
Belva mulai merasakan kontraksi di usia kehamilan yang memasuki tiga puluh delapan Minggu. Hal yang tak pernah dia duga sebelumnya.
Menurut prediksi dokter, bayinya akan lahir sekitar dua Minggu lagi.
Belva mencoba untuk tetap tenang di saat kontraksi itu mulai datang setiap sepuluh menit sekali.
Dengan tetap berusaha rileks sambil memasukkan baju-baju bayinya ke dalam tas dan akan di bawa ke rumah sakit.
Sedangkan Gilang sendiri masih ada di kantor sampai nanti sore.
Sejak memasuki trimester tiga, Belva sudah rutin melakukan yoga dan latihan pernafasan. Dilatih bagaimana agar bisa tetap tenang meskipun kontraksi sudah datang.
Belva yakin kali ini bukan kontraksi palsu seperti yang sudah dia rasakan sebelumnya. Kedatangannya yang rutin membuat Belva yakin bahwa sebentar lagi dia akan melahirkan.
"Ma, kayaknya aku udah mau lahiran, deh," ucapnya saat menelepon Vita.
"Kok, cepet? Katanya sekitar dua Minggu lagi? Tau gitu Mama nggak usah ikut Papa ke Singapura, dong."
"Ya aku nggak tau, Ma. Namanya juga prediksi dokter. Bayinya mau lahirnya sekarang ya gimana, dong?" balas Belva sambil berusaha untuk tetap mengatur napas.
"Terus ini Mama harus gimana, dong? Balik ke Jakarta sekarang udah nggak dapat tiket." Suara Vita yang sedang berada Singapura itu terdengar begitu panik.
"Mama balik besok juga nggak apa-apa, kok. Kan, ada Mama Yunita juga di sini."
"Tapi itu cucu pertama Mama, Bel. Masa Mama nggak dampingi kamu?"
"Enggak apa-apa, Ma. Yang penting doanya, ya? Ini aku lagi siap-siap mau ke rumah sakit. Baju-baju bayinya baru aku masukin ke tas."
"Cepet telepon Mama kamu dan Gilang, ya, Bel. Mama khawatir kalau kamu nggak cepet-cepet ke rumah sakit nanti brojol di rumah."
"Iya, Ma. Habis ini telepon Mas Gilang."
"Nanti video call ya, Sayang. Kabarin Mama terus. Jangan bikin Mama kepikiran di sini."
Belva tertawa kecil. "Iya, Ma. Nanti Belva kabarin terus."
Setelah menelpon Vita, Belva segera menelepon Yunita. Entah kenapa Belva memelih menelepon Yunita terlebih dahulu daripada Gilang.
Mungkin karena Gilang yang sekarang gampang panik yang membuat Belva tak ingin mengabari Gilang sekarang.
Yunita sama paniknya dengan Vita. Tanpa berpikir panjang, dia langsung on the way ke rumah Belva untuk membantu mempersiapkan semuanya.
Setelah selesai menelepon Yunita, Belva baru menelepon Gilang. Namun dia tidak mengatakan kalau sudah kontraksi secara rutin.
__ADS_1
"Mas Gilang pulang jam berapa?"
"Ini mau pulang, Sayang. Kamu mau dibelikan apa?"
"Enggak pengen apa-apa, Mas. Mas Gilang cepat pulang aja, ya. Aku kangen."
Gilang tertawa kecil. "Iya, deh. Mas pulang sekarang."
Setengah jam berlalu, Yunita datang dengan segala omelannya. Yunita tak memarahi Belva. Tapi Yunita memarahi asisten rumah tangga Belva yang bisa-bisanya tidak tahu kalau Belva sudah mulai kontraksi dan menyiapkan semuanya sendiri.
"Mama kenapa marah-marah?" tanya Belva.
"Masa si Marni nggak tau kalau kamu mau lahiran, Bel? Mana nyiapin semuanya sendiri begini? Kamu nggak bilang ke Marni kalau perut kamu udah kontraksi, Bel? Kalau ada apa-apa gimana coba kamu sendirian di sini?"
Belva tau Yunita tidak benar-benar marah. Tapi dia hanya khawatir kepada Belva yang baru akan pertama kalinya melahirkan.
"Nggak kepikiran buat bilang ke Mbak Marni, Ma."
