Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 105


__ADS_3

Usia kandungan Belva baru memasuki Minggu ke tiga puluh empat. Tapi dokter sudah menyarankan Belva agar bayinya segera dikeluarkan karena ada masalah di kehamilan Belva kali ini.


Tentu hal tersebut begitu mengejutkan Belva dan Gilang. Berharap opsi yang lain agar bayinya bisa lahir pada waktunya, tapi dokter tidak menyarankan karena resiko yang kemungkinan terjadi.


Belva pasrah. Dia dan Gilang memutuskan untuk melakukan tindakan operasi untuk kelahiran anak keduanya kali ini.


Untung saja sudah ada operasi metode baru yang katanya dua jam setelah operasi sudah bisa miring kanan dan kiri. Enam jam setelahnya sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.


Tak masalah dengan cara apapun. Lagipula itu juga perjuangan seorang ibu. Lahir secara normal atau operasi bukan penentu menjadi ibu sepenuhnya atau tidak.


Kedua cara tersebut sama-sama sebuah perjuangan. Sama sakitnya yang dirasakan meskipun dengan cara yang berbeda.


Yang terpenting adalah keselamatan ibu dan bayinya.


Lahir di usia tiga puluh empat Minggu tentu saja masih harus membutuhkan perawatan khusus.


Berat badannya yang masih kurang menyebabkan bayi kedua Gilang dan Belva harus dirawat di dalam inkubator untuk sementara waktu.


Belva sudah berada di ruang perawatan. Sudah ada kedua mertuanya dan kedua anak gadisnya yang menunggu Belva selesai di operasi.


"Mama..."


"Mama..."


"Mama..."


Panggilan mereka terdengar merdu di telinga Belva. Mereka juga bertanya-tanya dimana adik mereka. Belva yang baru saja selesai di operasi hanya tersenyum dan Gilang yang membantu menjawabnya.


"Adiknya dirawat dulu sama dokter untuk sementara waktu. Doakan adik biar cepat bisa kumpul dengan kita, ya," ucap Gilang pada kedua anaknya.


"Siapa nama adik kita, Pa?" tanya Zurra.


"Namanya masih rahasia, dong. Lebih tepatnya, Papa dan Mama belum punya nama untuk adik." Gilang tertawa kecil. Hal itu membuat Zurra dan Gina terlihat sedikit kecewa.


Gilang dan Belva memang belum sempat memikirkan nama yang akan diberikan kepada anak mereka kali ini.


***


Kelahiran anak kedua Belva dan Gilang tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang di sekelilingnya.


Meskipun ada yang kurang tanpa adanya orangtua Belva, tapi Belva yakin mereka tengah melihat Belva sekarang dari atas sana.

__ADS_1


Hal itu juga tidak membuat Belva terlalu bersedih. Ada kehidupan, pasti juga ada kematian. Semua sudah menjadi takdir yang maha kuasa.


Apalagi untuk saat ini Belva harus tetap bahagia dan jangan sampai stress agar produksi ASI-nya lancar. Anaknya yang sedang di inkubator butuh ASI-nya agar berat badannya bisa cepat naik dan sesegera mungkin bisa berkumpul dengan mereka.


"Terimakasih telah berjuang, ya, Sayang," ucap Gilang ketika mereka hanya berdua saja di ruang perawatan.


"Mas tau kali ini pasti lebih sakit dari yang pertama," lanjut Gilang.


Belva tersenyum. "Sakitnya sama aja, kok, Mas. Kalau dulu sakitnya sebelum lahiran, kali ini sakitnya setelah lahiran. Tapi nggak apa-apa. Yang terpenting anak kita sehat."


Gilang jatuh cinta lagi setiap menatap Belva. Apalagi setelah melihat semua perjuangan yang Belva lakukan untuk dirinya dan keluarganya, cinta Gilang tak terhitung lagi seberapa besarnya.


🌻🌻🌻


Waktu berjalan begitu cepat. Anak laki-laki yang diberi nama Xabiru Pratama itu kini sudah berusia lima tahun.


Anak yang dulu setelah lahir harus berada di inkubator selama satu Minggu. Siang malam Belva memompa ASI-nya lalu diberikan kepada Biru.


Seiring anak-anaknya yang tumbuh dewasa, Belva dan Gilang juga semakin produktif lagi.


