
Eliza dan Rania sudah kembali ke Surabaya. Lagi-lagi tanpa Belva karena Belva masih harus menyelesaikan masalahnya. Belva tidak bisa membiarkan masalah ini berlarut-larut. Demi ketenangan hidupnya.
"Baik-baik di sini, ya, Bel. Kita cuma bisa doain yang terbaik buat kamu," ucap Eliza sebelum mereka berpisah di bandara.
"Maaf, ya. Pergi tanpa aku, balik lagi tanpa aku. Pasti seru kalau bareng-bareng perginya."
"Enggak apa-apa. Tapi kita makasih banget, ya. Kita udah seneng banget kamu bayarin buat nonton konser."
"Iya. Itu nggak seberapa, kok. Hati-hati, ya, kalian."
Belva kembali naik ke mobilnya untuk kembali ke hotel tempatnya menginap beberapa hari ini. Semalam dia berjanjian dengan ibu mertuanya yang akan datang ke hotel. Harusnya pagi ini. Tapi Belva mengatakan kalau akan mengantar kedua temannya ke bandara terlebih dahulu.
Ya, mobil Belva sudah kembali ke tangan Belva sekarang. Dia meminta tolong pada Mikha untuk mengambilkan mobil tersebut di rumahnya bersama Gilang.
Dan di hari kedua Belva berada di Jakarta, orang suruhan Gavin datang ke hotelnya untuk mengantar mobil tersebut.
Aneh, ya? Dia punya rumah di Jakarta. Tapi memilih untuk tinggal di hotel karena rumah itu menyimpan banyak hal tentang Gilang.
Belva dan Gilang pernah menghabiskan waktu mereka di sana. Bercanda, tertawa, bahkan melewatkan momen-momen panas di sana.
Mobil Belva kembali dihadang oleh sebuah mobil. Penasaran, tapi tak ingin turun untuk meladeni pemilik mobil tersebut.
Belva menghela napas panjang setelah melihat Rey yang keluar dari mobil tersebut. Lalu berjalan ke arah mobilnya dan mengetuk kaca mobilnya pelan.
"Apa, sih, Kak? Bikin panik aja sukanya ngehadang mobil orang," ujar Belva dengan kesal. Kaca mobilnya terbuka. Tapi tak ada niatan Belva untuk turun dari mobilnya.
"Kenapa nggak balik ke Surabaya? Terlanjur nyaman di sini apa gimana?"
Belva menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Aku punya masalah, Kak. Masalahku di sini. Aku harus segera selesaikan."
"Bukan kamu yang harus di sini. Tapi dia yang harus datang ke Surabaya untuk berjuang."
"Memperjuangkan apa? Nggak ada yang harus diperjuangkan. Aku di sini hanya untuk mengakhiri, bukan untuk memperjuangkan."
"Good job, anak manis. Yang tegas sama lelaki itu. Kakak tunggu kamu di Surabaya. Kakak balik dulu, ya. Awas kalau kamu sampai luluh sama dia lagi."
Rey mengacak rambut Belva, lalu mencium kening Belva. Membuat Belva terdiam sesaat. Perlakuan Rey sangat menunjukkan bahwa dia begitu mencintai Belva.
Bahkan terang-terangan menginginkan perpisahan Belva dengan Gilang.
🌻🌻🌻
__ADS_1
Gilang mengepalkan tangannya dengan erat melihat video yang dikirimkan oleh seseorang. Video yang memperlihatkan obrolan Belva dengan Rey di pinggir jalan.
Bahkan video tersebut juga menayangkan momen dimana Rey mengacak rambut dan mencium kening Belva.
Niat hati ingin beristirahat sebentar. Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah meminta haknya.
Makan tak teratur, tidur pun tak teratur. Pikirannya terbelah antara Belva dan pekerjaan. Membuat kondisinya drop dan harus mendapatkan penanganan dokter pribadinya.
Gilang harus diinfus meskipun tidak dirawat di rumah sakit meskipun Yunita sudah rewel meminta agar Gilang mau di rawat di rumah sakit.
Tapi adanya video tersebut membuat kepalanya semakin pusing. Hatinya terasa panas dan cemburu. Siapa lelaki yang sudah berani menyentuh miliknya itu?
Belva pun tak terlihat marah mendapatkan perlakuan mesra tersebut. Sudah biasakah Belva mendapatkannya? Gilang terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Tapi amarah Belva saat Gilang menuduh bayi yang dikandung Belva itu bukan anaknya, menunjukkan bahwa Belva bukanlah perempuan murahan yang bisa disentuh sembarang lelaki.
