Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 84


__ADS_3

"Apa Mama bilang, Bel? Makanya jangan gampang percaya sama orang kayak gitu. Nggak semua orang itu ngerti kalau dibaikin."


Belva diam mendengar semua ucapan Yunita tentang Viona. Dalam hatinya membenarkan meskipun rasanya masih tak dapat didefinisikan.


Kemarin Belva melihat sendiri bagaimana perubahan pada diri Viona. Sepertinya memang ada satu hal yang terjadi yang membuat Viona seperti ini.


"Mama bukannya marah sama kamu, Bel. Mama cuma nggak mau kebaikan kamu itu dimanfaatkan sama orang kayak gitu. Kamu itu baiknya kebangetan, Sayang. Sampai-sampai kamu dimanfaatkan begitu. Dia kayak gitu karena merasa kamu bersikap baik sama dia dan percaya kalau dia sudah berubah."


"Iya, Ma. Belva ngerti, kok."


"Kalau gitu sekarang kamu istirahat, ya. Udah, jangan dipikirkan lagi soal perempuan itu. Dia cuma mau manfaatin kalian aja."


Belva menganggukkan kepalanya lalu kembali merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Gilang mendekati Belva dan duduk di samping tempat tidur Belva. Jari-jarinya mengusap tangan Belva dan kedua matanya menatap Belva dengan lembut.


"Lain kali perempuan seperti itu jangan dikasih hati, Sayang. Lama-lama dia ngelunjak, kan?" ucap Gilang.


Belva menghembuskan napas panjang. "Cepet banget dia berubahnya, Mas. Tiba-tiba baik, tiba-tiba seperti ini lagi."


"Itu tanda-tanda orang yang nggak serius untuk berubah."


"Apa nggak perlu kita cari tahu, Mas?"


"Cari tau soal apa, buat apa, sayang? Itu bukan urusan kita."


Belva tak banyak berucap lagi. Benar kata Gilang. Apa yang harus dia tau? Untuk apa dia cari tau? Itu tidak penting.


Urusan mereka hanya soal Gina jika dirasa Viona masih membutuhkan pertanggungjawaban Gilang.


***


Setelah tiga hari berada di rumah sakit, Belva dan bayinya akhirnya pulang ke rumah.


"Mas, kamarnya Zurra sudah di bereskan belum?" tanya Belva ketika mereka berada di perjalanan pulang.


Belva baru ingat bahwa sebelum ke rumah sakit masih banyak barang-barang bayinya yang belum sempat dia masukkan ke dalam lemari.


Ada juga beberapa pakaian bayi yang belum sempat dicuci.


"Tenang aja, Sayang. Semua sudah beres dan tinggal pakai aja."


"Kok, cepet?"


"Semua bisa dibereskan dengan cepat, Sayang. Tergantung siapa yang memperkerjakan dan yang diperkerjakan."


"Iya, deh, percaya."


Gilang tertawa kecil. Kedua matanya sekilas menatap Belva yang tengah fokus memandang jalanan yang diguyur air hujan sore ini.


Bayi mereka digendong oleh Yunita dan naik mobil Yunita. Sehingga Gilang dan Belva bebas berduaan seperti sebelum Belva melahirkan.


***


Kepulangan Belva disambut oleh Gavin, Mikha, dan juga triplets. Juga para pengasuh triplets.


Mereka datang sejak siang hari dan berencana akan menginap di rumah Belva.


Tak masalah. Tentu Belva bahagia ada banyak orang di rumahnya. Apalagi kedua orangtuanya juga akan pulang dari Thailand nanti malam.

__ADS_1


Rumah akan semakin ramai. Tidak seperti sebelumnya yang hanya diisi oleh Gilang, Belva, Mbak Marni dan satu orang yang menjadi tukang kebun.


"Welcome home, Bel. Gimana rasanya jadi ibu di usia muda?"


"Kaget banget, Kak," jawab Belva sembari tertawa kecil.


Rasanya benar-benar mengagetkan. Dia pikir, setelah anaknya lahir, dia bisa tidur nyenyak. Tidak seperti saat hamil besar kemarin yang tidak bisa membuatnya tidur dengan tenang dan nyaman.


Tapi ternyata dugaannya salah. Semalam gadis kecilnya itu benar-benar mengajak semua orang begadang.


Sebentar-sebentar dia menangis. Entah minta susu, pampersnya penuh atau minta digendong.


Yunita dan Gilang memang menyuruh Belva untuk tidur. Tapi ibu mana yang bisa tidur nyenyak kalau anaknya saja sering menangis tadi malam?


"Tapi happy, kan?"


Belva mengangguk membenarkan. "Sangat bahagia, Kak. Bayi kecil dan mungil itu keluar dari dalam tubuh aku. Kayak belum percaya aja, sih, rasanya. Tapi ini itu nyata. Dia emang beneran keluar dari tubuh aku."


Mikha tertawa mendengar jawaban Belva. Ya, dulu pun dia merasakan hal yang sama.


Satu saja sudah membuat Belva kagum. Jadi dulu yang dia rasakan berkali-kali lipat rasanya. Ada tiga bayi kecil mungil yang hidup di dalam tubuhnya. Dan lahir dari dalam tubuhnya.


