Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 45


__ADS_3

Resiko long distance marriage. Hamil begini harusnya Gilang turut andil untuk segala sesuatunya.


Beli testpack mungkin. Pasti Belva juga tidak akan mendapatkan pelayanan sinis seperti kemarin.


Sama ketika dia periksa ke rumah sakit. Pasti mereka juga tidak akan mengira Belva hamil di luar nikah.


Tapi karena ingin memberikan kejutan untuk Gilang, Belva rela melakukan semuanya sendiri. Meskipun harus menahan emosinya saat mendapatkan reaksi menyebalkan dari petugas di fasilitas kesehatan tersebut.


"Baru pulang, Bel?"


Belva menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah kamar mamanya. "Mama kapan pulangnya?"


"Ditanya, kok, malah nanya balik, sih?"


Bibir Belva membentuk sebuah senyuman. Lalu mendekati Vita yang sudah sebulan ini tidak ada di rumah karena harus mendampingi papanya pergi ke Dubai.


Pasti orang bertanya kenapa setiap papanya pergi ke luar kota atau luar negeri Mamanya selalu ikut.


Ya, itu karena Darmawan tidak bisa jika tanpa Vita.


Darmawan tidak bisa menyiapkan pakaiannya sendiri. Dan hanya Vita yang bisa melakukannya.


Papa Belva juga tidak bisa makan tanpa ada Mama Belva. Terlihat bucin dan manja, tapi itulah Papa Belva.


Dan lagi, Darmawan sendiri tidak bisa tidur jika tidak ada Vita di sampingnya.


Sikapnya itu tidak pernah berubah sejak Belva kecil mulai bisa mengetahui dan melihatnya secara langsung.


Awalnya pun Belva memprotes karena papanya selalu mengajak mamanya pergi dan meninggalkan Belva bersama pengasuhnya dulu.


Tapi semakin dewasa, Belva sudah tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Selagi mereka sehat dan kembali pulang dengan selamat, Belva tidak masalah.


Lagipula setiap bulan kedua orangtuanya juga menyempatkan waktu untuk membersamai Belva.


Entah di rumah saja, berjalan-jalan, atau staycation selama beberapa hari.


Belva juga tak pernah kekurangan perhatian. Meskipun kadang hanya lewat telepon saja, kedua orangtuanya selalu memuji prestasi apa yang Belva capai.


Setiap malam menjelang Belva tidur, Belva selalu menelepon kedua orangtuanya untuk menceritakan hari-hari yang telah dia lalui.


Setidaknya, walaupun tidak bisa bersama di setiap waktu, kedua orangtuanya tetap ada upaya untuk meluangkan waktu untuk Belva.


Belva memeluk Vita dengan erat. Sebentar lagi Mamanya yang masih muda itu akan segera memiliki seorang cucu.


Mungkin ini gambaran Oma-nya dulu. Memiliki cucu ketika usianya masih empat puluh dua tahun karena anaknya juga menikah muda.


Apakah hal seperti ini akan terjadi turun temurun? Kalau iya, berarti dua puluh tahun lagi Belva juga akan menjadi seorang nenek. Begitu?


Lucu sekali kedengarannya.


"Aku kangen banget sama Mama."


"Mama juga kangen banget sama kamu, Bel. Kamu sehat, kan, nggak ada Mama, Papa dan Gilang?"


Belva mengangguk lesu. "Yah, sehat nggak sehat ya harus kuat, Ma. Pada pergi semua ninggalin Belva."


"I'm so sorry, Sayang. Tapi bulan ini Mama dan Papa nggak ada jadwal ke luar negeri, kok."


Kedua mata Belva berubah binar. Semula dia hanya menatap mamanya dengan lesu. "Serius, kan? Mama nggak bohong, kan?"


"Semoga nggak ada kepentingan mendadak, Sayang."


"Ih, meragukan."


Belva dan Vita tertawa bersama.


"Kamu belum jawab pertanyaan Mama. Kamu habis dari mana jam segini baru pulang?"


"Jalan-jalan bentar sama Rania, Ma," jawab Belva berbohong.


Karena selain memberikan kejutan pada Gilang, Belva juga akan memberikan kejutan pada kedua orangtuanya.


