Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 61


__ADS_3

Jantung Belva dan Gilang berdetak kencang saat tengah berada dalam perjalanan menuju kediaman kedua orangtua Belva.


Sejak dua hari yang lalu, Vita sudah berulangkali meneleponnya dan meminta Belva untuk pulang ke rumah.


Mereka belum tau bahwa Belva dan Gilang sudah berbaikan. Bahkan sudah lebih dari itu.


Entah bagaimana nanti reaksi Papa dan Mamanya jika mereka tau bahwa mereka sudah kembali seperti dulu.


Setelah beberapa jam perjalanan melalui darat dan udara, mereka sampai juga di kediaman Darmawan.


Mobil pribadi Darmawan ada di rumah. Sudah dapat dipastikan kedua orangtua Belva ada di rumah juga.


Belva masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Kedua orangtuanya tengah bersantai di taman belakang. Belva dan Gilang segera mendekati mereka.


Tangan keduanya saling bergandengan. Menggenggam erat untuk saling berbagi kekuatan kalau-kalau kedua orangtua Belva tidak merestui keduanya lagi.


"Ma, Pa."


Darmawan dan Vita kompak menolehkan kepala mendengar panggilan Belva.


Menatap Belva dan Gilang secara bergantian, feeling mereka menjadi nyata.


Belva dan Gilang sudah kembali seperti dulu, hal itu sudah diperkirakan sebelumnya oleh Darmawan dan Vita.


Terlihat dari berbelitnya Belva saat mereka meminta Belva untuk pulang ke Surabaya.


Hembusan napas panjang dihembuskan oleh Darmawan dan Vita secara bersamaan. Masih dengan wajah datarnya, Darmawan dan Vita tak menolak saat Gilang menyalami tangan mereka.


"Apa kabar, Pa, Ma?" tanya Gilang. Terdengar basa-basi, tapi tidak terlalu buruk untuk awal pertemuan mereka setelah berkonflik.


"Baik," jawab Vita ketus.


Tak mengulur waktu, Gilang segera bersimpuh di hadapan kedua orangtua Belva.


"Saya minta maaf, Pa, Ma. Saya berjanji tidak akan menyakiti Belva lagi. Saya mengintainya, Ma, Pa. Saya akan menjaga Belva sampai akhir hidup saya nanti."


Darmawan menghembuskan napas panjang sekali lagi. Sebenarnya masih tak rela melepas kembali anak semata wayangnya ke tangan orang yang sudah menyakiti dan merendahkan Belva.


Tapi melihat Belva yang sepertinya sudah bahagia saat kembali dengan Gilang, Darmawan tak bisa berbuat banyak. Kebahagiaan Belva adalah yang utama.

__ADS_1


Jika kebahagiaan Belva adalah kembali lagi dengan Gilang, Darmawan dan Vita tak bisa melarangnya..


"Sebenarnya saya masih kecewa dengan kamu, Gilang. Saya masih tidak rela jika Belva kembali bersama kamu. Kami sekeluarga sudah menerima masa lalu kamu demi kebahagiaan anak kami. Kami percaya kamu sudah lebih baik dari masa lalu kamu. Kami percaya kamu bisa membahagiakan Belva. Tapi melihat apa yang telah kamu lakukan kepada Belva kemarin, hati saya sebagai seorang ayah hancur, Lang. Sembilan belas tahun Belva hidup, kami menjaganya. Kami mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Kami beritahu mana yang buruk dan baik. Mana yang boleh dilakukan mana yang tidak. Kami jelaskan bagaimana cara menjaga diri sebagai seorang perempuan. Ketika masih sendiri atau sudah bersuami nanti. Tapi kamu yang baru beberapa bulan datang ke kehidupan anak saya, kamu sudah menilai anak saya seburuk itu."


Gilang seperti tertampar dengan ucapan Darmawan. Memang keterlaluan apa yang sudah dia lakukan kepada Belva kemarin.


Belva sendiri pun tak dapat membendung air matanya. Baru kali ini Belva melihat Papanya berbicara sedalam ini.


"Maafkan saya, Pa, Ma. Saya akan memperbaiki semuanya. Pasti saya akan membahagiakan Belva. Menyayangi dan mencintai Belva seperti yang telah Papa dan Mama berikan kepada Belva," ucap Gilang lagi.


"Semoga Belva tidak salah memilih keputusannya untuk menerima kamu kembali. Kebahagiaan Belva adalah yang utama bagi saya. Jika dia bahagia bersama pilihannya, saya tidak dapat melarangnya."


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Darmawan beranjak dari tempat duduknya. Menggandeng tangan Vita untuk pergi meninggalkan Belva dan Gilang.


Tau, kan, bagaimana orang marahan lalu berbaikan?


Sikap tak mungkin bisa langsung kembali seperti dulu. Pasti masih tetap ada sedikit kekesalan yang tersisa di dalam hati.


