
Malam ini, Gilang dan Belva sudah rapi dalam balutan baju pengantin.
Gilang tampak gagah dengan jas hitamnya. Dan Belva terlihat begitu anggun dengan gaun pengantin yang dia pakai.
Gaun yang dibuat dalam waktu yang cukup singkat dengan design menutupi perutnya yang sudah mulai terlihat.
Riasan di wajahnya juga membuat Belva begitu cantik. Manglingi kalau kata orang Jawa.
Keduanya berjalan bergandengan tangan di tengah-tengah tamu yang datang.
Semua mata terpesona melihat ketampanan dan kecantikan keduanya. Yang tidak mengenal mereka, pasti tidak akan mengira kalau usia pasangan itu berjarak sepuluh tahun.
Ribuan tamu yang datang, dekorasi pernikahan yang mewah dan menakjubkan, lampu latar pencahayaan yang sangat indah.
Belva begitu terpesona dengan pernikahannya sendiri. Selama ini dia tak memiliki pernikahan impian. Bagaimana konsepnya, bagaimana gaun yang ingin dia kenakan, bagaimana dekorasi dan temanya. Belva tak pernah memikirkan hal itu.
Tapi malam ini, Belva merasa begitu bahagia dengan pernikahan yang sebagian besar disiapkan oleh kedua orangtuanya.
Sebagai anak satu-satunya, tak mungkin mereka akan menyiapkan pesta pernikahan yang biasa saja.
Gilang dan Belva layaknya seorang raja dan ratu. Berjalan diiringi dengan tepuk tangan meriah. Senyum tak pernah lepas dari bibir keduanya.
"Nggak ada yang sakit, kan, Sayang?"
Belva tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Gilang memastikan bahwa Belva baik-baik saja. Acara masih panjang dan Gilang tidak ingin Belva kelelahan.
Entah sudah berapa lama keduanya berdiri untuk menerima tamu yang menyalami mereka.
Yang pasti, Gilang selalu memperhatikan istrinya. Gilang cukup rewel meminta Belva duduk saja karena tak ingin Belva kelelahan.
"It's oke, Kak. Kalau capek aku pasti duduk," jawab Belva menenangkan Gilang.
Teman satu angkatan Belva tentu mendapatkan undangan juga. Mereka datang secara bersamaan. Mereka masih tak percaya kalau ternyata Belva sudah menikah semenjak sebelum masuk kuliah.
Belva terlalu pandai menyembunyikan pernikahannya.
"Ku kira lugu, Bel. Ternyata kamu suhu," ucap Ajeng diiringi dengan tawa kecilnya.
"Apa, sih, Jeng? Makasih udah datang, ya." Belva tersenyum malu.
"Selamat, ya, Bel, sekali lagi. Lagi hamil juga, kan, ya? Duh, sehat-sehat dedek utun," ucapnya lagi sambil mengusap perut Belva.
"Aamiin."
Resepsi pernikahan tidak hanya digelar sekali saja di Surabaya. Rencananya, Anton dan Yunita akan mengadakan acara ngunduh mantu.
Bedanya, mungkin acara tak akan semegah ini.
Lebih ke private party dengan konsep outdoor dan undangan pun hanya keluarga terdekat saja. Rekan bisnis mungkin hanya akan ada beberapa saja.
Hal itu mengantisipasi keadaan Belva yang tengah hamil agar tidak terlalu kelelahan nantinya.
Semakin malam, pesta semakin meriah. Belva dan Gilang berdansa bersama tamu undangan yang lainnya.
Sekali lagi, keduanya tetap menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
Gilang dan Belva saling menatap. Melempar sebuah senyuman, saling mengagumi satu sama lain.
Belva yang sudah cantik, kecantikannya bertambah berkali-kali lipat malam ini. Bahkan Gilang hampir saja membatalkan resepsi pernikahan mereka hanya karena tidak rela jika kecantikan Belva dilihat banyak orang.
Sama halnya dengan Gilang, Belva juga mengagumi Gilang malam ini. Ketampanan dan kegagahannya bertambah berkali-kali lipat malam ini.
Lembut tangan Gilang membelai setiap jengkal tubuh Belva untuk melindungi Belva.
"Kamu cantik sekali malam ini, Sayang."
"Berarti sebelumnya aku nggak cantik?"
Gilang tertawa kecil. Bisa-bisanya Belva mencari masalah di saat seperti ini.
"Kamu selalu cantik di mataku, sayang. Ada lagi saat dimana kamu lebih cantik dari malam ini."
"Kapan?"
Gilang tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Belva lalu berbisik, "saat kamu nggak pakai baju."
"Ih, genit."
Tawa Gilang berderai. Rasanya benar-benar bahagia beristrikan Belva. Hidupnya lebih berwarna. Jiwanya terasa kembali muda.