Harusnya juga ada kedua mertuanya nanti. Tapi saat ini mereka tengah berlibur berdua ke Cappadocia. Dan Belva tidak ingin mengganggu mereka.

__ADS_1


Mungkin nanti lewat video call saja saat acara kejutan untuk Gilang dan keluarganya berlangsung.


"Ya sudah. Mandi dulu sana! Habis itu kita makan bersama, ya."


"Oke, Ma."


***


Makan malamnya bersama kedua orangtuanya berjalan dengan lancar.


Belva yang sempat merasa mual saat mencium aroma makanan, malam ini tidak terjadi di hadapan kedua orangtuanya.


Mungkin janinnya sudah bisa diajak bekerja sama untuk memberi kejutan kepada Oma dan Opa-nya.


Belva bisa makan begitu lahap. Hal yang tidak bisa dia lakukan selama beberapa hari ini.


Kuah bakso yang sempat membuatnya mual pun kini tidak lagi. Belva dengan santainya bisa menikmati hidangan sejuta umat tersebut.


"Gilang kapan pulangnya, Bel?" tanya Darmawan.


"Katanya, sih, empat harian lagi, Pa. Semoga nggak mundur, deh."


"Gimana kuliah kamu?"


"Lancar, Pa. Nggak ada kendala apapun, kok."


"O, iya, Bel. Rencana kapan kalian mau mengadakan resepsi? Pernikahan kalian udah hampir setahun loh. Nggak ada niatan untuk mengumumkan pernikahan kalian?"


Belva meletakkan sendok dan garpunya ke atas mangkuk bakso karena dia pun sudah selesai makan.


Menatap mamanya sejenak lalu berucap, "ada, kok, Ma. Cuman, kan, Kak Gilangnya masih sibuk. Masih ada pekerjaan di luar negeri sampai dua bulan ke depan. Kalau itu udah selesai mungkin kak Gilang bisa atur jadwal untuk libur biar bisa mempersiapkan semuanya."


Vita yang mendengarnya pun tersenyum senang. Anak satu-satunya, impiannya bisa memberikan pesta pernikahan yang mewah nantinya.


"Kalian atur semuanya, ya. Mama siap seratus persen untuk membantu persiapannya."


"Mamamu memang pengen pesta yang besar, Bel." Darmawan menimpali.


"Ya nggak apa-apa, Pa. Namanya juga anak satu-satunya," balas Vita.


🌻🌻🌻


"Mobilnya kenapa, Bel?"


Belva menoleh ke sumber suara. Mobil Indra dan Tiara berhenti tepat di samping mobilnya yang mendadak tidak bisa dinyalakan setelah dia berhenti untuk membeli es kelapa muda.


"Nggak tau, Kak. Nggak bisa nyala dari tadi."


"Kapan terakhir di servis?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Nggak tau juga orang biasanya aku tinggal pakai."


"Ah, perempuan. Selalu saja begitu," ejek Indra.


Indra dan Tiara pun turun dari mobil setelah Indra juga meminggirkan mobilnya.


Karena Indra sendiri tidak paham soal mesin, Indra akhirnya menelepon temannya yang memiliki sebuah bengkel mobil yang letaknya tak begitu jauh dari tempat mereka berhenti.


Sembari menunggu montir karyawan teman Indra memperbaiki mobil Belva, Indra, Tiara dan Belva duduk di tempat lesehan penjual es kelapa tersebut.


Berada di bawah pohon yang begitu rindang, di pinggir sawah yang ditanami padi dan daunnya masih hijau. Mungkin baru sebulan ditanam.


Angin sepoi-sepoi menyejukkan Surabaya yang begitu panas siang itu.


"Suami kamu orang mana, sih, Bel? Kok, aku juga nggak pernah lihat kamu dijemput laki-laki?" tanya Tiara memulai obrolan.


"Orang Jakarta, Kak. Kita juga lagi LDM. Dia sedang di luar negeri sekarang. Harusnya, sih, hari ini dia pulang."


"Aroma-aroma bapak CEO nih suaminya," ujar Indra. "Anak Pak Darmawan pasti suaminya bukan orang sembarangan," sambungnya lagi.


"Kalau ada kenalan suami kamu yang single, aku mau, dong, Bel."


"Heh! Apaan kamu?" ucap Indra sedikit emosi. Padahal Tiara pun hanya bercanda soal itu.

