
Anak pertama Belva dan Gilang lahir tepat di pukul sembilan lebih enam menit malam.
Bayi mungil tersebut berjenis kelamin perempuan dengan berat tiga koma satu kilogram dan panjang lima puluh satu sentimeter.
Sakit yang sebelumnya Belva rasakan sirna begitu saja setelah mendengar tangisan anaknya yang lahir dengan sempurna.
Apalagi saat bayinya melakukan inisiasi menyusui dini. Rasanya masih tak percaya bahwa yang ada di pelukannya saat ini adalah anaknya yang selama sembilan bulan hidup di dalam rahimnya.
"Ini bayi kita, Mas?" tanya Belva masih dengan rasa tak percaya.
"Iya, dong, Sayang. Cantik banget. Makasih, ya, kamu sudah berjuang untuk hamil dan melahirkan anak kita." Gilang memberikan ciuman manis di kening Belva. Entah sudah yang ke berapa kalinya Gilang melakukannya.
Gilang sempat tak kuasa menahan air matanya saat menyaksikan langsung malaikat kecilnya itu lahir ke dunia.
Gilang juga begitu terharu dengan pengorbanan yang Belva lakukan untuk melahirkan buah cinta mereka.
"Mas Gilang udah berapa kali bilang begitu?"
"Enggak akan pernah bosan untuk mengucapkannya, Sayang. Karena ucapan saja tidak cukup untuk menggantikan pengorbanan kamu."
Belva terkekeh kecil. Lalu memandang bayinya yang memejamkan mata. Mulutnya bergerak begitu lucu saat menyesap minuman terbaik dan termahal di dunia. Yaitu ASI.
"Enakan adik bayi apa papanya, nih, Ma?" tanya Gilang yang membuat Belva menatap Gilang penuh tanya.
"Apanya?"
"Itu..." jawab Gilang sambil menunjuk yang dilakukan oleh bayi mereka.
Belva menepuk lengan Gilang dengan cukup keras. "Ih, pikirannya!"
"Habis ini beneran nggak mau hamil lagi, Sayang?"
Kening Belva mengerut seolah tengah berpikir berat. Lantas dia menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya berucap, "enggak, deh. Sakit."
"Selucu ini masa nggak mau lagi, Sayang?" Gilang masih mencandai Belva.
Baginya, apapun keputusan Belva akan dia hargai. Punya satu anak pun tak masalah jika Belva sudah merasa cukup nantinya.
"Bisa nggak bahasnya pas jalan lahirnya udah pulih aja? Langsung nyeri lagi baru dilewati udah bahas mau bikin lagi."
Jawaban Belva membuat Gilang menyemburkan tawanya. Memang terlalu cepat untuk membahasnya. Tapi maksud Gilang hanya bercanda dan tidak bermaksud untuk serius membahas hal tersebut.
__ADS_1
***
Lahirnya bayi yang di namakan Zurra itu pun memberikan kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang di sekitar Belva.
Baik Anton maupun Yunita rasanya masih tak percaya bahwa Gilang sekarang berada di titik ini.
Menikah dan hidup bahagia dengan istri dan anaknya.
Keesokan harinya, Viona dan Gina datang untuk menjenguk bayi yang berstatus adik dari Gina.
Sempat mendapat lirikan tak suka dari Yunita, tapi Belva memberikan senyuman meyakinkan Yunita bahwa semua telah baik-baik saja.
Momen itu pun bisa juga Belva jadikan untuk mendekatkan Yunita dengan Gina.
Status mereka nenek dengan cucunya. Tapi sayang, Yunita rasanya masih enggan untuk menerima bahwa ada Gina di dalam hidup Gilang.
"Viona sudah lebih baik, kok, Ma," bisik Belva pelan saat Yunita meletakkan bayi Belva ke dalam box bayi.
Viona dan Gina masih duduk di atas sofa yang jaraknya cukup jauh dari tempat tidur Belva.
"Kamu yakin? Jangan-jangan dia hanya pura-pura aja?"
Belva menganggukkan kepalanya dengan pasti. "Aku yakin, kok, Ma. Gina juga cucu Mama. Tolong, ya, jangan beda-bedain lagi. Mungkin memang masa lalu orangtuanya nggak baik. Tapi Gina tetaplah gadis kecil yang nggak tau apa-apa tentang masa lalu kedua orangtuanya."
Belva terkekeh pelan. "Belva cuma mau hidup tenang dan nggak mau punya musuh, Ma."
"Ya sudah. Mama temani mereka ngobrol dulu."