"Selamat jadi ibu baru, ya. Be happy biar baby ikut happy."


"Thanks, Kak."


Setelah mengobrol sebentar dengan Mikha, Belva naik ke lantai tiga. Dimana kamarnya dan kamar anaknya berada.


Tentu saja dengan menggunakan lift yang ada di rumahnya. Gilang tidak mungkin membiarkan Belva naik turun tangga dengan keadaannya yang seperti itu.


Masuk ke kamar bayi mereka, Belva dikejutkan dengan suasana kamar yang sudah rapi, bersih, cantik, dan mewah. Semua perlengkapan ada di dalam kamar tersebut.




Gilang tertawa kecil. "Sebagian Mikha yang beliin, terus Mama juga beliin buat anak kita, Sayang. Belum lagi kalau Mama Vita pulang nanti. Mas jamin Mama bawa banyak baju buat Zurra dari luar negeri."


"Tapi_"


"Sudah, Sayang. Sekarang kita ke tempat dimana kejutan buat Mama Zurra berada." Ucapan Gilang menghentikan Belva yang belum sempat melanjutkan ucapannya.


"Buat aku ada juga, Mas?"


"Harus, dong. Masa enggak?"


"Apa?"


"Yuk!"


Dengan pelan Gilang menuntun Belva untuk masuk ke sebuah ruangan yang ada di samping kanan kamar mereka.


Lagi-lagi Belva tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat isi kamar yang dulunya kosong tersebut.


Sekarang sudah penuh dengan barang-barang branded. Mulai dari sepatu, sandal, high heels, tas-tas mewah, baju-baju mewah. Bahkan juga ada beberapa set perhiasan mewah di tengah-tengah ruangan.



__ADS_1




"Mas Gilang kapan nyiapin ini semua?"


"Sudah lama, Sayang. Sengaja setting semuanya saat kamu ada di rumah sakit kemarin. Biar saat kamu pulang, akan menjadi kejutan buat kamu."


Belva meneteskan air matanya dengan penuh haru. "Harusnya Mas Gilang nggak perlu kasih aku sebanyak ini."


"Kenapa ngomongnya begitu, Sayang? Bahkan ini semua nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan pengorbanan kamu mengandung dan melahirkan anak kita."


Gilang dan Belva saling bertatapan dengan hangat dan lekat. Tangan Gilang menyelipkan rambut Belva ke belakang telinga. Menampakkan seluruh wajah cantik Belva.


Bibir Gilang mendekat. Memberikan ciuman lekat di kening Belva. Belva pun memejamkan matanya menikmati kehangatan yang diberikan oleh Gilang.


"Mas nggak akan pernah bosan untuk mengucapkan terimakasih, Sayang. Terimakasih sudah bertahan dengan Mas yang memiliki masa lalu yang buruk ini. Terimakasih sudah menerima Mas tanpa memandang bagaimana masa lalu Mas dulu. Bahkan di saat badai besar datang, kamu tetap berada di samping Mas. Terimakasih juga sudah rela mengandung dan melahirkan anak kita. Dia sangat sehat dan sempurna. Cantik luar biasa seperti mamanya."


Kedua sudut bibir Belva tertarik sepenuhnya membentuk sebuah senyuman. "Aku pasrahkan hidupku pada Allah, Mas. Lalu Allah menguatkan aku sampai aku bisa sampai di titik ini. Aku akan tetap berada di samping kamu dalam keadaan apapun, Mas. Asalkan satu, kamu tidak mencintai wanita lain dan mengkhianati aku."


"Mas janji, Sayang. Satu-satunya wanita yang akan bisa membuat kamu cemburu nanti adalah anak-anak kita. Masih mau, kan, punya anak lagi?"


Belva tertawa kecil. "Nggak tau, ya. Enaknya lagi apa enggak?"


"Kalau bikinnya, sih, terus. Non stop setiap malam kalau kamu sudah selesai nifas nanti."


"Lalu?" Belva menaikkan satu alisnya.


"Kalau dijadiin bayi, tergantung kamu mau apa enggak, Sayang."


"Emm... Dua lagi, deh."


"Serius?"


Belva menganggukkan kepalanya.


"Katanya kemarin udah nggak mau? Aku nggak mau hamil lagi, Mas. Sakit. Ini semua gara-gara kamu."


"Ih!!" Belva terlihat kesal sekali mendengar Gilang menirukan ucapannya kemarin saat menghadapi kontraksi.


Memang saat itu rasanya Belva tak ingin hamil lagi. Tapi sakit yang dia rasakan sirna begitu saja setelah melihat anaknya lahir dengan sehat dan sempurna.


"Jadi gimana? Dua atau empat?"


"Dua?"


"Oke. Selesai nifas langsung gas lagi, ya?"


"No! ASI ekslusif dulu untuk Zurra. Baru tambah lagi."


"Oke. Deal?"


"Deal!"


🌻🌻🌻


Semua gambar dari pinterest ya...


kalau lahiran kadonya kayak yang dikasih Belva, kayaknya mau, deh, kalau anaknya lima. 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2