Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 51


__ADS_3

"Anda yang bernama Gilang?"


Gilang menganggukkan kepalanya. Masih terheran-heran melihat tiga orang polisi berdiri depan rumahnya. "Benar. Ada apa, ya, Pak?" tanya Gilang.


"Kami membutuhkan keterangan dari anda mengenai menghilangnya Belva, istri anda."


Tatapan penuh tanya dilayangkan Gilang kepada polisi tersebut. "Saya bahkan sedang mencarinya juga, Pak."


"Karena kami menemukan mobil Belva ada di kediaman kalian di Jakarta. Tapi sayang, tidak ada tanda-tanda Belva di sana."


"Apa?" Gilang terperangah tak percaya.


Lalu kemana perginya Belva? Mobilnya ada di Jakarta tapi tidak ada Belva di sana.


"Mari, ikut kami ke kantor."


Gilang mengangguk tanpa basa-basi. Namun dia memilih mengendarai mobilnya sendiri daripada harus masuk ke dalam mobil polisi.


Dirinya bukan seorang narapidana yang harus dijemput paksa dan dimasukkan ke dalam mobil polisi.


Sesampainya di kantor polisi, Gilang kembali ditanyai pertanyaan seputar mengapa mobil Belva bisa ada di Jakarta.


"Saya tidak tau apa-apa, Pak. Memang sebelumnya kami ada masalah. Tapi saya tidak mungkin menculik dan menyembunyikan istri saya sendiri. Saya saja kebingungan mencari dia, Pak."


"Apakah di rumah anda terdapat cctv?"


Gilang menggelengkan kepalanya. "Kami belum sempat memasangnya karena memang rumah itu jarang sekali kami tempati. Barang-barang berharga juga tidak terlalu banyak. Jadi saat itu, kami rasa kami tidak perlu memasang cctv. Dan saya yakin, ini adalah jebakan untuk saya."


"Maksud anda?"


"Belva diculik di saat kami sedang ada masalah. Lalu, atas tujuan apa mobilnya diletakkan di rumah kami yang ada di Jakarta sedangkan tidak ada Belva di sana? Apa tujuannya kalau bukan untuk menjebak saya, Pak? Membuat narasi seolah-olah saya yang menculik istri saya sendiri."


Penyidik mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Gilang.


"Apakah selama ini Belva memiliki musuh?"


"Setau saya tidak, Pak. Tapi saya juga tidak terlalu tau circle pertemanan Belva karena selama ini kami lebih banyak LDR. Tapi Belva juga tidak pernah bercerita kalau seandainya ada yang memusuhi Belva. Saya yakin ini bukan perbuatan orang luar, Pak."


"Maksud Pak Gilang?"


"Yang melakukannya, pasti sudah mengenal saya maupun Belva secara dekat. Sampai dia tau keberadaan rumah saya yang ada di Jakarta."


"Kira-kira, siapa yang anda pikirkan yang telah melakukan penculikan ini?"


Gilang menggelengkan kepalanya. "Saya tidak berani menuduh siapa, Pak. Kalau bukan dia pelakunya, bisa-bisa saya yang dilaporkan atas tuduhan pencemaran nama baik."

__ADS_1


Penyidik mengangguk paham dengan jawaban-jawaban yang diberikan Gilang atas pertanyaannya.


Setelah dicerca dengan beberapa pertanyaan mengenai Belva, polisi mempersilahkan Gilang untuk kembali pulang. Namun polisi tidak melepaskannya begitu saja. Gilang akan tetap diawasi setiap gerak-geriknya. Jika memang Gilang terlibat dalam penculikan Belva, maka ketentuan hukum akan tetap berlaku jika ada tuntutan dari pihak keluarga. Meskipun Gilang adalah suami Belva sendiri.


Setelah keluar dari kantor polisi pun, Gilang tak langsung pulang ke rumah. Tapi ke kampus Belva untuk menemui Rania maupun Indra. Barangkali mereka sudah tau dimana keberadaan Belva.


🌻🌻🌻


"Kapan kakak mau ngantar aku pulang?"


"Kenapa memangnya? Sudah rindu dengan suamimu yang kurang ajar itu?"


"No! Aku kangen sama Mama dan Papa. Mereka pasti khawatir banget sama aku, Kak."


"Itu akan menjadi urusan kakak. Kamu mau mereka datang ke sini?"


"Memangnya boleh?"


"Tentu saja boleh."


