
"Kita sudah sering berminggu-minggu nggak ketemu, Pa, Ma. Aku kangen, tapi nggak sekangen ini. Tapi kali ini baru empat hari aja kenapa rasanya berat banget?"
Belva kembali menangis. Memeluk erat foto kedua orangtuanya. Biasanya, Belva akan tertidur setelah lelah menangis. Dan kali ini pun terulang kembali.
***
"Bel, kemarin waktu Mama di London itu lihat tas warnanya cantik banget. Warna kesukaan kamu. Jadi Mama beliin, deh. Kuliahnya yang semangat, ya."
"Bel, kalau mau wisuda bilang jauh-jauh hari, ya. Mama mau siapin seragam buat kita foto. Sekalian baju buat Papa dan Mama Gilang juga."
"Bel, Mama sama Papa mau ke Jakarta. Nitip apa dari sini?"
__ADS_1
"Belva... Mama pengen jalan-jalan di sini, temenin yuk."
"Kapan-kapan kita ke Cappadocia bareng, ya, Bel. Kita aja sama ajak Mamamu sekalian. Ala-ala girls day out gitu, loh."
Belva terbangun dari tidurnya. Waktu sudah hampir Maghrib ternyata. Dan Belva ketiduran setelah lelah menangis.
Di dalam tidurnya, Belva kembali mendengar akan suara Vita ketika mengucapkan kata-kata yang tidak bisa Belva sebutkan satu persatu.
Semua seperti sebuah film yang kembali diputar.
Belva kembali meneteskan air matanya. Rasanya begitu berat mengikhlaskan kepergian kedua orangtuanya.
Tapi Belva harus melakukannya. Dia tahu jika seperti ini terus, jalan yang ditempuh Darmawan dan Vita di alam sana akan semakin sulit.
"Sudah bangun, sayang? Siap-siap sholat Maghrib dulu, ya. Kita sholat jama'ah di musholla."
Gilang yang baru saja masuk ke dalam kamar pun langsung mencium kening Belva.
Belva menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Gilang. Dia langsung beranjak untuk mengambil wudhu.
***
Musholla di rumah Belva terletak di taman belakang. Tepatnya di dekat sebuah gazebo dan kolam renang.
Dengan khusyuk Belva berdoa sambil memejamkan matanya.
Belva meminta agar dikuatkan. Belva meminta agar hatinya bisa mengikhlaskan kepergian kedua orangtuanya. Belva berharap agar kedua orangtuanya diberikan tempat yang sebaik-baiknya tempat di sisi Allah.
Belva pun juga meminta agar sekali saja Allah menghadirkan kedua orangtuanya ke dalam mimpi Belva. Sebentar saja agar Belva bisa memeluk mereka untuk meredam rasa rindunya.
Rindu yang terberat memang rindu kepada orang yang jasadnya sudah berkalang tanah.
Tidak akan bisa bertemu. Tak kan lagi bisa menyentuh.
Hanya doa yang dipanjatkan sebagai perantara untuk menyampaikan sebuah kerinduan.
Ketika Belva membuka matanya, di depan matanya seolah melihat Vita dan Darmawan yang tengah tersenyum lebar kepada dirinya.
Kedua mata Belva berkaca melihatnya. Tak ingin berkedip karena khawatir bayangan mereka akan menghilang.
"Papa... Mama..."
__ADS_1
🌻♥️🌻