Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 103


__ADS_3

"Belva..."


Eliza dan Rania bergantian memeluk Belva. Keduanya begitu menyesal tidak ada di samping Belva di saat-saat terberat kemarin.


Eliza yang suaminya baru bisa mendapatkan cuti sehari setelah kematian kedua orangtua Belva. Dan Rania yang baru bisa terbang kemarin dari luar negeri karena ada beberapa masalah yang harus diselesaikan suaminya terlebih dahulu.


"Aku tau apa yang kamu rasakan saat ini, Belva Sayang. Yang kuat, ya. Papa sama Mama udah bahagia di sana."


Belva menganggukkan kepalanya. Kedua matanya kembali meneteskan air mata setiap ada orang yang datang untuk sekedar berbelasungkawa.


Banyaknya orang yang datang, dari mulai rekan bisnis, kolega-kolega Papanya. Serta teman-teman kedua orangtuanya, menandakan betapa baiknya Darmawan dan Vita sampai banyak orang yang menyayanginya dan turut menangisi kepergian mereka yang begitu mendadak.


"Padahal besok ada rencana untuk meninjau lokasi pembangunan rumah untuk anak-anak yatim piatu, Nak Belva. Bu Vita yang merencanakan pembangunan ini. Dan biaya pembelian tanah serta pembangunannya pun sepenuhnya dicover oleh Pak Darmawan dan Bu Vita. Tapi ternyata Allah lebih dulu memanggil mereka. Semoga niatan Bu Vita dan Pak Darmawan untuk membangun rumah yatim-piatu tersebut sudah dihitung pahala dan pemberat untuk amalan kebaikan beliau berdua," ucap seorang ibu yang Belva kenal adalah rekan Vita. Beberapa hari yang lalu pada saat beliau berkunjung ke rumah Belva bersama rekan komunitasnya.


Belva mengaminkan ucapan ibu tersebut. Lalu meminta agar pembelian tanah dan pembangunan rumah yatim tersebut agar disegerakan. Apapun yang kurang, Belva meminta agar memberitahukan semuanya kepada Belva nantinya.


"Semua begitu cepat, El, Ran. Aku merasa ini semua seperti sebuah mimpi."


Keduanya memeluk Belva dari samping kanan dan kiri Belva.


"Jodoh dan maut, itu sudah sesuatu yang digariskan oleh Allah sejak kita masih di dalam kandungan. Tapi kita tidak pernah tau kapan kita, atau orang-orang terdekat kita akan dipanggil. Ada yang dipanggil dalam keadaan tidak siap. Ada yang dipanggil ketika dia sudah benar-benar menyiapkan kematiannya. Semoga Papa dan Mama kamu Husnul khatimah, ya, Belva sayangku."


"Aamiin."


"Yang semangat, jangan sedih terus. Ada anak-anak kamu yang masih sangat membutuhkan perhatian kamu. Apalagi, si baby." Rania mengusap perut Belva. "Dia tau perasaan Mamanya loh. Jangan sampai stress, ya. Kasian baby-nya. Bangkit, dan jalani hari-hari kamu lagi seperti biasanya. Memang akan ada yang kurang. Itu sudah pasti. Tapi hidup masih terus berlanjut. Papa dan Mama pasti sedih melihat anaknya sedih begini. Mereka pergi ke tempat yang lebih baik," lanjut Rania.


"Dulu aku pernah berpikir, kenapa orang-orang baik itu lebih cepat dipanggil oleh Allah. Dan pada suatu hari, aku seperti mendapatkan sebuah jawaban lewat sebuah kalimat yang aku baca."


"Apa itu?" Belva bertanya pada Eliza.


"Kita ibaratkan ketika kita melihat sebuah taman bunga mawar dan kita diperbolehkan untuk memetiknya. Bunga yang seperti apa yang akan kamu petik?"


"Tentu yang paling bagus," seru Rania.

__ADS_1


"Nah! Dari perumpamaan tersebut, aku bisa mendapatkan jawaban kenapa orang-orang kebanyakan meninggalnya lebih cepat. Karena Allah sayang, Allah jatuh cinta padanya, Allah merindukannya, Allah lebih menyayanginya. Papa dan Mama kamu itu orang baik, Bel."


