
"Mae."
"Jangan panggil gue Mae."
"Nama Lo kan, emang Mae."
Zurra memanang lelaki di hadapannya dengan kesal. Entah harus bagaimana lagi caranya menyuruh teman sekelasnya sejak kelas sepuluh itu berhenti memanggilnya Mae.
Raja tertawa setiap melihat kekesalan di wajah Zurra. Senang sekali menggoda Zurra sampai Zurra selalu kesal seperti itu.
Dua tahun, tepatnya saat mereka baru memasuki kelas sepuluh. Raka tak pernah bosan memancing kekesalan Zurra dengan memanggilnya Mae.
Kadang Zurra protes pada Papa dan Mamanya, mengapa harus ada Mae di dalam namanya.
"Mama sama Papa mana tau kalau akhirnya kamu dipanggil begitu, Sayang. Lagian, kan, teman kamu pasti juga bercanda aja," jawab Belva saat Zurra protes soal nama.
Kadang Zurra hanya diam. Kadang juga Zurra memprotes Raka. Tapi kekesalan Zurra tak membuat Raka berhenti memanggilnya dengan nama tersebut.
"Mae, bagi PR, dong!"
"Ih, enggak. Enak aja nggak ada usaha."
"Ini juga lagi usaha."
"Usaha minta contekan?"
Raka tertawa terbahak. Semakin kesal Zurra, semakin bahagia Raka melihatnya.
Teman-temannya sering mengatakan pada Zurra kalau Raka itu sebenarnya suka pada Zurra.
Tapi Zurra tak mau tahu akan hal tersebut. Baginya pacaran itu tidak penting. Pacaran hanya akan membuatnya kesal setiap waktu karena pengalaman pacarannya setahun yang lalu.
Menurut Zurra, pacaran itu ribet.
Setiap waktu pacarnya minta untuk dikabari. Setiap pergi kemanapun Zurra harus mengatakannya. Dengan siapa, pulang jam berapa. Dan Zurra merasa risih dan kesal dengan hal tersebut.
Karena itu, pacaran ala anak SMA yang dia jalani hanya bertahan selama dua bulan saja.
Wajar kalau pacarnya posesif. Zurra cantik luar biasa. Seperti mamanya yang dulu sempat jadi idola, Zurra pun sama.
Dia menjadi idola sekolah. Bahkan ada juga beberapa anak kuliahan yang dulu menjalani kkn di sekolah Zurra juga menyukai Zurra.
Sadar berasal dari mana keluarga Zurra, mereka perlahan undur diri karena sadar diri.
🌻🌻🌻
Sudah berhari-hari Gina mendiamkan Zurra. Zurra tak pernah tahu apa salahnya sampai Gina mendiamkan dirinya seperti ini.
__ADS_1
Setiap Zurra mencoba membuka suara, Gina pergi begitu saja. Ketika Zurra berusaha mendekati, Gina menghindari.
"Ma, Kak Gina udah dua hari ini diemin aku," adunya kepada Belva.
Belva memandang Zurra penuh tanya. "Kenapa memangnya? Kamu ada salah sama Kak Gina?"
Zurra menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tau loh, Ma, salah aku itu apa. Tiba-tiba aja gitu dia diemin aku."
"Coba ke kamarnya, ngomong dari hati ke hati sana. Nanti kalau belum bisa baik baru Mama bantu."
Zurra mengangguk setuju. Dia segera berjalan menuju kamar Gina yang ada di sebelah kamarnya.
"Kak, aku boleh masuk?" tanya Zurra setelah Zurra mengetuk pintu kamar Gina.
Tak ada jawaban apapun dari dalam. Zurra mencoba memutar handle pintu, tapi ternyata terkunci dari dalam.
"Kak," panggil Zurra lagi.
Tak lama kemudian, terdengar Gina membuka pintu dengan kasar. "Apa, sih, Lo, berisik banget? Ganggu banget tau nggak? Lo nggak tau gue lagi ngerjain tugas?"
Zurra mengerjapkan kedua matanya mendengar ucapan Gina yang menurutnya sangat kasar.
Seingat Zurra, ini pertama kalinya Gina berkata kasar seperti ini. Bahkan bahasa Lo gue yang Gina pakai.
"A-aku, aku cuma mau tanya sama Kak Gina."
Jantung Zurra berdegup kencang. Masih syok dengan cara bicara Gina yang sangat kasar bahkan menyentaknya seperti ini.
"Aku ada salah sama Kak Gina? Kakak diemin aku udah dua hari."
Gina melipat kedua tangannya di atas dada. Matanya memandang ke arah lain, enggan menatap Zurra. Wajahnya terlihat kesal sekali setiap memandang Zurra.
"Iya. Gue kesel banget sama Lo!"
"Ke-kenapa, Kak?"
