
Belva tidak tahu bagaimana Gilang bisa tahu dia menginap dimana dan kamar berapa. Satu-satunya kemungkinan adalah Gilang mendengar percakapannya tadi dengan Yunita.
Jika Yunita memberitahu Gilang, Belva rasa itu tidak mungkin. Belva rasa Yunita paham kalau Belva belum ingin bertemu dengan Gilang.
Lelaki yang saat ini menjadi sang penguasa kamar itu tengah duduk bersandar di atas ranjang sambil memandangi Belva yang duduk di atas sofa dan terlihat cuek. Tak peduli ada Gilang di sana.
Padahal Belva sudah mengantuk. Rasanya ingin tidur dengan nyaman. Tapi ternyata si pengganggu itu datang merusak semuanya.
"Mau kemana, Sayang?"
Belva tak menjawab. Dia mengambil baju yang cukup pantas dia pakai untuk keluar kamar. Lalu masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Saat Belva keluar dari kamar mandi, Gilang sudah menunggunya di depan pintu kamar mandi. Belva saja hampir terjengkang saking terkejutnya andai saja Gilang tidak menahan tubuhnya.
"Lepas!" ucap Belva setelah dia kembali berdiri tegak.
"Kamu mau kemana, Bel? Kenapa ganti baju?"
"Silahkan kalau kamu mau tidur di kamar ini! Aku mau pesan kamar lainnya."
"Jangan gitu, dong, Sayang. Kita, kan, suami istri. Masa check in malah pisah kamar, sih. Nggak seru, dong."
"Geli banget dengerin omongan kamu. Yang check in aku, bukan kamu atau kita. Minggir!"
Bukannya minggir, Gilang justru menghimpit tubuh Belva kembali. Jantung Belva kembali dibuat berlompatan di dalam sana. Sebisa mungkin otaknya berusaha untuk tetap waras dengan tidak terpengaruh sedikitpun dengan godaan Gilang seperti ini.
Sekali lagi, Belva pun rindu dengan aroma tubuh Gilang.
Mungkin ini adalah ikatan antara Gilang dan anak yang dikandungnya. Rasanya ingin berada di pelukan hangat Gilang yang dulu sering dia rasakan.
Belva menggelengkan kepalanya. Menepis semua bayangan kenangan indah yang pernah mereka lewati bersama.
"Kenapa, Sayang? Bayangin yang iya-iya sama Mas, ya? Kamu kangen, kan, Sayang? Ayolah. Mas tau kamu masih Sayang sama Mas, kan?"
"Kurang-kurangin itu rasa percaya diri kamu! Nggak ada kangen atau kata Sayang. Yang ada hanya rasa kecewa yang aku rasakan."
Gilang memandang Belva dengan tatapan sedihnya. "Ungkapkan apa yang ingin kamu ungkapkan, Sayang. Pukul Mas kalau perlu. Atau kamu bunuh Mas malam ini juga, Mas rela. Asal hati kamu bisa lega. Dan rasa kecewa yang kamu rasakan itu bisa terlampiaskan. Tapi satu, jangan pernah minta bercerai, Sayang. Mas nggak bisa kalau tanpa kamu," ucap Gilang.
__ADS_1
Mendengar itu, Belva tak mampu membendung air matanya. Dia benar-benar memukul dada Gilang berkali-kali untuk melampiaskan amarahnya.
"Jahat kamu! Kurang ajar! Aku itu hamil anak kamu. Aku nggak pernah macam-macam sama lelaki lain. Tega kamu nuduh aku kayak gitu! Jahat kamu, Gilang! Aku benci sama kamu!"
Gilang tak menghindari pukulan demi pukulan di tubuhnya. Bahkan berkali-kali juga Belva menampar pipinya. Gilang tak menghindarinya.
"Aku nggak peduli dengan masa lalu kamu. Kamu yang selingkuh saat terikat pernikahan. Bahkan kamu juga yang menyebabkan kematian kembaran Kak Gavin dan Kakaknya Kak Mikha. Andai aku mendengarnya sebelum semua ini terjadi, aku pun akan berbesar hati menerimanya. Kamu pilihanku dan aku menerima semua yang ada dalam diri kamu. Tapi apa yang kamu ucapkan benar-benar membuat aku sakit hati dan kecewa. Kamu pikir nggak sakit dituduh hamil dengan laki-laki lain? Kamu anggap aku ini wanita macam apa?"
Belva menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara berkali-kali. Meredakan gemuruh di dadanya, meredakan emosi dalam dirinya.
Kepalanya terlalu pusing setelah melampiaskan amarahnya. Tangannya memijat keningnya yang terasa seperti dipukuli berkali-kali.