"Ya sudah. Kita ke rumah sakit sekarang, ya."
"Nungguin Mas Gilang dulu, Ma. Dia baru perjalanan pulang."
Mendengar Belva mengatakan Gilang masih dalam perjalanan, Yunita semakin naik darah. "Bisa-bisanya dia nggak jadi suami siaga, Bel? Kok, bisa dia masih ada di perjalanan?"
"Belva baru telepon Mas Gilang setelah Belva telepon Mama. Itupun Belva nggak bilang kalau Belva udah mulai kontraksi. Mas Gilang itu gampang panik, Ma. Kalau dia panik terus ada apa-apa di jalan, kan, malah repot juga."
"Ya udah kamu duduk aja, Bel. Mama yang selesaikan semuanya."
Belva tak membantah. Dia kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Sedikit terasa nyaman meskipun tak berlangsung lama karena kontraksi itu kembali datang.
Satu tangannya mencengkram erat bantal yang dipakainya dan tangan satunya mengusap perut bawahnya dengan pelan.
"Sayang? Ya Allah..." Gilang terlihat begitu panik saat dia masuk ke kamar.
Belva tak tau pasti kapan mobil Gilang masuk ke halaman rumah. Belva sibuk mengatur napas setiap kontraksi datang.
"Sakit, Mas." Baru dengan Gilang dia berani mengatakan kalau yang dia rasakan itu sakit.
Sedangkan di depan Yunita dia tak berani. Hanya dengan Gilang Belva merasa nyaman meskipun ibu mertuanya juga memberikan ketenangan.
"Iya. Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Atur napasnya seperti yang sudah diajarkan waktu yoga kemarin."
Dugaan Belva kalau Gilang akan panik ternyata salah. Wajah dan sikap Gilang justru terlihat tenang meskipun dalam hatinya sudah panik luar biasa.
__ADS_1
Gilang segera menggendong Belva untuk turun dan masuk ke dalam mobil.
"Jangan ngebut, Lang!" Yunita memperingatkan.
Gilang mengangguk tanpa menjawab apapun.
***
Setelah dilakukan pemeriksaan, Belva baru mengalami pembukaan lima. Bayinya diperkirakan akan lahir di jam delapan malam nanti.
"Sakit, Mas," ucap Belva hampir menangis. Kuku-kuku tangannya mencakar tangan Gilang.
Meskipun sedikit perih, namun Gilang yakin sakitnya tak seberapa dibandingkan dengan sakit yang Belva rasakan.
Tangan Gilang yang bebas dari genggaman Belva mengusap punggung Belva untuk membantu meringankan rasa sakit yang Belva rasakan. Yah, meskipun efeknya tak seberapa bagi Belva.
"Aku nggak mau hamil lagi setelah ini, Mas. Sakit banget...."
Gilang hampir protes. Tapi sadar kalau Belva kini tengah berjuang, Gilang urung melakukannya. Gilang hanya mengangguk mengiyakan saja.
Gilang yakin ini hanya ucapan spontan saja karena sakit yang dia rasakan. Kalau memang wanita akan merasa kapok dengan rasa sakitnya, tidak mungkin orang-orang akan memiliki banyak anak. Bahkan ada juga jaraknya yang berdekatan.
"Mas Gilang janji jangan hamilin aku lagi. Sakit banget, Mas. Huhu..."
Sekali lagi Gilang hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dalam hati dia tidak janji untuk tidak melakukannya.
Belva semakin terlihat seksi saat dia tengah hamil. Semakin mempesona dengan perut besarnya.
"Sakit, Mas. Aku nggak kuat."
"Sabar, ya, Sayang. Kata dokter sebentar lagi, kok."
"Ini gara-gara kamu, Mas. Yang hamilin aku, kan, kamu."
"Iya. Yang hamilin kamu Mas, Sayang. Maaf, ya."
"Nggak usah minta maaf orang akunya juga mau."
Bukannya tegang, suasana di ruang bersalin justru penuh dengan tawa kecil.
Beberapa perawat, bidan dan dokter yang akan membantu persalinan Belva justru tertawa mendengar ucapan Belva.
"Pembukaan sudah lengkap. Siap, ya, Mbak Belva?"
__ADS_1
🌻🌻🌻
Lagi males ngedit 🙂🙂