Belva tak menghilang. Dia juga tidak diculik. Hanya saja mungkin caranya yang mirip dengan penculikan.


Belva tak menolak ketika Reynaldi, atau yang kerap di sapa Kak Rey oleh Belva, mengusulkan agar Belva menghilang untuk beberapa saat.


Pergi sejenak dari dunianya yang begitu menyesakkan.


Reynaldi, kakak sepupunya. Dia sudah lima tahun tidak pulang ke Indonesia karena kuliah di Kanada.


Pulang-pulang justru membawa Belva pergi karena Rey pun mengetahui semua yang terjadi pada Belva saat ini. Entah dari mana dia bisa tau.


Sebenarnya Rey sangat menyayangkan keputusan Belva untuk menikah di usia muda. Apalagi dengan duda tua macam Gilang.


Sayangnya, mencegah pun tidak bisa karena saat Rey mendengarnya, Belva sudah resmi menikah dengan Gilang.


Kepulangan Rey pun karena kekesalannya mendengar masalah Belva dengan suaminya. Rey merasa tidak terima dengan perlakuan Gilang terhadap Belva yang sebenarnya sangat dia cintai.


Sayang, belum sempat menyatakan cintanya, Belva sudah menikah dengan lelaki lain.


Andai tidak mengulur waktu untuk pulang, tentu Rey bisa memiliki Belva saat ini. Tidak peduli bahwa status mereka itu saudara sepupu.


Sekali cinta, Rey akan memperjuangkannya.


Beda cerita jika Belva sudah menikah seperti ini. Rey hanya bisa menunggu status janda Belva nantinya.


Anggaplah Rey jahat karena mendoakan Belva bercerai dengan Gilang. Tapi Rey rasa memang lebih baik seperti itu daripada Belva tersiksa hatinya karena menikah dengan duda kurang ajar itu.

__ADS_1


Sudah untung Belva dan keluarganya tidak mempermasalahkan bagaimana pun masa lalunya. Tapi dia malah berulah menyakiti Belva dan tentu sangat mengecewakan kedua orangtua Belva.


"Kakak yakin suami tuamu itu sudah diperiksa karena pasti mereka sudah menemukan mobil kamu, Bel."


"Hmm." Respon Belva hanya gumaman kecil. Sebenarnya dia malas mendengar kata suami meskipun ada setitik rindu di dalam hatinya.


Tapi mengingat apa yang sudah dikatakan Gilang kepadanya, rasa benci itu tetap menguasai hati. Mengalahkan rasa cinta dan rindunya itu.


"Kasian sekali. Dia pasti kesal karena dianggap dialah yang menculik anak kecil ini."


"Kakak, ih, sakit tau!" Belva merengut kesal saat Rey mencubit pipi tembamnya.


Rey tertawa kecil. "Mau petik strawberry nggak?"


Tadinya kedua mata Belva sudah berbinar bahagia. Tapi kembali meredup saat mengingat bahwa dirinya kini tengah bersembunyi. "Enggak, ah. Nanti ada yang lihat aku malah dilaporin ke polisi bilang kalau ada yang ngeliat aku di sini."


"Kan, bisa pakai masker untuk menutupi wajah kamu."


"Nggak mau. Sumpek tau pakai masker tuh."


Rey menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Kalau dia tetap berada di villa bersama Belva, Rey takut tidak bisa menahan dirinya.


Baginya, Belva semakin cantik saja di matanya.


Apalagi di beberapa bagian tubuhnya yang semakin berisi karena hamil.


Ah, lagi-lagi Rey menyesali keterlambatannya pulang ke Indonesia.


"Kakak kenapa?"


Belva keluar dari kamar mandi. Menegur Rey yang tengah mengusap wajahnya dengan kasar.


Rey semakin tertekan saat melihat Belva hanya memakai celana hot pants berwarna hitam.


Sudah berhari-hari Rey menahannya. Andai dia lelaki kurang ajar yang hanya mementingkan "itu" saja, pasti Rey sudah menggarap Belva habis-habisan.


Setiap malam Rey selalu ingin mendobrak pintu kamar Belva yang terkunci. Memeluk Belva dari belakang dan menciuminya tanpa henti.


"Enggak apa-apa. Kamu mau makan apa?"


"Pengen tempe mendoan aja yang anget."


"Kakak belikan dulu."


Belva menganggukkan kepalanya. Membiarkan Rey pergi membelikan apa yang dia mau.

__ADS_1


🌻🌻🌻


__ADS_2