
Belva memandangi wajah anak-anaknya yang tengah tertidur lelap. Sepuluh hari lamanya mereka berpisah dengan Belva, membuat mereka tak ingin berpisah dengan Belva semenjak Belva sampai di Jakarta.
Bahkan tidur pun meminta Belva yang menemani mereka dalam satu kamar dengan Belva yang berada di tengah-tengah keduanya.
Ketika Gina dan Zurra sudah tertidur lelap, Belva mengambil kesempatan untuk menegakkan tubuhnya yang terasa pegal lalu bersandar pada kepala ranjang.
Belva berdoa agar dia diberikan umur yang panjang agar selalu bisa mendampingi anak-anaknya.
Di usianya yang sudah cukup dewasa saja rasanya begitu berat kehilangan kedua orangtuanya sekaligus dalam satu waktu. Belva tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada anak-anaknya.
Tak bisa membayangkan bagaimana perasaan anak-anaknya jika seandainya Belva tidak diberikan umur yang panjang untuk menemani mereka bertumbuh.
Gina yang sudah merasakannya. Kehilangan seorang ibu ketika usianya masih sangat kecil. Belva tau hati Gina sedih. Dia pasti kehilangan penopang hidupnya pada saat itu. Dan Belva tidak ingin hal tersebut kembali terjadi, atau akan terjadi pada Zurra.
"Ya Allah... Panjangkan umurku dan umur suamiku. Agar kami bisa membersamai anak-anak kami. Ijinkan kami agar menua bersama ya Allah," ucap Belva dalam hati.
***
Untuk menghibur hatinya yang agar tidak terus menerus merasa sedih, Belva mulai mempersiapkan keperluan untuk kelahiran anak keduanya. Anak kedua yang lahir dari rahimnya sendiri karena masih ada Gina yang menjadi anak pertama Gilang.
Karena anak yang dikandung Belva kali ini diprediksi laki-laki, Belva mencari barang-barang baru untuk calon bayinya.
Lagipula baju-baju Zurra sewaktu bayi sudah dia serahkan kepada asisten rumah tangganya, barangkali ada saudara yang membutuhkan pakaian tersebut.
Dulu baju-baju Zurra juga didominasi dengan warna pink. Dan Gilang sebagai ayah tidak mau jika anak lelakinya nanti memakai barang berwarna pink.
Padahal, itu hanya sebuah warna. Bagi Belva tidak masalah juga lelaki memakai baju atau sesuatu yang berwarna pink.
Tapi jika itu yang jadi kemauan bapak negara, Belva bisa apa selain menurutinya?
Kali ini Belva tak ditemani oleh Gilang. Tapi ditemani oleh April, istri Juan yang sudah resign dari kantor Gilang setelah melahirkan anak pertamanya dengan Juan tiga tahun yang lalu.
April juga tengah mengandung anak keduanya dengan Juan. Jarak usia kehamilannya dengan Belva hanya beberapa Minggu saja.
Itu yang membuat keduanya memutuskan untuk pergi belanja bersama. Mempersiapkan keperluan kelahiran anak mereka.
"Kak April, ini bagus nih," ucap Belva sambil mengangkat sebuah baju bayi berwarna pink.
Anak kedua April dan Juan kemungkinan adalah perempuan, sesuai dengan hasil USG yang dilakukan.
"Eh, iya, lucu banget."
"Ambil, Kak! Aku lihat tadi cuma satu itu aja."
"Oke."
Harusnya tadi April menolak berbelanja dengan Belva kalau seperti ini caranya. Semua yang dibeli April Belva yang membayarnya.
__ADS_1
Semuanya tanpa terkecuali. Untung saja barang yang diambil April tidak terlalu banyak. Tak sebanyak milik Belva lebih tepatnya.
Apalagi sekarang Belva masih mengajaknya makan di restoran Padang yang harganya diatasi rata-rata.
"Kak April nggak pengen kerja lagi?" Belva memulai obrolan sambil menikmati makanan yang sudah dihidangkan.
"Pengennya, Bel. Tapi Abang pengennya aku fokus ngurus anak-anak. Apalagi sekarang orangtua aku udah nggak tinggal bareng lagi sama aku."
"Terus mereka tinggal dimana kalau nggak tinggal bareng Kak April dan Kak Juan?"
"Di Surabaya. Aku itu kelahiran Surabaya, Bel. Orangtua aku asli Surabaya semua. Ke sini karena aku merantau aja."
Belva berpikir sejenak mendengar April asli Surabaya. Baru dia tahu sekarang. Belva pikir April asli Jakarta.
Hampir saja Belva berkata bagaimana kalau April bekerja saja di kantor Papanya? Tapi mengingat Juan adalah orang kepercayaan Gilang, dan tidak mungkin Gilang setuju tangan kanannya itu pindah ke Surabaya, Belva urung memberikan usul.
Tidak mungkin juga Belva menyuruh April dan Juan untuk long distance marriage. Belva sudah pernah merasakannya dan itu tidak enak sama sekali.
Apalagi April dan Juan sudah memiliki anak. Tidak kemungkinan itu semakin bertambah.
"Kenapa, Bel?"