Perusahaan Darmawan sempat mengalami penurunan setelah orang yang dulu menjadi tangan kanan Darmawan berkhianat. Mau tidak mau, Belva dan Gilang sendiri yang harus turun tangan untuk memegang perusahaan tersebut.


Hal itu juga yang membuat Gilang pada akhirnya mengorbankan sekretarisnya yang sangat profesional untuk mengurus perusahaan mendiang kedua orangtua Belva.


Juan, akhirnya dia dimutasi oleh Gilang untuk ke Surabaya. Untuk April, tentu dia senang-senang saja karena di sana kedua orangtuanya juga tinggal.


"Mama... Ada yang ngasih bunga ke Zurra loh di sekolah. Ciyee Zurra."


"Enggak, Ma. Kak Gina bohong. Orang tadi cuma dititipin aja, kok. Aslinya buat temenku."


"Ih, mukanya merah. Enggak, Ma. Tadi beneran buat Zurra orang kakak lihat sendiri, kok. Dengar juga waktu dia ngomong, Zurra, ini buat kamu. Ih, terus dipegang, dong, sama Zurra, Ma."


"Tapi habis itu aku kasih temenku, Kak. Kakak nggak lihat pasti waktu aku kasih ke temenku itu."


Belva tersenyum lebar melihat perdebatan kedua anak gadisnya. Sedangkan anak lelakinya itu terlihat cuek sekali dengan apa yang terjadi sekarang.


Dia lebih memilih asyik dengan mainan-mainannya sendiri. Secuek itu sifat Biru.


"Sudah, jangan berdebat lagi, ya. Kakak jangan ledekin adiknya gitu, dong. Kasian, kan, malu."


Gina tertawa kecil.

__ADS_1


Bahagianya hati Belva melihat kedua gadisnya itu rukun. Bertengkar kecil itu hal yang wajar. Perbedaan pendapat, rebutan mainan. Bukan lagi hal baru yang terjadi antara kakak dan adik.


"Dia mungkin cuma mau berteman aja, kok. Anak kecil mana boleh pacaran? Sekolah dulu, dong," lanjut Belva.


"Kita makan dulu aja yuk. Biru, makan dulu yuk."


"Iya, Ma," jawab Biru. Dia pun berangkat ke ruang makan tanpa drama. Begitupun kedua gadis Belva dan Gilang.


***


Sebuah ehidupan pasti akan menemui ajalnya. Di usia Biru yang keempat, keluarga Gilang kembali dirundung duka.


Anton meninggal karena sakit jantung yang dideritanya selama enam bulan lamanya.


Dan Yunita pun tak henti-hentinya pula bersedih hati.


Gilang dan Belva membawa Yunita untuk tinggal bersama mereka sehingga Yunita tak merasa kesepian lagi.


Kadang juga Yunita tinggal bersama Gavin dan Mikha. Semua terserah pada Yunita, senyaman Yunita ingin tinggal dimana.


"Mama mau ke rumah Mikha, ya, Bel. Kangen juga sama kembar."


Belva tersenyum. "Boleh, kok, Ma. Mama mau Belva antar?"


Yunita menganggukkan kepalanya. "Boleh. Maaf, ya, kalau Mama merepotkan kalian."


"Ih, kok, Mama ngomong gitu, sih? Belva nggak suka, ya, dengarnya."


Belva duduk di sebelah Yunita. Lalu memeluk Yunita dari samping. "Orangtua yang Belva punya itu cuma Mama sekarang. Belva senang ada Mama di rumah ini. Belva dan Mas Gilang senang Mama tinggal di sini. Anak-anak juga senang ada Omanya. Aku yakin Kak Mikha dan Kak Gavin juga merasakan hal yang sama. Mama itu bukan beban buat kami. Jadi jangan pernah merasa kalau Mama merepotkan kami. Sama sekali enggak, Ma."


Yunita mencium kening Belva dengan penuh sayang. Mungkin ini yang dinamakan siapa yang menanam dia akan menuai.


Sejak awal Yunita selalu berbuat baik kepada kedua menantunya. Menganggap mereka seperti anak sendiri.


Dan di hari tua seperti ini, anak-anaknya selalu ada untuknya yang ibaratnya hidup seorang diri karena telah kehilangan belahan jiwanya.


END


🌻🌻🌻


next mungkin extra part ya. tinggal beberapa part lagi.

__ADS_1


__ADS_2