Tapi ini apa?
Gilang tak ingin berburuk sangka. Tapi apa yang dilihatnya di video tersebut tidak bisa membuatnya berpikir jernih.
"Mau kemana kamu Gilang?" tanya Yunita saat melihat Gilang akan beranjak dari tempat tidurnya.
"Mau ketemu Belva, Ma."
"Dibawa, kan, bisa."
"Nggak usah sok kuat, deh. Lagi sakit bahaya kalau nyetir mobil. Istirahat dulu kenapa, sih? Kalau kamu ada apa-apa di jalan malah nyusahin banyak orang." Ucapan Yunita terdengar begitu ketus.
Semenjak Gilang ada masalah dengan Belva, Yunita tak bisa lagi berlemah lembut dengan Gilang. Anak itu tidak bisa dibaikin, pikir Yunita.
"Coba Mama lihat ini." Gilang menunjukkan video Belva tadi.
Yunita yang melihatnya hanya tersenyum sinis. Sebenarnya dia sudah tau tentang siapa lelaki yang ada di video itu. Lelaki yang berperan menyembunyikan Belva dari semua orang.
Dari Vita dia tahu semuanya. Ibu peri yang baik hati itu tidak pernah bisa berbohong dengan siapapun. Termasuk soal persembunyian Belva kemarin.
"Udah, biar Mama yang ngomong sama dia. Mama mau ketemu sama dia sekarang."
"Aku ikut, Ma."
"Dibilang nggak usah!" bentak Yunita membuat Gilang terdiam. "Kalau ada apa-apa di jalan siapa yang repot? Mama juga, kan? Berhenti bikin susah orangtua! Udah tua juga nggak bisa mikir," sambung Yunita.
__ADS_1
Gilang tak bisa berkata-kata lagi. Ucapan mamanya terdengar begitu pedas. Gilang sudah seperti anak tiri yang dibenci oleh ibunya. Sedangkan Belva adalah anak kandung yang tidak rela jika disakiti oleh siapapun.
🌻🌻🌻
Pelukan erat itu tak kunjung terlepas.
Yunita memeluk Belva dan berulangkali mengucapkan kata maaf atas apa yang dilakukan oleh Gilang terhadap Belva.
"Ini bukan salah Mama. Mama nggak perlu meminta maaf, kok," ucap Belva.
Kedua tangan Yunita menggenggam erat tangan Belva. "Kamu mau maafin Gilang, kan, Sayang? Semuanya masih bisa dibicarakan baik-baik, kan?"
Belva tersenyum tipis. "Aku memaafkan semua kesalahan Kak Gilang, Ma. Tapi aku nggak bisa melupakan kekecewaan yang aku rasakan karena ucapan dia."
Yunita mengangguk mengerti. "Kamu boleh hukum Gilang dengan cara apapun, Bel. Tapi jangan meminta untuk bercerai, ya? Bantu Mama untuk membereskan anak itu."
"Maaf, Ma. Tapi memaafkan nggak harus kembali menerimanya, kan? Mungkin dengan berpisah nanti, Kak Gilang bisa menjadi lelaki yang lebih baik lagi."
"Itu nggak akan menjamin, Bel. Mama yakin, Gilang akan menjadi lebih baik kalau dia ada di tangan kamu. Semenjak sama kamu, Mama lihat hari-harinya begitu berwarna, Bel. Tapi karena cemburu dan emosinya saat itu dia tidak bisa menjaga ucapannya."
Belva menggelengkan kepalanya. "Keputusan aku udah bulat, Ma. Aku mau berpisah dengan Kak Gilang."
"Anak yang kamu kandung butuh ayahnya, sayang."
"Selama ini kami baik-baik saja, Ma. Dan akan tetap baik-baik saja tanpa Kak Gilang."
Yunita tak bisa berbicara lebih banyak lagi untuk meminta Belva agar Belva tidak meminta bercerai dari Gilang.
Bukankah semuanya masih bisa dibicarakan secara baik-baik?
Gilang sudah menyadari kesalahannya. Sudah berusaha meminta maaf juga kepada Belva.
Ini Gilang yang sudah keterlaluan, atau Belva yang masih terlalu kekanakan?
Bukankah sebuah rumah tangga selalu ada masalah?
Memang hanya ada dua pilihan. Menyelesaikan masalahnya, atau menyelesaikan rumah tangganya.
Tapi selama masih bisa diperbaiki, kenapa harus berpisah jalan yang dipilih?
🌻🌻🌻
__ADS_1
Enaknya dipisahin nggak, nih, mereka berdua? 😌