Gadis Belia Istri CEO Duda

Gadis Belia Istri CEO Duda
Part 60


__ADS_3

Malam kian larut. Belva dan Gilang masih belum usai menikmati malam percintaan mereka yang begitu panas.


Seperti pengantin baru lagi, rasanya tak habis-habisnya mereka dimabuk asmara. Ingin terus mengulang keromantisan dan kehangatan yang sudah lama tidak terjalin diantara mereka.


Belva begitu merindukan setiap sentuhan yang Gilang berikan. Sentuhan yang mampu membuatnya melayang dalam waktu yang begitu cepat.


Begitupun dengan Gilang yang seperti menguras habis apa yang selama ini dia tahan. Tak mengingat bahwa kesehatannya baru saja pulih karena dia tak merasakan lelah sedikitpun.


Yang ada hanya ingin lagi dan lagi.


Jika tak mengingat Belva yang tengah hamil, pasti sudah sampai pagi Gilang melakukannya.


Hanya saja Gilang perlu meredam egonya juga gai*ahnya setiap melihat Belva. Semua demi menjaga sang buah hati yang tengah tumbuh dengan sehat di dalam rahim Belva.


Gilang membaringkan tubuhnya di samping Belva. Menarik tubuh Belva lalu mengusap peluh Belva yang membasahi keningnya.


Napasnya masih tak beraturan usai sesi terakhir di jam dua belas. Gilang benar-benar menghabisi tenaga Belva malam ini.


"Sshh," desis Belva pelan.


Mendengarnya, Gilang langsung menegakkan tubuhnya. Memandang Belva dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit? Kita ke dokter sekarang, ya?"


Belva menggelengkan kepalanya. "Nggak, Mas. Aku cuma kaget aja," jawab Belva tanpa membuka kedua matanya.


"Kaget kenapa?"


"Baby-nya nendang."


"Hah?" Gilang nampak terkejut sekaligus antusias mendengar anaknya di dalam sana tengah menendang.


Gilang menyentuh perut Belva barangkali dia juga bisa ikut merasakan kaki kecil itu menendang.


"Belum sering, Mas. Nendangnya juga nggak begitu keras juga karena masih awal. Baru beberapa kali ini, kok, nendangnya. Tadi aku cuma kaget aja."


"Tapi nggak ada yang sakit, kan, Sayang?"


Belva menggelengkan kepalanya.


"Berarti kalau lagi masih bisa, dong?" Gilang menggoda Belva.


Melihat Belva yang tanpa busana. Terpampang jelas di hadapannya membuat Gilang tak bisa menahan dirinya lagi.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Gilang, Belva membuka kedua matanya. Menatap Gilang dengan tatapan tak mengerti. "Bisa ngapain?"


Gilang tertawa kecil. "Bisa gituan lagi."


"Kan, tadi udah," protes Belva.

__ADS_1


"Ya gimana, dong, kalau beneran pengen lagi?"


"Capek tau!" keluh Belva. Secara tidak langsung menolak keinginan Gilang.


"Sekali aja, Sayang."


"Sekalinya Mas Gilang itu bisa satu jam lebih."


"Sayang..." Gilang masih berusaha membujuk Belva.


"Oke," jawab Belva yang membuat kedua mata Gilang bersinar. "Tapi setelah ini nggak ada jatah untuk dua bulan ke depan," lanjut Belva yang membuat senyum di bibir Gilang berubah menjadi lesu.


Gilang mengalah. Dia kembali membaringkan tubuhnya di samping Belva. Lebih baik Gilang menahannya malam ini daripada harus menahan selama dua bulan lamanya.


***


"he treats me like a queen."


Satu kalimat yang ada di dalam benak Belva ketika mendapatkan perlakuan dari Gilang.


Gilang benar-benar memperlakukan dirinya seperti seorang ratu. Love language yang Gilang berikan selalu membuat Belva merasa terpana.


Dari mulai sentuhan kecil, perhatian kecil yang Gilang berikan, tak pernah melepaskan tangan Belva ketika mereka sedang berjalan.


Semua yang Gilang lakukan, itu membahagiakan.


Meskipun Gilang pernah melakukan kesalahan fatal, tapi dia mau berubah dan memperbaiki semuanya.


"Lagi mikirin apa, sih, Sayang?"


Gilang datang mengejutkan Belva. Tangan kekarnya memeluk Belva dari belakang.


Kedua sudut bibir Belva tertarik sempurna membentuk sebuah senyuman. Kedua matanya memandang lepas kota Jakarta di pagi hari dari ketinggian lantai dua belas di hotel tempat mereka menghabiskan malam yang panjang semalam.


"Manis banget, sih, senyumnya istri aku." Gilang mengecup pipi Belva dengan gemas.