"Nanti Belva nyusul, Ma."
Yunita menganggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri Viona dan Gina.
Belum juga Yunita duduk, Gilang sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar rawat Belva.
"Kebetulan Gilang sudah datang," ucap Viona yang membuat Yunita membelalakkan matanya dan dengan tajam menatap Viona.
"Maksudmu apa?" tanyanya dengan sengit.
"Jangan marah-marah dulu, Ma. Dengar aja dia mau ngomong apa," ucap Gilang menenangkan Yunita.
"Ada apa, Vi?" lanjut tanya Gilang pada Viona dengan nada yang tak ramah sama sekali.
__ADS_1
Sebelum memulai pembicaraan mereka, Viona menyuruh Gina terlebih dahulu untuk berada di luar ruangan bersama Amira yang mengantar mereka ke rumah sakit tadi.
"Gue mau Gina tinggal sama kalian, Lang."
"Maksudmu apa? Kamu nggak lihat istri Gilang baru saja melahirkan anak mereka? Masih bisa kamu bilang anak itu mau tinggal sama Gilang?" Yunita tak bisa membendung emosinya.
Melihat Viona dan anaknya saja sudah membuatnya naik darah. Apalagi sampai harus Gina tinggal dengan Belva dan Gilang.
"Tapi Gina juga anak dari Gilang, Tante."
"Mana saya peduli? Yang saya tau, anak Gilang hanya anak yang dilahirkan oleh Belva kemarin. Bukan yang lahir dari kamu!"
"Memangnya Mbak Viona mau kemana?" Belva bersuara. Dengan tertatih dia berjalan mendekati Gilang dan duduk di sebelahnya.
"Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan, Bel. Dan aku nggak bisa bawa Gina."
"Jangan banyak alasan kamu! Saya nggak setuju kalau anak itu tinggal dengan Gilang dan Belva."
"Tapi Gilang sudah berjanji akan bertanggungjawab atas Regina, Tante." Viona masih tak mau kalah. Keinginannya untuk Gina tinggal dengan Gilang harus terwujud.
"Tanggungjawab bukan berarti harus tinggal bersama, kan?"
"Tapi_"
"Cukup, Mbak Viona! Kenapa kesabaran yang kami berikan malah membuat Mbak Viona ngelunjak seperti ini?"
"Maksudmu apa, Bel? Kamu juga menolak Gilang untuk bertanggungjawab atas anaknya juga? Regina juga anaknya, Bel."
"Saya tau, Mbak. Mbak Viona juga tidak perlu mengucapkannya berkali-kali tentu saya sudah paham dan sangat paham bahwa suami saya punya anak selain anak yang saya lahirkan. Tapi bisakah Mbak Viona melihat keadaannya sekarang? Saya baru saja melahirkan, Mbak. Bisa, kan, tinggi saya pulih terlebih dahulu untuk membicarakan semua ini? Apa semendesak itu urusan Mbak Viona sampai Mbak tidak memikirkan bagaimana perasaan saya dan keadaan saya saat ini?"
Gilang yang sejak tadi hanya diam kini berdehem kecil dan menegakkan tubuhnya. Kedua matanya dengan tajam menatap Viona.
"Pergi dari sini sebelum saya berhenti bertanggungjawab atas Regina!"
"Aku bisa speak up kalau kamu sampai berani melakukannya, Lang."
Gilang tertawa sinis. "Kamu mengancam ku, Vi? Kamu lupa siapa saya dan siapa kamu? Saya bahkan bisa melakukan hal apapun yang tidak akan pernah kamu duga. Jangan bermain-main dengan saya, Viona. Atau kamu akan menyesal nantinya."
"Dan jangan buat saya menyesal telah menganggap Mbak Viona sudah berubah menjadi lebih baik kalau semua itu hanya Mbak Viona manfaatkan seperti ini. Saya sudah berusaha menerima Gina. Tolong hargai, dan jangan berbuat macam-macam lagi. Kalau Mbak mau Gina tinggal dengan kami, bisa, kan, kita bicara kalau saya sudah sehat dan pulih kembali? Saya akui emosi saya saat ini sedang labil. Mungkin sebenarnya saya tidak perlu marah dengan masalah seperti ini. Tapi kondisi saya yang membuat saya mudah tersulut emosi saat ini."
Viona benar-benar dibuat bungkam dengan ucapan Gilang dan Belva. Viona telah salah memilih lawan. Belva yang dianggapnya hanya anak kecil ternyata mampu membungkam mulutnya lewat ucapan-ucapannya.
__ADS_1
🌻🌻🌻