"Lo nanya kenapa? Lo tau enggak? Setiap cowok yang dekat sama gue, ujung-ujungnya cuma mau lebih dekat dengan Lo! Mereka semua nanyain Lo udah punya pacar apa belum. Bahkan ada orang yang paling gue suka semenjak pertama masuk kuliah, dia minta tolong sama gue buat bantu dia bisa dekat sama Lo. Lo tau nggak rasanya? Gue benci banget sama Lo, Zurra. Kenapa semua orang lebih milih Lo dibanding gue? Gue capek cuma jadi bayang-bayang Lo doang!"
Zurra mengusap air matanya yang menetes karena mendengar penjelasan Gina. Jadi karena hal ini Gina mendiamkan dirinya berhari-hari.
"Aku mana tau soal itu, Kak. Aku kenal sama mereka aja enggak."
"Tapi mereka tau soal Lo. Dan mereka tau kalau Lo adik gue. Itu yang buat mereka cari tau soal Lo lewat gue. Dan gue capek. Gue capek, Zurra!"
Belva yang mendengar keributan yang terjadi di kamar kedua anaknya itupun segera mendekat.
Dilihatnya Zurra yang sudah menangis sesenggukan dan Gina yang menatap Zurra dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa teriak-teriak bicaranya? Harus teriak-teriak begitu?"
Tak hanya kesal kala melihat Zurra, Gina juga kesal melihat Belva. Ada satu hal yang mengganjal di hati Gina sehingga dia begitu kesal setiap mengingatnya. Apalagi ketika melihat Belva.
"Zurra ada salah sama kakak? Bisa, kan, diselesaikan baik-baik?"
"Aku kesal dengan anak kesayangan Mama ini."
"Kenapa bilang anak kesayangan Mama? Kamu pikir Mama nggak sayang sama kamu?" Belva mulai terpancing.
"Aku kesal dengan Zurra karena setiap laki-laki yang mendekati aku, ujung-ujungnya cuma mau nanyain Zurra. Laki-laki yang aku suka pun melakukan hal yang sama, Ma."
"Memangnya adik kamu tau teman-teman kamu itu melakukan hal itu?"
"Bisa aja mereka udah DM Zurra duluan, Ma."
"Benar begitu, Zurra?" tanya Belva pada Zurra.
Zurra menggelengkan kepalanya. "Aku nggak tau, Ma. Udah lama aku nggak buka Instagram aku."
"Dengar sendiri, kan, Gina? Zurra aja nggak tau soal hal itu."
"Bela aja terus, Ma. Anak kandung emang beda derajatnya dengan anak tiri seperti aku."
"Kenapa malah bahas soal anak kandung dan anak tiri? Ada Mama menyinggung hal itu? Mama cuma mau mencari siapa yang salah dan siapa yang benar."
"Dan tetap aku yang dianggap salah, kan?" Gina menyela ucapan Belva.
"Lalu kamu pikir siapa yang salah, Gina? Zurra yang salah? Dia nggak kenal, bahkan nggak pernah bertemu dengan teman-temanmu itu. Lantas dari mana salahnya dia?"
Gina menghela napas dengan kesal. "Bilang aja Mama belain Zurra. Selama ini memang diam-diam Mama selalu nggak adil, kan, antara aku dan Zurra?"
"Maksud kamu apa? Apa yang Mama beri pada Zurra dan tidak Mama berikan pada kamu? Apa yang Zurra miliki kamu juga punya. Bahkan Mama nggak pernah membedakan kasih sayang yang Mama berikan buat kamu dan Zurra, Gina. Kamu pikir_"
Belva hampir saja berkata bahwa tidak mudah baginya menyayangi anak dari selingkuhan suaminya seperti dia menyayangi anaknya sendiri.
Memang Gilang tidak berselingkuh selama bersama Belva. Tapi jika mengingatnya, kadang rasa kesal itu masih ada.
"Mama kira aku nggak tau kalau Mama dan Papa nyiapin pesta sweet seventeen buat Zurra? Tapi buat aku mana ada pesta, Ma? Cuma makan bersama keluarga aja. Kado pun hanya laptop. Sedangkan Zurra, Mama dan papa tanya, kan, Zurra mau apa? Itu yang Mama maksud nggak membedakan antara aku sama Zurra?"
"Mama ingatkan lagi, Gina. Kamu yang minta hadiah liburan sama teman-teman kamu ketika ulangtahun kamu yang ke tujuh belas. Mama sudah tawarkan pesta tapi kamu menolaknya. Kamu lupa? Jangan cari masalah, Gina! Apa yang kamu mau, sayang? Kenapa seperti ini?"
Gina mengusap air matanya yang menetes. Dia rindu pada ibu kandungnya. Dia sedang menginginkan mendiang ibu kandungnya ada di sampingnya sekarang.
Gina akui, kasih sayang Gilang dan Belva memang begitu sempurna baginya. Tapi ibu kandung tetap menjadi satu-satunya orang yang menempati sebagian besar hatinya.
Merasa tidak ada gunanya lagi Gina bicara, Gina memilih untuk masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu kamarnya dengan cara membantingnya dengan kasar.
__ADS_1
🌻🌻🌻