
"Sayang, Mikha koma setelah melahirkan si kembar. Kamu ke Jakarta ya, Sayang. Maaf kakak nggak bisa jemput."
Hari terakhir kuliah sebelum liburan, Belva justru mendapatkan kabar yang mengejutkan. Antara bahagia dan sedih, Belva tidak tahu apa yang harus dia rasakan sekarang.
Belva tentu bahagia ketiga keponakannya lahir ke dunia. Tapi di sisi lain, Belva sedih mendengar Mikha yang koma setelah melahirkan.
Kenapa? Selama ini, saat mereka mengobrol di video call, Mikha selalu mengatakan kalau kehamilannya normal. Tentu ada harapan besar agar Mikha dan triplets lahir dengan sehat dan baik-baik saja.
Sejak lima bulan yang lalu, tepatnya saat Belva dan Gilang berbaikan karena pertengkarannya yang disebabkan oleh Gilang yang lebih memilih menuruti keinginan Mikha, Belva sudah mencoba untuk menerima semuanya.
Dan memperbaiki hubungannya dengan Mikha meskipun sebenarnya masalah ada pada Belva sendiri.
Jadwal keberangkatan ke Jakarta yang harusnya lusa pun harus Belva majukan siang ini juga. Tiket untuk ke Jakarta sudah dipesankan Gilang melalui aplikasi.
Setelah berpamitan kepada kedua orangtuanya, Belva segera menuju bandara agar bisa masuk ke pesawat tepat waktu.
Andai bisa, Belva untuk menghilang saja agar bisa langsung sampai ke Jakarta. Setiap waktu yang berjalan terasa lebih lama. Belva panik sendiri dibuatnya.
Sesampainya di Jakarta, Gilang sendiri yang menjemput Belva di bandara.
Belva langsung memeluk erat Gilang. Tak peduli mereka sedang berada di tempat umum. Kalau kangen, tidak peduli tempat dan waktu. Apalagi sejak dua Minggu yang lalu mereka belum bertemu lagi.
"Kangen, Kak," ucap Belva manja.
Gilang mencium kening Belva dan kembali memeluknya lagi. "Kakak juga kangen, Sayang. Tapi kayaknya di mobil aja, yuk, pelukannya. Nggak malu dilihatin orang-orang?"
Reflek Belva melepaskan pelukannya. Lalu tersenyum malu mendengar ucapan Gilang. "Ya udah, yuk."
Keduanya bergandengan tangan menuju parkiran. Tangan Gilang yang satunya menyeret koper besar milik Belva. Rencananya, selama liburan kuliah, Belva akan berada di Jakarta.
"Kita langsung ke rumah sakit, ya, Kak."
"Nggak pulang dulu aja, Bel?"
"Pengen lihat Kak Mikha dulu. Lagian Mama sama Papa pasti juga ada di sana, kan?"
Gilang mengangguk membenarkan. Semua orang sedang menunggu Mikha di rumah sakit. Kalau Mikha sadar, mereka tidak akan melewatkannya.
Sebagai adik ipar sekaligus mantan suami Mikha, tentu Gilang turut merasa sedih dengan apa yang dialami Mikha sekarang. Selama ini dia lihat sehat-sehat saja. Lalu kenapa bisa koma setelah melahirkan begini?
Sesampainya di rumah sakit, Belva dan Gilang langsung menuju ke ruang ICU, tempat dimana Mikha mendapatkan perawatan.
Ada Papa dan Mama mertua Belva. Juga ada kedua orangtua Mikha di sana. Ini pun pertama kalinya Belva melihat kedua orangtua Mikha.
"Belva?" Yunita segera menyambut kedatangan Belva dengan sebuah pelukan hangat. Lama sudah mereka tidak bertemu. Rindu itu pasti ada.
__ADS_1
"Mama apa kabar?"
"Mama sehat. Kamu juga sehat, kan, Sayang?"
Belva tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Belva sehat, Ma."
Setelah menyalami Papa mertuanya dan berbincang sedikit sekedar menanyakan kabar, Belva dikenalkan oleh Yunita kepada mantan mertua Gilang, alias kedua orangtua Mikha.
"Wira, Feni. Kenalkan, ini istrinya Gilang. Belva namanya."
Feni pun menyambut hangat Belva. Kendati hati dan pikirannya sedang tidak baik-baik saja karena separuh nyawanya ada di dalam ruang ICU berjuang antara hidup dan mati, tapi tak membuat Feni kehilangan keramahannya kepada orang lain.
"Cantik. Lebih cantik aslinya daripada di foto," ucap Feni memuji Belva.
"Tante udah pernah lihat saya di foto?"
Feni mengangguk mendengar pertanyaan Belva. "Mikha yang kasih lihat waktu kalian baru saja menikah. Maaf, ya, Tante waktu itu nggak bisa datang. Tante sama Om baru di Batam waktu itu. Mendadak, sih, menikahnya."
"Nggak apa-apa, Tante."
"Lagian nanti masih ada resepsi, kok, Ma," sambung Gilang yang membuat Belva sedikit tercengang. Panggilan Gilang kepada Feni masih Mama. Mau cemburu, tapi kenyataan membuat Belva berpikir kenapa dia harus cemburu?
