
Tenang?
Apa itu tenang?
Tentu saja Belva tidak pernah merasa tenang semenjak Viona kembali hadir di dalam hidup Gilang.
Apalagi sekarang ada anak di antara mereka. Ada Regina. Bahkan mengingat nama anak itu saja hati Belva terasa tercubit.
Bisa-bisanya Viona memberikan nama gabungan namanya dengan Gilang. Tak cuma itu, wajah anak itu pun mirip sekali dengan Gilang.
Jika Belva perhatikan, Regina adalah fotokopian Gilang waktu kecil.
"Nanti kalau anak kita miripnya ke aku gimana, Mas?"
Gilang menatap Belva yang menurutnya aneh. Pertanyaannya maksudnya. "Kenapa tanyanya gitu? Ya kalau mirip kamu nggak apa-apa, dong, Sayang. Namanya juga anak sendiri."
Belva mengerucutkan bibirnya. "Tapi Regina miripnya sama kamu, Mas."
"Kamu cemburu, ya, Sayang?"
"Kamu nanya!!?"
"Mulai, deh, keracunan Tik tok."
"Ya aku emang cemburu sama anak itu, Mas. Dia bisa loh mirip kamu, Mas."
"Bukan Mas yang mengaturnya, Sayang. Udah, ya. Bagaimanapun anak kita nanti, yang penting dia sehat. Lahir dengan sempurna tanpa kekurangan satu apapun."
Belva mengangguk dalam pelukan Gilang.
🌻🌻🌻
Yunita dan Anton sendiri masih setengah hati menerima keberadaan Regina sebagai cucu mereka.
Tapi mau bagaimana lagi. Ada darah mereka juga yang mengalir di dalam tubuh Regina.
Mikha dan triplets yang sedang berkunjung ke rumah Anton dan Yunita pun tak henti-hentinya menatap foto gadis kecil yang ada di dalam handphone Belva.
"Ini, mah, Gilang dipakein dress," celetuknya yang membuat Belva menahan tawanya.
Dalam bayangannya justru membayangkan Gilang yang memakai dress. Sepertinya lucu. Nanti setelah pulang dari rumah mertuanya akan dia praktekkan.
"Bisa, ya, mirip banget begini?"
"Namanya juga anaknya, Kak," jawab Belva setengah hati.
"Mama nggak pengen gitu ketemu sama dia lagi? Dia cucu Mama juga, kan?"
"Mama butuh waktu, Kha. Mama masih kesal dengan kelakuan Gilang sampai punya anak di luar pernikahan seperti itu."
Mikha mengangguk paham akan perasaan Yunita. Tapi bagaimanapun juga, anak itu adalah cucu Yunita dan Anton sendiri.
"Kalau menurutku, Ma. Kita coba terima dia di dalam keluarga kita. Selama Belva bisa menerima, aku rasa nggak ada salahnya Papa dan Mama juga menerimanya. Aku cuma khawatir kalau Mama dan Papa nggak mau menerima anak itu, mereka justru akan menyebar berita yang nggak bener dan akhirnya membuat nama besar keluarga kita buruk."
Belva mengangguk setuju. Setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang diucapkan Mikha.
"Bisa saja mereka menuntut pengakuan atas Regina sebagai cucu Papa dan Mama. Tapi karena Papa dan Mama belum bisa, mereka jadi menyebarluaskan berita yang sebenarnya tidak diketahui banyak orang ini, Ma." Belva menimpali ucapan Mikha.
Yang dia pikirkan memang bukan perasaan anak itu. Tapi nama baik suaminya dan keluarganya.
Viona bisa melakukan apapun untuk mendapatkan yang dia mau. Termasuk mengusik ketenangan rumah tangganya dengan Gilang.
__ADS_1
Sepertinya sebelum dia berangkat ke Turki lusa, dia harus membereskan hal ini terlebih dahulu dengan Viona.
Memastikan bahwa Viona tidak akan mengusik rumah tangganya dengan Gilang. Apalagi merebut Gilang darinya.
Belva menghela napas panjang dan melirik Gilang dengan kesal. Gara-gara masa lalunya, semua orang dibuat pusing seperti ini.
Sama halnya dengan Mikha yang memandang Gilang dengan malas. Munculnya kembali Viona ditambah anaknya sekarang membuat Mikha mengingat masa lalunya dengan Gilang yang sangat mengecewakan.
Apalagi anak itu dibuat ketika Gilang masih terikat pernikahan dengannya.
***
Belva tertawa puas melihat Gilang yang bersungut kesal kala keluar dari dalam kamar mandi.
Bukan tanpa alasan Gilang melakukannya. Pasalnya, Belva menyuruhnya untuk memakai dress sesuai bayangannya tadi siang.
Dan lebih parahnya lagi, Belva meminta Gilang untuk memakai lingerie favorit Gilang sendiri.
"Lucu. Seksi banget, sih? Sini, sayangku..." Belva merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Gilang.
"Turun kemacoanku kalau pakai baju kayak gini, Sayang."
"Cuma di depan aku aja, Mas Sayang. Aku juga nggak rela perut kotak-kotakmu ini dilihat orang lain."
"Ya tapi nggak gini juga, Sayang. Bukannya lebih baik nggak pakai baju, ya? Kamu juga gitu."
"Ih, itu, kan, maunya Mas Gilang."
"Ya emang maunya gitu, Yang."
"Ngomong-ngomong, Mas. Mas Gilang ada cara nggak buat menekan Viona agar dia nggak ganggu kamu lagi, dan dia nggak speak up dimana-mana soal adanya Regina diantara kalian?"