"Udah tua, ih. Nggak pantas buat gombal kayak gitu," ujar Belva untuk menutupi salah tingkahnya. Perempuan, di puji sedikit langsung salah tingkah jadinya.


"Kok, gombal, sih? Emang beneran manis ini. Mas lindungi kamu gini, ya, biar nggak dikelilingi semut." Gilang semakin mengeratkan pelukannya.


"Emang kamunya yang mau cari kesempatan, Mas."


"Ya nggak apa-apa, dong. Ada kesempatan ya harus dimanfaatkan. Iya, kan?"


Belva menganggukkan kepalanya. "Iyain aja biar cepet."


Gilang tertawa kecil. Terdiam sebentar lalu kembali mengecup pipi Belva yang Gilang rasa semakin membulat saja di usia kehamilannya yang hampir lima bulan.


"Kapan kita pulang ke Surabaya, Sayang?"

__ADS_1


Belva menoleh. Wajah Gilang yang pertama kali dia lihat. Begitu dekat bahkan hampir saja hidung mereka bersentuhan. "Mas Gilang udah siap buat ketemu sama Papa dan Mama?"


"Sudah lebih dari siap, Sayang. Mas pengen cepet-cepet dapat maaf dari mereka."


Belva tersenyum lembut. Membalikkan tubuhnya lalu mengalungkan tangannya ke leher Gilang. Kepalanya mendongak menatap Gilang yang jauh lebih tinggi darinya.


"Mas Gilang mau janji satu hal sama aku?"


"Apa, Sayang?"


"Jangan pernah sakiti aku lagi. Aku hanya memiliki satu kesempatan dan itu sudah ku berikan kepada Mas Gilang saat ini. Kalau Mas nyakitin aku lagi, ku pastikan tidak akan ada lagi kesempatan yang kedua atau ketiga kalinya."


Sebelum menjawab, Gilang mencium kening Belva. Lama dan Belva begitu menikmati kelembutannya.


"Mas pastikan, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi, Sayang. Mas benar-benar meminta maaf atas kejadian kemarin yang membuat Mas hampir kehilangan kamu. Tidak akan pernah lagi Mas lakukan hal bodoh yang membuatmu pergi, Sayang."


Terharu, Belva meneteskan air matanya. Dia begitu mencintai Gilang. Tak pernah Belva bayangkan sebelumnya bahwa dia bisa sedalam ini mencintai Gilang.


Tak peduli usia yang terpaut jauh. Tak peduli apa status Gilang sebelumnya dan bagaimana masa lalunya. Selama Gilang tidak menyakiti hati Belva, Belva akan terus mencintai Gilang. Hidup menua bersamanya meskipun nanti ketika Gilang sudah tua, dirinya belum tua-tua amat.


***


Jakarta kembali diguyur hujan deras siang ini. Setelah sholat dan makan siang, Belva kembali bergelung di dalam selimut. Sedangkan Gilang bertemu kliennya di restoran hotel.


Sebenarnya Gilang ingin menolak pekerjaan untuknya sampai beberapa hari ke depan sampai dia dan Belva menyelesaikan urusannya di Surabaya nanti.


Tapi karena kliennya kali ini datang dari Papua, Gilang tak ingin mengecewakannya.


^^^[ Mas Gilang masih lama? ]^^^


Tulis Belva di pesan singkat yang kemudian dia kirimkan pada Gilang.


Rasanya tak ingin jauh dari Gilang sedetik saja. Baru setengah jam yang lalu Gilang meninggalkan dirinya sendiri di dalam kamar, Belva sudah rindu dengan Gilang.


[ Sepuluh menit lagi, ya, Sayang. Jangan tidu dulu, ya, karena Mas mau tidurin kamu dulu. ]


Balasan dari Gilang sudah masuk ke handphone Belva. Wajah Belva memerah dan memanas membaca isi pesan dari Gilang.


"Ih, dasar mesum!" umpatnya meskipun dalam hati Belva juga senang melihat Gilang yang tergila-gila padanya.


Hujan deras, cuaca lumayan dingin, ditambah lagi hanya berdua saja dan tidak ada yang mengganggu. Mau apa lagi kalau bukan saling menghangatkan di atas ranjang hotel mewah tersebut? Apalagi sekian lama sudah mereka tidak melakukannya.


Semua orang pun pasti akan melakukannya jika ada kesempatan-kesempatan yang sangat mendukung seperti itu.


Memang, berc*nta setelah berkonflik itu sensasinya berbeda.


Ranjang memang bukan tempat untuk menyelesaikan masalah. Tapi setelah masalah selesai, ranjang adalah salah satu tempat yang tepat untuk kembali memupuk cinta dalam rumah tangga setelah pertengkaran terjadi.


🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2