"Ah, enggak, Kak. Habis ini aku mau ke kantor. Kak April mau ikut?"
April menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bel. Nggak enak mau kesana nyamperin suami kerja."
***
Kedatangan Belva di kantor Gilang mendapat sambutan yang sangat baik dari para karyawan Gilang.
Belva memang dikenal baik hati oleh karyawan di kantor tersebut. Tak jarang ketika mereka lembur, tiba-tiba ada kiriman makan malam atau sekedar cemilan untuk menemani mereka bekerja. Dan itu Belva yang mengirimkannya.
Belva juga mau berbaur meskipun banyak yang memandang status mereka berbeda.
Biasanya saat jam istirahat tiba, dan ada karyawan yang sedang makan siang di pantry, Belva ikut duduk bersama mereka. Mengobrol panjang lebar dan tertawa bersama.
Hampir sebulan lamanya Belva tidak berkunjung ke kantor Gilang. Hal itu membuat mereka rindu dengan keberadaan Belva.
Ucapan belasungkawa masih diberikan meskipun sebenarnya Belva tak ingin mendengar kata turut berbelasungkawa. Tapi demi menghargai mereka, Belva mencoba memasang wajah baik-baik saja.
Belva naik ke lantai tempat ruangan Gilang berada.
Ketika dia hampir memutar handle pintu, di saat yang bersamaan pintu tersebut terbuka lebar.
Lalu keluarlah seorang wanita seksi diikuti Juan dan seorang lagi yang tidak Belva kenali.
Wanita itu menatap Belva dengan sinis. Lalu berlalu pergi begitu saja tanpa menyapa Belva.
__ADS_1
"Sayang?" Panggil Gilang menyadari Belva berdiri di depan pintu.
Raut wajah Belva berubah datar. "Dia siapa?" tanya Belva dengan ketus. Mungkin efek hormon kehamilannya dia mudah sensitif. Apalagi dengan tatapan sinis seperti tadi.
"Rekan bisnis, Sayang."
"Seksi begitu penampilannya? Baju belum jadi udah dipakai aja. Nggak punya baju yang lebih sopan apa buat ketemu rekan bisnis?"
"Kenapa, sih, judes banget? Cape, ya? Mas pijitin yuk."
"Dia suka sama Mas Gilang, ya?"
Gilang mengangkat satu alisnya. "Kenapa mikir sampai situ, sayang?"
"Dia natap aku sinis banget, Mas. Ngaku, deh. Dia suka, kan, sama kamu?"
"Dia, sayang. Mas enggak."
"Tuh, kaaannn..." Hati Belva semakin kesal dibuatnya. "Kalian itu sering ketemu. Nggak menutup kemungkinan Mas suka balik sama dia."
"Hati-hati, kalau bicara, Sayang. Mana ada Mas suka sama dia? Seksi juga kamu, cantikkan juga mamanya anak-anak ini."
Gilang berusaha menjawil dagu Belva. Tapi Belva menolehkan kepalanya untuk menepis tangan Gilang.
"Dia udah ngapain aja buat godain Mas Gilang?"
Gilang menghembuskan napas dengan pelan. Menghadapi istri yang sedang cemburu memang harus sabar.
"Pakai pakaian kurang bahan. Belahan dadanya kelihatan seperti yang kamu lihat tadi, Sayang. Udah gitu aja. Oh, iya. Dia terang-terangan bilang suka sama Mas. Tapi Mas tolak mentah-mentah karena Mas sudah punya bidadari di rumah."
"Pasti Mas Gilang merem melek, kan, lihat gunungnya yang hampir meledak itu?"
"Masih menggoda punya kamu, Sayang. Tadi Mas udah mau telepon kamu biar datang, loh. Eh, taunya udah di depan aja. Tau aja kalau Mas lagi kangen."
"Buat apa nyuruh aku datang? Biar bisa lihat Mas dipamerin gunung tumpah itu?" Nada bicara Belva masih ketus. Gilang juga hampir tertawa mendengar perumpamaan yang Belva katakan.
"Saya mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Jika salah seorang dari kalian terpikat wanita lain dan menimbulkan gejolak dalam hatinya, segeralah ia menumpahkan hasratnya pada istrinya. Karena yang demikian itu dapat menenteramkan gejolak hatinya.' Itu yang pernah Mas baca, Sayang."
"Berarti tadi Mas bereaksi, dong, lihat itu gunung?"
"Mas laki-laki normal, Sayang. Makanya sebelum setan berhasil menggoda Mas, Mas udah suruh wanita itu pergi. Dan Mas mau telepon kamu. Mas juga membatalkan rencana untuk bekerja sama dengan wanita itu, Sayang. Udah, dong, jangan ketus begini."
Gilang menarik pelan tubuh Belva untuk dia peluk. Bersyukur karena Belva tak lagi menolak sentuhannya setelah Belva melihat wanita yang bernama Aleta itu keluar dari ruangannya.
Keduanya pun masuk ke kamar pribadi Gilang yang ada di ruangan tersebut. Atas permintaan Gilang tentu saja.
Apa yang terjadi, sudah tidak perlu dijelaskan lagi. Ada kesempatan jangan sampai disia-siakan.
__ADS_1
🌻🌻🌻