"Ke kamar, yuk."
"Yang bener aja. Tamu masih banyak mau ke kamar."
"Mereka juga paham kali kita mau ngapain. Biasanya habis pesta pernikahan gini, kan, pasti malam pertama."
"Kita bukan pengantin baru, ya, Mas. Udah hamil juga."
🌻🌻🌻
Rania hanya duduk termangu menatap orang-orang yang tengah berdansa bersama pasangan mereka. Rania tak ambil pusing karena dia tak membawa pasangan. Karena memang tidak ada.
Dia lebih memilih menikmati semangkuk bakso Malang yang disediakan sebagai menu catering mereka malam ini.
Seorang laki-laki duduk begitu saja di samping Rania tanpa permisi. Awalnya Rania biasa saja tak begitu menggubrisnya. Tapi lama-lama risih juga dengan asap rokok yang dihembuskan lelaki tersebut.
"Bisa tolong matikan rokoknya?" ucap Rania dengan sedikit keras. Suaranya teredam suara musik yang begitu keras.
"Bukan urusan Lo."
Kedua mata Rania melotot sempura. Memandang lelaki itu dengan tatapan begitu kesal.
"Di sini banyak orangtua, ibu hamil, bahkan pengantinnya sendiri pun sedang hamil. Nggak bisa kamu sedikit memperhatikan kesehatan mereka? Kalau mau sakit karena rokok ya sakit sendiri aja. Nggak usah ngajak orang lain."
"Berisik banget, sih, Lo! Siapa Lo berani ngatur gue?"
"Aku nggak peduli kamu siapa."
"Sialan, Lo!"
Lelaki itu adalah Rey. Dia menarik tangan Rania dengan begitu kasar sampai Rania pun terseok-seok mengikuti langkah Rey.
"Lepasin aku! Kamu mau bawa aku kemana?"
__ADS_1
"Diam, dan jangan banyak bicara!"
"Kurang ajar, kamu!"
Tanpa Rania sangka, lelaki itu membawanya ke roof top hotel tempat Gilang dan Belva melakukan acara resepsi.
Rey meninggalkan Rania begitu saja dan berjalan menuju pinggir roof top.
"Aarrgghhh."
Rania terkejut mendengar teriakam Rey yang begitu kencang.
Kaki Rania terpaku di tempat. Dia tak berani mendekat, takut Rey akan berbuat kasar kepadanya.
"Temenin gue di sini!" ucap Rey saat Rania melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Roof top, meninggalkan Rey sendiri.
Padahal Rey tidak melihatnya saat mengatakan agar Rania menemani dirinya. Bagaimana Rey bisa tahu kalau Rania hampir saja meninggalkan dirinya?
"Kenapa?" tanya Rania pelan. Itu saja dengan keberanian yang besar untuk bisa bertanya kenapa.
"Bantu gue melupakan Belva."
"Hah?"
Rania masih dalam mode bingung. "Kamu cinta sama dia?"
"Bahkan gue rela nunggu dia bertahun-tahun. Tapi tau-tau dia udah nikah sama duda tua itu."
"Kenapa nggak dari dulu kamu bilang cinta ke dia?"
"Waktu itu gue belum punya apa-apa buat nembak anak orang."
"Memang harus punya apa-apa dulu biar bisa nembak cewek?"
"Bagi gue itu suatu keharusan."
Rania tak berbicara lagi. Lagipula dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan.
Rania temani Rey menggalau malam ini. Entah sampai jam berapa nanti. Pukul sebelas malam belum ada tanda-tanda Rey mengajaknya untuk turun.
Matanya sudah terasa pedas karena mengantuk. Berkali-kali Rania menguap tapi Rey tak peka juga.
"Masih lama nggak di sini?"
Rey menatap Rania sekilas. Lalu kembali memandang langit yang hitam kelam. "Kenapa? Lo ngantuk?"
"Iya," jawab Rania tanpa basa-basi.
"Mau check in sama gue?"
Mendengar pertanyaan semacam itu, Rania mengepalkan kedua tangannya. Rasanya begitu kesal mendengarnya.
Mulut seperti barang seret lalu diberi oli. Lancar tak terkendali. "Kalau bunuh orang nggak dosa nggak dipenjara, aku udah dorong kamu biar jatuh ke bawah sana."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Rania pergi meninggalkan Rey begitu saja.
Rania merasa bodoh malam ini. Bisa-bisanya dia benar-benar menemani Rey saat Rey memintanya.
__ADS_1
Harusnya dia tidak peduli dan membiarkan Rey di sini sendiri. Bukan malah duduk dengan tampang bodoh. Rela menahan kantuk hanya untuk manusia macam Rey.
🌻🌻🌻