"Yes!" Rania menimpali. "Papa dan Mama aku pun mengatakan hal yang sama. Pak Darmawan itu bukan orang yang mudah marah. Setiap ada karyawan yang melakukan kesalahan, beliau akan menegur dan menunjukkan bagian mana yang salah. Kalau perlu Pak Darmawan mengajarinya sendiri sampai benar. Itu yang papaku ceritakan padaku, Bel. Mereka orang-orang yang sangat baik. Banyak banget yang merasa kehilangan atas kepercayaan mereka. Termasuk aku. Pasti juga banyak yang doain mereka. Jangan sedih lagi, ya."


Belva menganggukkan kepalanya. Meskipun air matanya mengalir deras, tapi bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


Rasanya begitu terharu melihat betapa banyaknya orang yang menyayangi kedua orangtuanya. Turut mendoakan mereka.


Benar kata orang, kebaikan seseorang akan mulai terlihat ketika dia telah meninggal dunia.


Dulu Belva tak pernah sekalipun mendengar seseorang menceritakan kebaikan kedua orangtuanya kepada Belva.


Tapi setelah Darmawan dan Vita meninggal, satu persatu kebaikan kedua orangtuanya telah sampai ke telinga Belva.


Yang Belva harapkan semua itu bisa menjadi pemberat timbangan amal kebaikan keduanya.


***


Bangkit kembali, itu yang harus Belva lakukan.


Belva tidak tahu langkah kedepannya akan seperti apa. Mengenai perusahaan kedua orangtuanya yang tidak tahu akan dipegang oleh siapa.


Untuk saat ini, Belva menyerahkan semua urusan perusahaan kepada Rudi, orang yang menjadi tangan kanan Darmawan.


Tentu semua masih dalam pengawasan Gilang. Dan meminta Papa Rania untuk membantu mengawasi semuanya ketika Gilang dan Belva berada di Jakarta nanti.


Setelah acara tujuh harinan Darmawan dan Vita, Belva mulai bangkit dari semuanya.


Belva dan Gilang datang ke perusahaan untuk memasrahkan semua urusan perusahaan kepada orang-orang yang telah Gilang percaya, dan diam-diam di percaya oleh Belva dan Gilang.


Paham, kan, maksudnya? Paham, dong, masa enggak?


Untuk rumah, Belva tidak mengijinkan asisten serta sopir untuk meninggalkan rumah tersebut. Mereka bebas menempati, bahkan membawa keluarga mereka pun Belva perbolehkan.

__ADS_1


Asalkan rumah dirawat dengan baik dan tidak ditinggalkan dalam keadaan kosong. Juga untuk kamarnya dan kamar kedua orangtuanya, Belva melarang siapapun untuk tidur di kedua kamar tersebut.


Untuk yang lainnya, Belva membebeskan semuanya.


"Kamu yakin, Sayang?"


Belva menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Anak-anak butuh aku, Mas,"jawabnya.


Siang ini Belva dan Gilang akan terbang ke Jakarta, melanjutkan hidup mereka lagi tanpa Darmawan dan Vita. Belva yang memutuskan semuanya.


Padahal Gilang sudah membebaskan Belva sampai kapan dia ada di Surabaya dan kapan Belva ingin kembali ke Jakarta.


Ternyata dugaan Gilang meleset jauh. Gilang pikir Belva akan di Surabaya dalam waktu yang lama. Tapi ternyata Belva bangkit lebih cepat dari dugaannya.


Gilang tau wanita yang dia nikahi tujuh tahun yang lalu adalah wanita yang sangat kuat.


Air mata Belva menetes kembali seiring dengan roda pesawat yang mulai melintasi landasan pacu bandara Juanda Surabaya.


Bayangan tentang senyuman kedua orangtuanya kembali terlihat di kedua matanya.


Langit siang menjelang sore seolah menunjukkan wajah Darmawan dan Vita yang tengah memandang Belva dengan bangga.


"Doain aku kuat, Pa, Ma. Aku tau hariku akan berat tanpa Papa dan Mama. Tapi aku yakin Papa dan Mama menguatkan aku dari sana," ucap Belva dalam hati.


Mengusap jendela pesawat, seolah dia tengah mengusap wajah Darmawan dan Vita.


"Kamu kuat, Sayang. Kamu wanita hebat. Mas akan selalu ada di samping kamu." Gilang berucap, sangat paham dengan yang istrinya rasakan sekarang.


"Jangan tinggalin aku, Mas. Aku cuma punya kamu dan anak-anak sekarang."


"Ada Mama dan Papa juga."


Belva tersenyum. "Iya, lupa tadi."

__ADS_1


Gilang mendaratkan bibirnya pada kening Belva. Lalu kembali memeluknya dan menggenggam erat tangan Belva.


🌻🌻🌻


__ADS_2