"Kamu kenapa, Sayang?" Gilang terlihat panik.
Tapi Belva buru-buru menepis tangan Gilang yang sudah menyentuhnya. "Ku bilang jangan sentuh aku!"
Tapi sayangnya, tubuhnya mengkhianati otak dan bibirnya. Mungkin Belva sudah tergeletak di lantai yang dingin kalau saja Gilang tidak menahan tubuhnya yang terkulai lemas.
Belva pingsan. Mungkin tubuhnya begitu lelah. Tidak hanya tubuhnya, hati dan pikirannya pun sama lelahnya.
Gilang menyelimuti Belva. Tak ingin memanggil dokter untuk memeriksa Belva karena Gilang yakin Belva hanya kelelahan setelah melampiaskan amarahnya.
Memang mengambil kesempatan. Gilang memeluk Belva dalam keadaan pingsan seperti ini.
Gilang mencium kening dan pipi Belva berkali-kali. Gilang lihat tubuh Belva memang tak sekecil dulu. Mungkin karena hamil, Belva menjadi sedikit berlemak di beberapa bagian tubuhnya. Belva hidup dengan baik selama ini.
***
Belva terbangun dari tidurnya. Atau pingsannya. Entahlah. Yang jelas pagi ini kepalanya terasa begitu pusing. Badannya pun terasa begitu lemas.
Beberapa saat setelah membuka mata, Belva baru sadar bahwa ada tangan kekar yang memeluk tubuhnya dengan erat.
Saat itu juga Belva langsung menoleh. Dan yang pertama kali dia lihat adalah wajah Gilang yang sedikit membiru di bagian pipi dan sudut bibirnya.
Kulit Gilang yang putih membuat warna biru itu terlihat semakin jelas.
Belva tau, semua itu adalah hasil karya tangannya. Tiba-tiba Belva tersadar, jika di pipi saja meninggalkan bekas, bagaimana di bagian dadanya? Belva takut akan menimbulkan luka dalam karena pukulannya semalam tidak bisa dibilang pelan.
__ADS_1
"Panas," gumam Belva saat tangannya menyentuh pipi Gilang, kemudian berpindah ke kening Gilang.
Belva panik. Tentu Belva berpikir bahwa dirinya-lah yang menyebabkan Gilang seperti ini.
"Mau kemana, Sayang?" Gilang menggenggam pergelangan tangan Belva saat Belva akan beranjak dari tempat tidur.
"Telepon Mama biar rawat kamu yang lagi panas ini. Nyusahin aja!"
Padahal, yang ingin Belva lakukan adalah meminta air dan handuk kecil untuk mengompres Gilang. Tapi Belva gengsi mengakuinya.
"Peluk Mas, Sayang. Mas nggak butuh yang lainnya."
"Nggak usah cari kesempatan! Semalam juga udah cari kesempatan meluk-meluk aku, kan?"
Gilang menatapnya dengan sayu. "Kamu juga nggak nolak, Sayang."
"Ya iyalah, orang lagi pingsan."
"Jangan marah-marah terus, Sayang. Masih pagi ini."
"Ya kamu sumber masalahnya."
"Iya. Mas sadar, kok. Ya sudah, silahkan mau ngapain. Mas ijin istirahat sebentar di sini, ya. Nanti kalau udah reda pusingnya Mas keluar, kok."
Belva tak menjawab. Belva beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.
Hatinya mulai bimbang. Mulai galau. Gilang sepertinya sudah mulai pasrah dengan apa yang ingin Belva lakukan. Asalkan satu, Gilang tidak mau bercerai dengan Belva.
Saat Belva keluar dari kamar mandi, dilihatnya Gilang yang sudah bersiap-siap untuk pergi. Ingin rasanya Belva bertanya mau kemana suaminya itu. Badannya masih sangat panas. Tadi juga meminta ijin sampai pusingnya reda. Secepat itukah redanya?
Tapi Belva hanya melewatinya dengan cuek. Tak ingin sedikitpun melontarkan sebuah pertanyaan meskipun mulutnya terasa gatal ingin mengatakannya.
"Mas balik dulu, ya, Sayang. Baik-baik kamu tanpa Mas, ya. Kayaknya beberapa hari ke depan Mas butuh istirahat. Nanti Mama mau datang ke sini, kan? Jaga diri baik-baik, ya."
Belva tak menjawab. Kedua matanya melirik Gilang yang mulai menjauh. Lalu tak terlihat lagi karena pintu kamar kembali tertutup.
🌻🌻🌻
__ADS_1