Iya juga, ya? Belva membatin.
Hal ini tidak pernah terpikirkan olehnya sejak tadi.
Lama-lama orang juga akan paham kalau itu anak Gilang tanpa Gilang menjelaskannya.
"Omongan orang nggak akan bertahan lama, Mas. Yang terpenting adalah kamu menekan Viona agar tidak mengganggu kamu lagi apalagi menuntut pertanggungjawaban lewat media."
"Besok kita bereskan hal ini, Sayang."
"Mas Gilang punya cara apa?"
"Kita lihat saja besok. Yang mau Mas kasih tau sekarang adalah cara untuk membuat kamu menjerit keenakan lagi."
"Ih, mesum!"
"Kamu selalu suka, kan? Jadi diam dan nikmati, Sayang."
"Masss......."
🌻🌻🌻
"Ayah!"
Regina berteriak kegirangan melihat kedatangan Gilang di kediaman ibunya Amira.
Sebelumnya Gilang sudah mendapatkan informasi kalau Viona pulang ke rumah Amira karena dia sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi.
Kedua orangtuanya sudah meninggal sejak dia kelas dua SMA. Dan dia merantau ke Jakarta untuk bekerja sampai dia menjadi sekertaris Gilang, plus menjadi wanita simpanannya.
__ADS_1
Bukan simpanan, sebenarnya. Karena hubungan mereka dulu diketahui oleh banyak orang.
"Lang, kamu datang?"
Gilang hanya mengangguk sekilas. Lalu kembali fokus pada Regina dan memberikan mainan yang sudah dipilihkan Belva sebagai buah tangan untuk anak itu.
"Ada yang mau saya bicarakan."
"Pasti mau mengurus rencana kamu menjadikan aku istri kedua, kan? Ingat, Gilang! Bagaimanapun juga kamu harus bertanggungjawab atas semuanya."
"Jangan terlalu percaya diri, Tante Viona!" Belva yang baru saja keluar dari dalam mobil menjawab dengan cepat ucapan Viona.
Viona kembali menatap Belva dengan kesal. Sebelumnya dia sudah merasa senang karena dia mengira kalau Gilang datang sendiri tanpa Belva.
"Nggak berhenti kamu panggil aku, Tante? Kamu panggil Gilang aja Mas, kok. Padahal kami seumuran."
Belva tertawa kecil. "Mas Gilang, kan, suami aku, Tante. Jangan minta disamain, dong."
"Lang, bisa nggak, sih, kalau kamu datang nggak usah bawa dia?"
"Ya nggak bisa, dong. Kita, kan, sepaket." Bukan Gilang yang menjawab. Tapi Belva yang menjawabnya.
"Sebenarnya apa tujuan kalian ke sini?"
Gilang menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. "Saya minta jangan bawa masalah ini ke media."
"Tidak akan aku lakukan kalau kamu mau menikahi aku."
"Lalu Tante mau mengumbar aib Tante sendiri? Tante mending update berita soal artis yang dituntut tanggungjawab atas anak yang lahir di luar nikah, deh. Ujung-ujungnya ibunya anak itu sendiri yang malu karena udah mengumbar aibnya sendiri dan si artis tetap hidup bahagia dengan istri dan anaknya. Nggak dapat bapaknya, malu iya."
"Nggak apa-apa. Yang penting anakku diakui."
"Siapa yang nggak mengakui anak kamu? Saya mengakui anak itu sebagai anak saya. Lalu apakah harus saya menikahi kamu?"
Viona terdiam. Baginya, dirinya dan Regina pun sudah sepaket. Kalau Gilang bertanggungjawab atas Regina, Gilang juga harus bertanggungjawab atas dirinya.
Memang dasar gila!
"Tapi aku cinta sama kamu, Gilang."
"Dan saya hanya mencintai istri saya sendiri."
Belva seperti dibawa terbang mendengar ucapan Gilang. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan di depan Viona.
"Itu artinya kamu mau aku bicara di sosial media," ancam Viona.
"Lakukan itu jika kamu kamu. Tapi jangan harap Regina bisa masuk ke dalam keluarga saya. Niat saya dan Belva sebenarnya baik. Menerima Regina dan membawanya ke keluarga kami sebagai bentuk tanggungjawab saya atas Regina. Tapi jika kamu nekat bicara ke media, maka Regina tidak akan pernah mendapatkan pengakuan dari saya."
"Jahat kamu, Lang! Dia anak kamu. Tega kamu melakukan hal itu?"
"Saya akan melakukan apapun demi melindungi keluarga saya dari wanita macam kamu, Viona. Asal kamu tau, andai waktu bisa diputar kembali, saya tidak akan pernah menyentuh wanita ular seperti kamu ini."
Viona semakin kesal dibuatnya. Bagaimana bisa Gilang mengetahui rencananya untuk berbicara ke media kalau Gilang tidak mau menikahi dirinya?
"Jangan rendahkan diri kamu untuk minta dinikahi oleh suami orang, Vi. Lihat saya! Saya mau menerima kamu dan Regina," ucap Hengky yang sebelumnya sudah mendengar perdebatan antara Viona dan Gilang.
Viona memalingkan wajah. Sedikit kesal dengan kedatangan lelaki yang usianya sama dengan ayahnya jika ayahnya masih hidup.
Lelaki itu tak ada lelahnya untuk mengambil hati Viona. Bahkan pengorbanannya selama Viona koma pun tak membuat Viona mau menerima dirinya.
🌻🌻🌻
__ADS_1