__ADS_1


"Canda, Sayang. Sensi amat kayak cewek PMS. Udah, lah. Aku ke toilet dulu."


Tiara beranjak dari tempat duduknya untuk menuju toilet sebuah masjid yang ada di seberang jalan.


Tiba-tiba saja ada seseorang yang menarik tangan Belva dengan kasar sampai Indra begitu panik melihatnya.


"Apa-apaan ini?" bentak Indra pada seseorang tersebut.


Orang itu tak peduli pada Indra. Lebih memilih menatap tajam Belva yang tangannya sudah dia genggam dengan kencang.


"Bagus, Bel! Suami kamu kerja tapi kamu malah pacaran sama laki-laki lain!" ujarnya dengan kasar. Kedua matanya menatap Belva dengan penuh kemarahan.


"Tanganku sakit, Mas. Lepasin!"


"Hatiku lebih sakit melihat kamu tertawa bersama lelaki lain."


"Jangan kasar sama perempuan, Mas!" Indra menengahi. Bermaksud untuk melindungi Belva.


"Diam!!!" bentak Gilang.


Ya, dia Gilang. Tak sengaja dia melihat Belva tertawa berdua bersama Indra. Memicu kemarahannya.


"Sini kamu!" Gilang menarik tangan Belva dengan kasar sampai Belva pun terseok-seok mengikuti langkahnya.


Tiba-tiba saja Belva merasakan nyeri pada perutnya. "Mas, perut aku sakit. Jangan kasar!"


Keluhan Belva tak diindahkan oleh Gilang. Gilang sudah cemburu buta. Apapun alasan Belva tak membuat Gilang luluh begitu saja.


"Mas, seriusan ini sakit banget."


Gilang masih tak peduli.


"Mas, aku hamil. Perut aku sakit banget."


Pada akhirnya, Belva harus menghentikan tindakan Gilang dengan berkata jujur bahwa dirinya hamil. Tidak peduli dengan kejutan yang sudah dia siapkan secara matang.


Dan benar saja, hal itu membuat Gilang menghentikan langkahnya dan mengendurkan cengkeraman tangannya pada tangan Belva.


Belva pikir Gilang akan bahagia mendengarnya. Tapi ternyata tatapan Gilang semakin tajam. Membuat Belva sendiri ketakutan.


"Hamil?" tanya Gilang pelan.


Belva menganggukkan kepalanya dan berusaha untuk tersenyum meskipun ada ketakutan melihat tatapan kedua mata Belva.


"Kamu yakin itu anakku? Bukan anak lelaki itu?" tunjuk Gilang pada Indra yang hanya bisa diam melihat pertengkaran suami istri itu.


Indra rasa ini bukan haknya untuk ikut campur. Indra takut kalau semakin dia ikut campur, Gilang akan semakin kasar pada Belva.


Bagai dihantam ribuan batu, hati Belva begitu sakit mendengar pertanyaan Gilang.


Sambil menahan perutnya yang semakin terasa nyeri, Belva membalas tatapan Gilang tak kalah tajamnya.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan, Mas?"


"Ya. Tidak ada yang tau apa yang kamu lakukan selama aku tidak ada."


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Gilang. Belva tidak bisa menahan tangannya untuk tidak melakukannya. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan Gilang yang seolah menganggap Belva rendah.


"Kamu_ aah."


Belum selesai Belva berbicara, perutnya semakin nyeri dan Belva tak bisa menahannya lagi.


Bahkan kepalanya terasa pusing. Dunianya seperti berputar-putar. Belva sampai harus berpegangan pada mobil Gilang karena kakinya seperti tak sanggup lagi untuk menahan beban tubuhnya.


Belva tidak tau apa yang terjadi dengan perutnya. Satu yang dia harapkan, semoga anaknya baik-baik saja di dalam sana.


🌻🌻🌻


Udah konflik nih. Yang sabar, ya.


Oh iya untuk yang kemarin. Ternyata aku posting dua bab yang sama, ya? Ku pikir hanya salah judul ternyata memang salah semua. 😁

__ADS_1


Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Di pusat penulis sudah aku hapus, tapi nggak tau kalau di sini bisa dihapus apa enggak. Semoga aja bisa.


__ADS_2