
"Ibunya Regina kenapa, sih, Mas?"
"Kenapa apanya?"
"Dia berubah banget tau. Sebulan kita pergi pulang-pulang dia udah berubah gitu."
"Bukan urusan kita, Sayang. Udah, ah, lanjut belanja aja."
Gilang terlihat begitu cuek mengenai Viona. Apapun tentang Viona, Gilang tak lagi peduli kecuali hal itu menyangkut Regina.
Regina terlihat bahagia sekali berbelanja dengan Gilang dan Belva. Bahkan keduanya pun sampai lupa kalau tujuan mereka ke pusat perbelanjaan adalah untuk membeli perlengkapan bayi mereka.
Gilang tak hanya membelikan tas dan sepatu seperti apa yang dikatakan Viona tadi.
Ada banyak buku-buku mewarnai beserta pensil warnanya. Buku-buku cerita. Dan juga baju-baju untuk Regina.
Wajah anak itu terlihat bahagia sekali. Wajar, selama ini tidak pernah dia pergi belanja seperti ini. Dia mendapatkan barang-barang selama ini dari Amira yang pulang-pulang sudah membawanya.
"Tante, boleh Gina ambil ini?" tanyanya pada Belva dengan menunjuk satu buah mainan Barbie seri terbaru.
Mendengar Belva memanggilnya Tante, sedangkan memanggil Gilang dengan sebutan Papa, Belva sedikit merasa aneh.
Lagipula Gilang juga belum mengajarkan pada anak itu bagaimana dia harus memanggil Belva yang berstatus istri dari Gilang. Papa dari Regina.
Belva menganggukkan kepalanya. "Boleh. Ambil aja mana yang kamu mau."
"Terimakasih, Tante," balas anak itu dengan bahagia.
"Habis ini kita belanja untuk anak kita, ya, Sayang."
"Iya, Mas."
Belva tak mempermasalahkan jika Gilang lebih dulu belanja untuk Regina daripada keperluan anak mereka terlebih dahulu.
Karena sebenarnya Belva pun merasa enjoy menemani Regina membeli perlengkapan sekolahnya dan beberapa mainan seperti ini.
Seperti kakak dan adik, bukan?
Setelah selesai dengan keperluan Regina dan membayarnya, mereka bertiga berjalan menuju baby shop yang ada di tempat pusat perbelanjaan tersebut.
"Tante, boleh aku ikut memilih baju untuk adik bayi?" tanya Regina lagi.
Lagi-lagi Belva terlihat tak keberatan dengan keinginan Regina. "Boleh, dong. Pilih baju untuk adik perempuan, ya."
"Warna pink?"
Belva terkekeh kecil. "Boleh."
Warna pink memang selalu diidentikkan dengan anak perempuan. Padahal laki-laki pun bisa memakai warna pink.
Perlahan Belva pun juga bisa menerima anak itu. Menerima bahwa memang anaknya bukan anak pertama bagi Gilang.
Tak masalah. Selama hati Gilang tidak condong kepada salah satunya, Belva tak masalah. Dan yang terpenting, Gilang juga tidak peduli lagi dengan Viona seperti yang dikatakan Gilang tadi.
***
Sebelum pulang ke rumah, mereka lebih dahulu mengantar Regina ke rumah Risma. Regina tertidur lelap saat Gilang menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Semula Belva khawatir kalau Gilang masuk sendiri ke dalam rumah, Viona akan menggodanya lagi. Tapi Belva kembali dibuat terkejut dengan reaksi Viona yang terlihat biasa saja, bahkan wajahnya seperti malu melihat Belva dan Gilang.
Belva semakin dibuat penasaran tentang hal ini. Apa yang membuat Viona berubah seperti ini? Tapi Belva tidak sempat bertanya banyak pada Risma karena Gilang sudah lebih dulu mengajaknya pulang.
__ADS_1
***
"Baru pulang belanja, Bel?"
"Iya, Kak. Kakak udah lama di sini?"
"Belum. Baru seperempat jam yang lalu."
"Kak Mikha mendadak banget, sih, jadinya aku pas pergi, kan?"
"Enggak apa-apa kali, Bel."
Mikha membantu membawa barang belanjaan Belva dan membawanya masuk ke dalam kamar yang akan dijadikan kamar bayi.
Kamar itu sudah selesai di cat warna pink. Gilang langsung meminta Juan untuk mencari orang yang bisa mendekor kamar bayi mereka dengan waktu yang cepat.
Segala furniture belum sempat mereka beli tadi. Hanya pakaian bayi saja yang baru sempat dibeli.
"Belanja lama, kok, cuma dapat segini, Bel? Dulu aja gue kalap banget pas belanja baju-baju triplets."
Belva tertawa kecil. "Tadi belanja barang-barang untuk Gina dulu, Kak. Jadinya belum sempat beli banyak."
"Gina?"
Belva menganggukkan kepalanya.
"Kalian ketemu di mall?"
Belva mengangguk lagi. "Iya, Kak."
"Ketemu juga, dong, sama itu cewek ular?"