Butuh waktu lagi untuk menumbuhkan keakraban yang yang pernah terjalin. Suasana terasa lebih canggung.


"Papa sama Mama udah maafin Mas Gilang, kok. Tapi mereka masih butuh waktu buat menerima Mas Gilang lagi," ujar Belva menyemangati Gilang.


Belva mengangguk dalam pelukan Gilang. Tangannya pun mengeratkan pelukannya pada tubuh Gilang.


***


Belva masuk ke dalam kamar Vita dan Darmawan. Hanya ada Vita di dalam sana karena Darmawan sedang pergi ke masjid bersama Gilang.


Meskipun belum akrab lagi, tapi Darmawan tak menolak ketika Gilang mengatakan bahwa dia ingin ke masjid bersama.


"Ma..." panggil Belva membuat Vita menoleh ke arah pintu.


"Ya, Sayang. Kenapa? Sini masuk!"


Belva segera masuk ke dalam kamar Vita dan duduk di samping Vita. "Mama lagi apa?" tanyanya.


"Mama lagi lihat foto-foto kamu waktu kecil. Lucu, ya?" jawab Vita sembari menunjukkan beberapa foto Belva waktu masih kecil.


Ada yang menangis di depan kue tart di saat ulangtahunnya yang ke tiga. Ada juga yang sedang memegang piala juara mewarnai. Dan masih banyak momen masa kecil Belva yang diabadikan oleh Vita dan Darmawan.

__ADS_1


"Waktu begitu cepat berlalu ya, Bel? Rasanya baru kemarin foto-foto ini diambil. Sekarang kamu sudah dewasa. Sudah mau punya anak juga. Sudah bisa memutuskan hal yang begitu besar di dalam hidupmu."


Belva memeluk Vita dari samping. "Bukankah aku ini juga masih putri kecil kalian, Ma? Meskipun sekarang aku udah punya suami, udah mau punya anak, tapi aku masih pengen juga bermanja-manja sama Papa dan Mama."


Vita mengangguk membenarkan. "Kamu tetap putri kecil kami sampai kapanpun, Sayang. Meskipun sebentar lagi kamu sendiri bakalan punya anak."


"Mama sama Papa... Beneran udah maafin Mas Gilang, kan? Aku memberikan kesempatan ke dia, yang pertama dan terakhir. Mama sama Papa doain aku sama Mas Gilang, ya, biar bisa kuat dalam menghadapi masalah apapun nantinya."


"Pasti, Sayang. Kepercayaan kami memang belum kembali seutuhnya. Tapi kamu selalu berdoa agar rumah tangga kalian tidak lagi diterpa masalah yang besar. Kamu sudah dewasa, keputusan kamu menerima Gilang kembali pasti sudah kamu pikirkan matang-matang juga."


Tak berselang lama, terdengar suara Darmawan tertawa. Begitu menggema sampai terdengar dari kamar kedua orangtua Belva.


Vita dan Belva saling berpandangan. Mungkin pemikiran mereka pun sama. Dengan siapa Darmawan bisa tertawa seperti itu?


Rupanya Darmawan masih berada di luar rumah. Dia tengah duduk di kursi yang ada di depan rumah bersama Gilang.


Lagi-lagi Vita dan Belva saling berpandangan. Apa kiranya yang mereka bicarakan sehingga Darmawan bisa tertawa selepas itu?


Tapi apapun itu, Belva sangat bahagia hari ini. Ternyata tidak sulit untuk meminta kembali restu dari kedua orangtuanya.


Sempat tak yakin hubungan Gilang dan Darmawan tak mungkin bisa seharmonis dulu. Tapi siang ini Belva dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang luar biasa.


Darmawan dan Gilang bisa saling tertawa lepas.


"Lagi pada ngomongin apa, sih?" Vita keluar dan menghampiri Gilang dan Darmawan. Disusul Belva dibelakangnya.


"Iya. Asyik banget kayaknya," sambung Belva lalu duduk di pegangan kursi yang diduduki oleh Gilang.


"Ini urusan laki-laki, Sayang. Mana boleh kamu sama Mama tau."


"Oh, gitu..." Belva terlihat sedikit kesal. "Oke... Kalau gitu, kita shopping yuk, Ma. Ngabisin duit para laki itu."


"Ide bagus, Sayang. Ayo kita siap-siap dulu," jawab Vita yang terlihat antusias.


Darmawan dan Gilang pun hanya bisa terdiam mendengar pada wanita cantik berbeda usia itu akan menghabiskan uang mereka.


Tak masalah sebenarnya. Lagipula yang mereka cari juga untuk membahagiakan seorang istri.


🌻🌻🌻

__ADS_1


Hari libur, isinya suka ngasal aja yang penting update.


__ADS_2