Gilang sudah mencintainya. Mikha sendiri sudah bahagia dengan Gavin. Belva berpikir positif. Panggilan tersebut hanya sebuah bentuk keakraban saja karena hubungan mereka yang dulu pernah begitu dekat.
"Oh, ya? Kapan, nih, resepsinya?"
Mendengarnya, Belva tersenyum sungkan.
"Kenapa, kok, belum mau, Bel?" tanya Feni penasaran.
"Nanti dibicarakan lagi, Tante. Kemarin ada suatu hal yang membuat saya belum mau untuk dilakukan resepsi."
"Oh, begitu. Lebih baik disegerakan, ya, Sayang. Biar nggak jadi fitnah nantinya."
Belva tersenyum sungkan lagi. "Iya, Tante. Saya mau lihat Kak Mikha dulu boleh?"
"Boleh, dong, sayang. Tapi ijin dulu sama Gavin, ya, buat gantian. Nggak bisa banyak-banyak yang masuk ke dalam. Sejak kemarin dia nggak mau ninggalin Mikha sendiri."
Belva mengangguk mengiyakan.
Setelah Feni berbicara dengan Gavin, tak berselang lama pun Gavin keluar, lalu mempersilahkan Belva untuk masuk ke dalam.
"Hai, Kak," sapa Belva pada Mikha. "Aku seneng, deh, triplets sudah lahir. Nanti, deh, aku lihat mereka di ruang bayi," ucapnya yang hanya berbalaskan kesunyian. Mikha masih tetap memejamkan matanya.
"Tapi aku juga sedih lihat Kak Mikha seperti ini. Kakak cepat bangun, ya. Triplets butuh maminya."
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau dulu aku sempat kesal, bahkan benci dengan Kak Mikha. Tragedi matoa." Belva tertawa kecil. "Tapi sekarang aku udah nggak marah lagi, kok. Kak Gilang udah cinta sama aku katanya," lanjutnya, lalu tertawa lagi.
"Aku di Jakarta lama, loh, Kak. Nanti kalau kakak udah sehat, kita jalan-jalan berdua, ya. Triplets di titip ke papinya sama Om-nya aja."
"Kakak cepat bangun, ya. Aku keluar dulu karena nggak bisa lama-lama di sini. Kak Gavin tadi nggak rela banget ninggalin kakak biar aku bisa masuk. Bucin banget, deh, memang."
Belva mencium pipi Mikha sebelum dia keluar dari ruang ICU.
Lalu mengajak Gilang ke ruang perawatan bayi untuk bisa melihat triplets. Meskipun mereka hanya bisa melihat dari luar jendela, itu tak jadi masalah bagi Belva.
"Lucu, ya, mereka?" ucap Gilang dengan penuh kekaguman. "Kakak jadi pengen kamu cepet hamil, Sayang," lanjut Gilang.
Belva hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab apapun. Dia pun merasa bersalah karena sampai sekarang belum bisa memenuhi keinginan Gilang yang menginginkan agar dia segera hamil.
"Apa kita periksa aja ya, Sayang? Mumpung di rumah sakit."
"Periksa apa?" Belva mengerutkan keningnya. Memandang Gilang dengan penuh tanya.
"Periksa ke SpOG. Mungkin ada masalah diantara kita. Bisa kita obati dan bisa segera program hamil."
"Jadi kakak pikir aku nggak sehat karena nggak kunjung hamil?"
"Kakak bilang kita, Sayang. Bukan kamu."
Belva menggelengkan kepalanya. Kedua tangannya berada di genggaman tangan Gilang. "Kita menikah belum lama, Kak. Jarang juga melakukan "itu" karena kita LDR. Anggap aja kita lagi disuruh pacaran. Pacaran setelah menikah begitu. Nanti kalau udah waktunya, pasti dikasih hamil, kok," ucap Belva yang mulai bijak.
Ah, makan apa Belva tadi? Atau otak bandelnya tertinggal di pesawat? Syukurlah kalau memang tertinggal di pesawat. Haha!
"Kalau gitu, mumpung kamu libur, kakak akan jadwalkan waktu kakak agar bisa pergi honeymoon. Gimana?"
"Ih, kakaknya baru sakit juga. Udah mikir honeymoon aja, sih?"
"Honeymoon nggak harus pergi jauh-jauh kalau ujung-ujungnya cuma di kasur aja, Sayang. Check in dari hotel ke hotel juga bisa."
"Ih, kakak."
"Gimana? Mau nggak?" Gilang menaikturunkan alisnya menggoda Belva.
Sedangkan Belva melipat bibirnya ke dalam, menahan senyum malunya.
Mungkin memang sudah saatnya Belva memberikan anak kepada Gilang. Meskipun masih ragu apakah dia mampu menjalaninya atau tidak. Tapi selama ada Gilang, Belva akan tenang.
Hati manusia siapa yang tahu. Kemarin berpikir ini, sekarang berpikir itu. Dan hanya Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia.
Seperti yang tengah Belva alami sekarang.
__ADS_1
🌻🌻🌻