"Dia udah bukan lagi cewek ular tau, Kak."
"Dia berubah banget. Jadi pendiam. Ketemu Mas Gilang juga biasa aja nggak seagresif dulu."
"Jangan gampang tertipu sama wajahnya, Bel. Siapa tau itu bukan strategi dia aja."
"Tadi aku juga mikirnya gitu, Kak. Tapi pas ngantar Gina pulang, sikap dia sama. Wajahnya itu kayak menahan malu gitu, Kak. Mungkin dia malu dulu pernah kayak gitu ke aku dan Mas Gilang."
"Nggak yakin, sih, dia berubah."
"Semoga aja udah berubah beneran, Kak."
Mikha mengangguk dan tak banyak bicara.
Dalam hatinya pun sama dengan Belva. Semoga Viona memang benar-benar sudah berubah. Manusia pasti kehidupannya seperti roda yang berputar. Akan berubah di setiap waktunya.
"Oh iya, triplets kenapa nggak ikut, Kak?"
"Gue mau quality time sama Papinya."
Belva tertawa kecil. "Mau program untuk adiknya triplets, ya?"
Mendengar pertanyaan Belva, Mikha menghela napas panjang. "Andai Lo tau, Bel. Papinya triplets tau gue telat sehari aja udah panik banget. Dia nggak mau gue hamil lagi. Tau, kan, gue sempet koma waktu habis lahiran triplets kemarin?"
"Namanya juga orang panik, Kak. Kak Gavin sayangnya bukan main kalau kayak gitu. Dia nggak mau Kak Mikha kenapa-kenapa lagi."
"Tapi gue tetep mau hamil lagi, sih, Bel. Gue rasa dia harus beranjak dari rasa traumanya."
"Dalam waktu dekat? Triplets masih kecil-kecil loh."
__ADS_1
"Ya nggak sekarang juga kali, Bel. Tunggu triplets umurnya gedean dikit lah."
Beberapa saat kemudian, Gavin sudah sampai di kediaman Gilang dan Belva.
Mikha segera turun ke bawah untuk menyambut suami tercintanya yang sekarang bertambah seksi saja di matanya.
"Papiii..." teriak Mikha layaknya anak kecil. Lalu berlari memeluk Gavin dan mencium pipinya dengan lekat.
Belva saja heran melihat tingkah Mikha yang berubah semanja itu ketika bersama Gavin.
"Udah lama nunggunya? Maaf kakak lama."
"Enggak, kok. Tadi ngobrol dulu sama Belva. Jadi nggak karasa lama."
"Ready to go, Sayang?"
"Of course."
"Baju yang kakak pesan nggak lupa, kan?"
"Ya enggak, dong. Yang warna merah, kan?"
Belva dibuat melongo mendengarnya. Obrolan semacam itu dibicarakan di hadapan orang lain meskipun Belva dan Gilang itu adik mereka sendiri.
Tak ingin kalah dari Gavin dan Mikha, Gilang juga sudah memeluk pinggang Belva dengan erat. Mencium kening Belva dan berucap, "ayo, Sayang. Malam ini kamu juga harus pakai yang warna hitam."
Bukannya tersipu, Belva justru malu mendengarnya. Apalagi di hadapan Gavin dan Mikha yang hanya menertawakan ekspresi wajah Belva yang terlihat sangat malu.
🌻🌻🌻
Viona masih menunggu Hengky kembali. Hampir dua bulan lamanya dia pergi. Begitu saja tanpa berpamitan pada Viona.
Usianya memang jauh lebih tua darinya. Mungkin lebih pantas dia sebut ayah. Tapi sikap dan perhatiannya selama ini ternyata diam-diam telah membuat Viona ketergantungan.
Dia terbiasa dengan perhatian Hengky. Sehingga ketika Hengky pergi seperti ini, Viona resah sendiri.
Adzan Maghrib berkumandang. Viona segera beranjak untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Maghrib.
Sejak Risma menasehatinya beberapa waktu yang lalu, Viona mulai belajar sholat lagi. Viona juga sudah melupakan Gilang. Urusannya dengan Gilang saat ini hanya soal Regina.
Setidaknya saat Viona pergi sewaktu-waktu, Regina sudah ada Gilang yang menjaganya.
"Belum ada kabar soal Hengky, Vi?"
Viona tersenyum tipis mendengar pertanyaan Amira yang datang baru saja. "Belum."
"Mau cari dia ke Belanda enggak?"
"Enggak, ah. Regina gimana?"
"Ada bapaknya kali."
"Gue nggak punya uang buat nyusul dia ke sana, Mir."
"Pakai duit gue, deh. Ntar sampe sana gue minta ganti sama si Hengky."
"Gue pikir-pikir dulu, deh."
Sebenarnya tawaran Amira boleh juga, pikir Viona.
Tapi mencari tanpa alamat bagaimana bisa? Belanda itu luasnya bukan hanya satu RT. Bukannya ketemu, tapi malah jadi gelandangan di sana.
__ADS_1
🌻🌻🌻